NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Lautan Api dan Tangis

Dunia seharusnya sunyi bagi orang buta, namun Desa Liu-Shu malam ini adalah nyanyian dari neraka.

Langkah kaki Guiren tidak lagi tersandung batu, ia meluncur di atas tanah yang licin oleh cairan kental yang bukan air hujan. Suara api melahap kayu kering terdengar seperti derit gigi raksasa yang sedang mengunyah tulang. Suhu udara begitu panas hingga kain penutup matanya terasa seperti bara yang menempel di kulit.

Ia sampai di batas desa.

Indra penciumannya yang tajam dihantam oleh bau daging yang hangus dan amis darah yang begitu pekat, seolah-olah seluruh dunia telah berubah menjadi kolam tinta merah. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Penduduk desa yang dahulu takut pada lukisannya, kini telah menjadi bagian dari keheningan yang mati.

Guiren terus berjalan, tangannya yang gemetar meraba udara, mencoba mencari arah rumahnya. Ia melewati sesuatu yang terasa seperti tumpukan kain di tengah jalan, namun saat kakinya menyentuhnya, benda itu terlalu berat dan dingin. Ia tahu itu adalah tetangganya, tapi ia tidak berhenti.

Ia harus sampai ke rumah.

Tangannya menyentuh tiang gerbang rumahnya yang seharusnya kokoh, namun kini terasa kasar dan hancur. Kakinya tersangkut di ambang pintu. Ia meraba ke bawah, jemarinya menyentuh kain kasar yang dikenali.

Itu adalah tubuh ayahnya.

Tubuh itu kaku, tergeletak melintang di pintu masuk. Saat jari Guiren menelusuri dada ayahnya, ia merasakan robekan besar yang dingin seperti luka pedang yang membelah tulang rusuk.

Guiren tidak berteriak. Napasnya berhenti di tenggorokan, menjadi isakan yang menyakitkan. Ia merangkak melewati tubuh ayahnya, masuk ke dalam rumah yang dipenuhi asap tebal.

"Ibu... Lian’er... ."

Di sudut ruangan yang masih terhindar dari jilatan api, ia mendengar suara lemah. Suara seretan napas yang pendek dan penuh lendir darah.

Guiren menerjang ke arah suara itu. Tangannya menyentuh rambut halus yang dikenalnya sebagai Xiaolian, namun adiknya tidak bergerak. Di atas tubuh Xiaolian, ada beban lain yang lebih berat.

"Guiren... ."

Suara ibunya hanyalah bisikan, hampir kalah oleh gemeretak api di atap.

Guiren merengkuh bahu ibunya. Tangannya seketika basah oleh darah yang mengalir dari punggung wanita itu. Ibunya telah menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai, mendekap Xiaolian di bawahnya agar asap dan api tidak merenggut nyawa si bungsu.

"Ibu, aku di sini. Aku turun... aku berhasil turun dari tebing sendirian. Tolong tetaplah bersamaku." suara Guiren pecah. Ia mencoba menarik tubuh ibunya, namun wanita itu mencengkeram lengan bawah Guiren dengan kekuatan terakhirnya.

"Lindungi adikmu... ," bisik ibunya. Pegangannya melonggar, jari-jarinya merosot dari lengan Guiren. "Pergi... sejauh mungkin... ."

Hembusan napas terakhir itu menyapu pipi Guiren, membawa bau pahit kematian.

Guiren membeku. Di sekelilingnya, api semakin liar, menyulut tirai dan kayu penyangga. Keputusasaan yang selama ini ia tekan di atas tebing kini meledak, menjadi pusaran kegelapan yang menelan akal sehatnya. Ia merasa seolah-olah aliran dingin dalam meridiannya kini mendidih, meronta untuk dilepaskan.

Ia meraba tanah di bawah tubuh ibunya. Darah telah menggenang di sana, hangat dan kental.

Dengan gerakan yang tidak lagi sadar, Guiren mencelupkan jemarinya ke dalam genangan darah itu. Ia tidak lagi butuh kuas. Ia tidak lagi butuh kertas atau kanvas. Lantai kayu adalah kanvasnya.

Ia mulai melukis.

Jarinya bergerak dengan kecepatan liar, mencoretkan simbol-simbol kuno yang tidak pernah ia pelajari, namun tersimpan jauh di dalam jiwanya. Ia melukis amarahnya. Ia melukis duka yang membakar. Ia melukis takdir yang baru saja dipatahkan di depan matanya.

Saat garis darah terakhir selesai ditarik, dunia yang gelap dalam kepala Guiren seketika tersentak.

Hawa dingin yang menusuk menyapu ruangan itu, sejenak menekan panas api. Tiba-tiba, kegelapan absolut di balik kelopak mata Guiren terkoyak.

Ia tidak bisa melihat cahaya fisik, namun ia bisa melihat aliran.

Ia melihat sisa-sisa energi abu-abu yang menguap dari tubuh orang tuanya, jejak kehidupan yang memudar. Ia melihat aliran Qi merah yang beringas dari api yang melahap kayu. Dan di tengah-tengah itu semua, ia melihat Xiaolian. Adiknya tampak seperti percikan perak yang meredup di dalam lautan kegelapan, detak jantungnya terlihat seperti denyut tinta yang tipis.

Inilah Visi Qi. Dunia yang sebelumnya hanya ia raba, kini terpampang sebagai peta energi yang mengerikan dan jujur.

Guiren menarik napas tajam. Aliran "tinta" di dalam dadanya kini mengalir lancar, tersambung dengan garis-garis darah yang ia lukis di tanah. Simbol di tanah itu kini bercahaya dalam visi batinnya, menyerap sisa-sisa kehidupan di sekitarnya dan membentuk perlindungan tipis di sekitar Xiaolian.

Ia berdiri, meski kakinya gemetar. Matanya yang tertutup kain kini seolah menatap langsung ke arah luar desa, mengikuti jejak energi hitam pekat yang tertinggal di udara, jejak mereka yang baru saja pergi meninggalkan kehancuran ini.

Guiren tidak lagi menangis. Tangisnya telah mengering bersama darah di tangannya.

Ia membungkuk, mengangkat tubuh Xiaolian yang pingsan ke dalam dekapannya. Ia tidak peduli dengan luka di tubuhnya atau bahu yang hampir lepas. Ia menatap ke arah mayat ibunya untuk terakhir kali, sebuah pandangan tanpa mata yang penuh dengan janji yang kotor.

Di luar, api terus melahap sisa-sisa Desa Liu-Shu, namun bagi Guiren, desa itu sudah lama hilang. Yang tersisa hanyalah jalanan penuh tinta darah, dan ia adalah pelukisnya.

Ia melangkah keluar dari rumah yang runtuh, melewati mayat ayahnya tanpa berpaling. Visi peraknya menunjukkan jalan, sebuah jalur yang dipenuhi oleh bayangan dendam yang akan ia lukis hingga tuntas.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!