NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Perjalanan Pulang Dan Peringatan Dari Masa Lalu

Sinar matahari pagi menyinari jalan yang mengarah kembali ke Kota Yunlong. Rombongan yang kini telah menjadi lebih dari seratus orang—dari Klan Naga Merah, Biru, dan Hijau—bergerak dengan teratur dan penuh semangat. Gerobak-gerobak yang membawa persediaan, benih tanaman, dan senjata berjalan di tengah rombongan, sementara prajurit-prajurit berkawal di kedua sisi dengan waspada.

“Kita akan tiba di Kota Yunlong dalam waktu dua hari lagi,” ujar Ye Chen sambil melihat peta yang digenggam erat di tangannya. “Saya telah mengirim burung merpati pesan untuk memberitahu ayah bahwa kita akan datang dengan pasukan yang kuat.”

Feng berdiri di bagian depan rombongan, bersama dengan Li Mei, Liu Hai, dan Lin Xia. Wajahnya penuh dengan tekad, namun juga terdapat kedalaman pemikiran yang jelas terlihat di matanya. Dia sering melihat ke arah langit atau menyentuh Pedang Naga yang tergantung di pundaknya, seolah merasakan sesuatu yang belum terlihat oleh orang lain.

Di sore hari, mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah lembah yang indah dengan sungai jernih yang mengalir di tengahnya. Sementara prajurit-prajurit memasak makanan dan memasang kemah, Feng pergi ke tepian sungai bersama Linglong untuk berbicara dengan tenang.

“Kau tampak sedang banyak berpikir,” ujar Linglong dengan suara lembut, menyandarkan kepalanya pada bahu Feng. “Apa yang kamu pikirkan?”

Feng menarik napas dalam-dalam, melihat ke arah air sungai yang mengalir dengan tenang. “Aku merasa bahwa ancaman yang akan datang bukan hanya tentang Sekte Ular Hitam atau kekuatan yang mereka bangunkan,” katanya dengan suara yang rendah. “Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terkait dengan asal-usul dunia naga dan manusia itu sendiri.”

Tiba-tiba, air sungai mulai bergetar dengan kuat. Cahaya kebiruan menyala di permukaan air, dan sosok Naga Putih Tianwu muncul dengan anggun di tengah sungai. Tubuhnya yang panjang dan megah tampak lebih jelas dari sebelumnya, dengan sisik yang berkilau seperti permata putih di bawah sinar matahari sore.

“Chen Feng,” suara lembut namun penuh kekuatan terdengar di benak mereka semua. “Waktunya telah tiba untuk kamu mengetahui kebenaran yang sebenarnya—kebenaran yang telah disembunyikan selama berabad-abad.”

Naga Tianwu mengangkat kepalanya ke langit, dan gambar-gambar mulai muncul di permukaan air sungai—gambar tentang dunia kuno di mana manusia dan naga hidup berdampingan dalam harmoni yang sempurna. Mereka bekerja bersama untuk membangun peradaban yang kuat, menggunakan kekuatan alam untuk kebaikan bersama.

“Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama,” lanjut suara Naga Tianwu dengan nada yang penuh kesedihan. “Sebuah kekuatan gelap yang berasal dari dunia lain mulai menyebar, membawa rasa takut, kebencian, dan hasrat kekuasaan. Banyak manusia dan naga terpengaruh oleh kekuatan itu, menyebabkan perpecahan yang dalam dan perang yang menghancurkan.”

Gambar berubah menjadi adegan perang yang mengerikan—manusia dan naga saling menyerang, tanah yang terbakar, dan kehidupan yang hilang dalam jumlah besar. Di tengah kekacauan itu, sosok leluhur Feng yang pertama kali muncul bersama dengan Naga Tianwu muda, bekerja sama untuk menyegel kekuatan gelap itu jauh di dalam bumi.

“Kita berhasil menyegel kekuatan gelap itu,” jelas Naga Tianwu. “Namun segelnya mulai melemah seiring berjalannya waktu. Sekte Ular Hitam tidak hanya ingin mengambil Pedang Naga—mereka ingin membuka segel itu dan melepaskan kekuatan gelap untuk menguasai dunia.”

Feng berdiri dengan terkejut, matanya penuh dengan kesadaran yang menyakitkan. “Jadi semua ini bukan hanya tentang balas dendam atau kekuasaan—ini tentang kelangsungan hidup seluruh dunia yang kita cintai.”

“Benar,” jawab Naga Tianwu dengan mengangguk perlahan. “Pedang Naga yang kamu pegang adalah kunci terakhir untuk menguatkan segel atau menghancurkannya. Kamu harus memilih dengan bijak, karena pilihanmu akan menentukan nasib semua makhluk hidup di dunia ini.”

Sebelum Feng bisa bertanya lebih jauh, sosok Naga Tianwu mulai menghilang seperti kabut pagi. Sebelum benar-benar hilang, suara lembut terdengar sekali lagi: “Kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini. Semua kekuatan alam akan berada di sisimu jika kamu memilih jalan yang benar.”

Ketika malam tiba, Feng berkumpul dengan pemimpin dari setiap klan di tengah kemah. Dia menceritakan apa yang telah dikatakan oleh Naga Tianwu dan ancaman besar yang akan datang. Suasana menjadi sangat tenang, dengan setiap orang merenungkan makna dari kata-kata itu.

“Jadi kita tidak hanya berperang untuk melindungi Tanah Seribu Pegunungan,” ujar Li Mei dengan suara yang jelas. “Kita berperang untuk melindungi seluruh dunia dari kehancuran yang tak terbayangkan.”

Liu Hai mengangguk dengan tekad yang kuat. “Klan Naga Biru siap memberikan dukungan penuh. Kita akan menggunakan kekuatan air kita untuk membantu menguatkan segel atau menghadapi kekuatan gelap jika itu menjadi perlu.”

“Klan Naga Hijau juga siap,” tambah Lin Xia dengan suara yang penuh keyakinan. “Kita akan menggunakan kekuatan tanah dan tumbuhan kita untuk memperkuat benteng pertahanan dan menyembuhkan luka-luka yang ditimbulkan oleh perang yang akan datang.”

Feng melihat ke wajah setiap pemimpin klan, merasa terharu oleh dukungan yang mereka berikan. “Kita akan menghadapi bahaya yang besar,” katanya dengan suara yang jelas dan kuat. “Namun bersama-sama, dengan kekuatan yang kita miliki dan hati yang benar, saya yakin kita bisa mengalahkan kegelapan dan membawa perdamaian yang sesungguhnya.”

Mereka semua mengangguk dengan persetujuan, menyadari bahwa mereka telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Malam itu, mereka berkumpul di sekitar api unggun, berbagi cerita dan pengalaman, memperkuat ikatan persahabatan dan aliansi yang telah mereka bangun.

Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat yang baru. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat dengan Kota Yunlong dan dengan tujuan akhir mereka. Di sepanjang jalan, mereka menemukan tanda-tanda bahwa Sekte Ular Hitam telah melewati jalur yang sama—rumah-rumah yang terbakar, tanah yang tercemar oleh energi gelap, dan jejak kekuatan yang mengerikan.

Namun kali ini, mereka tidak merasa takut atau terkejut. Mereka telah siap menghadapi apa pun yang datang, dengan kekuatan yang mereka miliki dan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melakukan hal yang benar.

Ketika mereka akhirnya melihat tembok Kota Yunlong yang megah muncul di kejauhan, suara sorak dan tepukan tangan terdengar dari seluruh rombongan. Di gerbang kota, Ye Tianhong berdiri bersama dengan para pemimpin keluarga dan penduduk kota yang berkumpul untuk menyambut mereka dengan hangat. Bendera dari berbagai klan berkibar di angin, menandakan bahwa aliansi yang mereka bangun telah resmi terbentuk.

“Kamu telah melakukan hal yang luar biasa, Feng,” ujar Ye Tianhong dengan suara yang penuh rasa hormat saat mereka mendekatinya. “Kamu telah menyatukan apa yang terpisah dan membawa harapan baru bagi kita semua.”

Feng mengangguk dengan senyum lembut, melihat ke arah kota yang telah menjadi rumah bagi dia selama ini. “Perjuangan belum selesai,” katanya dengan suara yang jelas sehingga bisa didengar oleh semua orang. “Namun sekarang kita memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun yang datang. Bersama-sama, kita akan melindungi tanah kita dan membawa perdamaian yang abadi bagi Tanah Seribu Pegunungan!”

Suara sorak yang menggema memenuhi udara, menyebar ke seluruh kota dan ke pegunungan di kejauhan. Semua orang tahu bahwa masa depan masih tidak pasti, namun mereka telah siap menghadapinya dengan penuh semangat dan harapan.

1
takupr
gass tur
ajanh
good
ajanh
gass truss ye chen🔥🔥
mamak
semangat
mamak
🔥🔥🔥
aure
🔥🔥
aure
mantap luar biasa
zoro
gass🔥
zoro
uraaa💪
zoro
luar biasa
tyson
keren
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!