NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Angin laut dini hari menusuk tulang, membawa aroma garam yang bercampur dengan bau menyengat solar dan karat besi. Di sektor timur Pelabuhan Tanjung Priok, sirene darurat meraung-raung membelah kesunyian, menciptakan kekacauan instan sesuai pesanan. Lampu sorot menyapu area kargo secara acak, sementara para penjaga berlarian panik menuju titik gangguan palsu yang diciptakan Raka.

Di sisi barat yang gelap, dua bayangan bergerak cepat menyusuri celah sempit di antara tumpukan kontainer raksasa. Keyra memimpin di depan, langkahnya ringan dan waspada. Di belakangnya, Raka menyeret kaki kirinya yang cedera, namun wajahnya terpasang topeng konsentrasi penuh. Keringat dingin membasahi pelipis pemuda itu, tapi dia menolak untuk melambat.

"Lima puluh meter lagi ke titik pertemuan Julian," bisik Raka sambil melirik jam tangannya. Napasnya terdengar berat. "CCTV di lorong C-4 sudah mati. Kita punya jendela waktu tiga menit sebelum sistem me-reboot diri."

Keyra mengangguk tanpa menoleh. Dia berhenti sejenak di sudut kontainer berwarna merah kusam, mengintip ke area terbuka di dekat dermaga kecil. Di sana, di bawah sorotan lampu jalan yang remang-remang, sebuah sedan hitam terparkir dengan mesin menyala. Dan di samping mobil itu, berdiri sosok yang mereka cari.

Julian.

Namun, ada yang salah. Sangat salah.

Keyra menyipitkan mata, mencoba menajamkan penglihatannya di tengah keremangan. Julian tidak berdiri dengan postur tegap dan angkuh seperti biasanya. Pria itu mondar-mandir dalam pola yang aneh—tiga langkah ke kiri, berhenti tiba-tiba, lalu berputar balik dengan gerakan patah-patah, seolah-olah ada tali tak kasat mata yang menariknya paksa.

"Dia kelihatan... kacau," gumam Keyra.

"Mungkin dia sadar rencananya berantakan," sahut Raka, mengatur napasnya di balik punggung Keyra.

Mereka mengamati Julian lebih dekat. Pria itu mengenakan setelan jas mahalnya, tapi dasinya longgar dan kemejanya berantakan. Dia berbicara sendiri. Tangannya bergerak liar di udara, seolah sedang menghapus tulisan di papan tulis imajiner.

"Tidak, tidak, tidak. Jam 04.15 seharusnya truk datang. Kenapa alarm bunyi di timur?" Julian bergumam cukup keras hingga suaranya terbawa angin. "Ini tidak ada di draf. Siapa yang menulis ulang? Siapa yang mengedit?!"

Keyra merasakan bulu kuduknya meremang. Itu bukan nada suara orang yang sekadar bingung karena rencana gagal. Itu suara orang yang realitasnya sedang retak.

"Kita masuk sekarang," putus Keyra. "Mumpung dia lengah."

Mereka keluar dari persembunyian. Keyra memegang sebuah taser—alat kejut listrik—yang sempat mereka ambil dari pos penjaga yang kosong tadi. Raka bersiaga dengan sisa tenaganya, siap mem-backup.

"Julian!" seru Keyra lantang.

Julian berhenti mendadak. Tubuhnya menegang, lalu dia memutar kepalanya ke arah mereka. Gerakan itu terlalu cepat, tidak manusiawi, seperti video yang dipercepat paksa. Matanya terbelalak lebar, urat-urat merah terlihat jelas di bagian putih matanya.

"Keyra?" Julian memiringkan kepala ke kanan, lalu menyentak ke kiri. "Kau... kau belum seharusnya ada di sini. Bab 29... adegan pelabuhan... kau harusnya datang setelah matahari terbit! Salah! Waktunya salah!"

Dia memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangan, keras sekali. "Bug! Ini bug!"

"Hentikan omong kosong ini, Julian!" Raka maju selangkah, suaranya tajam. "Permainan waktumu selesai. Polisi sedang menuju ke sini."

Julian tertawa. Tawa yang sumbang dan kering, mirip suara gesekan logam. "Polisi? Tidak ada polisi di naskah asli. Kalian merusak alurnya! Kalian merusak kodenya!"

Tanpa peringatan, Julian menerjang. Kecepatannya di luar nalar. Dia tidak berlari seperti atlet, tapi meluncur dengan agresivitas binatang buas yang terdesak. Targetnya bukan Raka, tapi Keyra.

"Key, awas!" teriak Raka.

Keyra melompat ke samping, menghindari terkamannya. Julian menabrak dinding kontainer di belakang Keyra dengan suara dentuman keras. Besi kontainer itu penyok. Keyra ternganga. Kekuatan macam apa itu?

Julian tidak merasakan sakit. Dia langsung berbalik, wajahnya menyeringai mengerikan. "Jika variabel berubah, maka hasil harus dipaksa!" raungnya.

Dia menyerang lagi. Kali ini Raka tidak tinggal diam. Dia melemparkan sisa tenaga ke bahu Julian, mencoba menahannya. Namun, Julian mengibaskan tangan seolah menepis lalat, membuat Raka terlempar jatuh ke aspal yang keras. Raka mengerang, memegangi kakinya yang cedera.

Keyra menyalakan taser di tangannya, suara listrik berderak mengancam. "Mundur, Julian!"

Julian menatap alat itu, lalu menatap wajah Keyra. Tiba-tiba, wajahnya berkedut hebat. Mata kirinya berkedip tak terkendali, sementara mulutnya terus komat-kamit mengulang satu kata. "Hapus. Hapus. Hapus. Ha-pus."

Dia seperti program komputer yang mengalami *glitch* parah. Gerakannya menjadi *lagging*. Dia mengangkat tangan untuk memukul Keyra, tapi tangannya berhenti di udara, bergetar hebat, lalu jatuh, lalu terangkat lagi tanpa dia kehendaki.

"Sakit..." Julian mendesis, mencengkeram dadanya. "Garis waktunya... menolakku."

Keyra melihat kesempatan itu. Dia tidak ragu. Dia maju dan menghantamkan taser itu ke leher Julian.

*ZRAAAKK!*

Tubuh Julian kejang hebat. Namun, alih-alih pingsan, dia justru berteriak—bukan teriakan kesakitan, melainkan teriakan frustrasi murni. Dia menepis tangan Keyra dengan kekuatan yang membuat taser itu terlempar jauh ke laut.

Julian mundur terhuyung-huyung. Dia menatap tangannya sendiri yang gemetar. Kulitnya tampak memucat drastis, seolah darah di tubuhnya berhenti mengalir. Dia menatap Keyra dengan tatapan yang beralih-alih antara kebencian mendalam dan ketakutan absolut.

"Kau... kau mengubah naratornya," bisik Julian dengan suara serak. "Sistem tidak mengenali pola ini. Aku... aku sedang dihapus."

"Gue nggak ngerti lo ngomong apa," napas Keyra memburu, dia mundur mendekati Raka yang berusaha bangkit. "Tapi ini hidup gue. Gue penulisnya sekarang."

Julian meraung lagi, kali ini sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia berlutut di aspal, tubuhnya mengejang seolah sedang bertarung dengan sesuatu di dalam dirinya sendiri. Hidungnya mulai mimisan, darah segar menetes ke kemeja putihnya yang berantakan.

"ERROR! SISTEM ERROR!" teriak Julian histeris.

Suara sirene polisi yang sebenarnya—bukan yang diretas Raka—terdengar mendekat dari kejauhan. Lampu biru-merah mulai memantul di dinding-dinding kontainer.

Julian mendongak. Kesadaran taktisnya sepertinya kembali sejenak di tengah kegilaan itu. Dia menatap Raka dan Keyra dengan tatapan kosong yang mengerikan.

"Ini belum selesai," desisnya, suaranya berubah menjadi robotik dan dingin, kehilangan emosi histeris yang tadi meledak-ledak. "Rebooting sequence... initiated."

Dengan gerakan patah-patah namun cepat, Julian berlari menuju tepi dermaga. Bukan ke mobilnya, tapi langsung terjun ke air laut yang gelap di bawah sana.

*BYUR!*

Keyra dan Raka bergegas ke pinggir dermaga. Air hitam beriak ganas, tapi tubuh Julian tidak muncul kembali. Dia lenyap ditelan kegelapan laut pelabuhan.

"Dia... bunuh diri?" tanya Keyra, syok.

"Enggak," Raka menggeleng perlahan, wajahnya pucat pasi saat dia bertumpu pada pagar pembatas. "Dia melarikan diri. Tapi gue belum pernah lihat orang bergerak kayak tadi. Itu bukan adrenalin, Key. Itu... anomali."

Keyra menatap riak air yang perlahan tenang. Dia teringat bagaimana Julian bergerak, bagaimana dia berbicara tentang "edit" dan "bug". Julian bukan sekadar musuh yang jenius. Dia adalah sesuatu yang rusak karena Keyra berani membelokkan takdir.

"Dia bilang sistem menolaknya," kata Keyra pelan. "Karena kita mengubah naskah kosong itu."

Raka menatap Keyra serius. "Artinya dia semakin berbahaya. Julian yang terencana bisa kita prediksi. Tapi Julian yang 'error'? Dia bom waktu yang pemicunya rusak."

Cahaya fajar mulai benar-benar merekah di ufuk timur, menyinari pelabuhan dengan warna oranye yang kontras dengan kejadian kelam barusan. Keyra membantu Raka berdiri tegak.

"Setidaknya kita tahu satu hal," ujar Keyra, matanya menatap tajam ke arah laut tempat Julian menghilang. "Tindakan kita berdampak. Semesta bereaksi. Kita benar-benar bisa menang."

Mereka berbalik meninggalkan dermaga tepat saat mobil patroli polisi pertama berbelok masuk ke area kargo. Pertempuran fisik malam ini selesai, tapi perang melawan anomali waktu baru saja dimulai.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!