NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Manja di Park Avenue

Seminggu kemudian, suasana di penthouse Claire terasa sangat berbeda dari hiruk-pikuk New York di luar sana.

Meskipun jadwal makan malam besar di kediaman Abelano sudah di depan mata, sang singa keluarga Abelano itu justru sedang berubah menjadi kucing manja.

Sejak matahari terbit, Leo tidak membiarkan Claire beranjak dari tempat tidur. Suhu tubuhnya sedikit naik, memberikan rona merah di pipinya yang biasanya tegas.

Bukannya beristirahat dengan tenang, Leo malah terus-menerus menarik Claire ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Claire seolah itu adalah obat paling ampuh di dunia.

"Leo, aku harus menyiapkan gaun untuk nanti malam," bisik Claire, jemarinya membelai rambut Leo yang sedikit berantakan karena demam.

"Gaun itu tidak akan lari, Odette," gumam Leo dengan suara parau. "Tetaplah di sini. Kepalaku pusing kalau kamu menjauh."

Claire hanya bisa menghela napas pasrah. Ia yang biasanya begitu disiplin dan kaku, mendadak luluh melihat sisi rapuh Leo. Karena Leo terus memejamkan mata dan menolak bangun, Claire mencondongkan tubuhnya. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil yang lembut di dahi, pipi, hingga ke ujung hidung Leo sebuah ritual "pembangun tidur" yang jauh lebih efektif daripada alarm mana pun.

Saat waktu makan siang tiba, Claire membawa nampan berisi bubur hangat dan obat ke tempat tidur.

Leo, yang sebenarnya sudah bangun sepenuhnya berkat ciuman Claire, justru berpura-pura lemas.

"Suapi," pinta Leo pendek sambil membuka mulutnya sedikit.

Claire memutar bola matanya, namun tetap menyendokkan makanan dan meniupnya perlahan sebelum menyuapi Leo. "Kamu ini aktor kelas dunia atau bayi besar? Kalau Ayahmu lihat singa kebanggaannya seperti ini, dia pasti akan mencoret namamu dari warisan."

Leo terkekeh sambil mengunyah. "Biarkan saja. Warisan tidak bisa menyuapiku seperti ini."

Setelah perutnya terisi dan rasa demamnya sedikit reda berkat perhatian Claire, kilatan nakal kembali muncul di mata cokelat Leo. Ia menarik tangan Claire, membawa wanita itu kembali ke atas tempat tidur di bawah kungkungan lengannya.

"Claire," bisik Leo dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi rendah dan menggoda. "Katanya keringat bisa menurunkan demam. Bagaimana kalau kita... Have Sex sekarang? Aku butuh olahraga agar badanku segar untuk nanti malam."

Claire tertegun sejenak, wajahnya langsung memerah padam. Ia tidak menyangka pria yang tadi merengek minta disuapi sekarang sudah bisa berpikiran kotor.

PLAK!

Claire memukul bahu Leo dengan ringan, pukulan yang lebih mirip belaian sayang.

"Sembuhkan dulu demammu itu, Abelano!" ujar Claire sambil berusaha menahan senyum.

"Jangan harap aku mau tidur bersamamu kalau napasmu masih panas begini. Fokuslah untuk sembuh, baru aku akan mempertimbangkan... permintaanmu itu."

Leo tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang memenuhi kamar sunyi itu. Ia menarik Claire ke dalam pelukannya lagi, kali ini hanya untuk memeluknya erat tanpa niat mesum.

Claire pun tidak bisa menahan tawanya, ia menyandarkan kepalanya di dada Leo, menikmati momen kebersamaan yang sangat manusiawi ini.

Malam itu, kediaman utama Abelano tampak lebih megah dari biasanya. Lampu-lampu gantung kristal di ruang makan utama bersinar terang, memantulkan kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang di New York.

Leo Abelano benar-benar menepati janjinya. Berkat perawatan intensif Claire sepanjang siang, demamnya hilang total. Ia turun dari mobilnya dengan aura yang sangat tajam, mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang mempertegas bahunya yang lebar.

Tidak ada lagi jejak bayi besar yang minta disuapi bubur; yang ada hanyalah pria paling dominan di industri hiburan sekaligus pewaris takhta Abelano.

Di sampingnya, Claire tampil memukau dengan gaun malam sutra berwarna hitam minimalis namun berkelas. Mereka masuk ke ruang makan dengan tangan yang bertautan erat, sebuah pemandangan yang membuat para pelayan menahan napas.

Ayah Leo dan Liam sudah duduk di meja panjang. Begitu Leo melangkah masuk dengan Claire di lengannya, Ayah Leo meletakkan gelas wiskinya dengan suara denting yang keras. Matanya membelalak tak percaya.

"Jadi..." Ayah Leo bergumam, suaranya bergetar antara syok dan rasa bangga yang besar. "Pria misterius dengan jam tangan mewah di kafe itu... adalah kamu, Leo?"

Liam tertawa lepas sambil bertepuk tangan pelan.

"Sudah kubilang, Ayah. Selera Leo sangat tinggi. Dia tidak akan membiarkan wanita sekelas Claire Aimo jatuh ke tangan pengusaha lain."

Claire tersenyum dengan keanggunan seorang ratu. Ia mengulurkan tangannya pada Ayah Leo.

"Selamat malam, Mr. Abelano. Maaf kami harus membuat Anda menunggu dengan teka-teki murahan di media sosial."

Sepanjang makan malam, Leo tidak sedetik pun melepaskan perhatiannya dari Claire. Meskipun ia sudah sembuh total, ia sesekali masih mencuri kesempatan untuk menyentuh tangan Claire di bawah meja sebuah pengingat akan kemesraan mereka siang tadi.

"Jadi, kapan kalian berniat memberitahu publik?" tanya Ayah Leo setelah suasana mulai mencair. "Aku tidak ingin mendengar berita anakku digosipkan dengan aktris bernama Adeline itu lagi."

Leo menyesap wine-nya perlahan, lalu menatap Claire dengan penuh arti. "Publik tidak perlu konfirmasi resmi, Yah. Biarkan mereka terus menebak-nebak. Melihat mereka gila karena teori-teori itu adalah hiburan tersendiri bagi kami."

Leo kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Claire, berbisik cukup keras agar Liam dan ayahnya mendengar. "Lagipula, aku sudah berjanji pada Claire. Karena aku sudah sembuh total malam ini, ada janji lain yang harus kutepati setelah makan malam ini selesai."

Claire membelalakkan matanya, wajahnya kembali merona merah mengingat ucapan Leo siang tadi tentang olahraga setelah sembuh. Ia mencubit paha Leo di bawah meja, membuat Leo meringis kecil namun tetap menyeringai nakal.

Ayah Leo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putra bungsunya yang benar-benar telah takluk. Malam itu, di bawah atap mansion Abelano, sejarah baru tercipta. Bukan lagi tentang persaingan bisnis, melainkan tentang bersatunya dua kekuatan terbesar di New York dalam sebuah rahasia yang paling manis.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!