tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: GEMA YANG TERFRAGMENTASI
Manchester di jam tiga pagi terasa seperti sebuah mesin raksasa yang sedang beristirahat, namun tetap mengeluarkan dengungan listrik yang konstan. Di dalam loteng toko buku bekas itu, udara terasa berat oleh aroma kertas tua yang lembap dan sisa-sisa kegelisahan yang tertinggal di udara. Elara masih terjaga, matanya terpaku pada layar laptop Jamie yang masih menampilkan metadata file misterius dari mercusuar.
*'Nada terakhir belum ditemukan. Pertunjukan harus terus berlanjut'.*
Kalimat itu berulang-ulang di kepalanya seperti kaset yang kusut. Siapa yang bisa berada di Mercusuar St. Jude tanpa mereka sadari? Tempat itu terisolasi, dikepung oleh air laut yang naik, dan dibakar oleh kegilaan Arlo. Namun, file audio ini adalah bukti nyata bahwa ada mata dan telinga lain di sana—seorang saksi yang tidak terlihat, yang kini sedang memainkan peran sebagai dalang di balik layar digital.
Elara menoleh ke arah Arlo. Pria itu masih tertidur di atas kasur lipat, namun napasnya tidak tenang. Tangannya sesekali bergerak, jemarinya seolah sedang memetik senar imajiner di dalam mimpinya. Elara merasakan dorongan kuat untuk melindungi pria ini, bukan hanya dari dunia luar, tapi dari gema-gema masa lalu yang terus mencoba menariknya kembali ke kegelapan.
"El, kau harus melihat ini," bisik Jamie. Ia baru saja kembali dari dapur dengan dua cangkir kopi instan yang asapnya mengepul tipis. "Aku mencoba melacak rute unggahan file itu. Sinyalnya tidak datang dari London, bukan dari kantor Marcus."
"Lalu dari mana?"
"Dari sini. Dari Manchester," Jamie menyesap kopinya, wajahnya tampak pucat di bawah cahaya monitor. "Lebih spesifik lagi, sinyalnya berasal dari jaringan publik di wilayah Salford. Seseorang sedang berada di dekat kita, El. Mereka tidak hanya mengunggah rekaman itu; mereka sedang menonton reaksi kita."
Elara merasa bulu kuduknya berdiri. "Berapa banyak orang yang tahu tentang teori resonansi Arlo selain Marcus?"
"Hanya segelintir orang di komunitas *noise-engineering* bawah tanah. Tapi ada satu nama yang terus muncul di buku harian Arlo yang sempat kubaca sekilas sebelum terbakar. Seseorang bernama 'The Architect'."
Elara mengernyit. Nama itu terdengar seperti karakter dari novel fiksi ilmiah, namun di dunia Arlo yang terdistorsi, itu bisa berarti siapa saja—seorang mantan mentor, seorang penggemar fanatik dengan kemampuan peretasan, atau mungkin seseorang yang pernah dikhianati oleh Arlo di masa lalu.
---
Pagi harinya, Manchester bangun dengan wajah yang muram. Hujan khas Utara Inggris mulai mengguyur jalanan Northern Quarter, menciptakan genangan air yang memantulkan lampu-lampu neon toko yang mulai menyala. Elara memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi. Jika musuh mereka berada di kota ini, maka bersembunyi hanya akan membuat mereka menjadi sasaran empuk.
"Kita akan pergi ke Salford," kata Elara saat Arlo terbangun.
Arlo mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Salford? Untuk apa, El? Itu tempat yang berbahaya bagi kita sekarang."
"Seseorang di sana sedang menyebarkan suara kita dari mercusuar, Arlo. Mereka menyebut diri mereka 'The Architect'. Kau ingat siapa itu?"
Arlo terdiam. Nama itu seolah memicu serangkaian memori yang menyakitkan di balik matanya. Ia berdiri perlahan, berjalan menuju jendela yang berembun. "Dia bukan manusia, El. Dia adalah bayangan. Sebelum aku bertemu Marcus, aku belajar tentang akustik pada seorang pria tua yang tinggal di sebuah bunker tua di bawah jembatan Salford. Dia terobsesi pada ide bahwa suara adalah satu-satunya bentuk kebenaran yang tidak bisa berbohong. Dia memanggil dirinya Sang Arsitek karena dia percaya dia bisa membangun dunia baru melalui frekuensi."
"Apakah dia masih hidup?"
"Aku pikir dia sudah mati dalam sebuah kecelakaan laboratorium lima tahun lalu," Arlo berbalik, raut wajahnya penuh dengan ketakutan yang murni. "Tapi jika dia masih hidup... dan jika dia memiliki rekaman mercusuar itu... dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan 'nada terakhir' yang selama ini dia cari. Nada yang bisa menghancurkan atau menyembuhkan jiwa manusia secara instan."
Mereka berangkat menuju Salford menggunakan taksi tua yang berbau rokok. Sepanjang jalan, Elara memperhatikan setiap mobil yang melintas, setiap pejalan kaki yang berhenti di trotoar. Kota ini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan suara.
Saat mereka sampai di kawasan industri Salford yang terbengkalai, suasana menjadi semakin mencekam. Gedung-gedung bata merah yang kosong berdiri seperti kerangka raksasa. Arlo memimpin jalan menuju sebuah gudang tua yang terletak di bawah jembatan kereta api yang berkarat.
"Di bawah sini," bisik Arlo.
Mereka menuruni tangga beton yang licin menuju ruang bawah tanah. Bau ozon dan listrik statis mulai menyengat indra penciuman mereka. Di ujung lorong, terdengar suara musik—namun itu bukan musik biasa. Itu adalah suara Elara yang sedang tertawa, namun diperlambat hingga seribu kali, menciptakan suara dengungan yang dalam dan menghantui.
"Itu suaraku," Elara berbisik, memegang lengan Arlo erat-erat.
Mereka mendorong pintu besi yang berat di ujung lorong. Di dalamnya, mereka tidak menemukan monster atau penjahat film. Yang mereka temukan adalah sebuah ruangan yang penuh dengan monitor tabung kuno yang disusun menyerupai piramida. Di tengah ruangan, duduk seorang pria muda—tidak lebih tua dari Jamie—dengan kacamata tebal dan jemari yang menari di atas *mixer* suara yang sangat canggih.
"Selamat datang, Arlo. Selamat datang, Sang Muse," pria itu berkata tanpa menoleh. Suaranya terdengar jernih melalui pengeras suara yang dipasang di setiap sudut ruangan.
"Kau bukan Arsitek," kata Arlo dengan nada menuduh. "Arsitek sudah tua. Siapa kau?"
Pria itu berbalik. Wajahnya tampak pucat dan tidak memiliki ekspresi, seolah ia telah menghabiskan seluruh hidupnya di bawah cahaya biru monitor. "Arsitek adalah sebuah ide, Arlo. Aku adalah muridnya. Aku adalah orang yang menyelamatkan suaramu dari api mercusuar. Marcus hanya ingin uang, tapi aku... aku menginginkan kemurnian. Aku ingin menyelesaikan simfoni yang kau mulai."
Pria itu menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Suara dari mercusuar meledak dengan volume yang sangat tinggi, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah frekuensi baru yang ditambahkan di atasnya—sebuah nada tinggi yang membuat kepala Elara terasa seperti akan pecah.
"HENTIKAN!" teriak Elara, jatuh berlutut sambil menutupi telinganya.
"Ini adalah nada terakhir, Elara!" pria itu berteriak kegirangan. "Tinggal satu fragmen lagi! Aku butuh kau mengucapkan satu kata terakhir di frekuensi ini! Katakan bahwa kau mencintainya, di depan mikrofon ini, sekarang!"
Arlo menerjang pria itu, mencoba mematikan mesinnya. Namun, sistem suara itu telah diatur untuk terus berjalan secara otomatis. Elara melihat sebuah mikrofon berdiri tegak di tengah ruangan, dikelilingi oleh lampu-lampu sensor yang menyala merah.
Bab 18 ini ditutup dengan Elara yang berdiri di antara keinginan untuk menyelamatkan Arlo dan ketakutan akan menjadi bagian dari eksperimen gila lainnya. Di luar, suara kereta api yang melintas di atas jembatan Salford bergabung dengan frekuensi di dalam ruangan, menciptakan kekacauan suara yang sanggup meruntuhkan kewarasan siapa pun yang mendengarnya.
Elara menyadari bahwa kembali ke Manchester bukan berarti mengambil kembali hidupnya, melainkan memasuki pertunjukan terakhir yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah dibayangkan Marcus.kini mereka harus melawan teknologi yang mencoba mencuri perasaan terdalam mereka untuk dijadikan data abadi.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐