Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Tidak sesuai rencana
Anye bersama Maulana dan Desti kini diminta Yahya bertemu dengan salah seorang divisi marketing Jilo corp, dimana dari merekalah Yahya dan Dewa selaku presdir mendapatkan calon agen pemasaran Imaginary agency.
Bahkan dari beberapa nama agensi Ganesha langsung deal pada nama Imaginary agency, bukan karena apa-apa, tapi...ia memang sangat tau seluk beluk Imaginary agency dibanding agency periklanan lain.
"Ketemu dimana Bu?" tanya Maulana menyesap rokoknya sembari menyetir mobil inventaris kantor.
"Langsung di lokasi katanya." ujar Anye menatap layar ponselnya beberapa kali demi memastikan jika hari ini, Imaginary akan bertemu dengan orang bernama pak Yaris, selaku divisi marketing Jilo corp.
Sepasang mata indah Anye yang tertutup kacamata hitamnya itu masih memandang jauh ke arah lahan kosong yang masih diga rap alat-alat berat, bukti jika pembangunan kota di dalam kota ini memang dilakukan secara konsisten dan tak main-main.
"Masih baru banget ya Bu, yang itu mau dibangun apa?" tunjuk Desti juga melihat ke arah yang sama.
Anye menggeleng, ia memang tak pernah tau pekerjaan sang suami. Ia sedikit sendu, ia akui kesalahan bukan hanya terletak di Ganesha yang terlalu kaku, dingin, sibuk di luar, tak peka dan lainnya lagi, namun ia pun sama, selama pernikahan, ia jarang tau bahkan tak pernah mau tau dengan kegiatan Ganesha. Mereka seolah memiliki dunia sendiri dan sebagian besar waktu mereka habiskan dengan pekerjaan.
Mereka bukan pasangan suami istri, melainkan pasangan selingkuh karena sejatinya selama pernikahan mereka menikah dengan pekerjaan masing-masing.
Desti menatap perubahan air muka dan reaksi Anye, ia yang paling tau bagaimana Anye...jadi, "oh. Kayanya buat danau buatan ngga sih, Bu? Fungsinya kaya danau resapan?"
Anye mengangguk, "kayanya."
"Gila sih ini, pantes aja Jilo corp tuh bisa jadi kerajaan bisnis. Pembangunannya emang ngga pernah main-main." Angguk Maulana mencapit batang tembakaunya di jari kemudian memutar stir, guncangannya begitu halus, jadi gado-gado sarapannya tadi tak harus sampai melompat-lompat ke atas dinding lambung.
Bahkan pembangunan infrastruktur jalan pun begitu diperhatikan. Di sepanjang jalanan dengan beberapa jalan layang di atasnya ruang terbuka hijau banyak di dapati dan begitu terawat cantik.
Terlebih, mereka sempat berpapasan dengan mobil tangki air yang tengah menyiram hamparan rumput dan pohon-pohon, dimana batang pepohonan itu masih disokong oleh bambu dan kayu agar tumbuh baik. Tanda jika Kemang Regency memang benar-benar baru dibangun.
Dari awal area masuk saja, tugu besar bertuliskan Kemang Regency cukup gagah bersanding dengan nama ibukota. Lalu sekejap mata, pemandangan memasuki kota baru di dalam kota itu menyihir mata mereka dengan kondisi berbeda dari carut marutnya ibukota. Begitu tertata, begitu rapi dan terawat.
"Ini unit disini aslinya dijual segitu, Bu? ck.. ck..." Maulana menggeleng sekali lagi mengetahui harga per unit rumah yang dipasarkan disini.
"Puasa 4 tahun Lo Lana, baru bisa beli unit disini satu type 45, belum biaya pemeliharaannya, jual ginjal." Cibir Desti membuat mereka tertawa.
Namun jelas Anye tidak sedang ingin bercanda, matanya masih memandang jauh, semakin larut dalam obrolan tentang Kemang, tentang Jilo, tentang segala yang menyangkut Ganesha, ia semakin kesulitan untuk bergerak maju dari masa lalu.
"Tim arsiteknya juga minimal lulusan PTN dalam negri gelar cumlaude." Desti kembali bersuara seolah sedang memuji penuh puja Jilo corp. Tak sadar jika orang di sampingnya tengah merenung dalam.
"Bu, kita dari mana nih shootnya?" tanya Maulana sudah menepi sejenak setelah mengambil belokan di kantor pemasaran tepat di area depan dari Kemang Regency.
"Ketemu pak Yaris dulu lah." Jawab Anye.
Betul, Maulana hanya tinggal memarkirkan mobilnya di depan kantor itu.
Sebuah kantor pemasaran yang terletak di bagian depan dengan taman kecil tertata rapi, dan bangunan dua lantai namun tak terlalu besar.
...Kantor Pemasaran Kemang Regency...
Maulana menarik rem dan mematikan mesin mobil, membuat Desti dan Anye mulai turun dari dalam.
"Des, bukain dulu bagasi..."
"Oke."
Anye turun dan memperhatikan halaman sekitar kantor, kemudian tatapnya jatuh tertumbuk pada dua buah mobil yang ikut terparkir disana.
Semoga tebakannya salah, semoga ia sudah lupa...dan suara riuh rendah dari dalam ruangan dengan pintu kaca itu cukup membuat Anye yakin, jika di dalam sana sudah ada penghuninya.
Ia membiarkan Desti dan Maulana mengeluarkan alat tempur mereka, sementara dirinya menenteng kotak make up dan tas berisi baju ganti masuk ke dalam.
Ayunan langkahnya yang masuk itu membawa serta pemandangan dua orang yang ada disana selain daripada security di depan tadi.
"Bu Anyelir." sapa pak Yaris, tentu sudah saling mengenal sebab, siapa tak tau Anyelir adalah mantan istri Ganesha.
"Pak..." Anye juga menjabat tangan divisi pemasaran disini.
"Silahkan Bu, masuk dulu ke ruang tengah buat siap-siap." ajak pak Yaris membawa Anye lebih dalam dari ruang kantor depan.
Anye mengangguk dengan senyum ramah, "tim saya masih di luar ya pak...nanti suruh masuk aja," pesan Anye pada karyawan divisi pemasaran tadi.
"Oh iya Bu, siap."
"Pak Ganesha dan pak Yahya sudah datang sejak tadi, Bu." Celetuknya.
Tunggu! Anye menghentikan langkahnya di pertengahan ruang menuju dalam, "pak Ganesh? Saya kira saya sama tim ditemenin pak Yaris.." pernyataan setengah pertanyaan itu membuat pria paruh baya itu menggeleng, "oh, tadinya memang saya, biasanya juga saya Bu, tapi kata pak Yahya, Kemang regency ini kan unit elite. Yang segalanya mesti sempurna, makanya beliau ingin memastikan sendiri jalan setiap proses pemasarannya."
Alis Anye semakin mengerut kisut tak paham, bahkan polesan pensil alis saja tak cukup menutup kebingungan di alis Anye.
"Segitunya ya, pak CEO ngga percaya anak buahnya?" ia mendengus mencibir.
Benar saja, ketika Anye sampai di ruang tengah, dengan sofa mewah meja rendah dan berbagai plakat penghargaan Jilo corp yang dipajang di sepanjang dindingnya, seorang pria tengah duduk dengan bertumpu kaki menikmati kopinya sambil membaca beberapa file.
Sementara dirinya datang dengan menenteng tas kain sebuah brand toko aksesoris merah dan kotak make up, malahan...rambut depannya masih Anye tempeli roll.
Ia mendongak bersama Yahya yang masih sibuk berkutat dengan laptopnya menatap ke arah datangnya Anye bersama pak Yaris.
Ganesha langsung menarik tangan dan melirik arloji, "macet?" tanyanya
"Wahhh, suatu penghormatan sekali, sampe ditungguin seorang Ganesha Putra Alvian..." cibir Anye membuat Yahya mengehkeh tanpa suara. Anye mengambil posisi duduk tepat di sebrang Ganesha, kemudian pak Yaris pamit kembali ke depan.
Disusul Maulana dan Desti yang sudah ribut membawa serta barang tentengan mereka.
"Bu..sepatu masih di mob---astagfirullah!" oceh Desti melihat kehadiran Ganesha, ia terkejut.
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak