NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18 – MALAM TANPA TIDUR

Malam itu tidak pernah benar-benar dimulai.

Sejak matahari tenggelam, udara terasa tegang, seolah hutan menahan napas. Tidak ada angin. Tidak ada suara serangga yang biasanya ramai. Keheningan turun terlalu cepat, terlalu rapi.

Kelompok itu berhenti di sebuah cekungan tanah, dikelilingi semak dan pohon pendek. Tempat yang tampak aman—terlalu aman. Api tidak dinyalakan. Mereka memilih gelap, menyatu dengan bayangan.

Raka duduk memeluk lutut. Matanya terbuka, tapi pikirannya berputar-putar. Bayangan lima orang itu kembali muncul di kepalanya, berdiri di punggung bukit, diam seperti arca.

Ia mencoba memejamkan mata. Gagal.

Tidak ada yang tidur nyenyak malam itu. Beberapa orang pura-pura terlelap, tubuh mereka berbaring, tapi tangan tetap dekat senjata. Yang lain duduk bersandar, menatap gelap tanpa berkedip.

Nenek tua itu bergerak pelan, hampir tidak terdengar. Ia berpindah tempat, memeriksa sudut-sudut cekungan, menajamkan pendengaran. Setiap langkahnya hati-hati, seperti orang yang tahu bahwa satu bunyi kecil bisa mengundang maut.

Raka mengikutinya dengan pandangan. Ada rasa lega setiap kali ia melihat sosok itu masih ada.

Tiba-tiba, terdengar bunyi kecil.

Tak.

Seperti batu kecil jatuh mengenai kayu.

Beberapa kepala terangkat. Napas tertahan.

Tak.

Sekali lagi, kali ini dari arah berbeda.

Raka merasakan bulu kuduknya berdiri. Bunyi itu terlalu teratur. Terlalu disengaja.

Nenek tua itu mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Semua membeku.

Lalu… sunyi kembali.

Beberapa detik berlalu. Terlalu lama. Raka mulai berpikir mungkin itu hanya binatang malam.

Saat itulah tanah di dekat kakinya bergeser.

Raka tidak sempat berteriak.

Tanah amblas, tubuhnya terperosok ke depan. Ia jatuh, lututnya menghantam sesuatu yang keras. Rasa sakit meledak, membuat pandangannya berkunang.

Di saat yang sama, bayangan bergerak.

Cepat. Terlalu cepat.

Dari sisi cekungan, sosok-sosok hitam meluncur masuk. Tidak lima. Dua saja. Sisanya tetap di luar—menunggu.

Salah satu bayangan langsung menerjang ke arah Raka.

Kilatan besi terlihat sesaat.

Raka berusaha berguling, tapi kakinya terperangkap. Sesuatu melilit pergelangan kakinya—tali tipis yang nyaris tak terlihat dalam gelap.

Pedang itu turun.

Clang!

Benturan keras terdengar saat tongkat kayu nenek tua itu menahan serangan. Getarannya terasa sampai ke tulang.

“Lepaskan!” teriak nenek itu pendek.

Raka meronta, tangannya gemetar. Tali itu terlalu kencang. Ujung pedang lain menyambar, mengenai lengannya. Bukan tusukan dalam, tapi cukup membuat kulitnya robek.

Raka menjerit. Darah hangat mengalir, membuatnya panik.

Di sisi lain cekungan, terdengar suara benturan lain. Jeritan tertahan. Nafas terputus.

Pertarungan berlangsung cepat. Tidak ada teriakan perang. Tidak ada teriakan kemenangan. Hanya bunyi besi beradu, tubuh jatuh, dan napas yang tersengal.

Nenek tua itu bergerak dengan kecepatan yang tidak sesuai usianya. Tongkat kayunya bukan sekadar penahan—ia menghantam, menyasar sendi, tengkuk, titik-titik yang membuat lawan jatuh tanpa banyak suara.

Salah satu penyerang mundur setengah langkah. Terlalu lambat.

Tongkat itu menghantam pergelangan tangannya. Pedang terlepas, jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul. Sebelum ia sempat mengambilnya, nenek itu menyapu kakinya. Tubuh itu jatuh keras, kepalanya membentur batu.

Hening sekejap.

Lalu bayangan itu lenyap.

Tidak dikejar. Tidak dikecam. Dua penyerang menghilang ke gelap, sama cepatnya mereka datang.

Yang tersisa hanyalah napas terengah dan bau darah.

Raka terbaring, tubuhnya gemetar. Lengannya perih, kakinya masih terikat.

Nenek tua itu berlutut di sampingnya. Dengan satu gerakan cepat, ia memotong tali.

“Masih bernapas Le,” katanya. “Jangan panik.” lanjutnya dengan tegas.

Raka mencoba, tapi dadanya terasa sempit. Ia merasa sangat dekat dengan kematian. Terlalu dekat.

Di sisi lain, seseorang terbaring tidak bergerak. Seorang lelaki yang tadi malam masih berbagi tempat duduk dengan Raka.

Dadanya tidak naik turun.

Nenek tua itu menoleh ke sana sesaat. Wajahnya mengeras, tapi tidak berubah.

"Bawa yang lain menjauh," katanya pada seseorang. "Sekarang."

Tidak ada yang membantah.

Raka dibantu duduk. Dunia terasa miring. Ia menatap lengannya yang berdarah, lalu menatap tubuh yang terbaring itu.

"Dia…" suara Raka serak.

Nenek itu mengangguk. "Ia yang berada di depanmu tadi."

Raka menelan ludah. Perutnya terasa kosong.

"Kalau dia tidak…," Raka tidak sanggup melanjutkan.

Nenek tua itu menatapnya lama. "Kalau dia tidak berdiri di sana, pedang itu menembus dadamu."

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi berat.

Raka memejamkan mata. Air mata keluar tanpa ia sadari.

Malam itu tidak berakhir dengan aman. Mereka tidak tinggal lama. Tubuh yang mati tidak dikubur dalam-dalam-hanya ditutupi tanah dan dedaunan, sekadar agar tidak mudah ditemukan.

Tidak ada doa panjang. Hanya hening.

Perjalanan dilanjutkan sebelum fajar.

Raka berjalan tertatih, ditopang seorang perempuan. Setiap langkah terasa menyakitkan, tapi rasa perih itu kalah oleh rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

Ia selamat.

Bukan karena ia kuat.

Bukan karena ia cepat.

Tapi karena orang lain mati menggantikannya.

Saat matahari muncul di balik pepohonan, Raka menoleh ke belakang sekali. Ia tahu, di gelap yang mereka tinggalkan, lima bayangan itu masih ada.

Menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Raka benar-benar mengerti:

ia bukan lagi sekadar orang yang ikut berjalan.

Ia adalah sasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!