Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Bakat yang Menentang Surga
"Aku akan merangkak dari dasar ini. Menjadi murid luar terkuat, lalu merebut posisi di jajaran murid dalam." gumam Boqin Tianzun. Matanya tertuju pada Sua Mei yang terbaring lemah, napas gadis itu terdengar berat dan pendek. Ada kilat tekad yang membakar di bola mata Boqin yang biasanya redup.
Sembilan belas tahun hidup dalam bayang-bayang kematian telah memberinya pemahaman pahit.
"Dunia ini mungkin mengutukku dengan tubuh yang akan hancur sebelum usia dua puluh enam tahun. Tapi..." Boqin mengepalkan tangannya yang kurus, merasakan tulang-tulangnya yang menonjol "...Surga juga memberikan kompensasi yang mengerikan. Mereka memberiku mata yang mampu merekam semesta dan pikiran yang mampu membedah setiap gerakan hanya dengan sekali lirik."
Selama bertahun-tahun, saat ia dianggap sampah yang hanya bisa menonton dari jauh, Boqin sebenarnya tidak sekadar melihat. Ia merekam.
Ia mengamati bagaimana para jenius sekte mengalirkan energi, bagaimana otot mereka bergerak, dan bagaimana udara di sekitar mereka bergetar saat kultivasi.
DIa melakukan itu semua awalnya hanya untuk memahami emosi manusia, namun tanpa sadar, ia telah menguasai teori tertinggi dari semua teknik yang pernah ia lihat.
Boqin bangkit, meninggalkan aroma obat yang menyesakkan di kamar Sua Mei. Ia duduk bersila di atas tanah keras di belakang kediaman pelayan, tempat yang kotor dan terabaikan—persis seperti dirinya.
Boqin menutup matanya. Dalam kegelapan batinnya, ia mengingat kembali sembilan tingkatan kultivasi yang menjadi hukum mutlak di dunia ini:
Pengerasan Dasar (Level 1-10)
Arus Qi (Level 1-10)
Inti Qi (Level 1-10)
Penyatuan Roh (Level 1-10)
Manifestasi Roh (Level 1-10)
Jiwa Sejati (Level 1-10)
Transformasi Esensi (Level 1-10)
Domain Kehendak (Awal/Menengah/Akhir)
Puncak Abadi (Awal/Menengah/Akhir)
Satu tarikan napas panjang dimulai. Udara di sekitar Boqin mendadak mendingin.
Kultivasi bukanlah sekadar menghirup udara. Boqin menarik energi alam yang kotor dan liar, lalu menggunakan kehendaknya untuk memeras energi tersebut melewati filter di paru-parunya. Energi yang telah murni (Qi) kemudian dipaksa mengalir melalui jalur Meridian—pembuluh darah halus khusus energi.
Di dalam Dantian (pusat energi di bawah pusar), Qi yang semula berbentuk gas tipis harus diputar dengan kecepatan tinggi. Boqin tidak membiarkan Qi itu diam; ia membentuknya menjadi sebuah Pusaran. Dengan tekanan mentalnya yang luar biasa, ia memadatkan gas Qi tersebut hingga menjadi tetesan embun energi yang sangat padat. Semakin padat pusaran itu, semakin kuat fondasi seorang kultivator.
Bagi orang biasa, proses memadatkan satu tetes Qi bisa memakan waktu berminggu-minggu. Namun bagi Boqin, setiap pori-pori kulitnya seolah menjadi mulut yang rakus. Energi di sekitar area pelayan tersedot habis, menciptakan pusaran angin kecil yang mengelilingi tubuhnya.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya yang lemah menjerit kesakitan karena dipaksa menampung energi yang begitu besar dalam waktu singkat. Keringat dingin bercampur kotoran hitam keluar dari pori-porinya—inilah proses pembersihan tubuh.
Matahari terbit dan terbenam. Boqin tidak bergerak seinci pun.
Hanya dalam waktu dua puluh empat jam, suara retakan halus terdengar dari dalam tubuhnya. Itu bukan suara tulang patah, melainkan dinding pembatas ranah yang hancur.
Pengerasan Dasar... Level 5... Level 10... Tembus!
Arus Qi... Level 3... Level 7... Level 10!
Jika ada tetua sekte yang melihat ini, mereka akan menganggap Boqin adalah iblis. Mencapai puncak Arus Qi dalam satu hari adalah hal yang mustahil secara logika. Namun, bagi Boqin yang sudah "berkultivasi dalam pikiran" selama belasan tahun, ini hanyalah masalah memindahkan air ke wadah yang sudah siap.
Boqin Tianzun membuka matanya. Pupil matanya kini memiliki kilatan perak yang tajam, tak lagi kosong seperti kemarin. Ia berdiri, merasakan kekuatan mengalir di urat nadinya, meskipun rasa sakit dari penyakitnya tetap mengintai di balik bayangan.
Ia menoleh ke arah lapangan latihan murid luar yang mulai ramai di kejauhan. Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.
"Satu hari lagi," bisik Boqin, suaranya terdengar seperti janji kematian. "Aku akan mendaftar seleksi. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan kalian semua merangkak di bawah kakiku—atau mati di tanganku."