Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 – Peluru di Tengah Ambisi
Musim gugur di Manhattan berubah dingin lebih cepat dari biasanya.
Program percepatan bedah yang diterima Valeria membuatnya semakin sering berada di laboratorium dan ruang simulasi klinis milik yayasan. Ia kini tak hanya mahasiswa—ia sudah dianggap bagian dari tim medis junior di St. Helena Medical Center.
Hari itu adalah sesi praktik prosedur bedah trauma menggunakan fasilitas simulasi canggih yang terhubung langsung dengan ruang unit darurat rumah sakit. Peserta hanya tiga orang mahasiswa terpilih.
Valeria.
Daniel.
Dan… Camille.
Pengumuman itu sendiri sudah menjadi percikan api.
Daniel, sahabat Valeria yang selama ini setia mendukungnya, tampak tegang sejak pagi. Ia menyadari atmosfer di antara Valeria dan Camille makin berbahaya.
“Kalau dia mulai macam-macam, abaikan saja,” bisik Daniel saat mereka mengenakan jas bedah.
Valeria mengangguk pelan. “Aku ke sini untuk belajar, bukan bertarung.”
Camille masuk terakhir. Senyumnya tipis, terlalu tenang.
“Semoga hari ini kita semua profesional,” katanya ringan.
Kalimat yang terdengar biasa, tapi nadanya seperti sindiran.
Sesi dimulai pukul sepuluh pagi.
Instruktur menjelaskan skenario: simulasi pasien korban tembakan dengan perdarahan masif di ruang darurat. Mereka harus melakukan tindakan cepat sesuai protokol trauma.
Ironis.
Tidak ada yang menyangka kata “tembakan” hari itu akan menjadi kenyataan.
Di luar gedung laboratorium, suasana kampus sedikit gaduh. Terdengar suara protes mahasiswa dari fakultas lain yang sedang melakukan demonstrasi kecil soal kebijakan biaya tambahan laboratorium.
Valeria sempat menoleh ke arah jendela.
“Fokus,” ujar instruktur.
Simulasi dimulai.
Daniel bertugas memonitor tanda vital. Camille menyiapkan instrumen. Valeria memimpin tindakan.
Tangannya stabil.
Instruksinya jelas.
“Tekanan turun. Siapkan transfusi. Clamp di sini—cepat.”
Instruktur mengangguk puas.
Namun di luar ruangan, suara gaduh makin keras.
Tiba-tiba—
Brak!
Sebuah suara ledakan keras terdengar dari lorong luar.
Semua terdiam.
“Apa itu?” bisik Daniel.
Belum sempat siapa pun menjawab—
Suara teriakan menggema.
Dan kemudian…
Tembakan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jeritan memenuhi udara.
Instruktur langsung berteriak, “Semua tiarap!”
Kaca jendela laboratorium pecah akibat proyektil nyasar. Alarm darurat berbunyi memekakkan telinga.
Kampus berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik.
Belakangan diketahui, salah satu demonstran membawa senjata api secara ilegal. Entah karena panik atau dorongan emosi, ia menembakkan peluru ke udara—dan kemudian kehilangan kendali.
Lorong medis yang terhubung ke rumah sakit membuat situasi makin rumit. Pasien, mahasiswa, staf—semuanya berlarian.
Valeria merunduk, jantungnya berdegup liar.
“Daniel, Camille, tetap di bawah!” teriaknya.
Suara langkah kaki berlari semakin dekat ke ruang mereka.
Pintu laboratorium didobrak keras.
Seorang pria dengan wajah panik dan pistol di tangan masuk tanpa arah.
Matanya liar.
Ia bukan mahasiswa kedokteran.
Ia tersesat… dan ketakutan.
“Jangan mendekat!” teriaknya.
Camille menjerit.
Daniel mencoba menariknya menjauh.
Valeria perlahan mengangkat tangan, mencoba menenangkan situasi. “Tenang. Tidak ada yang akan menyakitimu.”
Pria itu gemetar. “Mereka mengejarku!”
“Letakkan senjatanya,” kata Valeria pelan. “Kita bisa bicara.”
Namun suara sirene polisi yang semakin dekat membuat pria itu panik.
Tangan yang gemetar itu menarik pelatuk.
Dor!
Semua terjadi terlalu cepat.
Valeria merasakan benturan keras di perutnya.
Seperti dihantam batu panas.
Tubuhnya terdorong ke belakang.
Ia jatuh.
Suara di sekitarnya seperti tenggelam dalam air.
Daniel berteriak, “VALERIA!”
Camille membeku.
Darah mulai mengalir di lantai putih laboratorium.
Merah.
Kontras.
Indah sekaligus mengerikan.
Valeria menatap langit-langit ruangan. Pandangannya kabur.
Hangat.
Basah.
Sakit.
Tapi bukan hanya fisik—hatinya seperti teriris karena satu pikiran:
Belum… aku belum selesai…
Daniel menekan luka di perutnya dengan tangan gemetar. “Tahan! Tahan, Valeria!”
Camille akhirnya bergerak. Tangannya ikut membantu menekan perdarahan, wajahnya pucat pasi.
“Aku tidak—aku tidak sengaja—” gumamnya panik, meski jelas ia bukan pelakunya.
Tim keamanan akhirnya masuk dan melumpuhkan pria bersenjata itu.
Namun fokus semua orang kini hanya satu—
Valeria.
“Bawa ke ruang operasi sekarang!” teriak instruktur.
Lorong rumah sakit berubah kacau.
Mahasiswa berkerumun.
Dosen panik.
Berita menyebar seperti api liar.
“Valeria tertembak!”
“Mahasiswa bedah itu!”
“Yang dapat program yayasan!”
Nama itu bergema di seluruh kampus dan rumah sakit.
Di ruang ICU, alarm monitor berdetak cepat.
Dokter senior berlari menuju ruang operasi.
Di kantor yayasan, berita itu sampai dalam hitungan menit kepada Eduardo Alejandro Castillo.
Wajahnya membeku.
“Siapkan ruang operasi terbaik. Sekarang.”
Sementara itu, di hanggar pribadi keluarga Alejandro Castillo, Alexander baru saja selesai pemeriksaan lanjutan pasca kecelakaannya.
Teleponnya berdering.
Ia mendengar satu kalimat—
“Valeria tertembak.”
Dunia terasa berhenti.
Di ruang operasi, para dokter bekerja cepat.
Peluru bersarang di rongga abdomen. Pendarahan hebat.
“Tekanan darah turun!”
“Siapkan transfusi!”
Darah memenuhi kain steril.
Ironis.
Gadis yang bercita-cita menjadi ahli bedah trauma kini menjadi pasien trauma paling kritis hari itu.
Di luar ruang operasi, Daniel terduduk lemas dengan tangan berlumur darah.
Camille berdiri beberapa langkah darinya.
Wajahnya pucat, gemetar.
Tatapannya kosong.
Ia tidak pernah membayangkan konflik kecil di kampus akan berujung pada tragedi nyata.
“Ini bukan salahmu,” gumam Daniel tanpa menoleh.
Camille tak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Valeria, rasa iri itu terasa kecil… sangat kecil… dibanding rasa takut kehilangan.
Alexander tiba di rumah sakit dengan langkah tergesa.
Bekas lukanya sendiri belum sepenuhnya sembuh.
Ia hampir menerobos ruang operasi.
“Apa kondisinya?” tanyanya pada ayahnya.
Eduardo Alejandro Castillo berdiri tegak, tapi wajahnya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat.
“Kritis.”
Satu kata itu cukup menghancurkan.
Alexander memukul dinding dengan frustrasi. “Seharusnya aku yang ada di sana!”
Eduardo menatapnya dalam. “Takdir memilih caranya sendiri.”
Lampu operasi menyala merah.
Waktu kembali terasa kejam.
Di dalam, monitor jantung Valeria melemah.
Bip…
Bip…
Bip…
Lalu—
Garisnya hampir lurus.
“Jangan berhenti sekarang,” bisik salah satu dokter.
Defibrillator disiapkan.
“Clear!”
Tubuh Valeria terangkat.
Bip—
Masih lemah.
“Sekali lagi!”
“Clear!”
Tubuhnya bergetar.
Semua menahan napas.
Dan akhirnya—
Bip…
Bip…
Detak kembali muncul.
Lemah.
Tapi hidup.
Operasi berlanjut selama berjam-jam.
Di luar, seluruh kampus menunggu dalam ketegangan.
Gadis yang menjadi kebanggaan sekaligus pusat kontroversi kini terbaring di antara hidup dan mati.
Dan malam itu, bukan hanya ambisi yang tertembak.
Bukan hanya konflik yang runtuh.
Tetapi hati banyak orang—
Termasuk seseorang yang baru menyadari bahwa tanpa Valeria, dunia terasa kosong.
Lampu operasi akhirnya padam.
Dokter keluar dengan wajah serius.
“Operasi berhasil. Tapi kondisinya masih sangat kritis. 48 jam ke depan menentukan.”
Alexander menutup mata.
Eduardo mengangguk pelan.
Di balik pintu ICU, Valeria terbaring diam.
Mesin membantu napasnya.
Tubuhnya penuh selang.
Gadis yang selalu berdiri tegar kini tak berdaya.
Dan tanpa ia sadari—
Peluru itu bukan hanya mengancam hidupnya.
Ia juga akan membuka pintu rahasia masa lalu yang selama ini terkubur.
Karena seseorang di luar sana…
Mendengar kabar bahwa Valeria Hernández hampir mati.
Dan orang itu—
Bukan orang biasa.