NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertahanan yang Tak Terlihat

Jemari Lauren gemetar hebat. Ia mencengkeram tepian balkon lantai dua dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah sana, di remang cahaya lampu jalan yang berkedip, Banyu berjalan sendirian dengan langkah gontai. Pemuda itu tidak tahu. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik bayang-bayang pohon mahoni yang meranggas, sesuatu yang pekat dan tak berbentuk sedang merayap mengikutinya.

"Jangan hanya melihat, Lauren. Konsentrasi."

Suara Herza terdengar tepat di samping telinganya, dingin namun stabil. Lauren melirik sekilas ke arah sosok roh pelindungnya itu. Herza berdiri dengan sikap waspada, matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih dari sosok hitam yang mulai memanjang di aspal, tepat di belakang tumit Banyu.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya, Herza," bisik Lauren. Suaranya pecah, tersapu angin malam.

"Kau harus bisa. Jika entitas itu menyentuhnya malam ini, jiwanya akan mulai terkikis. Kau tahu apa yang terjadi jika kegelapan itu menemukan celah," balas Herza tanpa emosi, namun ada desakan yang nyata di sana.

Lauren memejamkan mata. Ia mencoba mengais sisa-sisa energi di dalam dadanya, mencari benih kekuatan yang selama ini ia coba sangkal keberadaannya. Ia membayangkan sebuah lingkaran cahaya, bukan sesuatu yang benderang seperti lampu, melainkan sebuah selubung lembut sewarna perak yang hangat. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme jantungnya yang berpacu liar.

Fokus. Lindungi dia.

Lauren merentangkan telapak tangannya ke arah Banyu. Detik berikutnya, ia merasakan tarikan yang menyakitkan dari ulu hatinya. Rasanya seperti ada seutas tali tak kasat mata yang ditarik paksa dari dalam tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi, mengalir melewati pelipisnya. Di mata batinnya, Lauren mulai melihat jaring-jaring energi tipis mulai keluar dari jemarinya, meluncur di udara menuju punggung Banyu.

"Bagus. Sekarang kunci polanya. Bayangkan itu sebagai kulit kedua bagi Banyu," instruksi Herza.

Lauren merintih kecil. Mempertahankan visualisasi itu jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Setiap inci perisai yang ia bentuk seolah menghisap tenaganya secara brutal. Pandangannya mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari-nari di depan matanya. Namun, ia melihat perisai samar itu mulai membungkus bahu Banyu, menciptakan jarak beberapa sentimeter antara pemuda itu dan kegelapan yang mengintai.

Entitas di bawah sana bereaksi. Sosok hitam itu mendesis—suara yang hanya bisa didengar oleh telinga batin Lauren—dan mencoba menerjang ke depan. Namun, begitu bayangan itu menyentuh selubung perak buatan Lauren, ia terpental seperti terkena sengatan listrik.

Banyu berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang dengan bingung, mengusap lehernya seolah baru saja merasakan embusan angin yang aneh.

"Apa itu tadi?" gumam Banyu pelan.

Ia tidak melihat apa-apa. Baginya, jalanan itu kosong. Namun, Lauren bisa merasakan detak jantung Banyu dari kejauhan.

Tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Saat perisai itu mengunci posisi di sekeliling tubuh Banyu, Lauren merasakan sebuah sentakan listrik yang berbalik ke arahnya. Itu bukan serangan. Rasanya hangat, murni, dan sangat akrab. Seolah-olah energi di dalam tubuh Banyu memberikan respons, menyambut perlindungan yang diberikan Lauren.

Banyu? Lauren membatin.

Ia merasakan kesedihan yang mendalam, rasa kesepian yang tersembunyi di balik sikap acuh tak acuh pemuda itu selama ini. Koneksi itu begitu kuat hingga Lauren bisa merasakan setiap tarikan napas Banyu masuk ke paru-parunya sendiri.

"Lauren! Cukup! Jangan terlalu dalam!" Herza memperingatkan, menyadari bahwa Lauren mulai kehilangan kendali atas batas energinya sendiri.

Lauren tersentak, memutuskan koneksi emosional itu namun tetap mempertahankan perisainya. Ia terengah-engah, kakinya lemas hingga ia harus terduduk di lantai balkon yang dingin. Seluruh ototnya terasa seperti dipukuli benda tumpul. Tenaganya terkuras habis, menyisakan ruang kosong yang menyakitkan di dalam jiwanya.

Di bawah sana, entitas gelap itu tampak ragu-ragu. Ia berputar-putar di sekitar Banyu, mencoba mencari celah, namun perisai tipis itu tetap bertahan meski cahayanya mulai meredup seiring dengan melemahnya kondisi Lauren. Akhirnya, dengan desisan penuh kebencian, bayangan itu menyusut dan menghilang ke dalam kegelapan selokan.

Banyu kembali berjalan, kali ini dengan langkah yang lebih cepat, mungkin merasa tidak nyaman dengan atmosfer aneh yang baru saja ia lewati.

Lauren menyandarkan punggungnya ke dinding balkon, napasnya masih pendek-pendek. Ia melihat tangannya sendiri yang masih bergetar. Warna kulitnya tampak pucat pasi di bawah cahaya bulan.

"Dia selamat," bisik Lauren, mencoba mencari secercah kelegaan di tengah rasa lelah yang menghimpit.

Herza mendekat, menatap Lauren dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kecemasan yang nyata di balik wajah dingin roh itu. Ia tidak memuji keberhasilan Lauren. Sebaliknya, ia menggelengkan kepala perlahan.

"Kau baru saja menyalakan lampu suar di tengah badai, Lauren," kata Herza dengan suara rendah yang mengancam.

Lauren mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pandangannya pada Herza.

"Apa maksudmu? Aku melindunginya. Itu yang kau minta, bukan?"

"Ya, tapi perisai ini... perisai ini sangat amatir. Ini tidak permanen, Lauren. Ini hanya akan bertahan paling lama beberapa jam, dan energinya sangat menguras jiwamu. Kau tidak bisa terus-menerus melakukan ini setiap malam. Tubuh manusiamu akan hancur sebelum minggu ini berakhir."

Lauren menghela napas panjang, kepalanya terkulai ke samping.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambilnya."

Herza berlutut di depan Lauren, menyamakan tinggi mereka.

"Masalah utamanya bukan hanya tenagamu. Dengan menciptakan perisai spiritual semacam ini, kau baru saja mengumumkan keberadaanmu kepada mereka. Kegelapan itu sekarang tahu ada seseorang yang melindungi Banyu. Mereka akan berhenti mengirim kroco-kroco kecil. Mereka akan mengirim sesuatu yang jauh lebih kuat untuk menghancurkan perisaimu—dan dirimu."

Lauren terdiam.

Kata-kata Herza terasa seperti es yang menyiram punggungnya. Ia menatap ke arah jalanan tempat Banyu menghilang di tikungan. Rasa tanggung jawab itu kini terasa seperti beban ribuan ton yang menindih bahunya. Ia ingin menyelamatkan Banyu, tapi ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menyeret dirinya sendiri ke dalam daftar hitam entitas-entitas itu.

"Jadi, aku baru saja memperburuk keadaan?" tanya Lauren lirih.

"Kau memberinya waktu, tapi kau juga mengundang bahaya yang lebih besar datang lebih cepat," jawab Herza jujur.

"Mereka akan tahu ada yang melindunginya, Lauren. Dan mereka tidak suka ada yang mencampuri urusan mereka."

Lauren memejamkan mata, merasakan denyut di pelipisnya yang semakin parah. Ia tahu ia membutuhkan solusi yang lebih permanen. Ia tidak bisa hanya menjadi perisai yang terus-menerus retak. Jika ia ingin Banyu benar-benar selamat, ia harus menemukan cara untuk menghentikan mereka dari akarnya, bukan hanya menghalau bayangan yang lewat.

Tiba-tiba, Lauren merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk dari arah belakang rumahnya. Itu bukan angin malam biasa. Itu adalah kehadiran yang jauh lebih pekat daripada yang baru saja ia lawan.

Herza berdiri dengan sigap, tangannya terangkat ke udara seolah siap bertarung.

"Cepat masuk ke dalam, Lauren! Sekarang!"

Lauren mencoba bangkit, namun kakinya benar-benar tidak bisa digerakkan. Di kejauhan, di atas atap rumah tetangga, ia melihat sepasang mata merah yang menyala, menatap lurus ke arahnya dengan intensitas yang mengerikan. Mata itu tidak menatap Banyu. Mata itu menatapnya.

1
[Asa]
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!