Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kepingan Pertanyaan
Sore itu, Mahesa tampak tengah serius mendengarkan penjelasan rekannya di ruangan IT. Pria itu ingat permintaan yang diucapkan Addam tadi pagi.
“Jadi, alamat IP-nya di setting jadi di luar negeri?” Mahesa menyilangkan tangan di dada.
“Bener, Sa. Kalau gue cek, alamatnya ada di sekitar Asia Timur.”
Mahesa mengambil nafas panjang dan dalam. “Oke deh, kalau gitu makasih banyak, Ndra. Sorry repotin.”
“Sip. Aman aja.”
Langkah Mahesa terasa berat ketika ia berjalan meninggalkan ruangan itu. Isi kepalanya terlalu kusut. Hingga ketika dirinya tiba di depan ruangannya, ia tak sengaja berpapasan dengan Wulan, rekan satu timnya.
“Sa. Kamu kemana aja? Kita nyariin dari tadi...” tanya Wulan tegas.
“Ada apa, Lan?” Mahesa tak mengatakan alasan kepergiannya.
“Sini,” Wulan berjalan cepat.
Mahesa mengekor di belakangnya dengan sebuah pertanyaan besar mencuat dari dalam benaknya.
“Kamu lihat,” Wulan menyodorkan sebuah plastik ziplock bening yang isinya bisa langsung dikenali Mahesa.
“Ini—“ Mahesa menatap benda itu lekat-lekat. Kalung dengan liontin berbentuk bunga Lily of The Valley itu tidak asing lagi baginya.
“Kamu tahu? Kalung ini ditemuin keselip di buku catetan—tapi aku gak yakin kalung itu gak sengaja nyelip gitu aja. Gak tahu kenapa aku ngerasa kalung itu emang disimpen di sana…” ungkap Wulan.
Di sisi lain, ada Revi yang rupanya menyimak obrolan mereka. “Tapi latar belakang korban sama keterangan saksi gak ada yang relevan sama maksud tulisan itu, Lan…” sambungnya.
Mahesa menatap Wulan dan Revi bergantian. “Apa sih? Kok gue gak dikasih tahu?”
“Ya makanya itu kita nyariin kamu dari tadi. Ponsel kamu juga gak bisa dihubungin,” sahut Revi.
Mahesa terkesiap. Ia baru ingat jika ponselnya memang mati karena belum sempat diisi daya. “Jadi, apa? Kalian ngomongin catetan apa?”
“Ini,” kali ini Revi yang mengulurkan plastik ziplock lain, isinya sebuah buku catatan kecil dengan sampul keras.
‘PATAH TULANG DIBALAS PATAH TULANG, MATA DIBALAS MATA, GIGI DIBALAS GIGI’
Ukuran hurufnya dibuat besar hingga memenuhi kedua sisi halaman buku catatan itu.
Kedua alis Mahesa mengkerut. Ia merasa pernah membaca tulisan yang mirip seperti itu.
“Menurutku, kalau kita mengasumsikan catetan itu sebagai pesan dari pelaku, maka kemungkinan besarnya si pelaku pasti menaruh dendam sama korban. Apalagi tulisannya gede-gede gitu, dan lokasi penemuannya juga...” Wulan menatap buku catatan yang dipegang Mahesa. Wanita itu terdengar menggantung kalimatnya.
“Tapi setelah penelusuran kita, korban dikenal ramah dan tidak ada dugaan punya masalah sampai berujung dendam,” timpal Revi.
“Buku ini ketemu di mana, deh?” sela Mahesa ditengah perdebatan kedua rekannya. Ia menyadari ada ucapan Wulan yang terhenti
“Didudukin korban, udah gitu dibungkus kantong plastik hitam,” Wulan melempar pandangannya ke arah jendela. Ia tak mau lagi menatap buku catatan itu.
“Ya Tuhan,” Mahesa menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. “Ini udah jelas bukan cuma buku catetan biasa…!”
“Kata aku juga gitu!” timpal Wulan.
“Ya tapi siapa? Kenapa?” tanya Revi frustrasi.
Ditengah kebingungan itu, ponsel Revi berdering karena sebuah panggilan masuk. “Eh, ssttt… Pak Bagus,” katanya.
Mahesa dan Wulan kompak menghentikan pembicaraan mereka.
“Hallo. Pak Bagus?” ucap Revi pada ponselnya.
Bagus: “Rev. Si Mahesa udah dateng?”
Revi: “Sudah, Pak.”
Bagus: “Oke. Kalian semua ke ruangan Pak Panji. Segera.”
Perintah Bagus singkat, lalu sambungan telpon itupun terputus.
Mahesa, Wulan, dan Revi sempat saling bertatapan sebelum akhirnya bergegas melakukan perintah yang mereka terima.
Tiba di koridor menuju ruangan Panji, mereka juga berpapasan dengan Gilang dan Arya.
“Kalian, ditelpon Pak Bagus juga?” tanya Gilang.
“Iya,” jawab Mahesa singkat.
“Ada apa, ya? Kok gue deg-degan,” kata Revi.
“Iya, Rev. Sama, gue juga deg-degan,” sahut Wulan.
Kelima orang itu lalu berjalan beriringan menuju ruangan Panji.
Sesampainya di sana, mereka disambut oleh raut wajah murung dari dua orang atasan mereka di tempat itu—Bagus dan Panji.
Kelima orang yang baru masuk ke ruangan itu tentu bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja di sana.
“Semua udah dateng, Gus?” Panji menatap Bagus.
Bagus mengangguk. “Sudah, Pak”
Panji mengambil nafas panjang. “Oke, semua. Saya mau kabarin info dari atasan. Beliau bilang, kasus yang sedang kita tanganin harus segera selesai dalam seminggu kedepan. Alasannya, jika kasus ini tidak segera menemukan titik terang, publik akan menilai kinerja kita lambat sehingga penilaian mereka terhadap kita menjadi kurang.”
“Lho. Gak bisa gitu dong, Pak!” sambar Mahesa tanpa ragu.
“Saya tahu, saya tahu…” Panji mengangkat kedua tangannya dengan maksud menyuruh Mahesa menenangkan diri. “Hal itu juga sudah saya sampaikan ke atasan. Tapi beliau kukuh. Ia terus mendesak saya untuk menyetujui perintahnya.”
Semua orang yang ada di sana tampak frustrasi. Jelas sekali raut wajah mereka menggambarkan bagaimana kecewa dan kacaunya pikiran mereka saat itu.
“Jadi… Jika dalam dua hari ini kita tidak bisa menangkap pelakunya, maka mau tidak mau kita harus menutup kasus ini dengan alasan korban murni menghilangkan nyawanya sendiri…” tutur Panji dengan lesu.
Atmosfer di tempat itu menjadi tidak nyaman. Keheningan yang muncul malah terasa menghadirkan kabut dalam isi kepala.
#
Matahari telah berada tepat di atas kepala. Sudah jam dua belas siang, dan Astrid tampak baru mulai mendapatkan kesadarannya. Ia mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan pandangan.
Astrid meringis sambil memegangi kepalanya. “Aduh… Kepalaku…”
Ketika ia berusaha bangkit, tatapannya tak sengaja melihat jam yang berada di atas nakas. “Hah?? Jam dua belas?!”
Di dekat jam berbetuk persegi panjang itu, Astrid juga melihat sebungkus roti, buah-buahan, dan beberapa coklat batang. Beberapa alat hias juga berada di dekat makanan.
Namun alih-alih merasa nafsu makannya naik, ia justru merasa takut karena Astrid tahu seseorang telah memasuki ruangan itu ketika dirinya tak sadarkan diri.
Gadis itu kembali meringis ketika tangannya terasa sakit dan terbalut perban kecil.
Oh, sial. Astrid tahu penyebab ia bisa tidur terlalu lama. Bekas suntikan itu menjelaskan semuanya.
Rasa terkejut Astrid tak berhenti sampai disitu. Puncaknya, saat Astrid tiba di kamar mandi untuk mencuci muka, betapa terkejut dan marahnya ia ketika melihat bayangan dirinya di cermin. Wajah dengan riasan tebal itu benar-benar membuatnya menggila. Tanpa ragu ia melemparkan sebuah botol berisi sabun mandi yang masih penuh pada cermin di depannya itu.
“BAJI*NGAAAAANN!!!” teriak Astrid di dalam kamar mandi itu.
PRANG!
Cermin itu pecah dan hancur berkeping-keping. Semuanya berserakan.
Dalam hatinya ia terus memaki perbuatan orang itu yang telah sangat melampaui batas. Membayangkan bagaimana riasan itu dibubuhkan pada wajahnya ketika dirinya tak sadar benar-benar membuatnya gi*la.
Dengan diliputi api amarah yang membakar dadanya, Astrid meraih kepingan cermin tadi dan menyimpannya di bawah bantal. Saat itu sebuah ide gi*la benar-benar muncul dalam pikirannya.