Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.
Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.
Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Auditor Bayangan
Gedung Mahardika Group menjulang tinggi di pusat distrik bisnis Jakarta, sebuah monumen kaca dan baja yang merefleksikan ambisi tanpa batas. Bagi khalayak umum, gedung ini adalah simbol kemakmuran, namun bagi Baskara, setiap lantai bangunan ini dibangun di atas fondasi pengkhianatan. Saat melangkah masuk ke lobi utama, ia merasakan tatapan para karyawan yang berbisik-bisik. Kabar kepulangan "sang putra mahkota" telah menyebar lebih cepat daripada berita bursa saham pagi ini.
Namun, Baskara tidak melangkah menuju lift eksekutif yang menuju ke lantai teratas tempat ayahnya bertakhta. Ia justru berbelok menuju sayap barat lantai tujuh—wilayah yang sering dihindari oleh mereka yang memiliki rahasia kotor: Divisi Audit Internal.
"Kau yakin ingin di sini, Nak?" tanya Baskoro, yang mengikuti langkah putranya dengan bantuan tongkat. Wajah pria tua itu menyiratkan kebingungan yang nyata. "Sebagai calon penerus, aku bisa menempatkanmu di kursi Direktur Operasional. Kau punya kuasa penuh untuk memerintah dari sana."
Baskara berhenti di depan pintu kaca bertuliskan Internal Audit Department. Ia menatap pantulan dirinya di kaca—seorang pria yang tampak patuh dan telah "insyaf" dari pemberontakannya sepuluh tahun lalu.
"Aku sudah belajar banyak di London, Ayah. Sebuah perusahaan sebesar Mahardika tidak hancur karena serangan dari luar, tapi karena kebocoran yang tidak terdeteksi dari dalam," jawab Baskara dengan nada suara yang rendah dan penuh wibawa buatan. "Aku ingin memastikan kapal yang kau bangun ini tidak memiliki lubang sekecil apa pun."
Baskoro menepuk bahu putranya dengan bangga, tidak menyadari bahwa Baskara sedang memilih posisi yang memungkinkannya membedah setiap transaksi ilegal yang dilakukan Sarah selama satu dekade terakhir. Divisi audit adalah tempat di mana ia bisa bergerak seperti hantu; ia bisa meminta dokumen sensitif apa pun dengan dalih "pemeriksaan rutin" tanpa memicu alarm di kepala Sarah.
Pertemuan yang Diatur
Saat Baskara melangkah masuk ke ruang kerjanya yang baru, ia mendapati ruangan itu tidak kosong. Di sana, di balik tumpukan map biru yang rapi, berdiri Alea. Gadis itu tampak sangat formal dengan kemeja putih dan blazer hitam, kontras dengan ekspresi wajahnya yang selalu tampak waspada, seperti rusa yang merasakan kehadiran pemangsa.
"Nyonya Sarah meminta saya untuk membantu Anda di hari pertama, Pak Baskara," ucap Alea dengan nada datar, menjaga jarak profesional yang sangat kaku.
Baskara meletakkan tas kerjanya dan berjalan perlahan mengitari meja, matanya tidak lepas dari Alea. "Sarah sangat perhatian, ya? Sampai-sampai asisten pribadinya harus turun tangan membantuku memindahkan kertas."
Alea tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, tangannya meremas ujung buku catatan yang ia pegang. Baskara tahu betul posisi Alea; gadis ini adalah mata dan telinga Sarah. Segala hal yang Baskara lakukan di ruangan ini akan dilaporkan ke meja Sarah dalam hitungan jam. Namun, itulah bagian dari rencananya. Ia akan memberikan "pertunjukan" yang tepat agar Sarah merasa aman, sementara di balik layar, ia akan mulai melemahkan loyalitas Alea.
"Duduklah, Alea," perintah Baskara, suaranya kini melunak, meninggalkan kesan dingin yang ia tunjukkan di depan ayahnya tadi. "Aku tidak sekejam kelihatannya. Dan jangan panggil aku 'Pak'. Di rumah kita adalah keluarga, di sini... anggap saja aku kakak tiri yang sedang butuh bimbinganmu."
Alea mendongak, tampak terkejut dengan perubahan intonasi Baskara. Matanya yang jernih menunjukkan kebingungan sesaat. "Tapi Nyonya Sarah bilang—"
"Sarah mungkin mengenalku sepuluh tahun lalu, saat aku masih anak laki-laki yang hanya tahu cara berteriak," potong Baskara dengan senyum tipis yang tampak tulus. "Tapi manusia berubah, bukan? Sama seperti kau. Kau pasti sudah melewati banyak hal hingga bisa menjadi orang kepercayaan Sarah."
Menanam Benih Manipulasi
Baskara mulai memberikan tugas-tugas ringan kepada Alea, namun setiap dokumen yang ia minta adalah langkah strategis. Ia meminta daftar vendor pengadaan dari lima tahun terakhir. Ia meminta laporan pengeluaran "dana representasi" CEO. Semuanya dibungkus dengan alasan bahwa ia ingin merapikan sistem pengarsipan yang menurutnya berantakan.
Saat jam makan siang tiba, Baskara tidak pergi ke kantin eksekutif. Ia tetap di ruangannya, memperhatikan Alea yang masih sibuk memilah arsip di pojok ruangan.
"Alea, berhentilah. Makan siang adalah hak karyawan, bukan kewajiban untuk tersiksa," ujar Baskara sambil menyodorkan sebuah kotak makan mewah yang ia pesan sebelumnya. "Aku tahu kau belum makan sejak pagi."
Alea tampak ragu, namun rasa lapar dan sikap Baskara yang tiba-tiba hangat membuatnya luluh. Saat mereka makan dalam keheningan yang canggung, Baskara mulai meluncurkan pesonanya. Ia menceritakan pengalamannya di London—cerita-cerita yang membuatnya tampak manusiawi dan rapuh. Ia berbicara tentang kerinduannya pada masakan rumah, tentang betapa asingnya ia merasa kembali ke Jakarta.
"Kau tahu, Alea," bisik Baskara sambil menatap lurus ke arah gadis itu. "Di rumah itu, aku merasa seperti orang asing. Ayah sudah menua, dan Sarah... dia punya dunianya sendiri. Melihatmu di sana, aku merasa setidaknya ada seseorang yang seusiaku, seseorang yang mungkin mengerti rasanya harus selalu bersikap sempurna demi menyenangkan orang lain."
Alea tertegun. Kalimat itu menghantam bagian terdalam hatinya. Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang Sarah, Alea selalu dituntut untuk menjadi sempurna, tanpa cela, dan tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang seolah melihat beban yang ia panggul.
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Baskara," jawab Alea lirih, namun kali ini pertahanannya sedikit runtuh.
Baskara tersenyum dalam hati. Bidak pertamanya mulai bergerak sesuai keinginan. Alea bukan hanya asisten; dia adalah pintu menuju brankas pribadi Sarah. Dan Baskara baru saja menemukan kunci pertamanya: rasa haus Alea akan empati.
Malam itu, sebelum pulang, Baskara memberikan sebuah flashdisk kecil kepada Alea. "Di dalam ini ada data yang ingin kupelajari di rumah. Bisakah kau pastikan data ini tidak masuk ke laporan harian yang kau berikan pada Sarah? Aku ingin memberikan kejutan pada Ayah di rapat direksi bulan depan. Bisakah kau membantuku... sebagai teman?"
Alea menerima flashdisk itu dengan tangan gemetar. Ia berada di posisi sulit, namun tatapan hangat Baskara membuatnya mengangguk pelan. Infiltrasi telah memasuki tahap yang lebih dalam. Baskara bergerak seperti hantu, dan Alea, tanpa disadarinya, baru saja menjadi kaki tangannya.