Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Hilman masih berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan, sementara Arkan duduk kembali di sofa dengan santai, benar-benar buta akan ketegangan elektrik yang baru saja terjadi.
"Gimana, Gus? Si Keyla udah pinter nulis huruf hijaiyahnya?" tanya Arkan sambil meraih sepotong pisang goreng.
Hilman tidak berani menatap Arkan, apalagi menatap Keyla. Tangannya masih gemetar saat mencoba merapikan kitabnya. "Sudah... sudah lumayan, Mas Arkan. Mbak Keyla hanya perlu... lebih banyak konsentrasi."
Keyla, yang melihat Hilman begitu kacau, bukannya merasa kasihan malah semakin bersemangat. Sifat hyper-nya muncul kembali. Ia ingin melihat seberapa jauh Hilman bisa bertahan di bawah pengawasan kakaknya sendiri.
"Iya, Bang! Gus Hilman tadi ajarin aku caranya 'menghayati' setiap huruf," ucap Keyla dengan penekanan pada kata menghayati.
Tiba-tiba, Keyla beringsut mendekat ke arah sofa tempat Arkan dan Hilman duduk. Ia sengaja menjatuhkan pulpennya tepat di antara sela-sela kaki Hilman.
"Duh, pulpennya jatuh," gumam Keyla.
Sebelum Hilman sempat bereaksi, Keyla sudah merunduk di bawah meja kecil di depan mereka.
Kepalanya sangat dekat dengan lutut Hilman. Di balik meja itu, di posisi yang tidak terlihat oleh Arkan, Keyla sengaja menyentuhkan jemarinya ke punggung tangan Hilman yang diletakkan di atas pangkuan, sambil memberikan kerlingan mata nakal dari bawah meja.
Hilman mematung. Seluruh tubuhnya menegang. Ia merasa seperti sedang duduk di atas bara api.
"Key, lama banget sih ambil pulpen doang?" tanya Arkan sambil mengintip sedikit.
Keyla muncul kembali dengan wajah ceria, tangannya menggenggam pulpen, namun tangan satunya lagi sengaja "tak sengaja" menyenggol paha Hilman saat ia berusaha bangkit.
"Ini udah dapet, Bang!" Keyla lalu duduk kembali, namun kali ini ia menyilangkan kakinya sedemikian rupa hingga ujung kakinya yang tanpa alas itu kembali menyentuh kaki Hilman di bawah meja.
"Gus," panggil Keyla dengan suara manja yang dibuat-buat, "Ini bacanya apa ya? Aku kok lupa. Sini deh Gus, deketan bacanya biar jelas."
Keyla menyodorkan kitabnya, namun ia sengaja memegang kitab itu sedemikian rupa sehingga saat Hilman mendekat untuk membaca, bahu mereka akan bersentuhan lagi.
"Mbak... tolong," bisik Hilman dengan suara yang hampir habis. Ia melirik Arkan yang sedang asyik membalas pesan di HP. Hilman merasa terjebak dalam permainan berbahaya ini.
"Tolong apa, Gus? Tolong ajarin ya?" Keyla semakin berani. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hilman selama satu detik—sangat cepat, seolah-olah ia hanya sedang pegal—tepat saat Arkan menoleh ke arah mereka.
"Key! Jangan manja sama Gus Hilman, dia itu guru kamu, bukan bantal!" tegur Arkan, tapi sambil tertawa. Arkan menganggap itu hanya tingkah hyper adiknya yang memang tidak bisa diam.
Keyla menjulurkan lidahnya. "Habisnya Gus Hilman baunya enak sih, Bang. Kayak bau surga. Boleh nggak aku bawa pulang satu yang kayak gini?"
Hilman langsung berdiri mendadak, membuat kitab di pangkuannya hampir terjatuh. "Mas Arkan... saya rasa untuk hari ini cukup. Saya... saya ada urusan mendadak di pesantren."
"Lho, kok buru-buru, Gus? Ini kopinya belum habis!" Arkan ikut berdiri.
Keyla ikut berdiri dengan gerakan yang lincah, menghalangi jalan Hilman menuju pintu. Ia menatap Hilman dengan tatapan yang sangat dalam, penuh godaan yang tidak tertutup lagi. "Yah, Gus mau pulang? Padahal aku baru mau minta diajarin bab... kasih sayang dalam agama."