NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran WA Mart

Di lain kota, ada janda muda berparas cantik namanya Wulan Anggraeni. Tetangga sekitar biasa memanggilnya mba Wulan. Saat ini usianya 32 tahun dan memiliki seorang anak bernama Azka.

Tragedi kecelakaan di tol cipularang beberapa tahun silam telah merengut nyawa suaminya yang beprofesi sebagai pengusaha. Wulan mewarisi semua usaha dan kekayaan suaminya diantaranya adalah usaha rumah kost sebanyak 100 unit, mini market dan rumah makan yang memiliki beberapa cabang di berbagai kota.

Bukan hanya itu, Wulan juga mempunyai usaha klinik skin care serta biro tour haji dan umroh yang sekarang melebarkan sayapnya di Jakarta dan Surabaya. Rumah mewah nya yang berada di daerah menteng terlihat begitu megah layaknya hotel berbintang.

Meskipun secara asesoris duniawi ia memiliki segalanya namun gaya hidupnya berbanding terbalik dengan kekayaanya. Wulan tetaplah wanita sederhana yang begitu rendah hati di mata orang. Ia bukan lah wanita yang suka mengumbar aurat dan pamer kekayaan di media sosial. Penampilanya tetap lah sama saat suaminya masih hidup, menutup auratnya dan berjilbab lebar.

Aura wajahnya glowing seakan memancarkan cahaya layaknya seseorang yang selalu menjaga wudhu.

“Assalamualaikum mah, Azka pulang” sapa Azka putra semata wayang dari hasil penikahan dengan mendiang suaminya.

“Walaikum sallam, sayang, eh kamu sudah pulang” sahut mamah wulan.

“Ayo sekarang mandi dulu yah !”

Azka di tinggal papahnya saat ia masih berusia 3 tahun kini sudah kelas 2 SD. Mamah wulan sengaja menyekolahkanya di SDIT karna menurutnya agar Azka tidak hanya mendapat ilmu umum tapi juga ilmu agama.

Alasan lain, supaya pulangnya sore lantaran kesibukan Wulan mengurusi bisnis-bisnisnya. Meskipun begitu, ia tetap menyempatkan waktu untuk mengantarkan Azka ke sekolah tiap pagi terkecuali saat hari libur.

Sedangkan ketika pulang, Azka biasa di jemput oleh supir pribadi yang juga merupakan adik kandung dari Wulan, om Bandi, begitu Azka memanggilnya.

Usai mandi, Wulan menghampiri Azka, senyum manis terpancar sembari memberi perhatian ke anaknya.

“Sayang, gimana sekolah kamu hari ini ? apa ada PR ?” tanya mamah Wulan.

“Kalau PR sih gak ada mah tapi sekolah itu capek mah, apalagi pulangnya sore terus, Azka capek mah capek” gerutu Azka di depan mamahnya.

“Kenapa mamah gak menyekolahkan Azka di SD negeri aja mah ? kan enak pulangnya cepat, Azka juga bisa main sepulang sekolah”

“Ya yang namanya sekolah ya capek sayang, mamah juga sama dulu begitu tapi kan dengan sekolah Azka nanti akan jadi anak pintar dan banyak pengetahuan yang nanti bakal Azka dapatkan”

“Terkait kenapa mamah tidak menyekolahkan kamu di SD negeri karna kamu kan tau mamahnya sibuk mengurusi bisnis mamah, takutnya kalau kamu pulang nya cepat, mamah belum pulang jadi gak bisa main bareng dan cerita-ceria lagi deh sama kamu sayang” ucap mamah wulan menenangkan putranya.

“Oh begitu ya mah” sahut Azka sambil menganggukan kepala.

Di tengah hati yang gundah karna keluhan anaknya tersebut, tiba-tiba HP wulan berdering bertanda ada panggilan masuk.

“Hallo.. Assalamualaikum bu hajah, ini Irfan bu, Karyawan WA-Mart, saya mau mengabarkan ke ibu kalau mini market yang di jalan pemuda kebakaran bu” suara panik Irfan saat menelpon mba Wulan.

Wulan terkaget, matanya melebar dan dahinya mengkerut mendengar berita itu.

“Innalillahi...Astaghfirullohaladzim” ucapnya.

“Tapi semua karyawan aman kan fan ?” tanya wulan dengan hati yang gemetar.

“Ada satu karyawan yang meninggal dunia bu, dia terjebak di dalam gudang jadi gak sempat lari pas kebakaran terjadi”

“Innalillahi wa inna illaihi roojiuun” ucap wulan lirih dengan nada sedih.

“Baik, saya segera kesana sekarang” suara wulan sambil menutup telponnya.

Bergegas Wulan berjalan menuju garasi mobilnya bagaikan langkah pacu kuda yang melangkah begitu cepat. Mobil alphard warna putih segera ia buka pintunya, terdengar suara Bandi yang datang menghampirinya.

“Mba..mba..mba Wulan mau kemana ?” ujar Bandi.

“Barusan mba dapat kabar mini market yang di jalan pemuda kebakaran dan aku harus segera kesana”.

“Hah ..Innalillahi” suara Bani ikut kaget.

“Biarkan aku aja mba yang nyupir” ucap Bandi kepada kakaknya tersebut.

“Gak usah ban, mba kesana sendiri aja, kamu tetap di rumah, mba titip Azka ya ban !” seru Wulan.

Sesampainya di lokasi kejadian, rupanya kobaran si jago merah telah padam, terlihat ada 2 mobil pemadam kebakaran dan satu mobil ambulance masih terparkir di area parkir.

Petugas polisi datang untuk melakukan olah TKP dan menghampiri Wulan.

“Selamat sore bu, maaf, apakah ibu pemilik mini market ini ?” tanya salah seorang petugas kepolisian kepadanya.

“Benar pak, saya Wulan Anggraeni, pemilik mini market WA-Mart” respon Wulan kepada petugas kepolisian.

“Kalau begitu, ibu bisa ikut kami sebentar untuk di mintai keterangan”

“Baik pak”

Entahlah apa yang menyebabkan kebakaran itu terjadi. Pihak kepolisian sedang menyelidiki penyebabnya. Sementara itu Jenazah Ningsih, satu-satunya korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut di angkut menuju rumah sakit.

Keesokan harinya setelah mengantarkan Azka ke sekolah, Wulan bersiap menuju rumah duka yang berada di daerah Brebes Jawa Tengah untuk bertakziyah sekaligus ikut berbela sungkawa atas meninggalnya salah satu karyawannya tersebut.

Wulan lahir dan di besarkan di Brebes sebelum pada akhirnya ia di persunting oleh seorang pengusaha bernama Surya lalu pindah ke Jakarta. Dia berasal dari keluarga miskin. Oleh karnanya, Wulan memperkerjakan adik kandung serta tetangga di sekitar kampung halamannya, salah satunya Ningsih yang baru saja meninggal Dunia.

Ada firasat yang tidak enak yang terselip di hati Wulan karna selama ini ada kabar angin yang berhembus jika dirinya dan mendiang suaminya telah melakukan pesugihan.

Sebelum bertolak ke Brebes, Wulan yang di dampingi Bandi sebagai supir pribadinya mampir terlebih dahulu ke polres untuk meminta pendampingan petugas polisi menuju rumah duka demi keamanan dirinya.

Sesampainya di rumah duka, jenazah ningsih baru saja di kebumikan. Wulan berlahan menurunkan kakinya keluar dari mobil. Beberapa orang mendatanginya dengan sorot mata melotot dan mengepalkan telapak tangan kanan serasa petanda akan mengeroyok Wulan. Petugas polisi bertindak cepat melindungi Wulan.

“Mba ... kenapa harus adik saya yang harus jadi korban pesugihan mu ?” celetuk seorang pria yang sepertinya kakak Ningsih.

Nada bicaranya keras dan tegas layaknya orang yang sedang naik darah.

Wulan menampik tudingan tersebut, “Demi Allah, saya dan mendiang suami saya tidak pernah melakukan seperti apa yang di tuduhkan selama ini, kami tidak pernah melakukan pesugihan” ujar Wulan membela diri.

Seorang ustad yang  masih berada di rumah duka segera mendamaikan suasana.

“Sudah .. sudah .. bapak-bapak,  kita tidak boleh main hakim sendiri, tadi kan dengar sendiri mba Wulan sudah bersumpah atas nama Allah bahwa dia tidak pernah melakukan hal seperti itu” kata pak ustad yang mencoba menenangkan warga.

“Ingat bapak-bapak, menuduh tanpa bukti itu fitnah dan itu dosa besar bahkan lebih besar dari dosa membunuh orang”

“Kita harus yakin, semua musibah yang terjadi memang karna sudah kehendak Allah” lanjut pak ustad.

Pak Sardi, ayah ningsih  yang sudah mengikhlaskan kepergian anaknya melangkah menuju pusat pertikaian lalu mempersilakan Wulan masuk ke dalam rumahnya.

“Monggoh mlebet riyin mba (Silakan masuk dulu mba) !” ucap pak Sardi sambil menjalurkan tanganya ke pintu rumahnya.

“ Nggih pak” sahut wulan.

“Assalamualaikum” ucap Wulan ketika hendak memasuki rumah duka.

“Walaikum sallam” jawab pak sardi dan keluargannya.

“Monggoh pinarak riyin mba (silakan duduk dulu mba) !”ucap bu Romlah, ibunda dari almarhumah.

Dengan ekspresi wajah sedih, Wulan berkata, “Pak, bu, saya turut bersedih dan berbela sungkawa atas meninggalnya Ningsih, yang sabar nggih pak, bu !”

“Semoga almarhumah di terima segala amal ibadahnya dan di lapangkan kuburnya” ucap Wulan.

“Aamiin, kami sekeluarga juga mengucapkan terimakasih atas kedatangan mba Wulan, kalau almarhum anak saya pernah berbuat salah sama mba Wulan, tolong di maafkan ya mba !” pinta pak Sardi.

Wulan memasukan tangan ke dalam tas nya dan mengambil handphone nya.

“Pak, bu , maaf saya tidak bisa memberi banyak uang santunan, apakah bapak berkenan kalau saya meminta nomor rekening bapak”

“Wah, saya gak punya nomor rekening mba” jawab pak Sardi

Ia berdiri kemudian memanggil Agus, kakaknya Ningsih yang dari tadi masih menunggu di luar

“Gus .. gus ..kiye mene sedelat (Gus .. gus ..kesini sebentar) !” seru pak Sardi.

“kiye mba wulan pan njaluk nomer rekeninge kowen (ini mba Wulan mau minta nomor rekeningmu)”lanjut pak Sardi.

Setelah nomor rekeningnya di berikan, Wulan menatap layar Hp nya lalu mengetik sejenak dan menunjukan layar HP nya kepada Agus.

“Uangnya sudah saya transfer ya mas Agus, maaf cuma bisa ngasih sedikit, semoga bisa bermanfaat untuk keluarga”

Agus dan keluarga terkejut karna nominal yang di transfer Wulan tak tanggung-tanggung 500 juta.

“Terimakasih banyak mba Wulan” ucap Agus.

“Baik kalau begitu, saya pamit dulu pak, bu, mas”, kata Wulan sembari mulai berdiri lalu keluar rumah menuju mobilnya.

Terik matahari menjamah tubuh hingga terasa panas menyengat, Wulan dan Bandi kembali ke Jakarta.

Angin sepoi-sepoi berhembus pelan meyelusup masuk ke dalam mobil. Di jalanan pedesaan mengingatkan mereka tentang arti perjuangan yang dulu dilakukan kedua orang tuanya.

Duduk di belakang adiknya, Wulan menyandarkan punggungnya di sofa mobil. Menghelai nafas seolah sedang menikmati rasa rindunya pada kampung halamannya. Sementara itu, Bandi fokus menyetir mobil yang melaju pelan di jalan pedesaan.

“Sudah berapa tahun ya ban, kita gak pulang kesini ?” suara Wulan sambil menikmati pemadangan.

“Semenjak emak sama abah meninggal, kita hampir gak pernah kesini lagi mba” sahut Bandi.

“Iya rasanya emak dan abah pergi begitu cepat” ucap Wulan dengan ekspresi sedih.

Dua bulan sesudah Wulan menikah, emaknya meninggal dunia kemudian di susul abahnya 5 bulan kemudian. Mungkin itu lah yang membuat tetangga di kampung halamannya mengira Wulan dan suami melakukan pesugihan. Di tambah lagi, kepergian sang suami yang mendadak karna mengalami kecelakaan. Padahal semua yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya.

“Ban, nanti di rest area kita mampir sebentar yah !, mau beli oleh-oleh telor asin untuk tetangga di rumah” pinta Wulan.

“Oce ..oce mba”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!