NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Sadar tapi tidak mendekat.

Pukul 03.00 dini hari.

Rumah sunyi.

Terlalu sunyi sampai suara jam dinding terdengar seperti ketukan palu yang berulang-ulang. Haikal tertidur di ranjang. Napasnya teratur. Dalam. Stabil.

Namun Lian terjaga.

Matanya terbuka sejak beberapa menit lalu. Dadanya terasa sempit. Ada sesuatu yang mengganjal, seperti batu kecil yang terus bergeser di dalam dada setiap kali ia bernapas.

Nama itu.

Humairah.

Ia bangkit perlahan dari ranjang. Gerakannya hati-hati, seolah takut suara sekecil apa pun bisa memecahkan sesuatu. Kakinya menapak dingin lantai, langkahnya menuju kamar mandi.

Ia masuk.

Mengunci pintu.

Klik.

Begitu kunci terpasang, tubuhnya seperti kehilangan penyangga.

Lian duduk di lantai, tepat di depan pintu kamar mandi. Punggungnya bersandar, lutut ditarik ke dada. Napasnya mulai memburu.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tangannya terangkat, menutup kedua telinganya.

Namun suara itu tetap datang.

“HUMAIRAH!”

Nyaring.

Keras.

Memanggil bukan untuk didengar—

melainkan untuk ditekan.

“HUMAIRAH!”

Lebih dekat.

Lebih keras.

Seolah dinding tidak ada.

BRAK!

Pintu terbanting.

DUARRR!

Sesuatu dihantam.

Lian meringkuk lebih dalam.

“Itu bukan aku,” bisiknya gemetar, entah pada siapa. “Itu bukan aku…”

Namun suara-suara itu tidak peduli.

“HUMAIRAH! KELUAR!”

Nada itu penuh keputusasaan.

Bukan marah semata.

Tapi kecewa yang menumpuk terlalu lama.

Lian menggeleng kuat.

Ia menutup telinganya lebih erat.

Namun suara itu bukan hanya di telinga.

Ia ada di kepala.

Di dada.

Di ingatan yang menolak pergi.

Dulu…

setiap kali nama itu dipanggil,

tidak pernah ada hal baik setelahnya.

Nama itu tidak datang bersama pelukan.

Tidak bersama tawa.

Tidak bersama pertanyaan lembut.

Nama itu selalu diikuti tuntutan.

Kenapa kamu begini?

Kenapa kamu tidak bisa seperti yang Bunda mau?

Kenapa selalu bikin malu?

“HUMAIRAH!”

Artinya:

Diam.

Dengar.

Jangan membantah.

Sedangkan Lian—

Lian adalah saat ia lari keluar rumah.

Saat ia tertawa keras.

Saat ia memar, berdarah, tapi merasa hidup.

Lian adalah dirinya yang memilih.

Humairah…

adalah dirinya yang dipaksa.

Air mata menetes tanpa suara.

Lian tidak terisak.

Ia sudah terlalu terbiasa menangis tanpa bunyi.

Napasnya mulai teratur perlahan.

Ia menurunkan tangan dari telinga.

Suara itu mereda.

Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri—masih cepat, tapi nyata.

Ia menyeka wajahnya dengan telapak tangan.

Ketika Haikal tadi bertanya tentang nama itu,

Lian tidak sepenuhnya berbohong.

Namun ia juga tidak jujur sepenuhnya.

Ia bilang nama itu dipakai saat ia dimarahi.

Itu benar.

Tapi bukan hanya itu.

Nama itu adalah isyarat.

Isyarat bahwa ia tidak boleh menjadi dirinya sendiri.

Isyarat bahwa ia harus berubah.

Isyarat bahwa siapa dirinya sekarang… tidak pernah cukup.

Lian menarik napas panjang.

Ia berdiri perlahan. Membasuh wajah di wastafel. Menatap pantulan dirinya di cermin.

Matanya merah.

Namun tatapannya tetap keras.

“Aku Lian,” katanya pelan pada bayangannya sendiri.

“Aku bukan dia.”

Ia membuka pintu kamar mandi.

Sunyi kembali menyambut.

Lian berjalan kembali ke ranjang, berbaring membelakangi Haikal seperti biasa.

Namun kali ini, Haikal bergerak.

Tangannya—setengah sadar—menarik selimut Lian naik, menutup bahunya. Gerakannya refleks, tanpa membuka mata.

Lian membeku sesaat.

Dadanya bergetar.

Untuk pertama kalinya…

nama itu tidak datang bersama teriakan.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa aman setelah mengingatnya.

Matanya terpejam.

Di antara sadar dan tidur, satu pikiran muncul samar:

Mungkin… kali ini, aku tidak harus sendirian menanggungnya.

____

(Sudut Pandang Haikal)

Haikal terbangun bukan karena suara.

Ia terbangun karena ketiadaan.

Ranjang di sampingnya terasa lebih ringan.

Udara berubah.

Seperti ada sesuatu yang pergi tanpa pamit.

Matanya tetap terpejam.

Ia tidak bergerak.

Namun seluruh tubuhnya sudah siaga—kebiasaan yang dibentuk bertahun-tahun. Ia menghitung napas. Mendengar. Merasakan.

Ada langkah pelan.

Menuju kamar mandi.

Lalu—

Klik.

Pintu dikunci.

Haikal tetap diam.

Ia mendengar sesuatu yang lain sekarang.

Bukan suara keras.

Bukan tangisan.

Melainkan napas yang terlalu cepat. Terlalu dangkal. Seperti seseorang yang berusaha keras untuk tidak runtuh.

Beberapa menit berlalu.

Haikal tahu—

Lian tidak berdiri di sana.

Ia duduk.

Bersandar di depan pintu kamar mandi.

Ia tahu caranya bersandar itu terdengar. Ada jeda kecil saat tubuh menyentuh permukaan. Ada helaan napas yang berubah arah.

Tangannya mengepal pelan di atas kasur.

Namun ia tidak bangun.

Ia tidak mengetuk pintu.

Tidak memanggil nama.

Tidak bertanya.

Ia memilih diam.

Karena ia tahu—

jika ia muncul sekarang, Lian akan kembali memakai topengnya.

Dan Haikal tidak ingin itu.

Waktu berjalan lambat.

Terlalu lambat.

Ia mendengar napas itu naik-turun, tidak stabil, lalu perlahan… membaik.

Akhirnya—

Klik.

Kunci dibuka.

Langkah kaki kembali terdengar.

Lebih pelan dari sebelumnya.

Lian kembali ke kamar.

Haikal tetap memejamkan mata.

Ia merasakan kasur turun perlahan. Tubuh di sampingnya berbaring membelakanginya, kaku, seolah takut menyentuh apa pun.

Ada jarak.

Namun jarak itu tidak lama.

Tanpa membuka mata, Haikal bergerak.

Tangannya terangkat, menarik selimut yang turun, menyelubungi bahu Lian. Gerakannya pelan. Terukur. Seperti ia melakukan sesuatu yang sudah sangat ia hafal.

Ia sengaja tidak membuka mata.

Ia ingin Lian percaya—

bahwa ini bukan pengawasan.

Bukan pertanyaan.

Bukan tuntutan.

Hanya kehadiran.

Lian membeku sesaat.

Haikal merasakannya dari cara napas itu tertahan sebentar… lalu perlahan kembali teratur.

Ia tidak menarik Lian lebih dekat.

Tidak menyentuh kulitnya.

Ia hanya memastikan—

selimut itu cukup.

Malam itu tidak terlalu dingin.

Dalam gelap, Haikal menahan satu dorongan kuat:

Untuk bertanya.

Untuk mencari tahu.

Untuk menuntut kejujuran.

Namun ia menelannya.

Ia memilih percaya.

Percaya bahwa jika Lian ingin bicara,

ia akan datang dengan sendirinya.

Dan sampai saat itu tiba—

Haikal akan tetap di sini.

Dengan mata terpejam.

Dengan tangan yang siap menarik selimut.

Dengan hati yang belajar melindungi… tanpa memaksa.

Malam kembali sunyi.

Namun kali ini,

sunyi itu tidak terasa kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!