Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 4
Aroma menyengat amonia dan etanol langsung menyergap indra penciuman begitu pintu Laboratorium Kimia dibuka. Bagi sebagian besar siswa SMA Persada, ini adalah aroma neraka akademik. Tapi bagi Keyra, hari ini, bau bahan kimia itu terasa seperti aroma mesiu sebelum perang.
Keyra duduk di barisan meja tengah, mengenakan jas lab putih yang sedikit kebesaran. Matanya tidak tertuju pada papan tulis di mana Bu Ratna sedang menjelaskan reaksi eksoterm dengan semangat berapi-api, melainkan terkunci pada satu sosok di meja paling depan: Raka Mahendra.
Sejak insiden di lapangan kemarin, radar kecurigaan Keyra terhadap cowok itu menyala merah tanpa henti. Ucapan Raka tentang "garis waktu yang licik" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Hari ini, Keyra bertekad tidak akan membiarkan satu gerakan kecil pun dari Raka lolos dari pengamatannya.
Raka, tentu saja, sedang dalam mode 'badut kelas'. Dia satu kelompok dengan Julian—kombinasi yang menurut Keyra adalah resep bencana nasional. Julian sedang sibuk memainkan pipet tetes seperti stik drum, sementara Raka berpura-pura menjadi ilmuwan gila dengan kacamata pelindung yang dipasang miring.
"Perhatikan semuanya!" suara Bu Ratna menggelegar, memukul meja guru dengan penggaris kayu. "Percobaan kali ini melibatkan pencampuran Larutan A dan Larutan B. Ingat takarannya. Kalau kalian salah mencampur atau berlebihan, reaksinya bisa sangat... meletup. Jangan sampai alis kalian hilang hari ini."
Kelas tertawa tegang. Keyra menyipitkan mata. Ingatannya tentang hari ini di masa lalu agak kabur, tapi dia merasakan déjà vu yang tidak enak. Ada firasat buruk yang merayap di tengkuknya. Sesuatu yang buruk pernah terjadi di lab ini. Sesuatu yang melibatkan api dan jeritan.
"Oke, silakan mulai!" perintah Bu Ratna.
Suasana kelas berubah menjadi hiruk-pikuk denting gelas ukur dan obrolan panik. Keyra mengerjakan bagiannya dengan mekanis, mencampur larutan dengan presisi tanpa melihat, karena seluruh atensinya tercurah ke meja depan.
Di sana, Julian memegang botol kaca berisi cairan bening—Larutan B yang berkonsentrasi tinggi. Julian tertawa-tawa sambil mengobrol dengan siswa di meja sebelahnya, tangannya yang memegang botol terayun-ayun berbahaya. Dia tidak sadar bahwa dia baru saja mengambil botol yang salah dari rak penyimpanan bahan. Itu bukan Larutan B standar. Labelnya berwarna merah pudar: *Oksidator Kuat*.
Keyra tersentak. Jika Julian menuangkan itu ke dalam campuran magnesium yang sudah disiapkan di gelas beker, lab ini tidak hanya akan berasap, tapi akan meledak.
"Julian!" Keyra hendak berteriak memperingatkan, tapi suaranya tertahan di tenggorokan saat melihat pergerakan Raka.
Raka yang tadinya sibuk mengelap meja dengan tisu, tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Dia tidak berteriak panik atau merebut botol itu secara kasar—tindakan yang pasti akan menarik perhatian Bu Ratna dan satu kelas.
Sebaliknya, Raka melakukan manuver yang sangat halus.
"Woy, Jul! Ada laba-laba di rambut lo!" seru Raka tiba-tiba, suaranya cukup keras untuk membuat Julian kaget tapi cukup santai untuk terdengar seperti candaan.
Julian reflek menepuk kepalanya dan meletakkan botol berbahaya itu di meja dengan keras. "Hah? Mana?!"
Di detik itulah aksi itu terjadi. Sebuah *sleight of hand* alias kecepatan tangan yang biasa dimiliki pesulap profesional.
Saat Julian sibuk mengacak-acak rambutnya dan seluruh siswa di sekitar mereka menoleh mencari laba-laba imajiner, tangan kanan Raka menyambar botol berlabel merah itu, menyembunyikannya ke dalam saku jas labnya yang lebar, dan di saat yang bersamaan, tangan kirinya meletakkan botol lain yang identik di tempat semula.
Gerakan itu berlangsung kurang dari satu detik. Begitu cepat, begitu presisi, seolah Raka sudah melatihnya ribuan kali.
Jantung Keyra berhenti berdetak sesaat. Dia melihatnya. Dia melihat kilatan kaca yang berpindah tangan itu.
"Sialan lo, Ka! Nggak ada apa-apa!" umpat Julian kesal setelah menyadari rambutnya bersih.
"Haha, *my bad*. Bayangan doang kali," Raka menyeringai tanpa dosa, lalu menunjuk botol di meja—botol yang baru saja dia tukar. "Buruan tuang, keburu Bu Ratna ngomel."
Julian, tanpa curiga sedikitpun, mengambil botol pengganti itu. Keyra menahan napas, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-bukunya memutih. Jika penglihatannya salah, jika Raka gagal menukar isinya, ledakan akan terjadi dalam hitungan tiga detik.
Satu.
Julian memiringkan botol.
Dua.
Cairan bening mengalir masuk ke gelas beker.
Tiga.
Keyra memejamkan mata sekejap, bersiap mendengar ledakan.
*Psssshhh.*
Hanya ada suara desisan pelan dan sedikit asap putih tipis yang keluar dari gelas beker. Reaksi kimia standar yang aman. Tidak ada api. Tidak ada ledakan. Tidak ada pecahan kaca yang terbang.
Julian tampak kecewa. "Yah, kok cuma gitu? Kirain bakal kayak kembang api."
Bu Ratna yang lewat di dekat mereka mengangguk puas. "Bagus, reaksinya sempurna. Artinya takaran kalian tepat. Kelompok Julian tumben tidak membuat masalah."
Raka tertawa, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat palsu di telinga Keyra sekarang. "Kita kan murid teladan, Bu. Julian aja yang mukanya kriminal."
Di tengah tawa seisi kelas, Raka menoleh ke belakang. Tatapannya langsung bertabrakan dengan Keyra. Selama sepersekian detik, topeng jenaka itu runtuh. Raka memberikan kedipan mata singkat—bukan kedipan genit, tapi kedipan pengakuan. *Gue tahu lo lihat.*
Keyra merasakan darahnya mendidih. Dia tidak bisa membiarkan ini lewat begitu saja.
***
Begitu bel istirahat berbunyi, Raka adalah orang pertama yang melesat keluar dari pintu lab. Dia berjalan cepat menyusuri koridor yang mulai dipadati siswa, tujuannya jelas: toilet di ujung lorong untuk membuang barang bukti.
Namun, langkahnya terhenti di dekat gudang peralatan olahraga yang sepi. Sebuah tangan menarik lengan jas lab-nya dengan kuat, menyeretnya masuk ke celah antara tembok dan lemari piala.
"Woah, santai, Nona Detektif!" Raka mengangkat kedua tangannya, meski punggungnya kini terhimpit tembok. "Gue tahu gue ganteng, tapi main tarik-tarik gini bikin gue merasa dilecehkan lho."
Keyra tidak meladeni candaannya. Napas gadis itu memburu, matanya menatap tajam setajam silet. "Keluarin."
"Keluarin apa? Hati gue? Udah gue kasih ke..."
"Jangan bercanda, Raka!" sentak Keyra, suaranya meninggi. "Keluarin botol yang lo umpetin di saku kanan jas lo. Sekarang."
Senyum Raka perlahan memudar. Dia menatap Keyra, lalu menghela napas panjang seolah sedang menghadapi anak kecil yang rewel. Perlahan, dia merogoh saku jas lab-nya dan mengeluarkan botol kaca kecil dengan label merah pudar: *Asam Perklorat*—bukan sekadar oksidator biasa, ini bahan yang sangat tidak stabil jika terkontaminasi organik.
Keyra merebut botol itu, membacanya, dan menatap Raka dengan horor. "Ini... Julian ngambil ini dari mana?"
"Rak paling atas, pojok kiri. Kunci lemarinya rusak, Bu Ratna lupa benerin sejak minggu lalu," jawab Raka datar, nada suaranya berubah menjadi analitis dan dingin. "Julian buta warna parsial, Key. Dia nggak bisa bedain label peringatan merah sama label hijau aman kalau pencahayaannya remang. Dia pikir ini Larutan B."
Keyra terdiam, mencerna informasi itu. "Dan lo tahu itu. Lo tahu Julian bakal salah ambil. Lo tahu kuncinya rusak. Lo bahkan nyiapin botol pengganti yang aman di saku kiri lo sebelum praktikum mulai."
Keyra melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. "Gimana caranya, Raka? Gimana lo bisa tahu detail sekecil itu? Julian buta warna, kunci rusak... itu bukan hal yang bisa lo tahu cuma dengan 'nebak'."
Raka memalingkan wajah, menatap deretan piala berdebu di lemari kaca di samping mereka. "Gue observant, Key. Gue perhatiin lingkungan. Nggak semua orang jalan sambil nunduk liat HP kayak zombie."
"Bohong," potong Keyra cepat. "Gue liat mata lo tadi. Lo nggak kaget pas Julian ambil botol itu. Lo udah *nunggu*. Lo udah siap."
Keyra menunjuk dada Raka dengan telunjuknya. "Lo nyelamatin Julian. Lo nyelamatin satu kelas dari ledakan. Harusnya lo dapet penghargaan, tapi lo malah sembunyiin ini seolah lo baru aja nyolong permen."
Raka tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa. Dia menepis pelan tangan Keyra. "Pahlawan itu capek, Key. Lagian, kalau gue bilang 'Woy jangan itu bahaya!', Julian bakal panik, botolnya jatuh, pecah, dan *boom*. Lantai lab itu dari kayu tua yang dilapisi vernis mudah terbakar. Reaksinya bakal nyebar cepet."
Raka menatap lurus ke mata Keyra. "Cara paling aman buat nyelesein masalah adalah dengan bikin masalah itu nggak pernah kelihatan ada. *Silent outcome*."
"Kenapa lo lakuin ini?" desak Keyra. "Kenapa lo harus pura-pura jadi orang bodoh padahal lo... lo selangkah di depan semua orang?"
"Karena kalau gue pinter, gue bakal jadi sorotan," jawab Raka pelan. "Dan sorotan itu berbahaya buat orang kayak gue."
"Orang kayak lo? Maksudnya apa?"
Raka sadar dia sudah bicara terlalu banyak. Dia segera menegakkan tubuh, mengembalikan persona tengilnya. Dia menyambar botol berbahaya itu kembali dari tangan Keyra dengan gerakan cepat.
"Udah ah, interogasinya. Gue laper. Bakso Pak Min keburu abis," Raka berbalik hendak pergi, tapi kemudian berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh ya, Key. Botol ini bakal gue balikin diem-diem ke lemari B3. Jangan laporin gue ke Bu Ratna, oke? Nanti gue dituduh nyuri aset negara."
"Gue belum selesai sama lo, Raka Mahendra!" seru Keyra.
"Garis waktu nggak suka sama orang yang terlalu ingin tahu, Keyra Anthea," balas Raka sambil melambaikan tangan, lalu menghilang di balik tikungan koridor.
Keyra bersandar lemas ke tembok. Kakinya terasa gemetar. Kejadian di lab tadi bukan kebetulan. Kecepatan tangan Raka, persiapannya membawa botol palsu, pengetahuannya tentang buta warna Julian dan kunci lemari yang rusak—semua itu menunjukkan perencanaan matang.
Raka bukan sekadar remaja yang bisa melihat masa depan atau kembali ke masa lalu. Dia bertindak seperti *penjaga*. Dia memperbaiki kesalahan fatal sebelum kesalahan itu terjadi, dan dia melakukannya tanpa ingin mendapat kredit sedikitpun.
"Siapa lo sebenernya?" bisik Keyra pada udara kosong. "Dan kenapa lo kelihatan kesepian banget waktu bilang 'pahlawan itu capek'?"
Keyra mengepalkan tangannya. Tekadnya semakin bulat. Dia tidak akan membiarkan Raka bermain sendirian dalam bayang-bayang lagi. Jika Raka ingin mengubah takdir diam-diam, maka Keyra akan menjadi saksi yang bising.