NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Menu yang Salah

Lentera Hitam tampak berbeda dari ketinggian gang sempit ini. Cahaya hijau-kebiruan dari lampu merkuri di jalan utama berpendar seperti permukaan air yang tercemar, menciptakan bayangan panjang yang tidak wajar pada dinding-dinding bata. Arlan menyesuaikan kerah mantel panjangnya, menutupi seragam kurirnya yang masih sedikit lembap oleh uap nitrogen dari gudang logistik bawah tanah tadi. Di saku dalamnya, dua koin perak—milik Pak Suryono dan Laila—terasa berat, seolah membawa massa beban emosional yang siap menenggelamkannya.

Ia menatap kertas manifes fisik yang berhasil ia curi dari rute ventilasi. Restoran 'The Pure Choice'. Nama yang sangat ironis bagi tempat yang kemungkinan besar hanya menyajikan simulasi plastik untuk para Peniru.

"Dante, aku sudah berada di depan pintu masuk samping. Manifes ini menyebutkan pengiriman 'Bahan Organik Tipe A' pukul tujuh malam. Itu lima menit lagi," bisik Arlan pada mikrofon di balik kerahnya.

"Hati-hati, Arlan. Restoran itu adalah zona sterilisasi tingkat tinggi. Di sana, para Peniru sedang merayakan kesempurnaan mereka. Mereka sangat sensitif terhadap anomali suhu. Ingat, kau adalah pelanggan yang lapar, bukan kurir yang curiga," suara Dante terdengar jernih namun penuh peringatan.

"Aku tahu. Aku harus memastikan apa yang sebenarnya mereka makan di sana."

"Gunakan kertas lakmus yang kau simpan di balik kukumu jika kau ragu pada cairannya. Jangan sampai kau menelan apa pun yang mereka hidangkan, atau organ dalammu akan terlapisi polimer cair."

Arlan melangkah keluar dari kegelapan gang, menyelinap ke arah pintu depan restoran yang dijaga oleh seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam sempurna. Arlan menundukkan kepalanya, mengatur napas manualnya agar tetap stabil dan tidak menunjukkan kegelisahan. Saat ia mendekati pintu, hawa dingin yang menusuk—endotermik lokal—menyambutnya. Suhu di dalam ruangan itu terasa seperti kotak pendingin mayat yang dibungkus dengan kemewahan kain beludru merah.

Kepalsuan yang Wangi

Lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, namun bunyinya terasa aneh di telinga Arlan. Itu adalah zona hampa akustik; suara denting itu tidak menggema, melainkan langsung mati begitu menyentuh udara. Di dalam, suasana tampak sangat elegan. Lilin-lilin menyala di setiap meja, namun Arlan menyadari api lilin itu tidak bergoyang sedikit pun meskipun ada orang yang lewat di sampingnya. Api statis.

"Selamat malam, Tuan. Apakah Anda sudah memiliki reservasi?" seorang pelayan pria mendekat. Wajahnya begitu simetris, kulitnya tanpa pori-pori, dan matanya tidak berkedip selama percakapan singkat itu.

"Aku... aku hanya ingin meja untuk satu orang di pojok. Sesuatu yang tenang," jawab Arlan, mencoba menggunakan Hidden Identity Mode dengan nada suara yang sedikit letih, tipikal warga kota yang butuh pelarian.

"Tentu saja. Mari saya antar menuju kebahagiaan Anda malam ini."

Arlan mengikuti pelayan itu, melewati meja-meja yang dipenuhi pasangan dan keluarga. Ia melihat seorang wanita cantik sedang memotong daging steik yang tampak sangat merah dan segar. Namun, saat Arlan memfokuskan pendengarannya di tengah sunyi yang ganjil itu, tidak ada suara kunyahan. Wanita itu hanya menggerakkan rahangnya secara mekanis, sementara daging di piringnya tidak berkurang sama sekali.

"Dante, mereka tidak makan," bisik Arlan saat ia sudah duduk di meja pojok yang gelap. "Mereka hanya melakukan koreografi makan. Ini seperti teater boneka."

"Amati mejanya, Arlan. Cari 'Bahan Organik Tipe A' yang ada di manifes itu."

Seorang pelayan lain datang membawa botol anggur berwarna gelap. "Minuman pembuka untuk menghangatkan malam Anda, Tuan. Ini adalah sari pati kehidupan Sektor Tujuh."

Arlan menatap gelas bening yang dituangi cairan berwarna merah pekat tersebut. Bau yang menguar darinya bukan bau anggur fermentasi, melainkan bau manis kimia yang tajam, mirip dengan aroma pembersih lantai yang dicampur dengan ozon.

"Terima kasih. Aku akan menikmatinya nanti setelah hidangan utama tiba," ucap Arlan sopan.

Begitu pelayan itu pergi, Arlan menggerakkan tangan kanannya di atas gelas. Kuku telunjuknya yang sudah ditempeli kertas lakmus kecil menyentuh permukaan cairan itu sejenak. Dalam hitungan detik, kertas putih itu berubah warna menjadi ungu gelap yang mengerikan.

"Alkali murni," gumam Arlan. "Ini bukan minuman. Ini adalah bahan pengeras untuk lapisan perak mereka."

Satu Meja dengan Kematian

Di meja sebelah Arlan, seorang anak laki-laki kecil duduk bersama orang tuanya. Anak itu tertawa, suara tawanya terdengar seperti rekaman digital yang diputar dengan pitch yang sedikit terlalu tinggi. Di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk berisi butiran-butiran hijau yang menyerupai kacang polong. Arlan memperhatikannya dengan seksama. Setiap kali anak itu memasukkan satu "kacang" ke mulutnya, terdengar bunyi kling kecil, seolah-olah butiran itu terbuat dari kaca atau kelereng keras.

Arlan merasakan mual yang hebat merayap di perutnya. Ia teringat Laila. Laila yang asli telah menguap menjadi residu di gudang bawah tanah karena ia dianggap 'sampah' yang tidak bisa disalin dengan sempurna, sementara di sini, makhluk-makhluk palsu ini duduk dengan nyaman, berpura-pura menikmati kehidupan yang mereka curi.

"Apakah ada yang salah dengan hidangan Anda, Tuan?"

Suara itu muncul tepat di samping telinga Arlan. Ia tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Pelayan tadi sudah berdiri di sana lagi, menatap Arlan dengan tatapan yang kosong namun menuntut.

"Oh, tidak. Hanya saja... aku sedang mengagumi keindahan tempat ini. Sangat sempurna," Arlan tersenyum naif, tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

"Kesempurnaan adalah standar kami. Kami memperhatikan setiap detail yang hilang dari dunia lama," pelayan itu meletakkan sebuah piring besar di depan Arlan. "Ini adalah hidangan utama Anda. Spesial untuk malam ini."

Di atas piring itu terdapat potongan daging besar dengan saus cokelat yang kental. Secara visual, itu adalah mahakarya kuliner. Namun bagi Arlan, yang penciumannya sudah terlatih mendeteksi bau besi berkarat dari para Peniru, piring itu memancarkan aroma polimer cair yang memuakkan.

"Dante, hidangan utamanya sudah di depanku. Baunya seperti karet terbakar yang disamarkan dengan parfum," lapor Arlan, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

"Jangan makan itu, Arlan! Itu adalah resin pengikat. Jika kau menelannya, perutmu akan membeku dalam waktu satu jam."

"Tapi dia sedang mengawasiku. Dia tidak bergerak satu inci pun dari samping mejaku."

Arlan menatap potongan "daging" itu. Ia harus menggunakan strategi ketiga. Ia tidak bisa menolak, tapi ia juga tidak boleh mati konyol di sini. Ia meraih serbet kain di pangkuannya, pura-pura menyeka mulutnya yang kering, sementara tangan kirinya merogoh kantong kecil di balik sabuk kurirnya yang berisi biskuit gandum kering—satu-satunya makanan asli yang ia miliki.

"Silakan, Tuan. Jangan biarkan kehangatannya hilang," desak pelayan itu, matanya kini sedikit menyipit, sebuah tanda bahwa ia mulai mendeteksi anomali pada suhu tubuh Arlan yang terlalu hangat bagi ruangan itu.

Arlan mengangkat garpunya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Di bawah meja, jemarinya bekerja dengan kecepatan kurir yang terlatih, memecah biskuit gandum kering menjadi potongan-potongan kecil yang ia sembunyikan di balik lipatan serbet. Pelayan itu masih berdiri di sana, sebuah patung hidup yang mengawasi setiap gerak-gerik rahang Arlan.

"Apakah Anda butuh bantuan untuk memotongnya, Tuan?" tanya pelayan itu, suaranya terdengar seperti gesekan logam yang halus.

"Tidak perlu. Aku hanya ingin menikmati aromanya sebentar. Sangat... autentik," jawab Arlan. Ia menusuk potongan polimer kenyal itu dengan garpu, lalu mengangkatnya ke arah mulut.

Pada detik yang sama, Arlan berpura-pura terbatuk hebat. Ia mengangkat serbet kain ke wajahnya, menutupi mulutnya sepenuhnya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menjatuhkan potongan polimer itu ke dalam kantong pembuangan kurir yang tersembunyi di balik mantelnya, lalu memasukkan potongan biskuit gandum asli ke dalam mulutnya. Ia mengunyah biskuit itu dengan suara yang sengaja dikeraskan agar tertangkap oleh sensor pendengaran pelayan tersebut.

"Luar biasa," gumam Arlan setelah menelan biskuit kering itu dengan susah payah. "Teksturnya sangat... mengejutkan."

Pelayan itu memiringkan kepalanya sedikit. "Tekstur adalah prioritas kami. Kami mengekstraksi data memori dari ribuan orang untuk menemukan tingkat kekenyalan yang paling disukai manusia."

Arlan merasakan kemarahan yang membakar di balik dadanya. Ekstraksi data memori. Mereka membunuh orang-orang seperti Laila hanya untuk mengetahui cara membuat simulasi daging yang sempurna bagi para monster. Ia menatap piringnya lagi, melihat saus cokelat yang kini mulai mengeras menjadi lapisan plastik kusam karena suhu dingin ruangan.

"Dante, aku berhasil melewati kecurigaan pertamanya. Tapi aku melihat sesuatu di meja pusat. Ada sebuah wadah besar yang sedang dibawa keluar dari dapur. Itu bukan makanan," bisik Arlan sambil pura-pura menyeka keringat di dahinya.

"Amati polanya, Arlan. Jangan terlalu lama di sana. Suhu tubuhmu mulai naik karena stres, dan itu akan terbaca oleh sensor termal langit-langit."

Rahasia Dapur Perunggu

Di tengah ruangan, dua pelayan membawa sebuah nampan perak raksasa menuju meja sekelompok pria berjas rapi yang tampak seperti pejabat kota. Saat penutup nampan dibuka, tidak ada uap panas yang keluar. Sebaliknya, kabut tipis berwarna perak mengalir turun ke lantai—residu nitrogen cair. Di atas nampan itu terletak kepingan-kepingan memori cair yang berkilau, berbentuk seperti jantung yang berdenyut pelan.

Arlan merasakan koin di sakunya bergetar hebat. Resonansi. Kepingan di atas nampan itu adalah memori mentah yang belum diolah menjadi koin, diambil paksa dari manusia yang baru saja "terhapus".

"Mereka memakan memori kita, Dante," suara Arlan hampir tidak terdengar, penuh dengan kengerian. "Mereka tidak hanya mencuri identitas, mereka memakan sisa-sisa jiwa manusia untuk menjaga agar kulit Peniru mereka tidak mengelupas."

"Keluar dari sana sekarang, Arlan! Itu misi bunuh diri jika kau mencoba mengambilnya sekarang. Kita butuh manifes distribusi lengkapnya, bukan konfrontasi!"

Arlan berdiri secara mendadak, membuat kursi kayu itu berderit tajam di atas lantai marmer. Suara itu bergema secara aneh di zona hampa akustik, menarik perhatian setiap mata di restoran tersebut. Puluhan kepala menoleh ke arah Arlan secara bersamaan dengan ritme yang identik.

"Maaf, aku baru ingat ada janji pengiriman yang mendesak. Aku harus pergi," ucap Arlan, suaranya sedikit meninggi.

"Anda belum menghabiskan 'Sari Pati Sektor Tujuh' Anda, Tuan," pelayan itu menghalangi jalan Arlan, tangannya menunjuk ke arah gelas berisi cairan alkali ungu. "Sangat tidak sopan meninggalkan jamuan walikota tanpa memberikan penghormatan."

Arlan menatap gelas itu, lalu menatap mata pelayan yang sedingin es. "Aku sudah merasa kenyang hanya dengan melihat betapa... sempurnanya tempat ini. Sampaikan salamku pada koki. Katakan padanya, aku tahu rahasia di balik bumbunya."

Arlan merangsek maju, bahunya menabrak pelayan itu. Ia merasa seolah menabrak tiang besi yang dilapisi kulit manusia. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah cepat menuju pintu keluar, mengabaikan tatapan-tatapan kosong yang kini mulai berdiri dari kursi mereka.

Sisa Rasa yang Memuakkan

Begitu pintu restoran tertutup di belakangnya, Arlan berlari menuju gang gelap terdekat. Ia membungkuk, memegangi perutnya yang terasa mulas akibat bau kimia yang sempat ia hirup. Ia memuntahkan sisa biskuit gandum dan rasa mualnya ke tumpukan sampah.

"Kau aman?" suara Dante kembali terdengar jelas setelah gangguan elektromagnetik restoran memudar.

"Aku keluar. Tapi duniaku baru saja menjadi lebih gelap, Dante," jawab Arlan sambil menyeka mulutnya. Ia mengeluarkan kertas lakmus dari bawah kukunya yang kini sudah hancur menjadi bubuk ungu. "Mereka benar-benar predator. Mereka menganggap kita hanya sekadar komoditas pangan."

Ia berdiri dan menatap ke arah langit kota. Di sana, lampu-lampu jalan mulai menyala, namun warnanya tidak lagi kuning hangat atau putih terang. Cahaya itu memancarkan spektrum hijau-kebiruan yang tajam, membuat kulit Arlan tampak seperti mayat di bawah sinarnya.

"Dante, apakah kau melihat lampunya? Warnanya berubah," gumam Arlan, matanya terasa perih saat menatap cahaya merkuri tersebut.

"Itu aberasi kromatik, Arlan. Mereka baru saja mengganti filter cahaya kota untuk menyesuaikan dengan spektrum penglihatan Peniru. Bagi mereka, itu warna yang normal. Bagi kita, itu adalah tanda bahwa dunia ini sedang membusuk."

Arlan mengepalkan tangannya di dalam saku mantel, menggenggam koin perak milik Laila. Rasa hangat dari memori gadis itu adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa di tengah kota yang kini mulai tampak seperti penjara cahaya perak.

"Aku akan pergi ke taman kota. Aku butuh udara yang tidak berbau polimer," ucap Arlan pelan.

Ia berjalan menyusuri trotoar, di bawah siraman cahaya hijau-kebiruan yang mulai menghapus saturasi warna dari mantel cokelatnya. Di kejauhan, ia melihat sosok seorang gadis yang duduk sendirian di bangku taman, menatap bayangan air mancur yang bergerak dua detik lebih lambat dari kenyataan. Mira.

Arlan tahu, perjalanannya sebagai kurir barang hilang telah berakhir malam ini. Mulai saat ini, ia adalah pencuri di dunia yang dicuri.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!