Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCARI BANTUAN
"Modus," cicit si hantu yang sekarang berdiri di samping bangku Salsa, setelah kelas berakhir Salsa didatangi oleh kakak tingkat. Namanya Arga, dia langsung menyodorkan cokelat pada Salsa.
Tentu saja Salsa kaget, Arga merupakan ketua HMJ sering sekali menargetkan adik kelas untuk dijadikan kekasihnya atau gebetan, popularitasnya dimanfaatkan untuk mendekati cewek cantik di jurusan, dan sebagian berhasil namun tak berlangsung lama. Katanya kesibukan Arga membuat para cewek tak setia.
"Ayolah, Sal. Sudah berapa kali aku mau PDKT sama kamu, tapi selalu ditolak," rasanya Arga sangat tertantang menaklukkan Salsa. Baru kali ini adik kelas berani menolaknya.
"Situ playboy sih," cicit si hantu sekali lagi, dan membuat Salsa menatap pada hantu itu.
"Maaf, Kak Arga. Saya gak berniat pacaran atau pemberi harapan palsu."
"Kamu sudah punya pacar?"
"Jawab saja sudah, lagi LDR gak bakal berhenti tuh cowok kejar kamu, Sal." Entah si hantu ini bisa menelisik karakter seseorang atau asal tebak, untuk kali ini Salsa sepakat dengan ucapan si hantu.
"Sudah, kami LDR."
"Ck, pasti mengada-adakan. Jangan sok jual mahal dong, kamu sengaja kan tarik ulur begini, agar terkesan kamu cewek mahal, padahal aslinya mau aja!"
Salsa melongo, jadi ini sisi lain ketua HMJ, tak seperti branding di luar sana yang menyebutkan bahwa dia sangat bijaksana. Lihatlah, bersama Salsa, mulutnya minta ditabok.
Apalagi cokelat tadi langsung dilempar ke Salsa begitu saja. Wah, terlalu merendahkan, Salsa langsung mencopot sepatunya hendak melempar ke punggung Arga, eh keduluan si hantu yang lebih cepat menjegal kaki Arga hingga jidatnya terpentok pintu.
Sontak saja Salsa menahan tawa, dan beberapa teman kelas Salsa ikut pura-pura tak melihat. "Anjir!" ucap Arga dengan nada kesal.
"Ternyata di balik orang bijaksana, bisa juga merendahkan cewek begitu!" ucap salah satu teman Salsa.
"Dengar-dengar sih, korban gebetannya juga ada di jurusan lain."
"Untung aku gak bego ya, masuk perangkapnya. Ganteng juga gak sih," cicit Salsa. Teman kelas Salsa melongo, bahkan ada yang memeriksa kening Salsa, agak lain emang nih cowok menganggap Arga gak ganteng. Wajah Arga teduh seperti Angga Yunanda coba.
"Perlu kaca mata kuda kayaknya Salsa," sindir teman kelas lain, dan disambut tawa oleh mereka yang masih ada beberapa di kelas itu.
Sedangkan si hantu masih asyik melihat interaksi para mahasiswa ini, ternyata dunia kuliah itu mengasyikkan juga ya. Andai aku gak mati, mungkin aku juga bisa kuliah seperti Salsa, ucap si hantu menyesal.
Rutinitas Salsa seperti biasa di kampus, moving kelas sesuai jadwal, mencatat, presentasi, dan juga bekerja kelompok mengerjakan tugas. Si hantu masih mengikuti aktivitas Salsa, hanya saja dia diam, dan tak menganggu teman atau Salsa sendiri. Selagi tak ada yang berniat menjahati Salsa, si hantu akan diam.
Karena sibuk, Salsa lupa kalau sedang diikuti hantu, ia baru sadar saat makan siang di kantin, si hantu duduk di depan Salsa sembari menopang dagu, sungguh Salsa langsung tersedak kuah panas bakso.
"Hai, makan yang benar. Bakso gak ada gizinya loh," ucap si hantu mengomentari menu makan siang Salsa.
"Minum Sal," ucap Devita, teman kelas Salsa yang ikut makan siang bersama Salsa.
Salsa pun minum air, berusaha tak menggubris hantu. "Dev, lo merinding gak?" tanya Salsa penasaran, apakah kehadiran si hantu yang duduk di samping Devita dirasakan oleh gadis itu.
"Merinding kenapa?"
"Ada hantu mungkin."
"Ngaco, mana ada hantu yang berani sama gue. Langsung saja gue usir, sok sok an menakuti aku!"
"Benar kali, Sal. Aku aja sebenarnya takut sama dia, anak orang pinter teman kamu ini!" ucap si hantu menilai Devita.
"Kok bisa?"
"Kakekku sudah memberi perlindungan mata batin pada semua cucunya, termasuk aku."
Salsa melongo, otaknya tidak sampai ke arah dimensi yang dimaksud Devita. "Jadi kakekku dulu tuan tanah, banyak yang pengen dan mengaku jadi keluarganya untuk menguasai tanah kakekku. Mereka mengirim sihir dan guna-guna, sehingga nenekku kena imbasnya sampai meninggal. Nah beliau pun berteman dengan orang pintar, buat melindungi anak turunnya, agar tidak diganggu makhluk ghaib."
"Emang gangguannya gimana?"
"Lo gak pernah tahu, Sal? Orang diganggu sihir begitu?" jelas Salsa menggeleng. Dia selama ini hidup di kota, perumahan elit yang antar tetangganya saja banyak gak kenal, mau sakit hati bagaimana.
Sedangkan kehidupan Devita berada di kampung yang masih kental dengan aura mistis. Orang kampung tidak semua punya kelapangan hati yang besar bila melihat suatu keluarga yang dianggap sukses, awalnya suka julid, lama-kelamaan jadi iri hati yang menyebabkan adanya guna-guna dan sihir.
"Kok menyeramkan."
"Ya gitu, pokok di keluarga besarku dari ayah, jika anak menantunya punya niatan buruk terhadap. Keluarga, siap-siap saja hidupnya tersiksa, sakit-sakitan dan harta benda pemberian kakek akan habis."
"Maksudnya?"
"Ya om tante sepupu, semua sudah ada bagian warisan dari kakek. Kalau ada yang tidak terima dan berniat mengambil yang bukan haknya, hidupnya bakal dipenuhi oleh kesengsaraan. Kata ibu, salah satu perjanjian kakek dengan leluhur adalah harus punya hati yang bersih."
"Dev, gue merinding!"
"Lo yang mendengar saja merinding, apalagi gue yang ikut ritual."
"Ada ritualnya, Dev?" Devita mengangguk.
"Setiap tahun, setiap malam satu suro. Ya sebenarnya sih aku tak sepakat ya dengan ritual begitu, cuma kata ibu hormati saja leluhur tanpa mencela." Salsa mengangguk juga, perbedaan budaya dengan kehidupannya tentu tak bisa diprotes, bahwa apa yang dilakukan keluarga Devita tak masuk logika. Cuma Salsa tak sampai menjudge begitu, lebih baik menghormati.
"Kamu bisa melihat hal ghaib?" tanya Salsa kembali, sebenarnya dia tanya begini agar si hantu tidak mendekatinya, dan berharap bisa beralih ke Devita saja.
"Harusnya bisa, cuma kakek berpesan untuk setiap generasi hanya satu yang bisa melihat begituan, tantangannya berat, kalau gak kuat bisa gila. Nah aku salah satu cucu yang ditutup, kata kakek keturunan ibu gak ada yang kuat."
Salsa terdiam, kecewa lebih tepatnya, karena Devita tak bisa melihat hantu di sampingnya. "Kenapa? Lo punya pengalaman mistis?"
Salsa mengangguk, kemudian menggeleng saat mata si hantu melotot padanya. "Lo lucu deh, Sal. Asal kamu tahu, di setiap area pasti ada makhluk ghaib, tinggal dia mau menampakkan diri atau enggak."
"Kalau yang menampakkan diri?"
"Dia gak tenang, gentayangan, ada dendam atau hutang yang belum terbayar."
"Gak usah ember ke Devita, Sal," si hantu memberi peringatan, karena ia tak mau sebelum bertemu dengan pembunuhnya, orang tahu kalau dirinya berada di sekitar Salsa. Bisa diusir juga.
"Bisa bantu gue gak, Dev?" ah Salsa terpaksa meminta bantuan Devita, ia tak mau ketakutan setiap hari karena kehadiran si hantu ini. Salsa tak peduli kalau dirinya menjadi pelototan si hantu sekarang.