Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
PANGGILAN VIDEO DAN KUNJUNGAN PENUH PERHATIAN
Malam harinya, setelah dokter datang untuk memeriksa luka di dahinya dan memberikan obat-obatan, Khatulistiwa sedang berbaring di kasurnya sambil membaca buku cerita rakyat Sulawesi Selatan yang diberikan Tenggara. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nada dering yang sudah dia tetapkan khusus untuk pesan dari Tenggara.
"Halo Khatulistiwa, apa kabarmu? Aku baru saja dengar tentang apa yang terjadi di sekolahmu hari ini. Kamu tidak apa-apa kan?"
"Halo Tenggara, aku sudah lebih baik sekarang. Luka di dahiku sudah dibalut dengan benar, dokter bilang tidak masalah kok. Terima kasih sudah menanyakan kabarku."
Tak lama kemudian, muncul permintaan panggilan video dari Tenggara. Khatulistiwa sedikit ragu karena wajahnya masih ada perban dan terlihat tidak sedap dipandang, namun dia tetap menerima panggilannya.
Segera setelah koneksi terhubung, wajah Tenggara yang penuh khawatir muncul di layar. "Astaga Khatulistiwa... ? Aku sangat khawatir ketika mendengarnya dari temanmu yang aku temui di warung dekat sekolahmu."
"Aku sudah tidak apa-apa kok, Tenggara," jawabnya dengan senyum lembut. "Hanya sedikit luka di dahi saja, tidak terlalu parah."
"Tetapi kamu harus beristirahat dengan baik ya," katanya dengan nada yang penuh perhatian. "Jangan melakukan aktivitas apapun dan pastikan kamu minum obatnya sesuai dengan anjuran dokter. Aku benar-benar menyesal tidak bisa ada di sana untuk melindungimu."
"Jangan salahkan dirimu, Tenggara. Kamu sudah banyak membantu aku sebelumnya kok," ucapnya dengan ramah. "Kabar baiknya, Jesika mendapatkan hukuman skors dari sekolah karena perbuatannya. Semoga dia bisa belajar dari kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik."
Tenggara mengangguk dengan pemahaman. "Itu adalah keputusan yang tepat dari pihak sekolah. Pembullyan tidak boleh dibiarkan terus berlanjut.
Mereka berbincang panjang tentang berbagai hal – mulai dari kondisi Khatulistiwa, rencana acara pameran budaya minggu depan, hingga cerita dalam buku yang diberikan Tenggara. Khatulistiwa mengatakan bahwa dia sangat suka dengan cerita tentang putri kerajaan yang membantu rakyatnya menghadapi bencana alam.
"Aku senang kamu menyukainya," katanya dengan senyum. "Nenekku bilang cerita itu berasal dari daerah Mamuju dan sering diceritakan kepada anak-anak sebagai pelajaran tentang kepemimpinan yang baik."
Sebelum mereka mengakhiri panggilan, Tenggara memberikan kabar yang membuat Khatulistiwa merasa senang. "Khatulistiwa, besok pagi aku akan datang menjengukmu . Aku akan membawa beberapa makanan yang bisa membantu kamu pulih lebih cepat – mungkin bubur ayam yang dibuat nenekku atau makanan khas lainnya yang tidak terlalu berat untuk dicerna."
"Benarkah? Aku akan sangat senang jika kamu bisa datang," jawabnya dengan mata yang bersinar. "Ibuku juga pasti akan senang melihatmu dan mungkin akan memberikan banyak sekali kukis untuk kamu bawa pulang."
"Haha, itu pasti sangat enak!" tawa Tenggara. "Baiklah, sekarang kamu harus istirahat ya. Aku akan datang besok jam 10 pagi. Jangan lupa untuk tidur lebih awal.
Setelah mengakhiri panggilan, Khatulistiwa merasa jauh lebih baik. Perhatian yang diberikan Tenggara membuat rasa sakit di dahinya terasa tidak terlalu menyakitkan lagi. Dia segera mematikan lampu dan tertidur dengan pikiran yang penuh harapan untuk kunjungan besok pagi.
Keesokan harinya, tepat jam 10 pagi, bel rumah Khatulistiwa berbunyi dengan suara yang jelas. Ibunya, Senja Diranjani, segera membukanya dan melihat Tenggara berdiri dengan tangan membawa keranjang berisi makanan dan sebuah bunga mawar merah muda.
"Assalamualaikum Bu Senja, izinkan saya untuk menjenguk Khatulistiwa ya," ucapnya dengan sopan.
"Wa'alaikumussalam, Tenggara. Tentu saja, silakan masuk saja," jawab Ibunya dengan senyum hangat. "Khatulistiwa sudah menunggu kamu dari tadi."
Tenggara masuk ke kamar Khatulistiwa dan melihatnya sedang duduk di tempat tidur dengan buku di pangkuannya. "Halo Khatulistiwa, bagaimana kabarmu hari ini?"
"Aku merasa jauh lebih baik sekarang," jawabnya dengan senyum lebar. "Kamu benar-benar datang ya. Terima kasih sudah membawa semua ini."
Dia meletakkan keranjangnya di atas meja samping tempat tidur. "Ini bubur ayam yang dibuat nenekku – katanya sangat baik untuk orang yang sedang dalam proses penyembuhan. Dan ini bunga untukmu agar kamar kamu terlihat lebih ceria."
Khatulistiwa melihat bunga dengan senyum penuh rasa terima kasih. "Bunganya sangat cantik, Tenggara. Aku akan menaruhnya di dekat jendela agar bisa melihatnya setiap hari."
Mereka berbincang sambil menikmati bubur ayam yang hangat dan lezat. Ibunya datang membawa beberapa piring kukis berbagai rasa dan kopi untuk Tenggara. Mereka berbicara tentang rencana acara pameran budaya, dan Tenggara memastikan bahwa dia akan mengantar Khatulistiwa dengan mobil jika kondisinya sudah membaik hingga minggu depan.
"Aku sangat berharap bisa datang ke acara itu," ucap Khatulistiwa dengan penuh harapan. "Aku tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat semua keindahan budaya yang kamu ceritakan."
"Jangan khawatir," katanya dengan lembut. "Jika kamu belum bisa berjalan jauh, aku akan membantu kamu dan pastikan kamu bisa menikmati setiap bagian acara dengan nyaman. Teman-temanku juga sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Setelah beberapa jam berlalu dengan penuh cerita dan candaan, Tenggara harus kembali karena ada janji dengan neneknya untuk membantu persiapan acara pameran. Sebelum pergi, dia memberikan pesan untuk Khatulistiwa.
"Jangan lupa untuk istirahat ya, dan jangan terpaksa datang ke sekolah sebelum kondisimu benar-benar pulih. Jika kamu butuh bantuan untuk mengerjakan tugas sekolah atau ada apa-apa saja, jangan sungkan untuk menghubungiku ya."
Khatulistiwa mengangguk dengan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih banyak sudah datang menjengukku, Tenggara. Kamu benar-benar teman yang baik untukku."
Setelah Tenggara pergi, Khatulistiwa menatap bunga yang ditaruh di dekat jendela dan tersenyum. Dia merasa sangat bersyukur telah memiliki seseorang seperti Tenggara dalam hidupnya – seseorang yang selalu ada di sana ketika dia membutuhkan bantuan dan dukungan. Meskipun tubuhnya masih merasa sakit, hatinya terasa sangat hangat dan penuh dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik