Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam merayap turun perlahan, menyisakan cahaya tamaram dari lampu-lampu kota yang terlihat samar dari balik jendela kaca. Di ruangan itu hanya ada keheningan yang terasa berat.
Gibran duduk bersandar, pandangannya kosong seolah terjebak di tempat lain.
Semua gerak-gerik Gibran tak luput dari perhatian Rangga. Rangga sudah lama mengenal Gibran. Ia tahu betul, diam yang seperti ini bukan karna lelah... ada kegelisahan yang di pendam. Dan Rangga tebak, jika penyebabnya adalah Nadia.
"Aku perhatikan dari tadi, setiap nama Nadia di sebut, kau selalu berubah," ucap Rangga pelan. "Kenapa kau seperti menghindar darinya? kau ragu?"
Gibran menghela napas panjang. "Aku tidak pernah mau jauh dari dia," katanya dengan suara rendah. "Kalau bisa aku ingin selalu dekat. Mendengarkan ceritanya, tertawa bersama dan membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya spele, tapi membuat bahagia."
"Tapi lihat keadaanku sekarang," lanjutnya lirih. "Hidupku nggak sederhana. Penuh bayang-bayang, ancaman, dan orang-orang yang siap menyeret siapapun yang ada di dekatku."
Rangga menatapnya tanpa menyela.
"Aku egois kalau tetap mendekat," sambung Gibran ,nada suaranya semakin berat. Aku tidak mau Nadia ikut terseret ke dalam semua kekacauan ini. Dia nggak pantas hidup dalam rasa takut, selalu waspada, atau jadi sasaran, hanya karna dekat denganku."
Rangga mengangguk pelan, memahami dilema itu. "Jadi... kau memilih menjauh, meski hatimu menolak?"tanya Rangga.
Gibran tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka." Bukan karna aku tidak peduli. Justru karna aku terlalu peduli. Selama hidupku masih seperti ini... menjaga jarak adalah satu-satunya cara melindunginya."
Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Rangga menarik napas dalam, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya lurus ke arah Gibran.
"Tapi, Bran…"ucap Rangga pelan namun tajam, "kalian bahkan belum benar-benar saling mengenal. Belum ada prolog, belum sempat membuka halaman pertama, tapi kau sudah menutupnya dengan epilog."
Gibran terdiam. Ucapan itu menghantam tepat di dadanya.
"Dari caranya melihatmu, dari caranya menyebut namamu," lanjut Rangga, "aku bisa lihat jelas. Nadia mulai menyukaimu. Mungkin tanpa sadar."
Rangga berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih berat.
"Tapi yang kau lakukan justru memberi harapan palsu. Kamu datang saat dia butuh, menghilang saat perasaannya mulai tumbuh. Menurutmu itu adil?"
Gibran mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, matanya meredup.
"Aku tidak pernah berniat memberinya harapan," jawabnya lirih. "Aku cuma ingin memastikan dia baik-baik saja."
"Masalahnya," potong Rangga halus, "kehadiranmu saja sudah cukup untuk jadi harapan, Bran. Apalagi caramu menatap dia."
Gibran menunduk. Dadanya terasa sesak."Aku tahu,"gumamnya. "Dan itu yang paling aku takuti. Aku takut suatu hari dia sadar, bahwa semua rasa aman yang pernah aku berikan… cuma sementara."
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Aku ingin jujur padanya," lanjut Gibran, suaranya bergetar tipis. "Tapi kalau aku membuka semuanya...tentang hidupku, tentang bahaya yang mengintai...itu sama saja dengan menyeretnya lebih dalam."
Rangga mendekat, suaranya melunak namun tetap tegas.
"Menjauh tanpa penjelasan juga menyakitkan, Bran. Luka yang tidak terlihat sering kali lebih dalam."
Gibran mengangkat wajahnya, matanya berkabut.
"Aku tahu,"katanya pelan. "Aku cuma belum tahu… mana yang lebih kejam...pergi sekarang, atau bertahan dan menghancurkannya perlahan nanti."
Kata-kata itu menggantung di udara, meninggalkan sunyi yang penuh dilema, seolah tak ada pilihan yang benar dalam cerita mereka...hanya pilihan yang sama-sama menyakitkan.
"Kau selalu berpikir sejauh itu, Bran," katanya akhirnya. "Selalu mikir tentang akibat terburuk, sampai lupa satu hal… Nadia punya hak memilih."
Gibran mengangkat kepala. Alisnya berkerut."Memilih?" ulangnya lirih.
"Iya," jawab Rangga mantap. "Memilih mau tetap di dekatmu, atau mundur. Bukan kau yang seharusnya memutuskan sendirian atas nama melindungi."
Gibran terdiam. Kata-kata itu berputar di kepalanya, mengusik keyakinan yang selama ini ia pegang."Aku takut kalau aku jujur, dia malah semakin mendekat,"ujar Gibran pelan. "Dan saat itu terjadi… aku tidak yakin bisa terus menolaknya."
Rangga tersenyum tipis. "Itu bukan ketakutan,"katanya. "Itu kejujuran yang kau sembunyikan."
Gibran tertawa kecil tanpa humor.
"Mungkin."
Ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati jendela. Lampu-lampu kota memantul di matanya yang redup.
"Setiap kali aku membayangkan hidup normal,"katanya tanpa menoleh, "wajah Nadia selalu muncul. Seolah hidup sederhana itu mungkin… kalau bersamanya."
Rangga ikut berdiri di belakangnya.
"Yapi?"
"Tapi hidupku bukan cerita sederhana," jawab Gibran."Dan aku benci kenyataan itu."
Rangga menepuk bahu Gibran pelan.
"Kau boleh melindungi,"ucapnya, "tapi jangan sampai perlindunganmu berubah jadi alasan untuk lari."
"Aku tidak mau dia menungguku dalam ketidakpastian," katanya akhirnya. "Kalau aku mendekat, aku harus jujur. Setengah-setengah hanya akan melukainya."
Rangga mengangguk."Dan kalau kau memilih menjauh?"
Gibran membuka matanya perlahan.
"Maka aku harus benar-benar pergi," jawabnya tegas, meski suaranya nyaris patah. "Bukan datang dan menghilang sesuka hati."
Rangga menatapnya, seolah memastikan keputusan itu bukan sekadar ucapan."Jadi?"tanyanya.
Gibran menelan ludah."Aku akan menemuinya," katanya pelan namun pasti. "Bukan sebagai penyelamat yang datang lalu pergi… tapi sebagai laki-laki yang jujur, meski berisiko kehilangan."
**********
Siang itu matahari terasa terik, membakar aspal jalanan yang padat oleh kendaraan. Nadia memacu motornya dengan hati-hati, kotak makanan terikat rapi di belakang jok. Ponselnya sesekali bergetar...notifikasi pelanggan yang menanyakan pesanan.
Ia mempercepat laju, berniat segera sampai agar tak mengecewakan siapa pun.
Namun takdir punya cara sendiri untuk mengubah arah hidup seseorang.
Di sebuah persimpangan, sebuah mobil mewah berwarna hitam tiba-tiba berhenti mendadak. Nadia refleks mengerem, tapi jarak terlalu dekat. Bunyi benturan kecil terdengar...cukup keras untuk membuat jantungnya nyaris copot.
"Nggak, nggak, nggak…" gumam Nadia panik.
Pintu mobil terbuka. Seorang laki-laki muda turun dengan wajah masam. Setelan mahal melekat rapi di tubuhnya, jam tangan di pergelangan tangannya berkilau terkena cahaya matahari."Apa kamu nggak lihat jalan?" bentaknya tajam.
Nadia segera turun dari motor, tubuhnya sedikit gemetar."Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf,"ucapnya cepat. "Saya nggak sengaja. Mobil Bapak berhenti mendadak."
Laki-laki itu mendengus, menatap goresan kecil di bumper mobilnya seolah itu dosa besar.
"Ini mobil baru,"katanya dingin. "Kamu tahu harganya berapa?"
Nadia menunduk. "Saya akan bertanggung jawab," katanya lirih. "Kalau memang ada kerusakan, kita bisa bicarakan baik-baik."
"Bertanggung jawab?" laki-laki itu tertawa sinis. "Dengan apa? motor butut dan pekerjaan antar makanan seperti ini?"
Ucapan itu menusuk, tapi Nadia menahan diri.
Ia menggengam ujung jaketnya, berusaha tetap tenang.
"Sebutkan saja, berapa biaya yang akan kau ganti," lanjut laki-laki itu. "Atau kita selesaikan lewat jalur hukum."
Nadia mengangkat wajahnya terkejut. "Jalur hukum? Pak, goresannya kecil.... "
"Buatmu kecil," potongnya ketus. "Buatku ini masalah."
Ia lalu melirik ponselnya yang berdering, mengangkat panggilan dengan nada tak sabar. "Iya, Pah. Aku baru sampai... iya, sebentar lagi."
bersambung....