Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Percikan Cemburu di Balik Aroma Buah
Matahari siang menyengat pelan saat Kathryn melangkah masuk ke halaman rumah. Di tangannya, dua kantung plastik besar berisi jeruk peras, apel merah, dan beberapa potong pir segar berdesakan. Pikirannya masih dipenuhi soal ujian di kampus tadi, namun langkah kakinya terasa lebih ringan karena ia tahu ada sosok yang bisa diandalkan di dalam rumahnya.
"Aku pulang," ucap Kathryn lirih saat memasuki ruang tengah.
Suasana rumah begitu tenang. Kathryn meletakkan buah-buahan di meja makan dan mengedarkan pandangan. Ia hanya menemukan Dimas yang sedang duduk di kursi kayu dekat jendela, membaca sebuah jurnal medis dengan kacamata bertengger di hidungnya sebuah pemandangan yang membuat jantung Kathryn berdesir sesaat.
"Eh, Dokter Dimas? Masih di sini?" tanya Kathryn lembut. "Lalu... Dokter Adrian di mana dia?"
"Kathryn bisakah kamu memanggil Mas saja jangan ada kata dokter lagi, itu sangat kaku untuk didengar!."
"Baiklah Mas Dimas." Ujar Kathryn tersenyum.
Dimas mendongak, melepas kacamatanya perlahan. Ada kilat aneh yang melintas di matanya saat mendengar nama Adrian disebut pertama kali oleh Kathryn. "Kebetulan Adrian sudah pulang sejam yang lalu. Dia ada jadwal praktik di poli sore," jawab Dimas dengan nada suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.
Kathryn mengangguk-angguk, ia mulai mengeluarkan buah-buahan itu untuk dicuci. "Sayang sekali ya, padahal aku tadi beli buah lebih untuk Mas Adrian juga. Dokter tampan itu baik sekali tadi mau membantu menjaga Kak Paul."
Deg.
Dimas berdehem cukup keras, sebuah reaksi yang refleks muncul saat kata "tampan" disematkan pada sahabatnya yang paling narsis itu. Ia berdiri dan melangkah menghampiri Kathryn ke dapur.
"Sebenarnya, tadi dia tidak mau pulang," gumam Dimas sambil bersedekap di dekat wastafel, mengawasi Kathryn mencuci apel. "Dia terus-terusan bicara ingin menunggu kamu pulang untuk pamer kalau dia jago menghibur Sean. Jadi, aku mengusirnya saja. Rumah sakit lebih membutuhkannya daripada dapur ini."
Kathryn menghentikan gerakannya sejenak, lalu terkekeh geli. Suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan. "Mas Dimas tega sekali mengusir teman sendiri. Tapi terima kasih ya, Mas. Mas juga jadi tidak jadi operasi hari ini karena menjaga Kak Paul? Apa itu tidak apa-apa?"
Dimas menatap Kathryn dengan lekat. Sebenarnya, sebagai pemilik rumah sakit, ia bisa dengan mudah mendelegasikan operasi apa pun kepada tim dokter bedah senior lainnya. Namun, alasan utamanya tetap di sini adalah karena ia tidak tega membiarkan Kathryn pulang ke rumah yang penuh kekacauan sendirian.
"Pasienku sudah ditangani tim lain yang tidak kalah hebat. Lagipula, aku tidak mungkin meninggalkan Paul yang sedang lemah dan Sean yang sendirian," ucap Dimas. Ia diam sejenak, lalu menambahkan dengan nada bicara yang terdengar sedikit bersaing, "Dan soal Adrian... kamu tahu, banyak perawat di rumah sakit bilang kalau aku jauh lebih tampan dan berwibawa dibanding dia yang terlalu banyak bicara."
Kathryn membeku, tangannya yang masih basah memegang apel merah terhenti di udara. Ia menoleh perlahan ke arah Dimas, menatap pria itu yang kini wajahnya tampak sangat serius menanti jawaban.
"Mas Dimas... sedang memuji diri sendiri?" tanya Kathryn dengan senyum tertahan.
"Aku hanya menyampaikan fakta medis," jawab Dimas tanpa berkedip, meski di dalam hati ia merasa konyol karena harus bersaing harga diri dengan Adrian di depan mahasiswi ini.
Kathryn menggeleng pelan sambil tersenyum lebar. "Iya, Mas Dimas memang tampan. Sangat tampan, apalagi kalau sedang tidak galak seperti sekarang."
Jawaban itu membuat Dimas sedikit salah tingkah. Ia berbalik, berpura-pura mengecek ketel air yang sebenarnya tidak sedang mendidih. "Sean sudah tidur di kamarnya setelah habis minum susu. Paul juga baru saja terlelap setelah minum obat kedua. Jadi, rumah ini sedang menjadi milik kita berdua untuk sementara."
Suasana mendadak menjadi kaku. Kata "milik kita berdua" seolah memberikan beban listrik di udara dapur yang sempit itu. Kathryn mulai memotong buah dengan canggung, sementara Dimas justru tidak beranjak pergi. Ia malah "mengintili" Kathryn, berdiri tepat di belakangnya, seolah-olah sedang mengawasi kualitas potongan buah tersebut.
"Mas Dimas... tidak ada pekerjaan lain?" tanya Kathryn pelan, merasa punggungnya hangat karena jarak Dimas yang cukup dekat.
"Pekerjaanku sekarang adalah memastikan kamu tidak terluka saat memotong buah," jawab Dimas asal, meski sebenarnya ia hanya ingin menghirup aroma vanila dari rambut Kathryn lebih lama lagi. "Atau mungkin, aku sedang menunggu bagian apelku."
Kathryn memberikan sepotong apel pada Dimas. Dimas menerimanya, namun ujung jarinya sengaja bersentuhan dengan jari Kathryn, membuat gadis itu refleks menarik napas panjang.
Di balik kesederhanaan momen itu, Dimas menyimpan rapat-rapat kenyataan bahwa ia baru saja membatalkan pertemuan dengan dewan direksi yang bernilai miliaran hanya untuk berdiri di dapur ini. Identitasnya sebagai pewaris tunggal keluarga Alvaro tetap tersimpan rapi di balik kemeja sederhana yang ia kenakan. Bagi Kathryn, ia tetaplah "Mas Dokter" yang sedang berjuang melawan kesulitan hidup, tanpa tahu bahwa pria di belakangnya ini mampu membeli seluruh blok Dharmawangsa jika ia mau.
"Terima kasih untuk apelnya, Kathryn," bisik Dimas tepat di samping telinga Kathryn sebelum ia melangkah mundur, memberikan ruang bagi gadis itu untuk bernapas kembali.
Kathryn hanya bisa menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah sempurna. Di lantai atas, Paul yang sebenarnya sudah terbangun sedikit, tersenyum tipis mendengar percakapan di bawah. Ia tahu, adiknya berada di tangan yang tepat, meski ia masih bertanya-tanya kapan Dimas akan jujur soal siapa dia yang sebenarnya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰