kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Anyaman Suci dan Pertarungan Batin
Fajar yang baru tiba di Benteng Aethel bukanlah pertanda baik. Langit di atas Lembah Cahaya tidak memancarkan cahaya, melainkan diselimuti kabut hitam pekat yang tebal, bergolak dengan energi yang mengerikan. Dari puncak benteng, Kekosongan itu terlihat seperti raksasa tanpa bentuk yang perlahan merayap, menghapus setiap jejak kehidupan yang ia lewati. Aura dinginnya bahkan terasa menembus dinding batu benteng yang tebal, membuat para Ksatria Templar yang sudah siap di aula utama menggigil, bukan hanya karena hawa dingin, melainkan karena kengerian yang tak terucapkan.
Di tengah aula utama, Ksatria Templar terbaik dari Aethelgard telah mengambil posisi mereka, duduk bersila dalam formasi melingkar yang rumit, sesuai arahan Master Eldrin. Jubah putih mereka kontras dengan lantai batu gelap, dan mata mereka terpejam dalam meditasi yang dalam. Mereka adalah para prajurit yang telah menguasai disiplin tubuh dan pikiran, namun sekarang mereka akan menguji batas spiritual mereka.
Di pusat lingkaran, berdiri Ryo. Jubah perjalanannya telah diganti dengan jubah seremonial berwarna putih keperakan, dengan simbol kuno benang-benang teranyam yang diukir di sekeliling kerah. Di satu tangan, ia memegang erat boneka kayu Elara, dan di tangan lainnya, Lyra menggenggam tangannya dengan kuat. Di samping Lyra, Master Eldrin berdiri, menyiapkan artefak-artefak dan ramuan pelindung terakhirnya.
Ryo memejamkan mata, menghela napas panjang. Ia merasakan benang eterik puluhan Ksatria yang mengelilinginya. Benang-benang itu kuat, bersemangat, namun juga dipenuhi kecemasan dan antisipasi. Mereka bergetar, seperti senar harpa yang baru saja disetel, menunggu Dalang mereka untuk memetik melodi.
"Ingat latihannya," bisik Lyra, suaranya pelan dan menenangkan. "Fokus pada benang inti Anda. Jadilah poros. Biarkan mereka berputar di sekitar Anda. Jangan menarik, tapi mengarahkan."
Ryo mengangguk. Ia merasakan benang Lyra, kuat dan stabil, menjadi jangkar yang kokoh di tengah gejolak. Ini adalah kunci. Ini adalah kepercayaan. Ia tidak bisa lagi menyendiri, ia tidak lagi sendirian.
Dari gulungan kuno, Master Eldrin mulai melantunkan mantra, suaranya dalam dan resonan, memenuhi aula. Itu adalah mantra pengikat, untuk mempersiapkan benang-benang para Ksatria agar dapat diselaraskan ke dalam Anyaman Suci. Artefak-artefak di sekeliling aula mulai berpendar dengan cahaya biru redup, dan udara terasa bergetar dengan energi eterik yang terkumpul.
Ryo mulai bekerja. Ia memproyeksikan kesadarannya, tidak hanya merasakan benang-benang individu, tetapi mencoba menghubungkannya, menjalinnya menjadi satu kesatuan. Ia merasakan pikiran Kapten Kael, yang menjadi Ksatria terdekat dengannya, tenang dan fokus. Dari Kael, benang-benang itu meluas, menyentuh setiap Ksatria. Ryo membiarkan benang-benang mereka mengalir melalui dirinya, menyatu dengan benang intinya sendiri, membentuk sebuah jaring yang tak terlihat.
Ia tidak mengendalikan pikiran mereka. Ia hanya mengarahkan energi emosi dan tekad mereka. Ia mengurangi benang kecemasan, menguatkan benang keberanian, menyelaraskan gelombang emosi mereka sehingga mereka beresonansi dalam harmoni yang sempurna. Ini bukan dominasi, melainkan simfoni, dan Ryo adalah konduktornya.
"Anyaman Suci telah terbentuk!" seru Master Eldrin, melihat cahaya biru dari artefak-artefak memancar lebih terang, kini terhubung oleh untaian cahaya yang samar, menembus setiap Ksatria.
Pada saat yang sama, raungan mengerikan terdengar dari luar benteng. Kekosongan telah tiba. Kabut hitam raksasa itu kini menyelimuti seluruh Benteng Aethel, mencoba menerobos dinding-dinding pertahanan. Dingin yang menusuk jiwa merayapi setiap sudut aula, mencoba menembus Anyaman Suci.
Ryo merasakan serangan itu. Ia adalah Dalang Jiwa, poros dari Anyaman Suci, dan ia merasakan setiap gelombang dingin dari Kekosongan. Ia tidak bisa melihatnya, tetapi ia bisa merasakannya. Kekosongan itu seperti hisapan raksasa, mencoba mencabut benang-benang dari Anyaman Suci, mencoba mengoyak setiap benang dari Ksatria satu per satu.
Pertarungan pun dimulai. Bukan pertarungan pedang dan sihir, melainkan pertarungan benang jiwa. Ryo harus menahan kekuatan Kekosongan, mencegahnya mencabut benang-benang dari para Ksatria. Ia merasakan benang-benang itu tegang, ada beberapa yang nyaris putus, ditarik paksa oleh Kekosongan. Ryo harus menggunakan seluruh konsentrasinya, mengalirkan tekad dan keberanian dari benang intinya sendiri ke dalam Anyaman, memperkuatnya, membuatnya lebih tangguh.
"Fokus, Ryo!" bisik Lyra, tangannya yang menggenggam tangan Ryo kini memancarkan kehangatan yang kuat, seolah menyalurkan energinya sendiri. "Ingat tujuanmu! Ingat Elara! Jadikan dia kekuatanmu, bukan kelemahanmu!"
Kata-kata Lyra menancap dalam benak Ryo. Elara. Kegagalan di masa lalu. Ia tidak akan mengulanginya. Ia tidak akan membiarkan benang-benang ini tercabut. Ia tidak akan membiarkan Aethelgard kosong. Ia menguatkan benang inti Elara yang samar di bonekanya, merasakannya beresonansi dengan tekadnya. Benang itu tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi pengingat yang kuat, sebuah motivasi yang membara.
Melalui Anyaman Suci, Ryo bisa merasakan Kekosongan itu. Ia memiliki inti, sebuah kehampaan yang tak berujung, yang mencoba menarik semua benang kehidupan ke dalam dirinya. Ryo mencoba melawan, mendorong kembali Kekosongan itu dengan kekuatan kolektif Anyaman Suci. Ini adalah tarik ulur yang melelahkan, pertarungan yang menghabiskan energi.
Beberapa Ksatria mulai gemetar. Ryo merasakan benang-benang mereka melemah, ditarik oleh ilusi dan bisikan Kekosongan yang mencoba memecah belah pikiran mereka. Ryo harus bertindak cepat. Ia mengalirkan fokusnya ke setiap Ksatria yang melemah, memperkuat benang mereka, mengarahkan mereka untuk fokus pada lambang kerajaan, pada sumpah mereka, pada alasan mengapa mereka ada di sana.
"Ingat Aethelgard!" Ryo memproyeksikan tekadnya ke dalam Anyaman Suci, suaranya hanya terdengar di kepala para Ksatria, namun jelas dan kuat. "Ingat rumah kalian! Lindungi mereka! Anyaman ini adalah perisai kalian! Aku adalah penjaga kalian!"
Kata-kata Ryo memiliki efek. Benang-benang yang nyaris putus kembali menegang, Ksatria yang gemetar kembali teguh. Energi dari Anyaman Suci kembali menguat, melawan tekanan Kekosongan.
"Kita mendorongnya kembali!" seru Master Eldrin, melihat artefak-artefak di sekeliling aula memancarkan cahaya biru yang lebih kuat, menerobos kegelapan kabut di luar benteng.
Namun, Ryo tahu ini belum berakhir. Kekosongan itu cerdas. Ia mundur sejenak, hanya untuk menyerang lagi dengan cara yang berbeda. Kali ini, ia tidak mencoba mencabut secara paksa, melainkan mencoba mencari celah. Ia mencoba merayapi Anyaman Suci, mencari benang yang paling lemah, mencari disonansi yang bisa ia eksploitasi.
Ryo merasakan Kekosongan itu mencoba menyusup ke dalam benang Lyra. Ia merasakan benang Lyra menegang, berusaha melawan.
"Lyra!" Ryo berseru, terkejut.
Lyra merasakan dingin yang menusuk, sebuah bisikan kosong yang mencoba mengosongkan pikirannya. Namun, Lyra adalah seorang tabib, ia memiliki disiplin mental yang kuat. Ia fokus pada Ryo, pada genggaman tangan mereka, pada kehangatan benang Ryo yang mengalir ke dalamnya. Ia tidak membiarkan Kekosongan itu menembus.
"Aku baik-baik saja!" Lyra membalas, suaranya sedikit bergetar, namun penuh tekad. "Tetap fokus pada Anyaman! Aku di sini!"
Pertarungan batin Ryo semakin intens. Ia harus mempertahankan Anyaman Suci, melawan serangan Kekosongan yang tak henti-hentinya, sekaligus melindungi Lyra yang menjadi jangkarnya. Ia merasakan Kekosongan itu mencoba memahami dirinya, mencoba mencari celah dalam benang intinya sendiri, mencari luka lama Elara.
Tiba-tiba, Ryo merasakan benang Elara di boneka kayu berdenyut lebih kuat. Kekosongan itu menemukan Elara, menemukan luka lama Ryo. Ia mencoba menggunakan kenangan Elara, rasa sakit, penyesalan, untuk memecah belah fokus Ryo.
Gambaran Elara menari di benak Ryo: Elara tersenyum, Elara sakit, Elara berteriak saat benangnya putus. Rasa sakit yang akut menusuk hati Ryo, mengancam untuk memecah belah konsentrasinya.
"Tidak!" Ryo meraung, memancarkan tekadnya yang membara ke dalam Anyaman Suci. "Kau tidak akan mengambilnya! Kau tidak akan mengambil siapapun!"
Ia mengalirkan energi dari Anyaman Suci, dari benang-benang para Ksatria yang percaya padanya, dari benang Lyra yang menyokongnya, dan dari benang Elara yang kini menjadi pengingat yang menyakitkan namun membangkitkan. Ia tidak lagi hanya bertahan. Ia mendorong balik.
Gelombang energi eterik yang kuat meledak dari Benteng Aethel, menerobos kabut hitam Kekosongan. Kabut itu bergolak hebat, seolah kesakitan, lalu perlahan mulai mundur. Tidak sepenuhnya menghilang, tapi ia menjauh dari benteng, menjauh dari Lembah Cahaya.
Ryo terengah-engah, tubuhnya gemetar, dipenuhi keringat dingin. Ia merasakan energi dari Anyaman Suci perlahan surut, benang-benang para Ksatria kembali ke diri mereka sendiri. Ia telah berhasil. Ia telah mendorong Kekosongan itu kembali.
"Kita berhasil!" seru Master Eldrin, suaranya dipenuhi kegembiraan.
Para Ksatria Templar perlahan membuka mata mereka, wajah mereka lelah namun dipenuhi kelegaan. Mereka tidak tahu persis apa yang telah terjadi, tetapi mereka merasakan sesuatu yang dahsyat telah terjadi, dan mereka telah menjadi bagian darinya.
Lyra, yang masih menggenggam tangan Ryo, memeluknya erat. "Kau berhasil, Ryo! Kau berhasil!"
Ryo membalas pelukan Lyra, membiarkan kehangatan dan kekuatan Lyra mengalir ke dalam dirinya. Ia menatap boneka kayu Elara. Benang Elara masih samar, tapi tidak lagi menjadi beban. Ia telah menerima masa lalunya, dan mengubahnya menjadi kekuatan.
Ini hanyalah kemenangan kecil, Ryo tahu. Kekosongan itu tidak dihancurkan, hanya didorong kembali. Ia akan kembali. Tapi untuk saat ini, mereka telah memenangkan waktu. Dan yang lebih penting, Ryo telah menemukan kembali dirinya, menemukan bahwa ia bisa menjadi Dalang yang berbeda. Seorang Dalang yang mengikat, bukan memutus. Seorang Dalang yang dipimpin oleh cinta dan tanggung jawab, bukan ketakutan dan penyesalan. Dan ia tahu, dengan Lyra di sisinya, mereka bisa menghadapi apa pun yang akan datang.