Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga kebebasan dokter prayoga aditama
Berita dari Pak Dadang adalah oksigen bagi Yoga di tengah sesaknya kehidupan di Jakarta. Saat melihat foto Anindya memeluk erat neneknya di Yogyakarta, beban di pundak Yoga seolah terangkat sebagian. Ia mengusap layar ponselnya, menatap wajah Anindya yang meski sembab, setidaknya kini berada di lingkungan yang aman.
"Setidaknya kamu punya tempat untuk pulang, Anin," bisik Yoga pelan sebelum menghapus jejak pesan itu agar tidak terendus oleh Dinda.
Yoga segera menghubungi Cakra, asisten kepercayaannya yang mengelola lini bisnis alat kesehatan miliknya di Surabaya. Yoga tidak ingin Anindya hidup dari belas kasihan semata; ia ingin wanita itu memiliki kemandirian dan harga diri kembali.
"Cakra, dengar baik-baik. Ada seorang wanita bernama Anindya Putri di Surabaya. Dia istri mendiang Arka. Saya ingin kamu merekrutnya sebagai staf administrasi di kantor cabang kita di sana," perintah Yoga tegas.
"Tapi Dok, bukankah kita belum membuka lowongan?" tanya Cakra bingung.
"Buka posisi itu khusus untuk dia. Berikan fasilitas kerja yang ramah disabilitas karena dia menggunakan kursi roda. Dan yang paling penting: jangan pernah sebut nama saya. Biarkan dia tahu kalau dia diterima karena kemampuannya sendiri. Paham?"
"Siap, Dok. Saya mengerti."
Satu minggu kemudian, sebuah keajaiban kecil menghampiri rumah sederhana nenek Anindya. Perwakilan dari perusahaan alat kesehatan milik Yoga (yang dikira Anindya adalah perusahaan profesional biasa) datang menawarkan pekerjaan berdasarkan riwayat pendidikan Anindya yang cemerlang.
Anindya menerima tawaran itu dengan penuh syukur. Baginya, ini adalah jalan untuk melupakan kepahitan di Jakarta.
Setiap hari, dengan semangat baru, Anindya berangkat ke kantor menggunakan layanan transportasi khusus. Di balik meja administrasinya, Anindya membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang.
Otaknya yang cerdas bekerja sangat cepat. Laporan keuangan yang rumit, pendataan stok alat medis, hingga korespondensi bisnis diselesaikannya dengan rapi dan tanpa cela.
Rekan-rekan kantornya kagum. Mereka mengenal Anindya sebagai staf yang pendiam namun sangat cekatan, tanpa tahu bahwa bos besar yang menggaji mereka selalu memantau laporan kinerjanya setiap malam dari Jakarta dengan senyum bangga.
Di Jakarta, Yoga tetap menjalankan perannya sebagai suami yang berbakti di depan Dokter Reza. Dinda pun mencoba "berubah" dengan lebih banyak di rumah, meski Yoga tahu itu hanya karena ketakutan rahasianya terbongkar.
Setiap kali Yoga merasa lelah dengan kepura-puraan Dinda, ia akan membuka laporan kerja dari Surabaya. Membaca nama "Anindya Putri" di kolom staf terbaik bulanan adalah satu-satunya alasan Yoga tetap bertahan mengumpulkan sisa lima miliar rupiah itu.
Namun, ketenangan ini terusik saat suatu hari Dokter Reza mengundang Yoga makan malam dan memberikan pengumuman mengejutkan.
"Yoga, Papa sangat bangga dengan kemandirian kamu. Tapi Papa rasa sudah waktunya kamu memegang kendali penuh di rumah sakit pusat. Papa ingin kamu menjadi Direktur Operasional bulan depan."
Yoga tersentak. Jabatan itu berarti ia akan semakin terikat dengan keluarga dokter reza raharjo, dan impiannya untuk segera pergi ke Surabaya setelah mengembalikan uang lima belas miliar itu akan semakin sulit terwujud.
Yoga segera memperbaiki fokusnya. Nama perusahaan yang ia rintis dengan penuh kerahasiaan itu adalah Aditama Yoga Medika, sebuah penghormatan untuk mendiang ayahnya, Aditama, yang namanya ingin ia angkat kembali melalui kesuksesan yang murni dari jerih payahnya sendiri.
"Aditama Yoga Medika," ulang Dokter Firdaus sambil mengetuk-ngetuk berkas di meja.
"Nama yang kuat. Sepertinya pemiliknya punya visi yang besar. Saya dengar mereka baru saja memenangkan tender besar di Jawa Timur."
Yoga hanya mengangguk kecil, menahan gejolak di dadanya. Ia tahu bahwa setiap rupiah keuntungan dari Aditama Yoga Medika adalah langkah kaki yang membawanya semakin dekat kepada Anindya dan semakin jauh dari sandiwara keluarga Raharjo.
Segera setelah meninggalkan ruangan Dokter Firdaus, Yoga menghubungi Cakra.
"Cakra, pastikan semua dokumen kontrak atas nama Aditama Yoga Medika dipersiapkan dengan sempurna. Nilai kontrak pengadaan MRI ini sangat besar. Jika ini gol, sisa dua miliar yang kita butuhkan akan tertutup dalam sekali transaksi," perintah Yoga dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Baik, Dokter Yoga. Ibu Anindya sudah menyelesaikan seluruh perhitungan margin dan skema pemeliharaannya. Dia sangat detail, Dok. Bahkan dia menambahkan klausul layanan purna jual yang belum pernah ada sebelumnya," lapor Cakra.
Yoga tersenyum tipis. "Dia memang luar biasa. Tapi ingat pesan saya, Cakra. Jangan biarkan dia tahu siapa pemilik sebenarnya. Dan saat dia ke Jakarta untuk presentasi, pastikan tim pengamanan internal kita menjaganya tanpa mencolok. Saya tidak mau Dinda atau orang suruhannya tahu keberadaan Anindya di sini."
Minggu depan adalah pertaruhan terakhir bagi Yoga. Ia mulai menyusun strategi untuk "menghilang" sementara dari pandangan keluarga besar Dewi saat tim dari Yogyakarta datang. Ia mengajukan izin untuk mengikuti simposium kedokteran di luar kota sebagai alasan agar tidak berada di rumah sakit pusat saat Anindya melakukan presentasi di depan Dokter Firdaus.
Di sisi lain, di Surabaya, Anindya sedang mempersiapkan diri dengan sangat matang. Ia mengenakan pakaian kerja yang sangat rapi, duduk di kursi rodanya dengan kepercayaan diri yang baru. Ia tidak tahu bahwa gedung megah yang akan ia datangi adalah tempat pria yang selama ini ia rindukan bekerja.
Anindya hanya ingin membuktikan satu hal: bahwa meskipun ia telah kehilangan suami dan kemampuan berjalannya, ia masih memiliki martabat dan kemampuan untuk sukses melalui Aditama Yoga Medika.
Satu minggu kemudian, mobil perusahaan membawa Anindya dan timnya memasuki pelataran Rumah Sakit Sentral Medika.
Anindya menatap gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk. Ia teringat kejadian pahit saat Dinda melabraknya di Bogor, namun ia segera menepis bayangan itu.
"Ini demi masa depan, demi Mas Arka, dan demi membalas kebaikan bos misterius yang sudah memberiku kesempatan," batin Anindya.
Sementara itu, Yoga memantau melalui CCTV kantor pusat yang terhubung ke ponselnya. Ia melihat Anindya turun dari mobil, terlihat sangat cantik dan profesional. Jantung Yoga berdegup kencang. Ia hanya butuh kontrak ini ditandatangani hari ini, dan lima belas miliar rupiah akan genap di tangannya.
Suasana di ruang rapat direksi Rumah Sakit Sentral Medika terasa begitu formal dan dingin, namun Anindya berhasil mencairkannya dengan presentasi yang sangat memukau. Suaranya tenang, penguasaannya terhadap detail teknis alat medis dari Aditama Yoga Medika membuat Dokter Firdaus berkali-kali mengangguk kagum.
Dokter Firdaus, yang merasa sangat puas, tiba-tiba mengambil ponselnya. "Tunggu sebentar, Ibu Anindya. Penjelasan Anda soal efisiensi biaya ini sangat brilian. Saya ingin menantu saya, Dokter Yoga, mendengarkan ini juga. Dia adalah orang yang paling kritis soal pengadaan alat medis."
Sebelum Anindya sempat bereaksi, Dokter Firdaus sudah melakukan panggilan video (video call) ke ponsel Yoga.
Di sisi lain, Yoga yang sedang memantau dari kejauhan terpaksa mengangkat telepon itu. Wajah Yoga muncul di layar besar ruang rapat. Jantung Anindya seolah berhenti berdetak saat melihat wajah pria yang selama ini menghantui pikirannya. Yoga pun tampak terpaku, namun ia segera menetralkan ekspresinya agar tidak mengundang kecurigaan Firdaus.
"Yoga, dengarkan staf dari Aditama Yoga Medika ini. Penjelasannya luar biasa!" seru Firdaus tanpa menyadari ketegangan di antara keduanya.
Setelah sesi presentasi melalui telepon itu selesai, Dokter Firdaus meminta izin keluar sebentar untuk mengambil dokumen kontrak. Anindya ditinggalkan sendirian di ruang rapat mewah itu.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang penuh dengan piagam penghargaan. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding bagian belakang ruang Direksi.
Itu adalah foto pernikahan megah. Di sana, Yoga berdiri gagah mengenakan jas pengantin, bersanding dengan Dinda yang tersenyum kemenangan. Di samping mereka, Dokter Reza tampak merangkul keduanya dengan bangga.
Anindya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang selama ini ia bendung kembali menyerbu. "Jadi benar... Mas Yoga bukan hanya sekadar menikah, tapi dia adalah bagian dari pemilik rumah sakit besar ini," bisik Anindya pedih. Ia merasa sangat kecil dan bodoh karena sempat menaruh harapan pada pria yang dunianya setinggi langit, sementara ia hanya staf administrasi di kursi roda.
Munculnya Sang Pemilik Sesungguhnya
Tepat saat Anindya sedang menahan tangis, pintu ruang rapat terbuka. Bukan Dokter Firdaus yang masuk, melainkan Yoga. Ia tidak bisa lagi bersembunyi. Ia harus menemui Anindya sebelum wanita itu pergi dengan kesalahpahaman yang lebih besar.
Anindya tersentak, ia segera menghapus air matanya dan memalingkan kursi rodanya. "Dokter Yoga... selamat atas pernikahannya yang megah. Maaf saya sudah mengganggu ketenangan keluarga Anda."
Yoga menutup pintu rapat-rapat. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di depan kursi roda Anindya, persis seperti yang sering ia lakukan di Bogor.
"Anin, dengarkan aku sekali saja," suara Yoga terdengar parau.
"Untuk apa, Mas? Untuk menjelaskan kalau perusahaan tempatku bekerja ini juga milikmu? Untuk bilang kalau semua ini hanya bentuk belas kasihan?" tanya Anindya dengan suara bergetar.
"Bukan belas kasihan, tapi tanggung jawab dan... cinta yang tidak bisa aku sampaikan," Yoga menatap mata Anindya dengan intens.
"Anin, kontrak yang baru saja kamu presentasikan adalah kunci terakhirku. Keuntungan dari transaksi ini menggenapi lima belas miliar rupiah yang aku butuhkan untuk menebus diriku dari keluarga ini."
Yoga menggenggam tangan Anindya yang dingin. "Hari ini, utangku pada Dokter Reza lunas. Hari ini juga, aku akan menyerahkan surat cerai itu. Aku bukan pemilik rumah sakit ini, Anin. Aku hanya pemilik Aditama Yoga Medika, dan aku ingin kamu tetap menjadi bagian dari hidupku, bukan sebagai staf, tapi sebagai pendampingku."