Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Melahirkan di Sini, Nona!
“Joann pasti angkat,” kata Kael. “Atau seenggaknya dia bisa nelepon Davis, dan Davis bisa menelepon Jennie.”
Maggie mengangguk lagi, lalu wajahnya memerah saat tarikan napas terengah, datang kembali. “Kenapa yang ini lama sekali?” Ia melepaskan tangannya dan mencengkeram tepi bantalan kursi.
Kael bahkan tidak mencoba mengirim pesan, langsung menelepon Joann. Panggilan itu masuk ke pesan suara.
Sial.
Kael meninggalkan pesan suara singkat. “Segera hubungi Davis begitu kamu dengar ini. Maggie lagi melahirkan dan HP nya ketinggalan. Minta salah satu dari mereka kasih tahu Jennie supaya keluarganya bisa diberi kabar. Kami lagi menuju Rumah Sakit Grand Family.”
Seharusnya Kael pernah menghubungi Davis atau Jennie sebelumnya. Maggie meremas tangannya saat Kael menyusuri daftar panggilan. Ia melihat nama Barros dan menekannya.
Nadanya berdering sebelum ia sadar kalau itu nomor Maggie.
Benar.
Saat Kael memintanya berkencan. Kencan yang liar dan sama sekali tidak tepat waktu ini.
Cengkeraman Maggie mengendur dan tubuhnya rileks di bantalan kursi. “Oke. Yang itu udah lewat.”
“Sekarang harus aku hitung?” tanya Kael.
Maggie menggeleng, menyingkirkan helaian rambut panjang dari wajahnya. Sanggulnya sudah lepas. Jepit-jepit kecil berserakan di jok. “Rambutku bikin gila. Aku butuh sesuatu buat ikat ini.”
Kael menyalakan pengatur waktu di HPnya dan mencari apa pun untuk menjinakkan rambut Maggie. Karena tidak ada apa-apa di limusin. Ia pun melepas dasinya. “Ini bisa?”
Maggie mengangguk, mengambil dasi sutra Hermès itu dan menyelipkannya di bawah rambut. Ia mengaturnya hingga bagian lebar berada di atas kepala, lalu mengikat ujungnya di tengkuk. Hasilnya manis, seperti gaya tahun enam puluhan.
“Kelihatannya bagus,” kata Kael.
Maggie memejamkan mata. “Ini sama sekali bukan malam yang kubayangkan.” Karena Kael tidak punya jawaban, Maggie membuka satu mata. “Katakan sesuatu!”
Kael mengangkat bahu. “Setelah terakhir kali kita ketemu, aku udah memprediksi ini bakal terjadi.”
Maggie menopang tubuh dengan satu siku. “Serius? Dan kamu tetap datang?” Wajahnya tampak terguncang, dagunya terangkat.
Kael biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata, tapi bagaimana menjelaskan kalau situasi Maggie justru bagian dari pesonanya?
Ia tidak pernah bertanya soal bayi itu, soal ayahnya, atau bagaimana Maggie bisa berada di posisi ini.
Semua itu hanyalah bagian dari dirinya. Maggie datang sepaket dengan bayi. Ia sudah tahu sejak pertama kali melihatnya.
Ia tidak bisa melupakan momen itu.
Ia dan Joann datang ke Sweety Spring yang masih kosong sekitar seminggu sebelum pembukaan.
Adiknya sedang tertawa karena lelucon yang baru saja ia ucapkan. Mereka membuka pintu. Bagian dalam sudah tertata, meja-meja oranye tersebar di ruang makan terbuka. Dan di salah satunya, duduklah seorang dewi.
Rambut pirangnya yang panjang terurai dalam ikal-ikal kusut. Maggie mengenakan celana putih dan kaus hijau muda dengan logo tokonya.
Matanya biru jernih, dan saat tatapan mereka bertemu, ia merasa benar-benar tenggelam.
Saat Maggie berdiri, barulah terlihat bahwa ia sedang hamil, tentu saja. Jantungnya berdegup keras. Tidak adanya cincin tidak berarti apa-apa pada awalnya, karena mungkin jari-jarinya terlalu bengkak untuk memakainya.
Namun, kemudian hari itu ia tahu Maggie tinggal bersama kakaknya. Dan pada hari ketiga sesi mentoring mereka, ketika Jennie mengusulkan makan malam bersama dan Davis datang, sementara Maggie sendirian, ia mulai menduga bahwa Maggie menjalani semua ini sendirian.
Ia bertanya secara halus pada Davis tentang keadaan Maggie. Jawabannya sederhana. Maggie masih lajang dan ayah dari bayi itu tidak bertanggung jawab.
“Uh, oh,” kata Maggie, mencengkeram lengannya kuat-kuat. “Kayaknya kontraksi yang lain datang. Udah berapa lama?”
Ia melihat HPnya. “Sedikit lebih dari tiga menit.”
“Itu cepat.”
“Ya?” Ia sama sekali tidak tahu.
“Cari di Google,” kata Maggie. “Kayaknya kalau jaraknya kurang dari empat menit, mereka bilang itu udah dekat.”
Sudah dekat?
Kael berteriak ke arah sopir. “Masih berapa lama?”
“Lima menit!” sahut si sopir.
“Kita akan sampai,” katanya pada Maggie. “Jangan khawatir.”
“Pokoknya cari di Google!” kata Maggie sambil mengertakkan gigi. “Siapa tahu aku melahirkan di kursi limusin ini!”
“Jangan melahirkan di limusin saya!” teriak sopir. “Saya baru aja membersihkan joknya!”
“Aku bakal nyuruh orang buat bersihin mobil sialanmu!” teriak Kael balik.
Kael bisa membeli limusin ini berkali-kali lipat.
Ya Tuhan.
Kael meraba-raba HPnya, membuka Google, mencari soal jarak kontraksi.
Maggie mengerang panjang dan berat. Ia merasakan ketidaknyamanan dan kepanikan yang perlahan naik. Ia selalu mengira dirinya tak tergoyahkan. Ia pernah duduk di rapat dewan dengan para CEO yang marah, ruangan penuh orang-orang yang berteriak padanya.
Namun, ini jauh lebih menegangkan.
Kael menemukan tautan yang cukup meyakinkan. “Di sini tertulis, kalau jarak antar kontraksi kurang dari lima menit dan berlangsung satu menit atau lebih, itu sudah masuk fase persalinan aktif.”
“Kayaknya kita udah melewati itu,” kata Maggie. “Masih berapa lama sampai bayi lahir?”
“Seharusnya sekitar satu jam. Kamu belum masuk fase transisi.”
Penjelasan itu membuat Maggie lebih tenang. Napasnya masih pendek dan terengah, tapi tubuhnya mulai rileks di jok, mata terpejam, satu tangan bertumpu di perutnya.
“Kita akan baik-baik aja,” kata Kael..
Salah satu sepatu Maggie sudah hampir terlepas, jadi ia menyingkirkannya, lalu melepas sepatu lainnya dan meletakkannya di lantai. “Perlu kita hubungi doktermu?”
“Boleh,” jawab Maggie. “Tapi tanpa HP, ingat?”
“Aku bisa mencarinya.”
Bahu Maggie mengendur. “Yang ini udah selesai, kan? Aku capek sekali.”
Padahal perjalanan masih panjang.
Sambil menyimpan HP ke saku, Kael bergumam, “Apa yang bisa aku lakuin?”
“Aku haus sekali.”
Ia mengobrak-abrik minibar.
Bir.
Anggur.
Fanta.
Coca-Cola.
Akhirnya ia menemukan sebotol air mineral dan membukanya. “Ini.”
Maggie kembali bertumpu pada sikunya. “Makasih."
Lehernya bergerak naik turun saat ia meminum setengah botol. Kael mengambil botol itu darinya.
“Kontraksi berikutnya bakal segera datang. Kemungkinan besar nanti aku bakal memuntahkan ini,” kata Maggie. “Ada tisu?”
Serbet sutra yang terlipat rapi terselip di dalam deretan gelas kristal, Kael mengambil satu. “Aku enggak yakin ini bakal bisa membantu, tapi kita coba.”
Ia menarik seluruh serbet dan menyebarkannya di jok dekat kepala Maggie.
“Mungkin kantong plastik?” usul Maggie.
Ia memeriksa lemari dan menemukan tempat sampah kecil. Ia mengeluarkannya. “Kalau ini?”
“Bagus.” Maggie menundukkan kepala.
“Ada lagi?”
Maggie menggeleng, matanya terpejam lelah. “Kita tunggu.”
Ia tampak kehabisan tenaga dan rapuh, tubuhnya yang kecil dengan perut besar seperti bola basket terbaring di jok kulit yang panjang.
Kael mendekat, duduk di lantai, lengannya menopang tubuh Maggie agar tidak bergeser setiap kali mobil bergerak.
“Kita sudah sampai!” seru sopir. Sebuah papan besar berwarna merah menembus gelapnya kaca limusin.
Rumah sakit.
“Kamu siap?” tanya Kael.
Maggie mengangguk, dan ia membantunya duduk. “Makasih.”
Sopir membuka pintu belakang. “Ada perempuan melahirkaaaaaan!” teriaknya.
Maggie menatapnya. “Dia benaran bilang gitu?”
“Benar.”
Tak lama kemudian, seorang dokter mengintip ke dalam limusin. “Kamu bisa berjalan?” tanyanya.
Maggie mengangguk. Mereka membantunya turun dari mobil, lalu tim medis memindahkannya ke troli.
“Aku ikut masuk?” tanya Kael, tiba-tiba merasa ragu.
Namun saat itu juga, Jennie datang dengan berlari. “Kami sampai.”
Kael menatapnya. “Joann yang nelepon Davis.”
Tak lama kemudian, Mama Maggie ada di sana. Lalu Papanya.
“Terima kasih, Nak,” kata sang Papa. “Kami akan mengurusnya dari sini.”
“HPnya ketinggalan di Phoenix Gastro,” kata Kael. “Kami lupa saat buru-buru ke sini.”
Darwin Prakasa mengangguk sambil mengikuti putrinya melewati pintu loby. “Kami akan mengurusnya. Terima kasih!”
Sopir menunduk mengintip ke dalam mobil, menghela napas lega karena keadaannya tidak separah yang ia bayangkan. “Ke mana saya harus mengantar Anda, Tuan?”
“Kembali ke hotel, kayaknya,” jawabnya.
Ia masuk ke mobil dan menunggu sopir memutar arah.
Maggie dan keluarganya sudah menghilang di dalam rumah sakit. Saat mobil mulai menjauh, Kael mengambil tumpukan serbet sutra dan meletakkannya di meja kecil.
Sebuah kilau menarik perhatiannya.
Di lantai limusin, berkilau lah sepatu kaca Cinderella, tergeletak dengan elegan, milik Maggie.
Ia harus mengembalikannya suatu hari nanti.
...𓂃✍︎...
...Yang paling kurindukan setelah kepergianmu adalah diriku yang baik-baik saja sebelum mengenalmu. ...
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .