NovelToon NovelToon
Dewa Level Nol

Dewa Level Nol

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kultivasi Modern / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!

Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.

Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKANAN ITU CUMA ANGIN LEWAT

BAB 2: TEKANAN ITU CUMA ANGIN LEWAT

"Jelaskan padaku sekarang juga, Feng! Ilmu sesat apa yang telah kau gunakan pada Zhao?!" bentak Tetua Li dengan suara menggelegar. Bentakannya membuat sisa-sisa debu di atap kamar kembali berjatuhan menimpa rambut Feng. Mata pria paruh baya itu menatap tajam, seolah ingin menguliti pemuda kurus yang sedang membungkuk memegangi perut tersebut.

"Tetua Li yang terhormat," jawab Feng dengan suara parau dan tarikan napas berat. "Saya rasa pertanyaan Tetua itu sangat kurang tepat sasaran. Bukankah seharusnya Tetua bertanya, apa yang telah Mas Zhao lakukan pada pintu kamar asrama saya? Lihat ini, kayunya hancur jadi serpihan sebesar lidi. Kalau malam ini turun hujan, saya bisa mati kedinginan tidur di sini."

"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Bocah Tengik!" potong Budi dengan suara melengking. Kacung Zhao itu rupanya belum berani lari terlalu jauh dan kini bersembunyi aman di balik jubah putih Tetua Li. "Lapor, Tetua Li! Feng menggunakan ilmu sihir iblis yang sangat keji! Dia mematahkan tangan Kakak Senior Zhao hanya dengan satu sentuhan! Dia pasti menyembunyikan artefak sekte aliran sesat di bawah kasurnya!"

"Benarkah ucapan anak itu, Feng?!" tuntut Tetua Li, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menonjol. "Kau, seorang murid sampah yang memalukan, terjebak di Tingkat Nol selama tiga tahun penuh. Lalu hari ini, kau tiba-tiba bisa melumpuhkan murid Tingkat Lima? Jika kau tidak menyerahkan artefak iblis itu padaku sekarang juga, aku berhak penuh mengeksekusimu di tempat karena berkhianat pada Sekte Pedang Langit!"

"Budi, Budi," keluh Feng sambil menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya semakin pucat pasi karena rasa lapar yang mulai menusuk-nusuk dinding lambungnya. "Mata kamu itu rabun, katarak, atau bagaimana? Artefak iblis apanya? Saya cuma menampar pergelangan tangannya pelan-pelan. Salah sendiri tulang tangannya rapuh seperti kerupuk kulit murahan. Suruh dia banyak minum susu sapi."

"Pembohong besar! Kau pasti menggunakan trik kotor sekte iblis!" teriak Budi dari balik punggung Tetua Li, wajahnya merah padam karena marah dan takut.

"Cukup! Jangan banyak alasan di depanku!" bentak Tetua Li. Suaranya menggema memantul di dinding kayu kamar sempit itu, membuat Budi langsung terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat.

Tetua Li kemudian melangkah maju satu tindak dengan gerakan mantap. Seketika itu juga, udara di dalam kamar sempit tersebut terasa menyusut dan padat. Tekanan Tenaga Dalam dari seorang kultivator Tingkat Master meledak keluar dari tubuh pria paruh baya itu. Aura penindasan menyapu segala arah layaknya ombak lautan yang tak terlihat namun sangat mematikan.

Lantai kayu usang di bawah pijakan kaki Tetua Li mulai berderit ngeri dan memunculkan retakan-retakan panjang. Meja kayu di sudut ruangan yang sebelumnya sudah reot kini langsung ambruk rata dengan tanah akibat tekanan spiritual yang luar biasa berat tersebut. Budi yang berdiri agak jauh di belakang pun langsung jatuh terduduk di lantai sambil memegangi dadanya yang mendadak sesak napas.

"Berlututlah di hadapanku, Murid Pengkhianat!" perintah Tetua Li. Suaranya diresapi oleh kekuatan Qi murni yang kental. Teknik suara itu dirancang khusus untuk menghancurkan mental kultivator tingkat rendah dan memaksa otot mereka tunduk secara fisik.

Namun, di tengah badai tekanan yang bisa membuat orang biasa muntah darah kental itu, Feng hanya berdiri diam di tempatnya. Pemuda itu bahkan masih asyik mengusap-usap perutnya yang berbunyi sangat nyaring menyaingi suara retakan lantai.

SISTEM MEMBERITAHUKAN DENGAN NADA DATAR: TEKANAN SPIRITUAL TINGKAT MASTER TERDETEKSI MENGENAI TUBUH INANG. KARENA JIWA TUAN BERADA DI TINGKAT DEWA ASAL MULA YANG TAK TERBATAS, TEKANAN SPIRITUAL TINGKAT FANA INI TIDAK AKAN MEMBERIKAN EFEK APAPUN PADA MENTAL MAUPUN FISIK TUAN. TEKANAN INI HANYA TERASA SEPERTI ANGIN SEPOI-SEPOI DI SORE HARI.

"Sistem," batin Feng dengan nada luar biasa kesal. "Saya sama sekali tidak peduli dengan angin sepoi-sepoi ini. Tolong beritahu saya informasi yang berguna. Kantin sekte buka sampai jam berapa? Lambung saya rasanya mau berontak keluar lewat tenggorokan."

SISTEM MERESPON CEPAT: HARAP FOKUS PADA ANCAMAN FISIK DI DEPAN TUAN. SISA WAKTU SEBELUM ORGAN TUBUH INANG BERHENTI BERFUNGSI KARENA MATI KELAPARAN ADALAH LIMA PULUH EMPAT MENIT.

"Kenapa kau belum berlutut, Feng?! Tulangmu terbuat dari besi?!" tegur Tetua Li. Matanya terbelalak kaget melihat targetnya masih berdiri tegak.

Tetua Li segera menambahkan lebih banyak Tenaga Dalam ke dalam pusaran auranya, membuat jubah putih bersihnya berkibar-kibar hebat memukul udara. Namun pemuda berantakan di depannya itu sama sekali tidak goyah barang satu milimeter pun.

"Lutut saya sedang sakit asam urat parah, Tetua Li," jawab Feng dengan nada datar yang sangat menyebalkan. "Lagipula, angin yang keluar dari tubuh Tetua ini lumayan sejuk untuk cuaca panas begini, tapi debu lantainya jadi masuk semua ke mata saya. Bisa tolong dikecilkan sedikit pusaran anginnya? Saya sedang buru-buru mau pergi mencari sarapan bergizi."

"Kurang ajar! Kau benar-benar meremehkan wibawa seorang Penegak Disiplin Sekte!" raung Tetua Li yang kini merasa harga dirinya sedang diinjak-injak hingga hancur oleh seorang murid Level Nol. "Karena kau menolak untuk berlutut sendiri, aku yang akan mematahkan kedua tulang keringmu agar kau bersujud memohon ampun padaku!"

Tetua Li dengan cepat mengangkat tangan kanannya ke udara. Jari-jarinya melengkung tajam membentuk cakar burung pemangsa. Energi berwarna hijau pekat langsung menyelimuti kelima jarinya, berdesis membakar udara di sekitarnya.

Itu adalah Jurus Cakar Elang Pembelah Angin. Sebuah teknik tingkat menengah andalan Tetua Li yang daya hancurnya jauh lebih mematikan dan brutal daripada pukulan murahan milik Zhao tadi.

"Kakak Senior Feng pasti akan mati membusuk sekarang!" gumam Budi dengan senyum licik mengembang di bibirnya, meskipun tubuhnya masih duduk gemetar di lantai akibat tekanan aura.

"Sistem," panggil Feng cepat di dalam hatinya saat melihat cakar hijau pekat itu meluncur deras merobek udara menuju bahu kirinya. "Hitung cepat! Kalau saya menghindar dari serangan orang tua ini, berapa kalori yang akan terbakar dari tubuh saya?"

SISTEM MENGHITUNG CEPAT: MENGHINDAR DARI SERANGAN BERKECEPATAN MASTER MEMBUTUHKAN REAKSI OTOT KEDUT CEPAT TINGKAT TINGGI DARI TUBUH INANG. BIAYA PENGGUNAAN ENERGI FISIK TERSEBUT ADALAH PENGURANGAN WAKTU HIDUP SEBANYAK DUA PULUH MENIT SECARA INSTAN.

"Gila! Perampokan macam apa ini?!" protes Feng panik di dalam batinnya. "Dua puluh menit cuma buat menggeser badan?!"

Tangan Tetua Li yang diselimuti energi mematikan itu melesat makin dekat, kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Feng. Angin tajam dari serangan tersebut bahkan berhasil memotong sedikit ujung poni rambut Feng yang berantakan.

Dengan sangat terpaksa dan hati yang menggerutu panjang, Feng menggeser kaki kirinya ke samping. Dia hanya memindahkan kakinya selebar lima sentimeter, lalu memiringkan bahunya sedikit ke belakang. Gerakan Feng terlihat sangat kaku, lambat, dan luar biasa malas, seolah dia sedang menghindari genangan air becek di jalanan pasar.

WUUUSSH! BRAAAAK!

Serangan Cakar Elang Tetua Li meleset sepenuhnya. Jarinya hanya mencengkeram udara kosong di tempat bahu Feng berada sepersekian detik yang lalu. Sisa tenaga dari serangan bertenaga tinggi yang meleset itu terus melaju ke depan, menghantam dinding kayu tebal di belakang Feng hingga jebol berlubang seukuran bola semangka.

"Mustahil!" seru Tetua Li dengan mata melotot lebar. Rahangnya hampir jatuh membentur lantai saking terkejutnya. "Bagaimana mungkin seorang Level Nol tanpa energi bisa menghindari seranganku dalam jarak sedekat itu?! Bahkan Tetua lain belum tentu bisa menirunya!"

"Hebat sekali! Tembok asrama saya sekarang punya ventilasi udara baru yang sangat artistik!" komentar Feng sarkas sambil menunjuk dinding yang berlubang menembus ke luar.

Namun, sedetik setelah dia mengucapkan kalimat jenaka itu, wajah Feng berubah semakin memucat, lebih putih dari kertas.

Krucuk... KROAAK!

Suara perut Feng kini tidak lagi terdengar seperti orang lapar biasa. Suaranya bergema menakutkan, melainkan seperti geraman monster buas purba yang sedang marah karena lama tidak diberi makan.

Kaki Feng mendadak lemas tanpa sisa tenaga. Dia terpaksa berpegangan erat pada tiang ranjang kayunya agar tubuhnya tidak langsung jatuh tersungkur menyium lantai. Keringat dinginnya bercucuran deras membasahi seragam abu-abunya yang kusam.

SISTEM MEMPERINGATKAN DENGAN ALARM KERAS: ENERGI TERKURAS SANGAT DRASTIS SETELAH INANG MELAKUKAN GERAKAN MENGHINDAR TINGKAT MASTER. SISA WAKTU SEBELUM KEMATIAN MUTLAK KARENA KELAPARAN KINI TINGGAL TIGA BELAS MENIT KOMA TIGA DETIK. PERINGATAN! CARI NUTRISI SUPER SEKARANG JUGA!

"Tiga belas menit?!" jerit Feng tertahan, suaranya terdengar sangat putus asa. "Sistem sialan! Waktu hidupku dipotong diskon besar-besaran! Sembilan puluh koin tembaga hasil rampasan ini bahkan tidak akan cukup buat beli air putih hangat di kantin dengan harga inflasi sekte sekarang!"

"Jadi kau benar-benar menyembunyikan kekuatanmu selama ini, Feng?!" tuduh Tetua Li. Dia kini menarik mundur tangannya dan langsung mencabut pedang pusakanya dari sarung di punggung.

Bilah pedang perak itu memantulkan cahaya dingin yang menyilaukan mata. "Pantas saja kau berani bertindak sombong dan meremehkanku! Ilmu iblis apa yang kau pelajari sampai kau bisa menembus kecepatan Master tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun?!"

"Tetua Li, saya mohon, tolong simpan pedangnya. Cahayanya menyilaukan mata saya yang sedang berkunang-kunang ini," pinta Feng sambil mengangkat sebelah tangannya dengan lemas. Napas pemuda itu mulai tersengal-sengal menahan rasa perih yang melilit di lambungnya. "Saya sungguh tidak belajar ilmu iblis dari mana pun. Saya ini cuma orang cacat biasa yang mau pergi numpang makan enak. Sekarang tolong minggir dari pintu, saya harus lari ke kantin sebelum nyawa saya benar-benar melayang ke alam baka."

"Kau tidak akan pergi ke mana pun sampai kau ikut aku ke Ruang Interogasi Bawah Tanah!" bentak Tetua Li. Dia melangkah maju dan mengarahkan ujung pedang peraknya tepat ke urat nadi di leher Feng.

Feng menatap ujung pedang tajam yang menempel di lehernya itu dengan pandangan kosong dan buram. Tubuh fana miliknya benar-benar sudah mencapai batas toleransi kelaparan. Pandangannya mulai berputar-putar.

Namun, di tengah pandangannya yang semakin kabur dan menggelap itu, mata Feng secara tidak sengaja menangkap sebuah benda kecil. Sebuah botol giok kecil berwarna hijau tua yang tergantung manis di sabuk sutra pinggang Tetua Li.

Aroma herbal yang sangat pekat, segar, dan luar biasa manis samar-samar tercium merembes dari celah tutup botol giok tersebut. Aroma itu langsung menusuk hidung Feng, membangunkan insting primitifnya.

SISTEM MENGANALISIS SUMBER AROMA: BENDA YANG TERGANTUNG DI SABUK TARGET ADALAH BOTOL BERISI LIMA BUTIR PIL PENGUMPUL QI TINGKAT MENENGAH. KANDUNGAN ENERGI KALORINYA SANGAT TINGGI DAN MURNI. JIKA DIKONSUMSI SELURUHNYA, DAPAT MEMPERPANJANG WAKTU HIDUP TUAN SEBANYAK DUA PULUH EMPAT JAM PENUH.

Mata Feng yang tadinya sayu dan nyaris tertutup mendadak melebar sempurna. Tatapannya kini berubah menjadi sangat buas. Terlihat jauh lebih buas daripada tatapan serigala jadi-jadian yang kelaparan di tengah badai salju musim dingin.

"Dua puluh empat jam," gumam Feng pelan. Bibir pucatnya perlahan menyunggingkan senyum miring yang terlihat sangat mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya.

"Apa yang sedang kau gumamkan sendirian, Bocah Gila?!" hardik Tetua Li. Pria tua itu tiba-tiba merasa ada firasat buruk yang merayapi tengkuknya saat melihat perubahan drastis pada raut wajah murid di depannya itu. "Menyerahlah sekarang juga dan buang semua senjata rahasiamu ke lantai!"

"Tetua Li," ucap Feng dengan nada yang mendadak menjadi sangat lembut, sopan, dan bersahabat. Matanya sama sekali tidak berkedip menatap lurus ke arah pinggang pria tua itu. "Pil di dalam botol hijau yang menggantung itu... rasanya manis manis buah atau pahit seperti obat batuk?"

"Apa urusannya denganmu, Sampah?!" jawab Tetua Li semakin marah karena merasa dipermainkan. "Ini adalah Pil Pengumpul Qi jatah bulananku langsung dari Tangan Patriark! Bukan makanan rendahan untuk babi sepertimu!"

"Oh, kebetulan sekali kalau begitu. Saya sedang sangat butuh asupan gula yang banyak," sahut Feng dengan senyum yang semakin lebar.

"Mati kau, Pengkhianat!" teriak Tetua Li yang benar-benar kehabisan kesabaran.

Dia langsung menebaskan pedang peraknya secara horizontal ke arah bahu kanan Feng. Niatnya sudah bulat untuk memotong salah satu lengan pemuda itu demi melumpuhkannya secara paksa dan menyeretnya ke penjara bawah tanah.

Namun, rasa lapar yang mengamuk telah menghilangkan seluruh sisa akal sehat dan kehati-hatian Feng. Pedang perak yang melesat dengan kecepatan kilat pembelah angin itu sama sekali tidak dihiraukannya. Matanya hanya terkunci pada satu target: Botol hijau itu.

SISTEM MEMPERINGATKAN DENGAN HURUF MERAH BESAR: MENGGUNAKAN KECEPATAN FISIK PENUH UNTUK MERAMPAS BARANG DARI SEORANG KULTIVATOR TINGKAT MASTER AKAN MENGURANGI WAKTU HIDUP INANG SEBANYAK DUA BELAS MENIT SEKETIKA. SISA WAKTU TUAN SETELAH MELAKUKAN GERAKAN INI HANYA AKAN TERSISA SATU MENIT SAJA. APAKAH TUAN YAKIN INGIN MELANJUTKAN TINDAKAN BUNUH DIRI INI?!

"Saya sama sekali tidak peduli! Ambilkan makananku sekarang juga!" raung Feng di dalam batinnya dengan kemarahan absolut.

Dalam sekejap mata, sosok Feng menghilang sepenuhnya dari pandangan Tetua Li dan Budi. Bukan karena dia menggunakan teknik teleportasi sihir tingkat tinggi, melainkan murni karena ledakan kekuatan otot kaki Level Nol yang bergerak secara paksa melampaui batas kecepatan suara di ruangan sempit itu.

Angin bergemuruh hebat, menciptakan gelombang kejut yang memecahkan seluruh sisa kaca jendela di asrama luar tersebut.

Trang!

Tebasan pedang mematikan Tetua Li hanya mengenai bayangan kosong udara. Sebelum otak pria tua itu sempat menyadari ke mana perginya target di depannya, dia merasakan hembusan napas hangat menerpa telinga kanannya. Bersamaan dengan itu, terasa sebuah tarikan yang sangat ringan di sabuk sutra pinggangnya.

"Terima kasih banyak atas traktirannya, Tetua Li yang baik hati dan dermawan," bisik Feng dengan nada jenaka yang terdengar sangat jernih di tengah deru angin dan keheningan yang mencekam itu.

Tetua Li memutar tubuhnya dengan sangat panik. Matanya melotot tidak percaya saat melihat Feng sudah berdiri santai bersandar di dekat bingkai pintu keluar yang hancur, sekitar empat meter dari posisi awalnya tadi.

Dan yang membuat jantung Tetua Li seolah ditarik keluar dari dadanya adalah pemandangan di tangan pemuda cacat itu. Di tangan kanan Feng, botol giok hijau kesayangannya sedang diputar-putar dengan sangat santai.

"Pil jatah bulananku!" jerit Tetua Li dengan nada melengking histeris. Suaranya sama sekali tidak mencerminkan wibawa dan ketegasannya sebagai penegak disiplin sekte. "Kembalikan botol itu sekarang juga, Feng! Kau tidak akan kuat menahan ledakan energi murni dari pil tingkat menengah! Tubuh sampahmu itu akan hancur meledak dari dalam!"

"Tubuh meledak terdengar jauh lebih baik daripada mati kelaparan seperti gembel," balas Feng tanpa ampun.

Dengan sekali sentakan, dia mencabut penutup botol giok itu menggunakan deretan giginya, lalu meludahkan penutup kayu tersebut ke lantai. Aroma herbal yang sangat manis dan kental langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan.

SISTEM MEMBUNYIKAN ALARM KRITIS TANDA BAHAYA: PERINGATAN FATAL! WAKTU HIDUP TUAN KINI TERSISA LIMA PULUH DETIK. DETAK JANTUNG INANG MELEMAH DRASTIS. ORGAN DALAM MULAI MEMAKAN DIRI SENDIRI. KONSUMSI ENERGI SEKARANG JUGA ATAU MATI!

Feng tidak membuang waktu barang satu detik pun. Sambil menatap Tetua Li yang sedang menerjang maju ke arahnya dengan pedang terhunus dan raut wajah penuh keputusasaan, Feng memiringkan kepalanya ke belakang. Dia menenggak botol giok itu dan menelan kelima butir Pil Pengumpul Qi bercahaya tersebut sekaligus ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan kasar seolah dia sedang memakan kacang goreng murahan kembalian dari warung kopi.

1
Fatur Fatur
cepat bantai sosok berjubah hitam itu thor bikin racun itu tidak mempan pada mcnya
M. Zayden: siap bosku😊
total 3 replies
strivee
smphnjs
Gege
kereen...sangat apik dan epic
M. Zayden: maksi bosku masukannya, saya minta maaf kalau jalan cerita sudah berubah lagi karna saya ada perbaiki ulang🙏
total 1 replies
strivee
bahasa alien
M. Zayden: di skip kak
total 1 replies
Gege
gasss teruus thorr
Gege
apik dan epic
M. Zayden: mkasi bosku😊😊🙏
total 1 replies
Gege
kereen sangat apik dan epic...gasss 10k kata tiap update...
M. Zayden: siap bosku di usahakan karna saya juga kerja bosku
total 1 replies
Gege
mantab thor. gaya bahasanya enak ..
M. Zayden: makasih bosku masukannya 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!