NovelToon NovelToon
Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Putri Posesif Tuan Gavin & Dokter Bedah Misterius

Status: tamat
Genre:CEO / Berbaikan / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:441k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.

Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
​"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
​Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: The Hermas Slap

​​"Tas lo itu last season, Al. Udah nggak zaman. Masih aja dipake."

​Bella meletakkan tas tangannya dengan gaya sengaja dibanting pelan ke atas meja kaca bundar tempat Alea dan Rigel berdiri. Bunyi tuk yang berat menandakan tas itu berisi beban ego pemiliknya yang selangit.

​Semua mata di lingkaran sosialita itu langsung tertuju pada benda yang diletakkan Bella. Sebuah tas tangan berukuran sedang dengan gradasi warna putih keabu-abuan yang sangat khas.

​Alea tercekat. Matanya membelalak. Itu Hermas. Harganya bisa buat beli satu unit apartemen mewah di Jakarta Selatan.

​"Liat dong," pamer Bella sambil mengelus kulit tas itu seolah sedang mengelus bayi macan. "Ini tunangan gue pesen khusus dari pelelangan di Christien Hong Kong. Harganya? Ah, nggak usah disebut lah. Takut cowok lo jantungan dengernya."

​Bella melirik sinis ke arah Rigel yang masih berdiri santai dengan kaos polo polosnya, memegang segelas sirup melon gratisan.

​"Cowok lo pasti nggak mampu beliin yang limited gini, kan? Paling mentok beliin tas anyaman pasar Bali," cibir Bella, diikuti tawa renyah teman-teman gengnya. "Kasian banget sih lo, Al. Ratu Saham kok dapetnya jelata. Turun kasta banget."

​Darah Alea mendidih sampai ke ubun-ubun. Ejekan soal dirinya bisa dia tahan, tapi hinaan terhadap Rigel di depan umum benar-benar membuatnya murka. Alea merasa harga dirinya dan Rigel sedang diinjak-injak oleh sepatu hak tinggi Bella.

​"Jaga mulut lo, Bel!" desis Alea, maju selangkah. Tangan kanannya sudah merogoh tas, mencari Black Card-nya. "Lo pikir gue miskin?! Gue bisa beli butik Hermas sekarang juga buat sumpel mulut lo!"

​"Beli aja kalau bisa! Emang lo punya akses? Tas kayak gini tuh nggak dijual ke orang sembarangan, Alea. Harus punya riwayat belanja miliaran dulu. Emang dokter puskesmas ini punya duit segitu?"

​"Lo..." Alea sudah siap meledak. Dia tidak peduli lagi. Dia akan menelepon asisten pribadinya, menyuruh mencairkan deposito, melakukan apa saja untuk membungkam Bella.

​Namun, sebuah tangan hangat dan kokoh menahan lengan Alea.

​"Jangan, Alea," suara Rigel terdengar tenang, kontras dengan emosi Alea yang meledak-ledak.

​"Lepasin! Dia udah ngehina lo, Rigel! Gue nggak terima!"

​"Biar saya yang urus," potong Rigel. Nada bicaranya datar, tapi memiliki aura otoritas yang anehnya membuat Alea terdiam.

​Rigel mengeluarkan ponsel dari saku celana chinonya. Ponsel hitam polos yang terlihat biasa saja. Dia menekan satu nomor speed dial.

​Bella dan teman-temannya menahan tawa.

​"Duh, mau nelpon siapa tuh? Nelpon pinjol buat cari pinjaman?" ledek tunangan Bella yang buncit.

​Rigel tidak menggubris. Dia menempelkan ponsel ke telinga.

​"Pierre? Saya di The Royal Glass House," ucap Rigel singkat, tanpa salam pembuka. Bahasa tubuhnya berubah. Bukan lagi dokter ramah, tapi seseorang yang terbiasa memberi perintah. "Bawa koleksi Private Vault yang baru datang dari Paris ke sini. Sekarang. Saya tunggu di lobi."

​Rigel mematikan telepon.

​Hening sejenak. Lalu tawa Bella meledak lebih keras.

​"Hahaha! Gila! Halu tingkat dewa! Private Vault? Pierre? Lo kira ini film? Ngayal jangan ketinggian, Mas Dokter! Nanti jatuh, sakit lho!"

​Alea menatap Rigel cemas. Dia tahu Rigel mungkin cuma menggertak biar Bella diam, tapi ini blunder. Kalau dalam sepuluh menit tidak ada yang datang, mereka akan jadi bahan tertawaan seumur hidup.

​"Rigel... kita pulang aja yuk," bisik Alea, menarik ujung kaos Rigel. "Nggak usah diladenin."

​"Tunggu lima menit," jawab Rigel sambil melirik jam tangan Patek Philippe-nya—yang masih dianggap Alea barang KW.

​Waktu berjalan lambat. Bella terus berkicau memamerkan tasnya, menyuruh teman-temannya memotret. Alea sudah siap menarik Rigel kabur lewat pintu dapur.

​Tepat di menit kelima.

​Keriuhan terjadi di pintu masuk ballroom. Beberapa sekuriti terlihat panik membukakan jalan.

​"Minggir! Tolong beri jalan!"

​Seorang pria paruh baya berjas rapi dengan pin emas di kerahnya berlari kecil dengan napas terengah-engah. Di belakangnya, tiga asisten berseragam formal mengikuti, masing-masing membawa kotak besar berwarna oranye yang sangat ikonik.

​Mata Alea membelalak. Dia kenal pria itu. Itu Pierre, Country Manager butik high-end paling bergengsi di Plaza Jaya Indonesia. Alea pernah mencoba membuat janji temu dengannya tapi selalu ditolak karena "slot penuh".

​Pierre tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Matanya langsung menyisir ruangan, mencari satu sosok. Begitu melihat Rigel yang berdiri santai dengan kaos polo, wajah panik Pierre berubah menjadi lega sekaligus hormat yang luar biasa.

​Pierre setengah berlari menghampiri Rigel, mengabaikan Bella dan sosialita lain yang melongo.

​"Maaf... maaf saya terlambat dua menit, Pak! Jalanan macet parah," ucap Pierre dengan napas memburu.

​Dan hal yang tak terduga terjadi. Pierre, manajer yang terkenal angkuh pada sosialita Jakarta, membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di hadapan Rigel.

​"Selamat malam, Tuan Kalandra. Ini lima koleksi terbaru dari Private Vault yang Anda minta. Semuanya belum pernah disentuh siapa pun."

​Suara Pierre menggema di ruangan yang mendadak sunyi senyap itu. Para asisten dengan sigap membuka kotak-kotak oranye itu di atas meja, menyingkirkan tas Bella ke pinggir seolah itu sampah.

​Isinya berkilauan. Lima tas Hermas paling langka di dunia berjejer rapi. 

Asli. Kulitnya, baunya, aura kemewahannya... semuanya memancar nyata.

​Alea menutup mulutnya dengan tangan, shock berat. "R-Rigel?"

​Bella mematung, wajahnya pucat pasi seperti mayat. Gelas champagne di tangannya miring, isinya tumpah ke gaun mahalnya, tapi dia tidak sadar.

​Rigel hanya mengangguk singkat pada Pierre. Dia mengambil salah satu tas, lalu menyerahkannya pada Alea.

​"Buat kamu. Anggap aja ganti rugi karena kaki kamu lecet," ucap Rigel santai, seolah baru saja memberikan kantong kresek gorengan.

​Lalu, mata Rigel tertuju pada tas milik Bella yang tergeser di ujung meja. Dia melirik Pierre, lalu menunjuk tas itu dengan dagunya.

​"Pierre, tolong cek itu. Kok warnanya agak beda sama yang asli? Milik wanita ini. "

​Pierre segera mengenakan sarung tangan putih, mengambil tas Bella dengan ujung jari, lalu mengamatinya dengan tatapan elang. Hanya butuh tiga detik bagi Pierre untuk mendengus jijik.

​Pierre meletakkan kembali tas itu dengan kasar. Dia menatap Bella dengan pandangan tajam seorang profesional yang merasa dihina oleh barang tiruan.

​"Maaf, Nona," suara Pierre lantang dan tegas. "Kami dari pihak brand tidak pernah merilis seri Himalayan dengan pola kulit perut buaya yang tidak simetris dan jahitan miring di bagian handle seperti ini."

​Semua orang di ruangan itu menahan napas.

​"Ini barang palsu kualitas rendah," lanjut Pierre kejam. "Tolong jangan letakkan barang ini di sebelah koleksi Tuan Kalandra. Bisa menularkan jamur."

1
Nurlaila Hidayah
gedein trus gengsi mu vin
Nurlaila Hidayah
waaaah aku suka cara mu gel mghdpi camer,
Nurlaila Hidayah
aku suka gaya mu gel, .aku troooossss pntg mndur
Amsyar Anaqi
teruskan.. syok baca. 😍😍
Amsyar Anaqi
seruuuu😍 sya senyum sorang2 baca ni. 🤣
bekti arianti
happy ending juga...walopun ngebut endingnya
neni onet
kerjaan arka neeh pasti 🤣
mars
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣Alea2 emang dri kecil udh rusuh ketemu mama yg super rusuh ya bgini jadinya🤩
mars
parah bgt ngehinanya 🤣🤣🤣 sumpah Alea 🤣🤣
mars
keren suka bgt ceritanya
Syalari sholeh
d awal d bilang 18thn
Syalari sholeh
ya sama kek alea ngasih permen bekas ma kiana dulu d mobil
Citra Mekar sari
kak kenpa ending pada pendek", panjang8n dikit dong bgian bahagianya
beybi T.Halim
terbaik💝💝💝💝💝
beybi T.Halim
akhirnya happy ending.,setelah baca marathon minus kebosanan ditengah cerita.,sangat menarik dan tentunya inspiratif.,sukses terus buat penulisnya sampai jumpa dicerita terbaik lainnya👍👍👍💝💝💝semangat
Diana Resnawati
ceritanya bagus👍
Diana Resnawati
mampir thor
Yanrina Savitri
Nnt akhirnya Rigel jadi teman main golfnya Gavin dan menantu favoritnya
Yanrina Savitri
Suka dengan karakter Rigel. Segitu sy suka dgn karakter Gavin, begitu jg sy suka dgn Rigel. Umurnya 38 , pengalaman jau diatas Alea. Jago main saham dan jg dokter ahli bedah syaraf. Heibat. Semoga mrk berjodoh dan happy ending. Ya Thor.
Yanrina Savitri
Nnt Alea kena batunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!