Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siksaan di ruang tengah
Pagi itu, suasana di meja makan kembali mencekam. Nyonya Besar Ardiansyah meletakkan cangkir porselennya dengan denting yang sengaja dikeraskan, memecah keheningan antara Ares dan Gia.
"Ares!" suara Nyonya Besar terdengar tajam.
"Mama sudah mengatur jadwal untuk istrimu. Mulai besok, dia harus mengikuti kelas etika, tata krama meja makan, dan sejarah keluarga Ardiansyah!"
Gia terhenti saat hendak menyuap makanannya. Ia menunduk, merasa jantungnya berdebar kencang.
"Ma, Gia tidak butuh itu!" Jawab Ares tenang, namun nada suaranya memberi peringatan.
"Dia sangat butuh!" Nyonya Besar menatap Gia dengan pandangan menghina.
"Lihat cara dia memegang garpu, lihat caranya duduk. Dia tidak punya aura seorang bangsawan. Jika dia akan menyandang nama Ardiansyah di depan kolega internasional kita, aku tidak ingin dia mempermalukan keluarga ini seperti gadis desa yang beruntung. Dia pasti bikin malu di peta kemarin malam karena tidak punya etika yang bagus!"
Gia meremas serbet di bawah meja. "Saya akan berusaha belajar, Nyonya..."
"Panggil saya Mama Mertua!" Potong wanita itu dingin.
"Dan belajarlah bicara dengan volume yang benar. Suaramu seperti cicit tikus!"
Ares meletakkan sendoknya. Aura di sekitarnya berubah menjadi dingin.
"Gia akan belajar perlahan bersamaku, Ma. Tidak perlu kelas formal yang melelahkan itu. Dia juga tidak pernah mempermalukanku!"
"Ini bukan permintaan Ares. Ini syarat jika dia ingin diakui secara resmi oleh keluarga besar di acara syukuran bulan depan. Aku sudah memanggil Miss Ana. Dia akan datang jam sembilan pagi!"
Nyonya Besar berdiri dan berlalu pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang menyengat dan rasa sesak di dada Gia.
Keesokan harinya, penderitaan Gia dimulai. Miss Ana adalah wanita paruh baya dengan sanggul yang sangat kencang dan penggaris kayu di tangannya.
"Punggung tegak, Nyonya Gia! Letakkan buku ini di atas kepalamu. Jika jatuh, Nyonya harus mengulang berjalan keliling ruangan sepuluh kali!" Perintah Miss Ana dengan suara melengking.
Gia melakukannya dengan air mata yang hampir jatuh. Kakinya lecet karena harus memakai sepatu hak tinggi selama berjam-jam, dan punggungnya terasa kaku. Padahal luka karena sepatu bakar tinggi dari pesta kemarin belum juga sembuh. Sementara Nyonya Besar duduk di sudut ruangan, mengawasi dengan kipas di tangan, sesekali memberikan komentar pedas.
"Siska setidaknya punya bakat alami. Gadis ini... benar-benar harus dipahat dari nol!" Gumam Nyonya Besar cukup keras untuk didengar Gia.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Ares pulang lebih awal. Ia berhenti di ambang pintu, matanya menyipit melihat istrinya yang tampak pucat dengan buku di atas kepala dan keringat dingin di dahi.
"Apa-apaan ini?" Suara Ares menggelegar, membuat Guru Ana terlonjak kaget hingga penggarisnya jatuh.
Buku di atas kepala Gia terjatuh. Ia hampir limbung karena kakinya yang gemetar, namun dengan sigap Ares berlari dan menangkap pinggangnya.
"Ares, ini demi kebaikannya..." Nyonya Besar mencoba membela diri.
"Kebaikan siapa, Ma? Kebaikan gengsi Mama?" Ares menatap ibunya dengan amarah yang tertahan. Ia melihat kaki Gia yang merah dan lecet di balik sepatu mahalnya.
Ares langsung menggendong Gia secara bridal style, mengabaikan protes ibunya.
"Kelas ini berakhir sekarang. Dan Miss Ana, Anda bisa pergi. Jangan pernah kembali ke mansion ini!"
"B-baik Tuan!" Miss Ana sudah ketakutan. Dia memang lebih baik tidak usah kembali ke mansion itu daripada kelak harus keluar dari sana hanya tinggal nama.
"Ares! Kamu membangkang pada namamu sendiri!" Seru Nyonya Besar.
Ares berhenti sejenak, tanpa menoleh sedikitpun pada Mamanya.
"Gia menikah denganku untuk menjadi pendampingku, bukan untuk menjadi boneka pajangan Mama. Kalau Mama tidak bisa menerimanya apa adanya, mungkin kami yang harus pindah dari rumah ini!"
Kalimat itu membuat Nyonya Besar terdiam kaku. Ia tahu Ares tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Ares membawa Gia ke kamar mereka, mendudukkannya di tepi ranjang dengan sangat hati-hati. Ia berlutut di lantai, melepaskan sepatu hak tinggi Gia, dan memijat kaki istrinya yang lecet dengan lembut.
"Mas minta maaf, Gia. Mas seharusnya tidak membiarkan Mama melakukan ini!" Ucap Ares, suaranya kini penuh penyesalan.
Gia menyentuh bahu Ares yang tetap dan terasa begitu keras di tangannya.
"Saya hanya ingin membuat Mas bangga. Saya takut saya benar-benar mempermalukan Mas!"
Ares mendongak, menatap mata Gia yang basah karena air mata.
"Kamu mempermalukan Mas hanya kalau menangis karena orang lain. Bagi Mas, kamu sudah sempurna sejak hari pertama kamu berani berdiri di altar itu menggantikan kakakmu. Jangan pernah biarkan siapa pun, termasuk ibuku, memperlakukanmu seenaknya seperti tadi. Lawan Ibu kalau dia meminta kamu melakukan hal yang tidak kamu sukai. Keraskan suaramu, dan tunjukkan kalau kamu tidak gampang ditindas!"
Nasehat Ares memang terdengar seperti kapas yang begitu ringan. Mungkin memang mudah bagi Ares yang sejak kecil hidup dengan cinta yang besar dari keluarga dan uang yang mendukung segalanya. Tapi berbeda dengan Gia yang tak punya keduanya. Dia hidup dengan krisis kepercayaan diri. Dia tentu tidak akan mudah melakukan hal yang Ares katakan tadi.
Jangankan melawan, menatap mata mereka yang sedang mencemoohnya sebagai anak haram pun, Gia tidak berani.
🌹🌹🌹
"Haduh Non, Bibi sudah bilang kalau Non itu tidak usah ikut bantu Bibi di dapur!" Mbok Yem terlihat panik karena lagi-lagi Gia membantunya memasak.
"Nggak papa Bi, aku udah biasa masak seperti ini!"
"Tapi itu dulu Non, sekarang Non Gia sudah jadi istri Mas Ares. Jadi Non tidak usah melakukan pekerjaan seperti ini lagi!" Mbok Yem melarang Gia karena dia takut dimarahi oleh Ares.
Selain itu, Mbok Yem juga tidak mau Gia menyentuh pekerjaan yang memang tak seharusnya dilakukan oleh istri dari seorang Aresta Ardiansyah.
"Tapi aku bosan kalau hanya diam di rumah yang terlalu besar ini Bi!" Sudah hampir satu bulan lamanya, dia hidup di sangkar emas itu dan tidak melakukan apa-apa.
"Lebih baik Non melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk Non sendiri. Non bisa melakukan hobi Non misalnya membaca atau melukis!"
"Bibi tau aku suka melukis?" Gia menyambutnya dengan antusias.
"Bibi cuma nebak. Tapi beneran Non suka melukis?"
Wajah Gia malah berubah menjadi murah dan sendu.
"Iya Bi, aku suka sekali buat sketsa, aku juga suka mengambil foto. Aku ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi Papa tidak mau membiayai kuliahku. Mau kerja patuh waktu tidak diijinkan sama Mama!" Terpaksa Gia harus memendam impiannya itu. Setelah lulus SMA, dunia Gia hanya di rumah, menjadi pelayan tanpa bayaran di rumah Papanya sendiri.
"Coba Non Gia bilang sama Mas Ares, siapa tau Non Gia boleh kuliah. Sayang sekali kalau Non Gia tidak mengembangkan bakat Non Gia!"
"Tidak Bi, untuk sekarang memang lebih baik aku di rumah!" Gia tak mungkin meminta bantuan Ares. Dia ingat posisinya sekarang ini.
"Biar saja Mbok. Memang pada dasarnya dia kampung. Dikasih hidup enak, jadi istri konglomerat secara instan malah milih jadi pembantu!"
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus