NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUANG KELAS YANG SEPERTI KEBUN BUNGA BARU

Kampus itu adalah hutan besar yang tumbuh di tengah beton – setiap gedungnya seperti pohon yang menjulang tinggi, setiap lorongnya seperti jalan setapak yang mengarah ke berbagai rahasia pengetahuan. Murni berdiri di depan pintu kelas yang besi mengkilap, refleksi wajahnya di permukaannya seperti cermin yang menunjukkan dirinya yang baru akan mulai hidup – rambut sedikit berantakan karena terbawa angin kota, tas ransel yang sudah terlihat lebih lembut dari sebelumnya, dan mata yang masih membawa bekas embun kampung namun sudah mulai berbinar seperti bintang di malam kota.

Ketika dia masuk, ruangan itu menyambutnya dengan suara bisikan kertas dan jejak langkah yang seperti irama awal sebuah lagu. Meja-meja kayu berbaris rapi seperti barisan prajurit yang siap menghadapi peperangan dengan ketidakpahaman, dan kursi-kursinya seperti tempat duduk yang menunggu cerita baru untuk didengar. Udara di dalamnya berbeda dari udara dusun – ada aroma tinta printer, parfum dari teman-teman baru, dan sedikit rasa kering yang seperti napas dari dunia yang selalu bergerak cepat.

"Kau duduk di sini saja ya?" Suara itu datang seperti musik yang tiba-tiba muncul di tengah kesunyian. Murni menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut ikal yang seperti belimbing yang menggantung lembut, mengenakan baju batik dengan motif bunga melati yang seolah-olah berbunga di tubuhnya. Namanya Siti – anak dari keluarga pedagang yang juga datang dari desa jauh, mata nya sama saja dengan Murni: penuh dengan harapan yang seperti air mengalir ke lautan tanpa tahu apa yang akan ditemui.

Kemudian datang lagi Rio – laki-laki tinggi dengan wajah yang seperti batu yang sudah dipoles oleh waktu, tangan nya sedikit kasar karena dulu membantu ayahnya membuat perabot kayu. "Kita sama-sama anak kampung ya?" Ucapnya dengan senyum yang seperti matahari sore yang menghangatkan tanpa menyilaukan. Dia bilang bahwa kuliah adalah jembatan yang harus dilewati dengan hati-hati – satu kesalahan bisa membuat terjatuh, tapi jika berhasil, akan membawa ke daratan yang lebih luas.

Seiring berjalannya hari, kelompok mereka mulai terbentuk seperti bunga-bunga yang tumbuh berdekatan di satu bedengan. Ada juga Dina – yang datang dari kota tapi memiliki hati yang seperti tanah kampung yang lapang dan ramah, selalu bersedia membagikan catatan kuliahnya seperti orang yang membagikan hasil panen. Mereka saling mengenal seperti benih-benih yang tumbuh berdampingan, setiap orang membawa cerita sendiri yang seperti warna-warni berbeda yang menyusun sebuah lukisan besar.

Di dalam kelas, dosen mereka adalah pemandu yang membawa kompas pengetahuan. Suaranya seperti ombak yang mengajarkan ritme lautan, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah benih yang ditanamkan di dalam hati dan pikiran setiap mahasiswa. Murni sering merasa seperti burung kecil yang baru belajar terbang, kadang terjatuh, kadang tersesat, tapi teman-temannya selalu ada seperti cabang-cabang yang siap menyambutnya ketika dia perlu beristirahat.

Perkuliahan itu adalah perjalanan di atas lautan yang kadang tenang dan kadang bergelombang. Ada hari-hari ketika materi pelajaran seperti kayu yang sulit untuk dipotong, membuat mereka berpusing dan merasa seperti kapal yang tersesat di tengah badai. Tapi mereka selalu saling membantu – Siti yang baik dalam bahasa akan menjelaskan seperti air yang membubuhkan batu, Rio yang pandai dalam logika akan membuat contoh seperti jalan yang mempermudah perjalanan, Dina yang paham akan teknologi akan membimbing seperti senter yang menerangi jalan gelap, dan Murni yang memiliki kepekaan alam akan menghubungkan setiap materi dengan kehidupan seperti akar yang menyambung tanah dengan pohon.

Saat mereka duduk bersama di halaman kampus yang ditumbuhi rumput hijau seperti kasur alami, matahari sore menyinari wajah mereka seperti cat emas yang melukis setiap bentuk. Mereka berbicara tentang mimpi-mimpi mereka – Murni ingin membangun sekolah di kampungnya seperti menanam pohon besar yang akan memberikan naungan bagi banyak orang, Siti ingin menjadi pengacara yang membela hak-hak rakyat kecil seperti pelindung yang menjaga keadilan, Rio ingin membuat perabot kayu yang menggabungkan tradisi dan modernitas seperti jembatan antara masa lalu dan masa depan, dan Dina ingin membuat aplikasi yang membantu petani seperti jembatan antara tanah dan teknologi.

"Kita seperti empat arah angin yang berkumpul di satu tempat," ujar Murni dengan senyum yang seperti matahari yang muncul setelah hujan. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan selalu mulus seperti jalan aspal baru, tapi mereka juga yakin bahwa memiliki teman senasip adalah seperti memiliki bekal makanan yang cukup untuk perjalanan panjang – membuat setiap tantangan terasa lebih ringan, setiap keberhasilan terasa lebih manis.

Ketika malam datang dan lampu-lampu kampus menyala seperti bintang-bintang yang turun ke bumi, Murni duduk di balkon asrama melihat kota yang berkedip-kedip seperti kura-kura yang memiliki bintang di punggungnya. Dia merasakan bahwa dirinya sudah mulai berakar di tempat baru ini – akar yang tidak menggantikan akar di kampungnya, tapi seperti akar tambahan yang membuatnya semakin kuat untuk berdiri tegak menghadapi segala angin dan badai.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Saat angin malam menyapu balkon asrama dengan sentuhan yang seperti tangan nenek yang menyisir rambutnya, Murni melihat bayangan pepohonan di halaman kampus bergoyang seperti penari yang menari dengan irama angin. Setiap daun yang berdesir adalah suara yang berbicara tentang kehidupan yang terus berputar – sama seperti sungai di kampungnya yang tidak pernah berhenti mengalir, meskipun arahnya berbeda.

Keesokan harinya, mereka menghadapi mata kuliah pertama yang benar-benar membuat mereka terengah-engah seperti kambing yang mendaki bukit dengan beban berat. Materi statistik ekonomi seperti jaring laba-laba yang rumit – setiap angka dan rumus saling terhubung, tapi sulit untuk melihat gambar keseluruhannya. Murni merasa seperti burung yang mencoba membaca peta dunia dengan mata telanjang – bingung, tapi tidak mau menyerah.

"Jangan khawatir, kita bisa pelajari bersama," ujar Rio sambil menepuk bahu Murni dengan tangan yang hangat seperti batu yang terkena sinar matahari. Mereka berkumpul di ruang belajar kecil yang seperti sarang yang hangat dan aman, meletakkan buku-buku tebal seperti batu bata yang akan membangun pondasi masa depan mereka. Siti membawakan secangkir teh jahe yang dia bawa dari rumah – aroma nya seperti jembatan yang menghubungkan kampung dan kota, membuat mereka merasa sedikit lebih dekat dengan tempat asal masing-masing.

Saat mereka membahas rumus-rumus yang sulit, Dina mengambil laptopnya dan membuat diagram yang jelas seperti peta jalan yang menunjukkan setiap tikungan dengan jelas. "Bayangkan saja angka-angka ini seperti biji-biji padi," jelasnya dengan senyum yang cerah seperti matahari pagi. "Setiap biji kecil jika ditanam dengan benar akan menghasilkan rumpun yang banyak." Murni mengangguk perlahan – akhirnya dia melihatnya, bagaimana ilmu yang dia pelajari bisa seperti air hujan yang menyuburkan tanah kampungnya, memberikan hasil yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Di tengah perkuliahan, mereka juga mendapatkan tugas kelompok yang seperti perjalanan ekspedisi ke daerah yang belum dikenal. Tema mereka adalah "Pemberdayaan Ekonomi Petani Melalui Teknologi" – sebuah topik yang membuat hati Murni berdebar seperti gendang yang dipukul saat perayaan. Dia merasa seperti pelaut yang menemukan pulau impiannya – akhirnya ada kesempatan untuk menghubungkan dunia yang dia pelajari sekarang dengan dunia yang dia tinggalkan dulu.

Mereka mulai mengumpulkan data seperti burung yang mengumpulkan dedaunan untuk sarangnya. Murni menelepon ayahnya di kampung – suara ayahnya di telepon seperti gemuruh tanah yang memberikan kekuatan. "Kita butuh lebih banyak pengetahuan untuk membuat hasil panen kita lebih baik, nak," ujar ayahnya. "Kamu seperti jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia luar." Kata-kata itu membuat Murni semakin yakin bahwa langkahnya merantau bukanlah kabur dari kampung, melainkan seperti benih yang dibawa angin untuk tumbuh di tempat baru dan kemudian kembali memberikan manfaat bagi tanah asalnya.

Saat mereka menyusun laporan, setiap anggota kelompok memberikan kontribusi seperti bagian-bagian dari sebuah mesin yang bekerja dengan sempurna. Rio membuat ilustrasi desain sistem yang dia pikirkan – gambarnya seperti peta yang menunjukkan jalan menuju kemakmuran. Siti menulis bagian hukum dan kebijakan dengan gaya yang jelas seperti air yang mengalir lancar di sungai. Dina mengolah data dan membuat grafik yang mudah dipahami seperti bunga yang menunjukkan warna musim. Dan Murni menulis bagian pengantar dan kesimpulan dengan kata-kata yang penuh perasaan seperti lirik lagu yang menyentuh hati.

Di hari presentasi, mereka berdiri di depan kelas seperti prajurit yang siap mempertahankan keyakinan mereka. Murni yang biasanya pemalu seperti bunga yang hanya mekar di malam hari, kini berdiri dengan tegak seperti pohon kelapa yang kokoh di tepi pantai. Saat dia menjelaskan bagaimana teknologi bisa membantu petani seperti orang tuanya, suaranya jelas seperti lonceng yang berkumandang di pagi hari, mata nya bersinar seperti bintang di malam yang jelas.

Dosen mereka memberikan senyum yang puas seperti petani yang melihat hasil panen yang melimpah. *"Kalian tidak hanya belajar ilmu," katanya dengan suara yang hangat seperti selimut yang menghangatkan di malam dingin. "Kalian belajar bagaimana menggunakan ilmu untuk menyentuh kehidupan orang lain. Itulah makna sebenarnya dari pendidikan – seperti air yang mengalir dari sumber untuk memberi kehidupan pada semua yang ada di bawahnya."

Setelah presentasi selesai, mereka keluar ke halaman kampus dengan langkah yang ringan seperti burung yang baru saja belajar terbang dengan sempurna. Matahari sore menyinari langit dengan warna oranye dan merah seperti kain tenun yang indah, dan awan-awan itu seperti gambaran mimpi-mimpi mereka yang sedang terbentuk. Mereka duduk di atas rerumputan yang lembut seperti kasur yang dibuat oleh alam, melihat orang-orang yang berlalu-lalang seperti arus sungai yang terus bergerak.

"Kita bisa melakukan hal besar, bukan?" ujar Murni dengan suara yang penuh keyakinan. Teman-temannya mengangguk, wajah mereka penuh dengan harapan yang seperti bunga-bunga yang akan mekar di musim semi. Rio mengeluarkan beberapa buah pisang yang dia bawa dari rumah – rasanya manis seperti keberhasilan yang diraih bersama. Siti membawakan kertas dan pena, lalu mereka mulai membuat daftar rencana kecil yang bisa mereka lakukan untuk kampung masing-masing – seperti benih-benih yang akan mereka tanam di berbagai tempat.

Malam itu, Murni menulis surat untuk orang tuanya – kata-katanya seperti benang yang menyambung dua dunia yang berbeda. Dia memberi tahu mereka bahwa dia sudah menemukan teman-teman yang seperti saudara yang tidak memiliki darah hubungan tapi memiliki hati yang sama. Dia memberi tahu mereka bahwa ilmu yang dia pelajari adalah seperti senjata yang akan dia gunakan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dan dia memberi tahu mereka bahwa meskipun dia sudah berakar di tempat baru, akar utamanya tetap berada di kampung mereka – seperti pohon besar yang meskipun sudah tumbuh tinggi, akarnya tetap kuat di dalam tanah kelahirannya.

Ketika dia selesai menulis dan menutup buku catatannya, dia melihat ke luar jendela – kota yang masih berkedip-kedip seperti kumpulan bintang yang turun ke bumi. Dia merasakan bahwa dirinya bukan lagi hanya anak kampung yang tersesat di kota besar, melainkan seperti perahu yang sudah menemukan jalannya di lautan luas – siap menghadapi ombak apa pun, karena dia tahu bahwa dia tidak sendirian, dan dia tahu bahwa dia memiliki tujuan yang jelas seperti bintang kompas yang selalu menunjukkan arah yang benar.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Lautan kota itu memang luas, dengan ombak-ombak yang datang dalam bentuk tugas kuliah yang menumpuk seperti gunung pasir, ujian yang seperti badai yang menghadang tanpa pamrih, dan keramaian yang kadang membuatnya merasa seperti ikan yang tersesat di tengah kawanan yang terlalu padat. Tapi sekarang, Murni melihatnya dengan mata yang berbeda – setiap ombak adalah pelajaran untuk menjadi lebih kuat, setiap badai adalah cara untuk menguji seberapa kokoh perahu dirinya, dan setiap keramaian adalah kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang akan mengisi pelajaran hidupnya.

Di pagi hari yang cerah seperti telapak tangan yang terbuka lebar, mereka berempat selalu berkumpul di warung kecil dekat gerbang kampus. Warung itu milik Pak Jarwo, yang wajahnya seperti peta jalan yang penuh dengan lipatan pengalaman, selalu menyajikan bubur ayam yang rasa nya seperti pelukan hangat dari orang tua. Sementara menyantap makanan, mereka membahas topik kuliah dengan suara yang kadang seperti guntur yang bergema saat berdebat, kadang seperti biola yang lembut saat saling menjelaskan.

"Kalian tahu nggak, materi ekonomi pembangunan itu seperti menanam padi," ujar Murni suatu hari, matanya bersinar seperti matahari pagi yang menyinari sawah. "Kalau hanya menanam tanpa merawat, hasilnya akan jelek. Kalau merawat tapi tidak tahu cara yang tepat, juga tidak akan tumbuh dengan baik. Kita harus tahu tanahnya, cuacanya, dan cara merawatnya dengan cinta – sama seperti membangun daerah kita."

Rio mengangguk dengan wajah yang serius seperti batu nisan yang menyimpan cerita, "Betul banget. Kayaknya buat saya juga, ilmu desain produk itu seperti membuat keranjang anyaman. Setiap tali harus disusun dengan tepat, saling menguatkan satu sama lain. Kalau ada satu tali yang lemah, seluruh keranjang bisa roboh."

Siti mengeluarkan catatan kuliahnya yang rapi seperti barisan padi yang terawat, "Untuk saya, hukum itu seperti sungai yang mengalir. Harus ada alur yang jelas agar air bisa sampai ke tempat yang tepat. Kalau ada rintangan yang menghalangi, kita harus membersihkannya dengan cara yang benar, bukan dengan memecah atau merusak alirannya."

Dina yang selalu membawa laptopnya seperti tentara yang membawa senjatanya, menambahkan dengan senyum yang seperti bunga matahari yang menghadap matahari, "Dan teknologi itu seperti jembatan yang menghubungkan dua daratan. Kita bisa menggunakan nya untuk membawa apa yang baik dari kota ke desa, dan juga membawa keunikan dari desa ke kota. Jangan sampai jembatan itu hanya digunakan untuk satu arah saja."

Pak Jarwo yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum seperti matahari sore yang melihat hasil panennya, "Kalau begitu, kalian berempat adalah empat unsur yang menyatu – tanah, kayu, air, dan api. Tanah untuk menanam harapan, kayu untuk membangun fondasi, air untuk menghidupi kehidupan, dan api untuk menerangi jalan." Kata-katanya seperti embun yang menyiram daun-daun yang kering, membuat mereka semakin yakin dengan jalan yang mereka tempuh.

Seiring berjalannya bulan, mereka mulai terlibat dalam program pengabdian masyarakat yang diadakan oleh kampus. Proyek pertama mereka adalah membantu desa kecil dekat kota untuk membuat sistem pemasaran produk hasil tangan masyarakat setempat. Murni menjadi jembatan antara teman-temannya dengan masyarakat desa, karena dia tahu seperti apa bahasa hati yang digunakan oleh orang-orang kampung – tidak banyak kata-kata, tapi penuh dengan rasa hormat dan kejujuran yang seperti air mata yang tulus.

Proses kerja itu seperti menyusun puzzle yang sangat besar*.* Ada hari-hari ketika mereka merasa seperti petani yang bekerja di bawah terik matahari, capek dan lelah tapi tidak mau menyerah. Ada juga saat ketika ide-ide mereka bertemu seperti air yang bertemu di muara, menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri masing-masing. Siti membuat kontrak yang jelas dan adil untuk para pembuat produk tangan, Rio mendesain kemasan yang menarik namun tetap menunjukkan keaslian produk lokal, Dina membuat website sederhana untuk memasarkan produk tersebut, dan Murni membantu melatih masyarakat desa tentang cara menjaga kualitas produk serta berkomunikasi dengan pembeli.

Ketika hari peluncuran tiba, desa itu tampak meriah seperti perayaan hari raya. Para pembuat produk tangan datang dengan wajah yang bersinar seperti bintang di malam hari, membawa hasil karya mereka yang indah seperti bunga-bunga yang mekar di musim semi. Ketika pertama kali ada pembeli yang datang dan membeli produk mereka, suara teriakan kegembiraan yang keluar dari mulut mereka seperti guntur yang menggema di langit yang cerah – sebuah suara yang akan selalu terngiang di dalam hati Murni.

Saat malam menjelang dan mereka duduk di tepi sungai desa itu – sungai yang mengalir tenang seperti hati yang sudah menemukan kedamaian, Murni melihat teman-temannya yang wajahnya dipantulkan oleh cahaya lilin seperti pahlawan kecil yang tidak pernah menyadari kehebatan dirinya. Dia merasakan bahwa perahu dirinya tidak hanya menemukan jalannya, tapi sudah mulai menjadi bagian dari armada kecil yang siap menjelajahi setiap sudut lautan, membawa harapan dan kebaikan ke mana pun mereka pergi.

"Kita bukan hanya sekadar teman kuliah," ujar Murni dengan suara yang lembut tapi kuat seperti arus bawah tanah yang mengalir jauh ke dalam, "Kita adalah keluarga yang dipilih oleh takdir – masing-masing membawa warna dan cerita sendiri, tapi ketika disatukan, kita menjadi sebuah gambar yang indah dan penuh makna."

Mereka berjabat tangan satu sama lain, tangan mereka yang saling bertemu seperti batu-batu yang menyusun fondasi sebuah istana, kuat dan kokoh. Di langit di atas mereka, bintang-bintang bersinar terang seperti kompas yang tidak pernah salah arah, dan bulan yang penuh seperti cakram keberhasilan yang sedang mereka raih sedikit demi sedikit. Murni tahu bahwa masih banyak ombak besar yang akan mereka hadapi, masih banyak jalan yang akan mereka lewati, tapi dia tidak lagi merasa takut – karena dia tahu bahwa dia memiliki teman-teman yang seperti anjing pelaut yang selalu setia menemani perjalanan, dan mereka semua memiliki tujuan yang sama: membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, seperti menjadikan lautan yang ganas menjadi tempat yang damai dan subur.

 

...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!