NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Kasih Sayang Seorang Calon Kakak Ipar

Cahaya matahari pagi yang menembus celah anyaman bambu belum terasa hangat, tapi ponsel pintar di atas meja kayu jati tua itu sudah panas.

"Ting! Ting! Ting!"

Rentetan notifikasi itu terdengar seperti mesin penghitung uang yang rusak.

Sekar Ayu duduk di tepi dipan, menyesap teh melati panasnya dengan tenang. Matanya memindai layar ponsel dengan kecepatan membaca yang tidak wajar.

3.500 pesan baru di WhatsApp Business.

Server situs web down karena traffic membludak.

DM Instagram penuh dengan tawaran endorsement.

"Grafik eksponensial," gumam Sekar pelan, suara 'profesor'-nya mengambil alih. "Efek validasi sosial dari figur otoritas tertinggi."

Dalam ilmu marketing, anggukan Sri Sultan semalam adalah katalisator. Reaksi kimia sosial yang mengubah melon biasa menjadi emas hijau.

"Mbak Sekar! Mbak!"

Pak Man berlari tergopoh-gopoh dari halaman depan. Sandal jepitnya menepuk tanah keras-keras, menerbangkan debu tipis.

Wajah sopir setia itu pucat, tapi matanya berbinar panik.

"Ada apa, Pak? Tenang dulu, atur napas," ujar Sekar, meletakkan cangkir tehnya.

"Di depan... gerbang desa macet total, Mbak! Truk-truk ekspedisi berebut masuk mau ambil stok Royal Essence. Orang-orang kota juga banyak yang datang pakai mobil mewah, mau beli melon langsung di kebun."

Sekar tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat presisi.

Sesuai prediksi.

Produk Royal Essence—serum wajah dari ekstrak lendir melon emas hasil mutasi ruang spasial—memang baru diluncurkan terbatas. Tapi begitu Sultan terlihat berbicara dengannya, nilainya bukan lagi sekadar kosmetik.

Itu adalah tiket masuk status sosial.

"Bilang pada mereka, stok hari ini habis. Kita pakai sistem pre-order batch kedua. Batasi pembelian maksimal dua botol per orang," perintah Sekar tegas.

"Baik, Mbak. Tapi..." Pak Man ragu sejenak, menunjuk ke arah jalan setapak yang menuju rumah gubuk mereka.

"Ada satu mobil yang tidak mau disuruh pulang. Mobilnya... beda, Mbak."

Belum sempat Sekar bertanya, suara deru mesin halus terdengar mendekat.

Bukan suara mesin diesel truk, ataupun suara mobil MPV biasa.

Itu suara mesin V6 yang teredam sempurna.

Sebuah sedan hitam mengkilap dengan bendera kecil lambang Keraton Yogyakarta di kap depan merayap pelan memasuki halaman tanah yang bergelombang.

Plat nomornya merah. Dua huruf.

Warga desa yang mengintip dari balik pagar menjauh dengan segan. Aura kekuasaan yang memancar dari kendaraan itu membuat udara pagi terasa berat.

Sekar berdiri. Postur tubuhnya otomatis tegak.

"Analisis ancaman: Siaga 1," batinnya.

Pintu penumpang belakang terbuka.

Bukan Pangeran Arya yang turun. Bukan pula ajudan berseragam militer.

Yang turun adalah seorang wanita paruh baya.

Usianya mungkin sekitar lima puluh tahunan. Tubuhnya agak gempal namun padat.

Dia mengenakan kebaya kutubaru motif bunga sogan klasik yang warnanya sudah matang, dipadu dengan kain jarik wiru yang lipatannya setajam silet.

Rambutnya disanggul tekuk gelung malang tanpa satu helai pun yang berantakan keluar dari jalurnya.

Wanita itu berdiri, menepuk pelan kain jariknya yang tidak berdebu, lalu menatap Sekar.

Matanya tajam, menelisik dari ujung rambut Sekar yang tergerai hingga ujung kaki yang telanjang.

Tatapan itu bukan tatapan kagum. Itu tatapan scanner bandara yang mencari barang selundupan.

Sekar mengenali jenis tatapan ini.

Ini adalah tatapan predator yang sedang menilai apakah mangsanya layak dimakan atau sekadar dikunyah lalu dimuntahkan.

Sekar melangkah maju, memasang topeng 'gadis desa yang sopan'.

"Sugeng enjang," sapa Sekar lembut, sedikit menunduk.

Wanita itu tidak tersenyum. Wajahnya kaku seperti topeng kayu.

"Saya Sasmi," suaranya rendah, serak, namun memiliki intonasi yang sangat jelas. "Emban Dalem Kilen."

Emban Dalem. Pelayan senior keraton.

"Kilen" berarti Barat. Wilayah kekuasaan GKR Dhaning.

Alarm bahaya di kepala Sekar berbunyi nyaring.

Invasive Species detected.

Spesies invasif adalah organisme yang dimasukkan ke lingkungan baru dan menyebabkan kerusakan pada ekosistem asli. Wanita ini adalah spesies asing yang berbahaya bagi ekosistem tenang Sekar.

"Saya diutus langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu Pembayun Dhaning Ayu Wirabhumi," lanjut Bu Sasmi, menyebutkan nama lengkap majikannya dengan penekanan penuh hormat yang berlebihan.

Dia melangkah mendekat, aroma melati tua dan minyak kelapa yang menyengat menguar dari tubuhnya.

"Gusti Dhaning prihatin," kata Bu Sasmi. Matanya menyapu gubuk sederhana Sekar dengan pandangan merendahkan yang sangat halus.

"Prihatin?" ulang Sekar, nadanya polos.

"Nggih. Semalam, meski Njenengan berhasil menarik perhatian Ngarsa Dalem, tata krama Njenengan..." Bu Sasmi mendecakkan lidah, seolah baru saja melihat noda kotoran di lantai marmer.

"...sangat memalukan."

Pak Man yang berdiri di belakang Sekar terperangah. Berani sekali orang ini menghina di kandang orang lain.

Namun wajah Sekar tetap datar. Dia tahu ini serangan psikologis.

"Cara jalan Njenengan terlalu lebar. Cara berdiri Njenengan terlalu kaku. Dan tatapan mata Njenengan..." Bu Sasmi menatap lurus ke mata Sekar. "...terlalu liar. Tidak ada andhap asor sama sekali."

"Karena Njenengan sekarang sudah masuk lingkaran dekat Pangeran Arya, Gusti Dhaning tidak ingin Njenengan mempermalukan keraton lebih jauh."

Bu Sasmi memberi isyarat pada sopir.

Sopir itu mengeluarkan dua koper besar dari bagasi dan meletakkannya di teras gubuk Sekar.

"Mulai hari ini, saya akan tinggal di sini," putus Bu Sasmi sepihak.

Sekar mengerjap. "Maaf?"

"Saya ditugaskan untuk mengajari Njenengan menjadi wanita yang pantas. Dari cara duduk, cara bicara, sampai cara bernapas."

Senyum Bu Sasmi akhirnya muncul. Tipis, dingin, dan mengerikan.

"Anggap saja saya hadiah dari Gusti Dhaning. Tanda kasih sayang seorang calon kakak ipar."

Sekar menatap koper-koper itu, lalu menatap Bu Sasmi.

Ini bukan hadiah. Ini adalah CCTV berjalan.

Dhaning tidak bisa membunuhnya secara fisik karena perlindungan Arya dan sorotan publik. Jadi, dia mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-gerik Sekar 24 jam sehari.

Jika Bu Sasmi ada di sini, bagaimana Sekar bisa masuk ke Ruang Spasial?

Bagaimana dia bisa mengurus ladang di dalam sana jika ada pengawas yang tidur di kamar sebelahnya?

"Bagaimana, Mbak Sekar? Njenengan tidak akan menolak niat baik Gusti Dhaning, bukan?" desak Bu Sasmi. Nada suaranya mengandung ancaman halus. Menolak berarti menentang titah keluarga raja.

Otak Profesor Sekar berputar cepat. Kalkulasi risiko.

Menolak sekarang \= Menciptakan konflik terbuka. Citra buruk.

Menerima \= Kehilangan privasi. Risiko rahasia terbongkar tinggi.

Namun, dalam strategi perang, musuh yang terlihat lebih mudah ditangani daripada musuh yang bersembunyi.

Sekar menghela napas panjang, lalu tersenyum manis. Senyum yang menyembunyikan ribuan jarum di baliknya.

"Tentu saja tidak, Bu Sasmi," jawab Sekar halus.

"Merupakan kehormatan bagi saya dididik langsung oleh senior keraton. Monggo, silakan masuk. Rumah saya kecil, semoga Bu Sasmi betah."

Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan lebih lama, batin Sekar dingin.

Bu Sasmi mengangguk puas, merasa sudah memenangkan ronde pertama. Dia melangkah masuk ke dalam rumah gubuk itu dengan dagu terangkat, seolah dia pemilik barunya.

Sekar menatap punggung wanita itu.

Cahaya di matanya meredup, tergantikan oleh kilatan tajam seorang ilmuwan yang siap membedah kodok percobaan.

Masa tenang sudah berakhir.

Perang dingin di lereng Menoreh baru saja dimulai.

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!