NovelToon NovelToon
Cinta Seorang CEO Cantik

Cinta Seorang CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / One Night Stand / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat / Berondong
Popularitas:73
Nilai: 5
Nama Author: Wirabumi

Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.

Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.

"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kawasan Bar.

Saat Arini Wijaya tiba di lokasi, hari sudah mulai gelap.

Ia bergegas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bar, matanya sibuk mencari sosok yang selalu ia rindukan dan cemaskan itu.

Kehadiran Arini membuat semua mata pria di bar tersebut tertuju padanya.

Bar ini tidak kacau seperti diskotik, ini adalah tempat murni untuk minum dengan musik yang tenang dan elegan, bukan musik yang memekakkan telinga. Karena itu, pengunjung di sini biasanya adalah mahasiswa, pekerja kantoran, atau orang-orang sukses.

Saat Arini berjalan sambil mencari Arya Wiratama, tiba-tiba seorang pria menghalangi jalannya. Jika bukan karena reaksinya yang cepat, ia hampir saja menabrak pria itu.

"Mbak yang cantik, bolehkah saya mentraktirmu minum?" tanya pria itu sambil menyisir rambutnya dengan gaya yang ia anggap keren, merapikan lengan baju, dan memamerkan jam tangan mewahnya—mirip seperti seekor merak yang sedang pamer.

Arini sedang cemas mencari Arya, sehingga ketika jalannya dihalangi, perasaannya yang sudah buruk menjadi semakin meledak. Ia berkata dengan dingin, "Minggir."

Ia melewati pria pesolek itu dan lanjut mencari Arya. Hingga sampai di bagian paling dalam, ia baru melihat Arya yang terkapar mabuk di sofa dengan meja yang penuh botol minuman. Di sampingnya, ada seorang wanita yang sedang berusaha memapah Arya untuk pergi dari sana.

Bahkan tanpa berpikir pun, siapapun tahu bahwa Arya sedang menjadi sasaran "pungut mayat" (istilah untuk membawa pergi orang mabuk yang tidak sadar).

Arini segera menghampiri meja tersebut dan membentak wanita itu dengan marah: "Lepaskan dia!"

Wanita yang tampak genit itu mendongak menatap Arini, "Eh Mbak, ada antriannya ya. Aku yang duluan menemukan 'brondong' ini."

"Aku pacarnya."

"Lelucon macam apa ini. Kamu bilang pacar ya pacar, kalau begitu aku ini istrinya."

Arini menggertakkan giginya karena marah, "Kamu bilang kamu istrinya? Kamu tahu siapa namanya? Apa pekerjaannya? Berapa nomor teleponnya?"

"Memangnya kamu tahu?"

"Tentu saja aku tahu."

Sambil berkata demikian, Arini mengeluarkan ponselnya dan menekan sederet angka. Seketika, suara nada dering terdengar dari saku Arya. Arini mematikan panggilannya dan menatap wanita itu dengan nada menantang.

Ia berjalan mendekat, menyenggol wanita itu hingga menjauh, lalu merangkul lengan Arya dan dengan susah payah memapahnya keluar dari bar.

Baru saja keluar bar, Arya yang terkena hembusan angin malam tiba-tiba tersentak. Kesadarannya sedikit pulih, dan dengan mata yang sayu ia menatap wanita cantik yang menopangnya.

Sial, cantik sekali.

"Cantik, kamu siapa ya?"

"Mau membawaku ke mana?"

"Aku tahu, kamu pasti mau 'memungut mayat' ya?"

Mendengar ucapan Arya, wajah Arini memerah.

"Aku memang punya pemikiran seperti itu dalam hati."

"Tapi kenapa bocah kurang ajar ini malah mengatakannya dengan gamblang."

"Bagaimana aku harus memulainya kalau begini."

Arini hanya bisa menjawab: "Aku melihatmu mabuk dan takut terjadi sesuatu padamu, jadi aku ingin mengantarmu pulang."

"Cantik, kamu membohongi aku ya?"

"Kamu bahkan tidak tahu rumahku di mana."

"Bagaimana cara mengantarku?"

Pertanyaan itu membuat Arini terdiam seribu bahasa. Ia hanya bisa menguatkan hati dan terus memapah Arya menuju mobilnya.

"Cantik, mau... tidak... aku traktir minum satu gelas."

"Minum, minum, minum saja terus sampai pusing! Mati saja sana karena minum," gerutu Arini dalam hati.

"Anak pintar, Mbak akan mengantarmu pulang."

Dengan susah payah ia berhasil membawa Arya ke samping mobil, membuka pintu kursi penumpang, dan berniat memasukkannya ke dalam.

"Aku tidak mau pergi, aku mau minum... minum..."

Siapa sangka Arya entah dari mana mendapatkan kekuatan untuk meronta, lalu berjalan terhuyung-huyung kembali ke arah deretan bar.

"Sial, masalah apa lagi ini!"

"Pikirkanlah, aku ini CEO dari grup bernilai ratusan triliun, kapan aku pernah menerima perlakuan seperti ini."

"Tapi karena dia adalah kekasih kecilku, aku harus sabar."

Ia segera mengejar dengan sepatu hak tingginya dan menarik lengan Arya. Mungkin karena tarikannya terlalu kuat, ia malah menarik Arya masuk ke dalam pelukannya.

Arini terpaku di tempat, tetapi Arya tidak peduli. Kedua tangannya justru mengalung di leher Arini, dagunya bersandar di bahu wangi wanita itu, sambil bergumam bahwa ia ingin minum, hatinya sakit, jangan pergi, tidak mau pulang, dan sebagainya.

Leher Arini dipeluk, dan terutama karena dagu Arya yang menempel di bahunya, hembusan napas hangat menerpa telinganya, membuat seluruh tubuh Arini terasa lemas.

Arini berusaha menenangkan diri. Ia memeluk Arya dan mendongak melihat papan nama merah besar dari sebuah hotel transit di seberang jalan. Ia menggertakkan gigi, lalu memapah Arya menuju ke sana.

Masuk ke dalam hotel dan tiba di resepsionis, Arya merangkul pinggang ramping Arini dengan seluruh berat tubuhnya bersandar pada wanita itu.

"Tolong berikan aku satu kamar!"

Resepsionis menatap mereka berdua dengan tatapan menggoda yang penuh arti.

"Baik, tolong tunjukkan KTP Anda."

Dengan susah payah, Arini mengeluarkan KTP dari tasnya dan menyerahkannya kepada petugas.

Proses pemesanan kamar berjalan lancar dan cepat.

"Ibu, ini KTP dan kartu kamar Anda, nomor 318."

Setelah masuk ke dalam kamar, Arini menghempaskan Arya ke atas tempat tidur, lalu duduk di pinggir kasur sambil terengah-engah untuk beristirahat.

Ini adalah pertama kalinya Arini menginap di hotel seperti ini. Ia memperhatikan dekorasi kamar: tempat tidur bundar yang besar, bak mandi terbuka, dan di sudut ruangan terdapat kursi dengan bentuk yang unik. Seluruh suasana kamar ini penuh dengan nuansa romantis yang berlebihan, membuat wajah Arini merah padam.

Tepat saat Arini sedang melamun, Arya mulai berulah lagi. Ia mulai melepas pakaiannya sendiri sambil meracau, "Panas sekali."

Arini tersenyum pasrah, membantu Arya melepas pakaiannya hingga hanya tersisa celana pendek, menyelimutinya dengan baik, lalu berbalik masuk ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi yang penuh uap, Arini yang selesai mandi tidak segera keluar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin: bentuk tubuh yang sempurna, buah dada yang indah, wajah yang luar biasa cantik. Ia menghela napas memikirkan pria kecil di luar.

"Hah..."

"Aku sudah 35 tahun, entah apakah dia akan merasa risih padaku."

"Tapi aku sungguh sangat mencintainya."

"Sepuluh tahun ingatan yang mendalam, demi dia aku menjaga hati dan kesucianku selama sepuluh tahun."

"Tidak bisa, apa pun taruhannya, aku tidak akan melepaskannya lagi."

"Mengejar calon suami dimulai dari malam ini."

"Semangat, Arini!"

Setelah memantapkan hati, Arini keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benang pun. Ia menghampiri tempat tidur, menyibak sudut selimut, dan menyelinap masuk ke dalamnya.

Arini memeluk Arya, merasakan suhu tubuhnya. Menatap wajah tampan yang ia cintai setengah mati itu, ia tidak bisa lagi menahan gejolak di hatinya. Ia memanjat ke atas tubuh Arya, mencium bibir yang seksi itu, lalu terus mencium ke arah bawah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!