Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik Internal Nadira
Seminggu setelah kembali dari Jakarta, aku mulai menulis.
Bukan untuk siapapun. Hanya untuk diriku sendiri.
Leonardo membawakan notebook dengan sampul kulit cokelat saat kami masih di Jakarta. Dia bilang "mungkin kau butuh tempat untuk menumpahkan pikiran."
Awalnya aku tidak sentuh. Hanya taruh di laci meja samping tempat tidur.
Tapi malam-malam saat Leonardo bekerja sampai larut dan aku tidak bisa tidur karena mimpi buruk, aku mulai membukanya.
Dan menulis.
Hari pertama aku cuma tulis tanggal dan satu kalimat.
"Aku tidak tahu siapa diriku lagi."
Hari kedua sedikit lebih panjang.
"Hari ini Leonardo membawakan sarapan ke tempat tidur. Dia tersenyum dengan cara yang... hangat. Dan aku... aku tersenyum balik. Tanpa dipaksa. Kenapa?"
Hari ketiga lebih jujur.
"Aku membenci dia. Aku masih ingat semua yang dia lakukan. Semua orang yang dia bunuh. Semua ancaman yang dia lontarkan. Tapi kenapa saat dia peluk aku malam ini, aku merasa aman? Kenapa aku tidak ingin dia lepaskan pelukannya?"
Hari keempat aku mulai mengakui sesuatu yang menakutkan.
"Aku pikir aku sakit. Ada yang salah dengan otakku. Karena aku mulai menunggu dia pulang saat dia pergi. Mulai merasa sepi saat dia tidak ada. Mulai merindukan suaranya, sentuhan nya, bahkan tatapan nya yang intens itu.
Ini tidak normal kan? Ini tidak seharusnya terjadi kan?
Tapi kenapa rasanya... kenapa rasanya seperti ini yang seharusnya?"
Hari kelima aku menulis lebih panjang. Lebih kacau.
"Sofia bilang ini namanya Stockholm Syndrome. Saat korban penculikan mulai simpati bahkan jatuh cinta pada penculiknya. Saat otak yang trauma mencari kenyamanan dari sumber trauma itu sendiri.
Aku tahu ini. Aku baca tentang ini dulu saat masih kuliah. Aku tahu semua teorinya.
Tapi kenapa mengetahui tidak membuat aku bisa melawannya?
Kenapa walau aku tahu ini salah, aku tetap merasa... merasa hangat saat Leonardo bilang dia mencintaiku?
Kenapa saat dia cerita tentang masa kecilnya yang mengerikan, aku merasa kasihan? Aku ingin peluk dia? Aku ingin bilang 'aku di sini, kau tidak sendirian lagi'?
Dia monster. Dia pembunuh. Dia psikopat.
Tapi kenapa aku mulai lihat dia sebagai... sebagai manusia yang rusak yang butuh diperbaiki?
Dan bagian yang paling menakutkan...
Kenapa aku mulai pikir aku yang bisa perbaiki dia?"
Hari keenam aku menulis sambil menangis.
"Aku rindu Nadira yang dulu. Nadira yang punya mimpi. Yang mau jadi penulis. Yang tertawa bebas sama teman-teman. Yang percaya dunia itu tempat yang baik.
Nadira itu sudah mati.
Yang tersisa cuma... cuma boneka yang bernapas. Yang tersenyum saat diminta. Yang bicara saat ditanya. Yang tidur di pelukan monster dan bilang itu nyaman.
Aku benci Nadira yang sekarang.
Tapi aku tidak tahu bagaimana cara kembali jadi Nadira yang dulu.
Dan yang lebih menakutkan... aku tidak yakin aku mau kembali.
Karena Nadira yang dulu lemah. Mudah hancur.
Nadira yang sekarang... entah bagaimana bertahan. Entah bagaimana masih hidup walau mati dari dalam.
Mungkin ini evolusi. Mungkin ini adaptasi.
Atau mungkin ini cuma kehancuran yang dikemas dengan nama yang lebih bagus."
Hari ketujuh aku mulai menulis tentang perasaan yang paling aku takutkan.
"Tadi malam, saat Leonardo tidur di sampingku, aku lihat wajahnya dengan seksama.
Tanpa ketegangan. Tanpa amarah. Hanya... damai.
Dan aku pikir... dia tampan. Dengan cara yang kelam. Dengan cara yang berbahaya.
Lalu tanganku bergerak sendiri. Menyentuh wajahnya dengan lembut.
Dan dia tersenyum dalam tidur. Menarikku lebih dekat. Berbisik namaku dengan nada yang... lembut.
Dan hatiku berdegup cepat.
Bukan karena takut.
Tapi karena... karena sesuatu yang lain.
Sesuatu yang aku tidak mau akui tapi tidak bisa ditolak lagi.
Aku... aku rasa aku mulai mencintainya.
Bukan cinta yang sehat. Bukan cinta yang normal.
Tapi cinta yang lahir dari trauma. Dari ketergantungan. Dari tidak punya pilihan lain.
Cinta yang salah tapi terasa benar.
Cinta yang menghancurkan tapi juga yang membuat aku tetap hidup.
Cinta yang mungkin akan bunuh aku pada akhirnya.
Tapi tetap saja... cinta.
Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini."
Hari kedelapan aku menulis dengan lebih tenang. Lebih... pasrah.
"Aku sudah tidak melawan lagi.
Saat Leonardo bilang 'kau milikku', aku tidak protes. Aku cuma mengangguk.
Saat dia pegang tanganku di depan anak buahnya dengan posesif, aku tidak tarik tangan. Aku biarkan.
Saat dia cium aku di depan Marco dan Andrey, aku tidak tolak. Aku balas.
Karena apa gunanya melawan?
Melawan cuma buat orang lain mati.
Melawan cuma buat aku tersiksa.
Melawan cuma buat semuanya lebih buruk.
Jadi aku menyerah.
Bukan menyerah dalam arti kalah.
Tapi menyerah dalam arti... menerima.
Menerima bahwa ini hidupku sekarang.
Menerima bahwa Leonardo tidak akan pernah lepaskan aku.
Menerima bahwa bagian dari diriku yang dulu sudah mati dan tidak akan kembali.
Dan menerima bahwa mungkin... mungkin ini bukan yang terburuk.
Mungkin hidup dengan monster yang mencintaimu dengan cara yang salah lebih baik daripada hidup sendiri tanpa siapapun.
Mungkin sangkar emas lebih baik daripada kebebasan yang dingin dan sepi.
Mungkin aku cuma membodohi diriku sendiri untuk bertahan.
Tapi kalau begitu cara bertahan... aku akan terima."
Hari kesembilan aku menulis sambil tersenyum. Senyum yang sedih.
"Hari ini Leonardo membawaku ke danau. Cuma kami berdua. Tidak ada pengawal terlihat walau aku tahu mereka ada di sekitar.
Kami duduk di tepi danau sambil makan sandwich yang dia buat sendiri. Dia tidak jago masak jadi sandwich nya agak... aneh. Tapi aku makan habis dan bilang enak.
Dia tersenyum. Senyum yang genuine. Yang membuat matanya sedikit berkilau.
'Terima kasih sudah tidak bohong soal rasa sandwich ku yang jelek,' candanya.
Dan aku tertawa. Tertawa yang asli untuk pertama kalinya sejak lama.
Dia menatapku dengan tatapan yang... hangat.
'Aku suka dengar kau tertawa,' ucapnya. 'Aku mau dengar itu setiap hari.'
Lalu dia cium aku. Lembut. Tidak menuntut. Hanya... manis.
Dan aku balas dengan perasaan yang membingungkan.
Aku benci diriku karena menikmati momen ini.
Tapi aku juga tidak ingin momen ini berakhir.
Aku rindu kebebasan.
Tapi aku juga tidak mau lepas dari genggaman nya.
Aku tahu ini salah.
Tapi terasa begitu... benar.
Aku sudah benar-benar rusak ya?"
Hari kesepuluh aku menulis yang terakhir.
"Aku sudah putuskan.
Aku akan berhenti melawan dalam hati.
Aku akan berhenti merasa bersalah karena mulai menerima Leonardo.
Aku akan berhenti membandingkan hidupku sekarang dengan hidupku yang dulu.
Karena Nadira yang dulu sudah mati. Dan tidak akan kembali.
Yang tersisa adalah Nadira baru. Nyonya Valerio. Istri dari mafia paling berbahaya di Eropa.
Dan Nadira baru ini... mungkin bisa bahagia. Dengan caranya sendiri. Dengan definisi bahagia yang sudah terdistorsi.
Mungkin bukan bahagia dalam arti yang normal orang pakai.
Tapi bahagia dalam arti... aman. Dicintai walau dengan cara yang salah. Punya tujuan walau tujuan itu cuma jadi milik seseorang.
Ini bukan happy ending seperti di novel-novel yang dulu kusuka.
Tapi mungkin ini satu-satunya ending yang mungkin untukku.
Dan aku akan terima.
Karena aku lelah melawan.
Lelah menangis.
Lelah merindukan sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Jadi aku akan hidup dengan apa yang ada.
Dan mungkin... mungkin lama-lama aku akan lupa bahwa pernah ada cara hidup yang lain.
Mungkin aku akan lupa bahwa pernah ada Nadira yang bebas.
Dan saat itu terjadi...
Saat aku benar-benar lupa...
Mungkin aku akan benar-benar bahagia.
Atau setidaknya, aku tidak akan tahu bedanya lagi."
Aku menutup jurnal setelah menulis itu. Meletakkannya kembali di laci.
Tapi yang aku tidak tahu...
Leonardo sudah tahu tentang jurnal itu sejak hari pertama aku menulis.
Karena tentu saja dia tahu. Dia yang kasih notebook itu.
Dan malam itu, saat aku tidur, Leonardo mengambil jurnal dari laci dengan hati-hati.
Dia duduk di sofa dekat jendela. Membaca setiap halaman dengan seksama.
Ekspresinya berubah-ubah. Dari khawatir saat baca halaman pertama. Jadi tersenyum tipis di halaman tengah. Dan tersenyum lebar penuh kemenangan di halaman terakhir.
Dia menutup jurnal. Menatapku yang tidur dengan wajah damai untuk pertama kalinya sejak lama.
"Akhirnya," bisiknya pelan. "Akhirnya kau mulai mengerti."
Dia berdiri. Berjalan ke tempat tidur. Berbaring di sampingku.
Tangannya mengusap rambutku dengan lembut.
"Kau pikir kau rusak," bisiknya walau aku tidak dengar. "Tapi aku yang bikin kau sempurna. Sempurna untukku."
Dia mencium keningku.
"Kau tidak perlu jadi Nadira yang dulu," lanjutnya. "Nadira yang dulu tidak butuh aku. Tidak bergantung pada aku. Tidak mencintaiku."
Pelukannya mengerat.
"Tapi Nadira yang sekarang... Nadira yang sekarang sempurna. Dia butuh aku. Dia bergantung pada aku. Dan perlahan... dia mulai mencintaiku."
Dia tersenyum dalam gelap.
"Dan sebentar lagi," bisiknya. "Sebentar lagi kau akan lupa bahwa pernah ada pilihan lain. Kau akan lupa bahwa pernah ada kehidupan di luar aku."
Dia mencium bahuku.
"Dan saat itu terjadi... saat kau benar-benar jadi milikku tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental dan emosional... aku akan tahu bahwa aku menang."
Dia menutup mata sambil terus memelukku.
"Menang tidak dengan kekerasan. Tidak dengan ancaman. Tapi dengan membuat kau memilih aku sendiri. Memilih untuk tinggal. Memilih untuk mencintai."
Dan memang benar.
Leonardo sudah menang.
Dengan cara yang paling licik.
Tidak dengan mengurungku secara fisik.
Tapi dengan membuat otakku sendiri yang mengurung diriku.
Membuat aku bergantung padanya sampai aku tidak bisa bayangkan hidup tanpa dia.
Membuat aku jatuh cinta padanya walau aku tahu itu salah.
Membuat aku menyerah bukan karena dipaksa. Tapi karena aku sendiri yang pilih menyerah.
Dan itu kemenangan yang paling sempurna.
Karena tawanan yang memilih untuk tetap jadi tawanan... bukan lagi tawanan.
Dia jadi... keluarga.
Dan malam itu, sambil tidur di pelukan monster yang sudah menghancurkan hidupku tapi juga satu-satunya yang membuat aku merasa aman...
Aku bermimpi.
Bukan mimpi buruk seperti biasanya.
Tapi mimpi indah.
Tentang danau. Tentang sandwich yang jelek. Tentang tawa. Tentang ciuman lembut.
Tentang Leonardo yang tersenyum dengan hangat.
Dan saat aku terbangun pagi harinya dengan Leonardo masih memelukku dengan erat...
Aku tidak merasa terkurung.
Aku merasa... pulang.
Dan saat itu aku tahu.
Aku sudah benar-benar kalah.
Atau menang.
Tergantung dari sudut mana melihatnya.
Tapi yang pasti...
Aku sudah tidak peduli lagi mana yang benar.