Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Hujan turun tanpa peringatan, membasahi halaman kediaman Reynard dengan ritme pelan yang terasa menenangkan sekaligus mengganggu. Langit menggelap lebih cepat dari seharusnya, seolah ikut menutup rapat rahasia yang belum siap terungkap. Dari balik jendela kamar, Yurie berdiri diam, memandangi tetes air yang jatuh beruntun di kaca.
Pikirannya belum benar-benar kembali sejak meninggalkan ruang kerja di sayap barat bersama Kaiden. Map cokelat tua itu masih terbayang jelas di kepalanya—potongan masa lalu yang terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Setiap judul berita, setiap tanggal, seakan disusun dengan sengaja agar suatu hari seseorang menemukannya.
Dan orang itu… adalah dirinya.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Yurie tanpa menoleh.
Kaiden melangkah masuk, kali ini tanpa ekspresi dingin yang biasa ia kenakan di hadapan orang lain. Ada sesuatu di wajahnya—lelah, mungkin. Atau terlalu banyak hal yang ingin ia katakan tapi tertahan di tenggorokan.
“Kamu belum makan,” katanya.
Yurie tersenyum tipis. “Belum lapar.”
Kaiden mendekat, berdiri di samping jendela. Ia ikut memandang hujan, lalu berkata pelan, “Kalau kamu mau, kita bisa keluar sebentar. Cuma ke teras belakang. Udara dingin kadang bikin kepala lebih ringan.”
Yurie menoleh. “Kamu yakin?”
Kaiden mengangguk. “Aku temani.”
Mereka berjalan berdampingan menuju teras belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan cahaya di genangan air. Hujan sudah mengecil, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan.
Yurie duduk di bangku kayu, memeluk dirinya sendiri. Kaiden melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Yurie tanpa berkata apa pun. Gerakan itu sederhana, tapi membuat
Yurie terdiam sejenak.
“Kamu selalu begini,” katanya akhirnya. “Nggak banyak bicara, tapi… ada.”
Kaiden tersenyum samar. “Aku lebih buruk kalau banyak bicara.”
Yurie tertawa kecil, lalu kembali terdiam. “Kaiden… kalau suatu hari aku tahu kebenaran tentang ibuku… dan itu lebih buruk dari yang aku bayangkan—”
“Aku tetap di sini,” potong Kaiden cepat, seolah tak ingin kalimat itu berlanjut terlalu jauh.
Yurie menatapnya. “Kamu bahkan belum tahu semuanya.”
“Justru itu,” jawab Kaiden pelan. “Aku tahu rasanya hidup dengan potongan-potongan yang nggak utuh.”
Angin berembus lembut, membawa dingin yang membuat Yurie menarik jas Kaiden lebih rapat. Ia merasa aneh—nyaman, tapi juga takut. Seolah kebahagiaan kecil ini terlalu rapuh.
Di tempat lain, jauh dari kediaman Reynard, sebuah ruangan bercahaya redup menjadi saksi percakapan yang sama sekali berbeda. Ruangan itu luas, dindingnya berwarna gelap dengan satu meja panjang di tengah. Di atas meja, layar tablet menampilkan potongan berita yang sama—judul-judul lama yang kini mulai bergerak lagi.
Seorang pria berdiri membelakangi layar, tangannya dimasukkan ke saku celana. Siluetnya terlihat tenang, hampir santai. Namun ada sesuatu dari caranya berdiri—seolah dunia di sekitarnya hanyalah papan permainan.
“Dia sudah menemukannya,” ujar seseorang dari sudut ruangan.
Pria itu tersenyum tipis. “Lebih cepat dari perkiraan.”
“Kita perlu menghentikannya?”
“Tidak,” jawabnya ringan. “Biarkan dia melangkah. Setiap langkahnya akan membawanya ke arah yang sudah kita tentukan.”
Ia menoleh, matanya tajam, penuh perhitungan. “Lagipula, bukankah lebih indah melihat seseorang percaya bahwa mereka akhirnya menemukan kebenaran… padahal baru menyentuh permukaannya?”
Kembali ke kediaman Reynard, hujan berhenti sepenuhnya. Yurie menghela napas panjang, seolah melepaskan beban yang menumpuk di dadanya.
“Kaiden,” panggilnya pelan.
“Ya?”
“Kalau aku berubah… kalau suatu hari nanti aku nggak lagi seperti sekarang…”
Kaiden menatapnya lurus. “Aku nggak menikah dengan bayanganmu, Yurie. Aku menikah dengan orangnya.”
Kata-kata itu membuat Yurie tercekat. Ia menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang tak ingin ia perlihatkan.
Malam semakin larut. Mereka duduk berdampingan dalam diam yang nyaman—bukan karena tak ada yang ingin dibicarakan, melainkan karena untuk pertama kalinya, diam tidak terasa menakutkan.
Namun jauh di balik keheningan itu, benang-benang lama mulai ditarik kembali. Nama-nama yang tidak pernah disebut mulai berbisik di balik layar, menunggu saat yang tepat untuk muncul ke permukaan. Dan ketika saat itu tiba, tidak semua orang akan siap menerima apa yang selama ini mereka sembunyikan..