NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: tamat
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan Tanpa Status

Tidak ada kata pacaran di antara mereka.

Tidak ada pengakuan resmi, tidak ada unggahan media sosial, tidak ada definisi yang membuat segalanya terasa aman. Yang ada hanya kebiasaan baru—hadir satu sama lain, terlalu sering untuk disebut kebetulan, terlalu hati-hati untuk disebut cinta.

Kia menyadari itu pada minggu ketiga sejak hujan malam itu.

Pagi-paginya kini sering diawali dengan pesan singkat dari Daffa.

Udah bangun?

Sarapan jangan diskip.

Meeting lo jam berapa hari ini?

Hal-hal kecil. Tidak posesif. Tidak menuntut balasan cepat. Tapi konsisten.

Dan konsistensi—itu yang paling menakutkan bagi Kia.

Ia terbiasa hidup mandiri, membuat jadwal sendiri, pulang ke apartemen yang senyap. Kini, ada nama yang otomatis ia cari di ponsel saat istirahat makan siang. Ada langkah kaki yang dikenalnya saat Daffa muncul di lobi kantor, membawa dua gelas kopi dengan tingkat gula yang ia hafal di luar kepala.

“Lo stalking gue?” tanya Kia suatu siang, saat Daffa menyodorkan kopi tanpa diminta.

Daffa tersenyum. “Observasi.”

Kia mendengus. “Sok profesional.”

“Tapi bener, kan?” Daffa mengangkat alis.

Kia menyesap kopinya. “Iya.”

Mereka duduk berdampingan di bangku lobi, jarak yang cukup aman untuk publik, cukup dekat untuk mereka. Rekan kerja berlalu-lalang, beberapa melirik penasaran. Kia tidak peduli. Ia sudah terlalu dewasa untuk menyembunyikan hidupnya demi asumsi orang lain.

Yang ia sembunyikan justru perasaannya sendiri.

Malam-malam mereka juga berubah.

Kadang makan malam di warung sederhana dekat kantor. Kadang pesan makanan dan makan di apartemen Kia sambil menonton film yang tidak benar-benar mereka tonton. Kadang hanya duduk di balkon, berbagi rokok—kebiasaan lama yang Kia kira sudah ia tinggalkan.

“Lo masih keras kepala,” kata Daffa suatu malam.

“Lo masih sok ngerti,” balas Kia.

Mereka tertawa.

Kedekatan itu terasa alami. Tidak ada drama. Tidak ada tuntutan. Tapi justru di situlah bahaya mengintai—karena kenyamanan sering kali membuat orang lupa batas.

Suatu malam, setelah tertawa terlalu lama, setelah cerita masa lalu terurai sedikit demi sedikit, Daffa terdiam. Tatapannya tertuju pada wajah Kia, lebih lama dari biasanya.

“Kia,” panggilnya pelan.

“Hmm?”

“Kalau gue kelewatan, bilang.”

Kia menelan ludah. “Kenapa ngomong gitu?”

Daffa menghela napas. “Karena gue ngerasa… kita makin dekat.”

Kia tidak mengelak. “Iya.”

“Dan gue nggak mau nyakitin lo lagi.”

Kia memalingkan wajah, menatap lampu kota. “Lo nggak nyakitin gue sekarang.”

“Sekarang,” ulang Daffa.

Kata itu menggantung.

“Lo nyesel balik ke hidup gue?” tanya Kia tiba-tiba.

Daffa menjawab tanpa ragu. “Nggak sedetik pun.”

“Terus kenapa ragu?”

“Karena gue tahu,” jawab Daffa jujur, “kedekatan tanpa status itu rawan. Tapi buru-buru memberi nama juga bisa salah.”

Kia tersenyum tipis. “Akhirnya kita sepakat.”

Daffa menoleh. “Tentang?”

“Takut,” jawab Kia. “Tapi masih mau tinggal.”

Di luar dunia mereka berdua, ada hal-hal yang tidak bisa dihindari.

Tara.

Kia tidak sering menyebut nama itu. Daffa juga tidak. Tapi kehadirannya terasa—di sela percakapan, di jeda yang terlalu lama, di saat-saat Kia terlihat mematung menatap layar ponsel tanpa menyentuhnya.

Suatu sore, Daffa menemani Kia ke rumah ibunya. Bukan untuk makan malam besar. Hanya mampir sebentar.

Ibunya Kia menyambut Daffa dengan ramah yang tulus. Tidak bertanya macam-macam. Tidak menghakimi. Hanya menyuguhkan teh hangat dan senyum lelah yang penuh penerimaan.

“Kamu kelihatan lebih tenang,” kata ibunya pada Kia, saat Daffa ke dapur.

Kia terdiam. “Apa iya?”

Ibunya mengangguk. “Nggak bahagia berlebihan. Tapi… nggak tegang.”

Kia tersenyum kecil. “Aku lagi belajar.”

“Belajar apa?”

“Deket tanpa merasa harus lari.”

Ibunya menepuk tangan Kia. “Itu kemajuan.”

Saat mereka pulang, Daffa menggenggam tangan Kia di mobil. Tidak bicara. Tidak bertanya. Hanya memastikan—ia ada.

Namun kedekatan selalu mengundang ujian.

Suatu malam, saat mereka makan di restoran kecil, seorang perempuan menghampiri meja mereka.

“Daffa?” suaranya ragu tapi jelas.

Daffa menoleh. Wajahnya berubah sesaat. “Rena.”

Kia mengangkat alis. “Teman lama?”

“Mantan,” jawab Rena ringan, tanpa malu.

Udara berubah.

Rena tersenyum ke arah Kia. “Kamu pacarnya?”

Kia menatap Daffa. Ia bisa menjawab. Tapi ia tidak mau.

“Kami teman,” jawab Daffa tenang.

Rena mengangguk, seperti mengerti—atau pura-pura. “Aku cuma mau bilang, senang lihat kamu baik-baik aja.”

“Thanks,” jawab Daffa singkat.

Rena pergi. Keheningan jatuh.

“Teman?” Kia mengulang pelan.

Daffa menoleh. “Lo keberatan?”

Kia menggeleng. “Nggak. Cuma… aneh.”

“Aneh karena?”

“Karena gue ngerasa berhak cemburu, tapi nggak punya alasan.”

Daffa tersenyum miring. “Lo boleh.”

“Tanpa status?”

“Perasaan nggak nunggu status,” jawab Daffa lembut.

Kia menatap meja. “Lo nggak capek?”

“Kenapa?”

“Jalan pelan sama orang kayak gue.”

Daffa mengulurkan tangan, menutup tangan Kia. “Capek itu kalau sendirian.”

Kia menghela napas panjang. “Gue belum siap.”

“Gue tahu,” jawab Daffa. “Dan gue di sini bukan buat maksa.”

Kia menatapnya—lama. “Kalau suatu hari gue minta kepastian?”

Daffa tidak berpikir lama. “Gue jawab.”

“Jawaban jujur?”

“Selalu.”

Malam itu, mereka berpisah di depan apartemen Kia seperti biasa. Tidak ada ciuman. Hanya pelukan singkat—cukup lama untuk terasa, cukup singkat untuk tidak melewati batas.

Saat pintu tertutup, Kia bersandar di sana.

Dadanya penuh. Bukan sesak—penuh.

Kedekatan tanpa status itu melelahkan, ya. Tapi juga jujur. Tidak ada janji kosong. Tidak ada drama berlebihan. Hanya dua orang dewasa yang memilih untuk hadir, meski tahu risikonya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kia tidak merasa sendirian di dalam ketidakpastian itu.

Karena Daffa tidak menjanjikan masa depan.

Ia memilih menemani hari ini.

...****************...

1
falea sezi
ya kok end kan blom. nikah daffa sama. kia Thor g ada boncap kah
sabana: maaf kak, sampai di sini aja ya kak.🙏
total 1 replies
falea sezi
sweet bgt si daffa
falea sezi
gini doank nih karma bapak nya sama. nenek. lampir h seru
sabana: jahat kan masalahnya 🤣
total 1 replies
falea sezi
emak kia lebih baik hati kan dripada emak lu yg egois perebut
sabana: 😄 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
ia lah pantas jangan ngerusak kebahagiaan kia.. dr awal lahir kia uda menderita sedangkan lu ma ibuk lu enak bgt hidup nya
sabana: iyah bener🤭
total 1 replies
falea sezi
cpet nikah deh kalian buat tara jangan ganggu kapal gue ini ya
sabana: 🤭 terimakasih
total 1 replies
falea sezi
moga daffa bisa nyembuhin luka kia
sabana: iyah🤭
total 1 replies
falea sezi
kurang ajar bgt ne mertua
sabana: emang nyebelin
total 1 replies
Amelia Kesya
hadir thor, kayaknya seru lajut dulu☺️
sabana: terimakasih, semoga betah 🤭
total 1 replies
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!