Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Sesuai perintah Aditya...., Nadine langsung menuju ke arah dapur dengan cepat , ia membuat teh jahe yang diinginkan oleh Aditya seperti semalam...., Nadine menuangkan 3 tetes ramuan lalu mengaduknya agar tidak terlihat....
diam-diam Aurel mengikuti Nadine... tangannya membekap mulutnya sendiri melihat Apa yang dilakukan Nadine... kebetulan, Aurel bersembunyi di balik pilar, sehingga..., tidak terlihat oleh kamera CCTV yang selalu Noah pantau.
Nadine berjalan menyusuri lorong lantai atas dengan nampan di tangannya. Di atasnya, sebuah cangkir porselen berisi teh jahe hangat yang telah dicampur dengan ramuan rahasia dari Ning Laila mengepulkan aroma yang menenangkan. Setiap langkahnya terasa berat, ia tahu bahwa memasuki ruang pribadi Aditya adalah seperti memasuki wilayah terdalam dari ingatan suaminya yang terkunci.
Tok... tok...
"Assalamualaikum....?".
"Masuk," suara Aditya terdengar parau, tidak sedingin biasanya.
Nadine mendorong pintu kamar yang luas itu. Cahaya lampu di dalam ruangan sengaja diredupkan, hanya ada cahaya remang dari lampu meja kerja. Aditya sedang duduk di tepi tempat tidur besar, menyandarkan kepalanya pada telapak tangan. Ia tampak sangat rapuh.
"Ini teh jahenya, Tuan Muda," bisik Nadine sambil mendekat.
Saat Nadine selesai meletakkan cangkir itu di meja nakas di samping Aditya, tiba-tiba sebuah tangan yang kuat namun gemetar meraih pergelangan tangannya. Nadine tersentak, Tanpa peringatan, Aditya menarik tubuh Nadine. Sebelum Nadine sempat bereaksi, ia sudah berada di dalam pelukan hangat suaminya. Aditya menyembunyikan wajahnya di bahu Nadine, melingkarkan lengannya erat-erat, seolah-olah ia sedang tenggelam dan Nadine adalah satu-satunya pelampung yang tersisa.
Nadine membeku. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sakit. Aroma tubuh Aditya, campuran parfum mahal masuk ke indra penciumannya. Ini adalah pelukan yang ia rindukan selama empat tahun. Pelukan yang dulu selalu ia dapatkan setiap kali Aditya pulang dari bengkel.
"Hanya sebentar..." bisik Aditya, suaranya bergetar hebat. "Jangan bicara. Jangan bergerak. Aku hanya ingin merasakan... ketenangan ini."
Nadine memejamkan matanya di balik kacamata tebal. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi seragam pelayannya. Ia ingin sekali membalas pelukan itu, ingin sekali membisikkan, "Ini aku, Mas. Istrimu. Aku ada di sisimu." Namun, ia tahu ia harus tetap menjadi Mona.
Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, hanya suara detak jantung mereka yang beradu. Aditya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nadine yang samar-samar berbau melati dan jahe. Aroma itu seolah-olah sedang memutar kunci di dalam otaknya yang beku.
Tiba-tiba, Aditya tersentak. Ia seolah tersadar dari hipnotis. Ia melepaskan pelukannya dengan kasar, mendorong bahu Nadine sedikit menjauh hingga Nadine hampir kehilangan keseimbangan.
Aditya menatap tangannya sendiri dengan ekspresi ngeri dan bingung. Matanya menatap Nadine, yang tampak lusuh dan kusam dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Maaf... Aku... Aku tidak tahu apa yang merasukiku," ucap Aditya dengan suara yang kembali mendingin, meski napasnya masih memburu. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap Nadine. "Keluar. Keluar sekarang juga!"
Nadine segera menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. "Baik, Tuan Muda. Maafkan kelancangan saya."
Nadine berjalan keluar dengan langkah terburu-buru. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong, memegang dadanya yang sesak. Ia tahu, pelukan tadi bukanlah untuk Mona, melainkan sebuah reaksi bawah sadar Aditya yang merindukan Nadine.
Di dalam kamar, Aditya meraih gelas teh jahe itu dan meminumnya dengan tangan yang masih gemetar. "Kenapa... kenapa pelayan itu terasa seperti separuh nyawaku?" gumamnya frustrasi. Ia mencengkeram kepalanya yang mulai terasa panas lagi.
Tanpa mereka sadari, di ujung lorong yang gelap, Aurel berdiri mematung. Ia telah melihat segalanya dari celah pintu yang tidak tertutup rapat tadi. Matanya menyala penuh amarah dan kecemburuan yang membara.
"Jadi benar... pelayan buruk rupa itu punya cara untuk menggoda Aditya," desis Aurel dengan tangan mengepal hingga kukunya memutih. "Jika aku tidak bisa menyingkirkannya dengan cara halus, aku akan gunakan cara kasar.... pelayan rendahan saja belagu,... mau bermimpi jadi Cinderella...ohhhh... jelas tidak mungkin" gumamnya pelan.
___
Sementara itu, di kontrakan, Noah mengernyitkan dahi saat melihat grafik detak jantung Ayahnya yang melonjak tajam di layar monitor. "Ibu... apa yang terjadi di sana? Detak jantung Ayah... seperti orang yang baru saja menemukan hartanya yang hilang."
Mendengar suara putranya, Nadine berjalan cepat menuju kamar nya Yang kecil di sudut dapur kotor....Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia meraba earpiece kecil yang tersembunyi di balik hijabnya.... ia menjawab pertanyaan putranya.
"Noah... kamu masih bangun?" bisik Nadine, suaranya serak tertahan isak tangis.
Di rumah kontrakan, Noah yang tadinya hampir tertidur di depan monitor langsung menegakkan punggungnya. Suara ibunya terdengar berbeda, ada kombinasi antara kebahagiaan yang meluap dan kesedihan yang menyayat.
"Ibu? Noah di sini. Noah lihat grafik detak jantung Ayah tadi melonjak tinggi sekali. Apa yang terjadi, Bu? Apa Ayah memarahi Ibu lagi?" tanya Noah dengan nada khawatir yang dewasa.
Nadine menyandarkan punggungnya ke pintu kayu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. "Tidak, Sayang... Ayah tidak marah. Tadi... Ayah memeluk Ibu."
Hening sejenak di seberang sana. Noah terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.
"Ayah memeluk Ibu? Apa Ayah sudah ingat siapa Ibu?" tanya Noah pelan.
"Belum, Noah. Ayah melakukannya dalam keadaan linglung. Dia seperti orang yang sedang mencari pegangan di tengah badai. Dia memeluk Ibu sangat erat, Noah... Ibu bisa merasakan detak jantungnya yang gelisah. Tapi kemudian dia tersadar dan mengusir Ibu keluar karena dia bingung kenapa dia merasa nyaman di dekat pelayan yang kusam ini."
Nadine menutup wajahnya dengan satu tangan. "Ibu merasa sangat berdosa sekaligus bahagia, Noah. Bahagia karena tubuh Ayahmu ternyata masih mengenali Ibu, tapi sedih karena pikirannya masih menolak kenyataan itu."
Noah menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat mirip dengan cara Aditya berpikir. "Ibu jangan menangis. Itu artinya ramuan dari Ning Laila dan doa Ibu sudah bekerja ke saraf bawah sadar Ayah. Ingatan manusia bisa dikunci oleh trauma, tapi memori sel di tubuh tidak bisa berbohong."
Noah mulai mengetik sesuatu di keyboard-nya dengan ritme yang menenangkan. "Ibu tahu? Tadi saat Ayah memeluk Ibu, sensor di jam tangannya menunjukkan tingkat stres Ayah turun drastis, tapi aliran darah ke otaknya meningkat. Itu tanda bahwa bagian otak yang menyimpan memori jangka panjang sedang mencoba bangun."
"Ibu harus tetap kuat ya, jangan biarkan Ayah direbut oleh wanita itu," lanjut Noah. "Ayah bingung karena dia merasa ada magnet di antara kalian, tapi logikanya melihat Ibu sebagai orang asing. Kita harus terus buat dia bingung sampai logikanya menyerah pada hatinya."
Namun, nada suara Noah tiba-tiba berubah serius. "Tapi Ibu, ada satu hal lagi. Saat Ibu keluar dari kamar Ayah, ada pergerakan di sensor lorong. Seseorang berdiri di sana cukup lama. Noah yakin itu wanita bernama Aurel itu."
Nadine tersentak. "Aurel melihatnya?"
"Mungkin tidak jelas karena pintu hanya terbuka sedikit, tapi dia pasti curiga. Ibu harus ekstra hati-hati besok. Wanita itu akan semakin ganas karena dia merasa posisinya terancam oleh seorang pelayan."
Nadine mengusap air matanya, menguatkan hati. "Terima kasih, Noah. Kamu benar-benar pelindung Ibu. Sekarang tidurlah, Sayang. Besok pagi Ibu harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan Ayah lagi."
"Selamat malam, Ibu. Noah sayang Ibu... dan Noah juga mulai sayang Ayah, meski Ayah masih agak menyebalkan," ucap Noah dengan sedikit nada bercanda untuk menghibur ibunya.
Nadine tersenyum tipis di tengah kegelapan kamarnya. Pelukan singkat tadi adalah bahan bakar baginya untuk bertahan di mansion itu, tak peduli seberapa buruk perlakuan yang akan ia terima besok.