Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai Keluarga dan Baja di Dalam Dada
Tumbuh besar di kaki gunung dengan segala keterbatasan ternyata bukan hanya membentuk fisikku, tapi juga menempa jiwaku menjadi sesuatu yang keras dan sulit dipatahkan. Jika anak-anak lain mungkin butuh waktu lama untuk memahami jahatnya dunia, mentalku sudah diasah sejak usiaku masih empat tahun, sejak malam-malam penuh tangis rindu dan hari-hari mendengar sindiran tajam untuk Ayah di rumah Nenek.
Aku tumbuh menjadi anak yang kebal terhadap hinaan. Bullying? Bagiku, itu hanyalah kebisingan yang tidak berfaedah. Otak kecilku sudah terlalu penuh dengan strategi bagaimana cara mengelola uang saku tiga puluh ribu atau bagaimana cara memecahkan rumus matematika dan fisika yang rumit. Aku lebih memilih pusing karena angka daripada pusing karena mulut tetangga atau ejekan teman sebaya.
Banyak orang bicara soal trauma masa kecil, tapi aku bersyukur, aku tidak memilikinya. Mengapa? Karena aku memiliki tiga lapis perisai yang luar biasa, Ayah, Ibu, dan Kakak.
Kakakku, laki-laki kecil yang saat itu sudah kelas 5 SD, adalah garda terdepanku. Di luar rumah dan di sekolah, ia adalah sosok yang paling kutakuti sekaligus paling kupuja. Jika ada teman yang mulai melewati batas bercanda atau mencoba mengusikku, aku tidak perlu menangis berjam-jam. Aku cukup berjalan menghampiri Kakak yang biasanya sedang bermain kelereng atau bola plastik.
"Kak, tadi dia dorong aku sampai jatuh," aduku singkat.
Seketika, Kakak akan berdiri. Ia meninggalkan permainannya, membusungkan dadanya yang meski masih kecil tapi terlihat sangat gagah di mataku. Ia berjalan di depanku dengan langkah mantap, menghampiri siapa pun yang berani menggangguku.
"Siapa yang berani ganggu adikku? Mana? Bilang sama Kakak!" serunya dengan suara yang ditegas-tegaskan.
Melihat punggung Kakak yang berdiri tegak melindungiku, aku merasa sangat aman. Kakak adalah idolaku. Darinya aku belajar bahwa perlindungan keluarga adalah segalanya. Namun, aku juga belajar satu hal yang keras, bullying adalah tindakan bodoh, dan kita akan ikut menjadi bodoh jika kita hanya diam dan tidak melawan saat tertindas. Tapi, mental setiap orang juga berbeda-beda, dan itu semua tergantung bagaimana orang itu menghadapinya.
"Kamu harus kuat," ujar Kakak suatu sore saat kami berjalan pulang bersama. "Jangan mau diinjak orang. Kalau kamu benar, lawan. Kalau tidak sanggup, panggil Kakak."
Aku mengangguk mantap. Mentalku sudah terasah sejak dini melalui didikan keras Ayah dan disiplin tinggi Ibu. Tidak ada satu pun ejekan tentang baju kusamku atau sepatu ATT-ku yang bisa menggoyahkan hatiku. Aku sudah kebal.
Namun, ada satu pengecualian. Ada satu titik lemah di balik mental bajaku.
Aku tidak peduli jika aku yang dihina. Aku tidak peduli jika aku yang direndahkan. Tapi, jangan pernah ada satu pun lidah yang berani merendahkan orang tuaku. Jika itu terjadi, maka anak kecil yang pendiam ini akan berubah menjadi badai. Bagiku, merendahkan Ayah dan Ibu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah kutoleransi sampai kapan pun. Mereka adalah pahlawan yang memikul kayu dan pupuk, mereka adalah guru yang mengajariku arti tanggung jawab.
"Siapa pun boleh bicara buruk tentangku," bisikku dalam hati sambil menatap Ayah dan Ibu yang sedang beristirahat di teras rumah. "Tapi tidak ada yang boleh menyentuh kehormatan orang tuaku. Tidak akan pernah."
Di usia sekolah dasar itu, aku bukan lagi anak kecil yang hanya tahu menangis karena rindu Ibu. Aku adalah seorang petarung kecil yang tahu cara menghargai diri sendiri dan cara melindungi apa yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu keluarga.
Masa kecilku di kaki gunung bukan hanya tentang aroma tanah basah atau dinginnya udara pagi. Ia adalah kawah candradimuka, tempat di mana rasa sakit diubah menjadi kekuatan, dan rindu dikristalkan menjadi prinsip yang tak tergoyahkan.
Aku menyadari bahwa dunia mungkin tidak akan pernah menjadi tempat yang sepenuhnya ramah. Akan selalu ada angin kencang yang berusaha menumbangkan pohon, dan akan selalu ada suara-suara sumbang yang mencoba meruntuhkan semangat. Namun, berkat punggung tegap Kakak, ketegasan Ibu, dan kasih sayang Ayah yang tersembunyi di balik aroma Segar Snow, aku tidak pernah merasa sendirian di tengah badai itu.
Kini, setiap kali aku melangkah menghadapi tantangan baru, aku selalu membawa "bekal" dari masa kecilku itu. Aku membawa ketangguhan seorang anak pendaki bukit yang tahu bahwa jalan menanjak memang melelahkan, tapi pemandangan di puncaknya selalu sepadan. Aku tidak lagi butuh perisai fisik, karena perisai itu kini sudah menyatu dengan jiwaku.
Keluargaku mungkin jauh dari kata sempurna dalam kamus orang-orang kota. Kami adalah keluarga yang ditempa oleh jarak, kerja keras, dan cara-cara mendidik yang terkadang terasa kasar bagi mereka yang tak mengerti. Tapi bagiku, mereka adalah kemewahan yang paling nyata. Mereka tidak mewariskan harta benda yang melimpah, melainkan sesuatu yang jauh lebih abadi, yaitu sebuah keberanian untuk tetap berdiri tegak, tak peduli seberapa kencang dunia mencoba merendahkan kami.
Aku memejamkan mata, membiarkan angin pegunungan dalam ingatanku berembus sekali lagi. Aku bersyukur atas setiap air mata yang jatuh, atas setiap keping uang lecek dari Nenek, dan atas setiap teguran keras Ibu. Semuanya telah membentukku menjadi aku yang sekarang, seorang manusia yang tahu cara mencintai dengan tulus, cara bertanggung jawab dengan gagah, dan cara melindungi kehormatan orang-orang yang telah menjadi nafas hidupku.
Di bawah langit yang sama, aku berjanji, selama jantungku masih berdetak, kehormatan lereng bukit ini dan nama besar Ayah serta Ibu akan selalu ku jaga di tempat paling suci dalam hatiku.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰