NovelToon NovelToon
Benih Titipan Sang Milyarder

Benih Titipan Sang Milyarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Slice of Life / Single Mom / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Komedi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?

Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.

Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.

Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Favorit

Kael sedang menatap HPnya dengan dahi berkerut, jadi Maggie kembali ke jendela.

Tak lama kemudian, karakter bangunan mulai berubah. Semuanya terlihat sangat tua. Rumah-rumah peninggalan Belanda. Lengkungan-lengkungan megah. Maggie tahu, begitulah rupa kota yang punya sejarah. Berbeda dengan di Jakarta.

Mereka tiba di sebuah bundaran tugu, dan Maggie menjerit saat limusin melesat di tengah hiruk-pikuk mobil yang lalu lalang. “Aku enggak mungkin bisa nyetir di sini!”

Kael menyimpan HPnya. “Perlu nyali besar buat hadapin bundaran di jantung Jogjakarta. Kita udah sampai di Malioboro yang terkenal itu. Di sini kebanyakan turis.”

Gedung-gedung vintage berdiri tanpa putus sepanjang blok demi blok. Maggie belum pernah melihat yang seperti ini. Dia menempelkan jari-jarinya ke kaca seperti anak kecil.

“Itu Musium Benteng,” kata Kael.

Maggie tidak melihat ke luar jendela, melainkan ke arahnya. Dia tidak bisa berhenti menatap.

Museum itu belum buka dan jalur pejalan kaki masih sepi. Mereka melewatinya, dan Maggie menatap ke depan pada deretan lengkungan dan bangunan klasik berikutnya.

“Kamu sering ke Jogjakarta?”

“Setiap beberapa bulan,” jawab Kael. Dia menyandar di jok, tangan terjalin di belakang kepala. Posisi itu mulai jadi sikap yang paling mudah dikenali darinya. Seperti biasa, dia mengenakan setelan jas, tapi kemeja putihnya terbuka di bagian leher.

Kael memang luar biasa tampan.

“Kita sudah mendekati Alun-alun Kidul,” kata Kael.

Jalan-jalannya dipenuhi angkringan. Perut Maggie pun keroncongan. “Aku selalu mimpi bisa duduk di angkringan, makan gudeg dan minum kopi di Jogjakarta.”

“Anggap aja itu udah terwujud.” Kael menurunkan sekat jendela antara kabin belakang dan sopir.

“Bisa berhenti di tempat terdekat?” tanya Kael. “Kami mau mampir ke Angkringan. Kita bisa jalan kaki.”

Maggie menoleh ke Biann. Bayi itu tidur. Biasanya memang begitu kalau di mobil. Dia merogoh tas popok dan mencari gendongan kain. Rasanya dia tidak ingin membawa kursi bayi untuk sesi jalan-jalan ini.

“Ini seru banget,” kata Maggie sambil membuka pengunci kursi Biann.

Biann bergerak sedikit, setengah sadar, tapi begitu diletakkan di gendongan di dadanya, dia tidur lagi. Untung saja dia sudah menyusu sebelum turun dari pesawat.

Limusin berbelok dan berhenti. Kael mengambil tas popok. “Perlu apa lagi?”

“Enggak.” Rasa antusiasnya makin naik saat mereka turun.

Udara di sini terasa berbeda. Berat, seperti mau hujan kapan saja.

Ajaib.

Mereka berjalan di trotoar, berhenti untuk melihat menu beberapa Angkringan.

“Aku jamin,” kata Kael. “Makanannya sempurna dan kopinya kuat banget.”

“Kedengarannya bagus.”

Meja-meja luar di batasi oleh pembatas rantai, Kael membuka gerbang kecil dan mempersilakan masuk. Mereka menemukan meja di sudut paling ujung, dekat jalan.

Maggie memeluk Biann ke arah perutnya sambil duduk di kursi kayu kecil. Meja angkringan itu nyaris hanya cukup untuk dua orang. Mobil-mobil melintas, memercikkan air dari jalanan yang basah.

Maggie tidak percaya sedang berada di sini.

Seorang pelayan muda dengan rok pendek dan sanggul yang ditata rapi mendekat.

“Selamat pagi,” katanya, lalu meluncur dengan rentetan bahasa Jogjakarta yang membuat Maggie bingung.

Kael membalas dengan logat yang lembut dan mengajukan beberapa pertanyaan panjang. Lalu Kael menoleh. “Kamu lapar?”

“Lapar sekali!” balas Maggie.

Kael mengangguk dan memesan. Dia memilih gudeg, sate klatak, bakpia keraton dan kopi hitam.

Saat pelayan pergi, Kael menyandar di kursi sambil menghela napas. “Aku juga suka tempat kayak gini.”

“Kamu pesan apa?”

“Gudeg sama sate, bakpia, kopi, dan jus kalau kamu mau.”

“Gudeg buat sarapan?”

“Gudeg di sini terbaik.”

Biann bergerak dan Maggie menunduk. Bayi itu membuka mata sebentar, lalu tidur lagi dengan wajah mengantuk.

Anak baik.

“Dia baik-baik aja?” kata Kael.

“Sejauh ini, sih iya.” Maggie menghela napas. “Aku enggak percaya ... kemarin jam segini aku masih sibuk masukin tumpukan baju ke mesin cuci.”

“Aku senang bisa wujudin ini,” kata Kael. “Pesta pernikahan itu penting, dan kamu sebentar lagi jadi bagian dari keluarga Adiputra. Kakakmu dan Davis udah menentukan tanggal?”

“Belum. Mereka lagi menyesuaikan diri dengan toko kedua, dan itu acara besar yang bakal menyita seluruh keluarga. Begitulah perusahaan kami. Kalau ada sesuatu terjadi pada salah satu dari kami, semuanya bakal ikut terlibat.”

“Aku bisa bayangin itu.”

“Mungkin beda sama kamu dan Joann? Kalian kan punya bisnis yang sama.”

“Kami bukan sekadar perusahaan. Akhir-akhir ini Joann malah kelihatan senang bekerja di sekolah, tempat impian Monica. Dia enggak lagi sering membeli dan menjual perusahaan seperti dulu.”

Pelayan mengantarkan kopi mereka. Maggie mengambil cangkirnya dan menghirup aroma sangrai Jogjakarta yang menggoda. Dia meniup permukaannya. Tegukan pertama terasa seperti orgasme.

“Jadi memang itu pekerjaanmu?” tanya Maggie. “Beli dan jual perusahaan?”

“Kebanyakan begitu. Dan sering kali kita berada dalam situasi yang sulit. Dua hari lalu aku menjalani rapat yang cukup pelik.”

Itu percakapan terpanjang tentang hidupnya sejak mereka saling mengenal. “Apa yang terjadi?”

“Pendiri perusahaannya enggak suka perusahaannya dibeli, meski itu satu-satunya pilihan yang tersisa bagi dewan.”

“Kamu merestrukturisasi lalu memecat semua orang?”

Kael mengangkat cangkirnya dan menghirup aromanya. Itu membuatnya tersenyum. Bahkan seorang miliarder pun punya kebahagiaan yang sederhana.

Setelah menyesap, Kael berkata, “Aku berusaha menghindari itu kalau bisa. Dinamikanya beda-beda tergantung negaranya. Aku selalu coba mempertahankan jiwa sebuah tempat. Tapi perusahaan memang harus berubah seiring waktu. Keengganan mereka untuk berputar arah sering kali justru yang menyeret mereka ke dalam masalah.”

“Oh, itu sama kayak kami saat membuka Sweety Spring,” kata Maggie. “Yang asli, berakar pada tradisi kakek-nenek, tapi versi kami harus lebih modern.”

“Persis,” kata Kael. “Dan kamu berhasil. Kamu mempertahankan nuansa lamanya, tapi juga menarik nuansa baru.”

Pelayan kembali dan menaruh begitu banyak piring di meja sampai terasa tidak mungkin muat. Namun entah bagaimana, dia menyusunnya dengan rapi.

Sebuah keranjang bakpia, piring berisi sate daging dan gudeg, serta aneka jajanan pasar di piring rotan.

“Ini kelihatan luar biasa.” Maggie mengambil bakpia. Gigitan pertama penuh lapisan mentega dan kacang hijau yang langsung meleleh saat dikunyah.

Rasanya Maggie ingin pingsan.

Makanannya.

Udara sehabis hujan.

Bayi yang tidur.

Dan Kael.

Ini pasti mimpi.

Kael mematahkan ujung bakpia dan memperhatikannya makan, menyadari mereka bahkan belum melewati tahap salad saat makan malam kemarin.

“Kamu cuma makan di restoran mewah atau suka Fast food?” Maggie tersenyum di balik Bakpianya. “Ini pertanyaan penting, kan?”

Senyum Kael pun menular. “Aku udah keliling dunia dan hampir yakin satu-satunya tempat yang aku benar-benar puas dengan makanannya, Napkin Burger.”

“Belum pernah dengar. Burger ... fast food?”

“Jelas. Cuma ada di New York.”

“Itu tempat kamu dibesarkan?”

“Iya.”

“Menurutmu kenapa fast food selalu terasa enak?”

Kael menggigit Bakpia lagi sambil berpikir. “Mungkin karena kamu udah kelaparan saat datang ke tempat seperti itu.”

“Jenius. Pasti itu. Orang ke fast food saat sudah sekarat dan butuh makan cepat. Jadi rasanya otomatis seperti di surga.”

Maggie mengisi piringnya dengan nasi, sate dan gudeg. Dia ingin mencoba semuanya.

Tapi ketika dia mengangkat potongan kecil daging lembut berbentuk kotak ke hidungnya, dia langsung menjauh. “Ya ampun. Apa ini?”

Kael condong ke depan dan dia menunjukkannya. “Kikil,” katanya. “Kikil Jogjakarta yang populer, tapi perlu dibiasain.”

Maggie tersenyum, lalu bergerak secepat kilat, melahap kikil itu dari jari-jarinya. Dia menarik tangan, terkejut. Jantungnya berdegup kencang.

Cara Kael mengambil daging sate dengan mulutnya adalah hal paling tidak elegan, tapi paling seksi yang pernah Maggie lihat.

Kael menyesap kopi sambil menatapnya dari balik cangkir. Alisnya terangkat. Maggie hampir tidak bisa menenangkan diri. Segalanya terasa berkilau.

Pikirannya liar.

Mulut.

Jari.

Dia tiba-tiba berkeringat.

Maggie baru mencium pria itu sekali dan sekarang mereka jalan bareng di Jogjakarta.

Ini akan berujung ke mana?

...𓂃✍︎...

...Bahkan jika itu pura-pura, terima kasih sudah membuatku merasa dicintai....

...────୨ৎ────...

1
Cindy
lanjut
Nar Sih
asyikk ahir nya recana kael berhasil meggie ikut 👍
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
😭🤣
Karunia Disha
ehh,, aq ikut ngos"an🤣
Karunia Disha
maggie yg mau melahirkan tp aq yg deg"an😆
DityaR 🌾: 🤭🤭🤭🤭 wkwkwk
total 1 replies
Rainn Ziella
Cieeee
Rainn Ziella
Wkwkwk totalitas bngt 😭
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Rainn Ziella
Bahlil aja 😭🗿
Rainn Ziella
Langka ni orang
Rainn Ziella
Dikata bom apa 🗿
Rainn Ziella
Banyak nanya ihh kesel ya meg 😭🤣
Adellia❤
om ganteng udah nandain seseorang🥰🥰
Afrilho
Mampir👍
Rainn Ziella
Ga expect bgt meg 😭🤣
Azarah Jaimani Azarah
untung gk lahiran di mobil kayak aku .
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .
Rainn Ziella: Serius kak? Terus lahirannya sama siapa kak pas di mobil itu
total 1 replies
Adellia❤
untung enggak pake boxer rainbow🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!