NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Percikan Cemburu di Balik Aroma Buah

Matahari siang menyengat pelan saat Kathryn melangkah masuk ke halaman rumah. Di tangannya, dua kantung plastik besar berisi jeruk peras, apel merah, dan beberapa potong pir segar berdesakan. Pikirannya masih dipenuhi soal ujian di kampus tadi, namun langkah kakinya terasa lebih ringan karena ia tahu ada sosok yang bisa diandalkan di dalam rumahnya.

​"Aku pulang," ucap Kathryn lirih saat memasuki ruang tengah.

​Suasana rumah begitu tenang. Kathryn meletakkan buah-buahan di meja makan dan mengedarkan pandangan. Ia hanya menemukan Dimas yang sedang duduk di kursi kayu dekat jendela, membaca sebuah jurnal medis dengan kacamata bertengger di hidungnya sebuah pemandangan yang membuat jantung Kathryn berdesir sesaat.

​"Eh, Dokter Dimas? Masih di sini?" tanya Kathryn lembut. "Lalu... Dokter Adrian di mana dia?"

"Kathryn bisakah kamu memanggil Mas saja jangan ada kata dokter lagi, itu sangat kaku untuk didengar!."

"Baiklah Mas Dimas." Ujar Kathryn tersenyum.

​Dimas mendongak, melepas kacamatanya perlahan. Ada kilat aneh yang melintas di matanya saat mendengar nama Adrian disebut pertama kali oleh Kathryn. "Kebetulan Adrian sudah pulang sejam yang lalu. Dia ada jadwal praktik di poli sore," jawab Dimas dengan nada suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.

​Kathryn mengangguk-angguk, ia mulai mengeluarkan buah-buahan itu untuk dicuci. "Sayang sekali ya, padahal aku tadi beli buah lebih untuk Mas Adrian juga. Dokter tampan itu baik sekali tadi mau membantu menjaga Kak Paul."

​Deg.

​Dimas berdehem cukup keras, sebuah reaksi yang refleks muncul saat kata "tampan" disematkan pada sahabatnya yang paling narsis itu. Ia berdiri dan melangkah menghampiri Kathryn ke dapur.

​"Sebenarnya, tadi dia tidak mau pulang," gumam Dimas sambil bersedekap di dekat wastafel, mengawasi Kathryn mencuci apel. "Dia terus-terusan bicara ingin menunggu kamu pulang untuk pamer kalau dia jago menghibur Sean. Jadi, aku mengusirnya saja. Rumah sakit lebih membutuhkannya daripada dapur ini."

​Kathryn menghentikan gerakannya sejenak, lalu terkekeh geli. Suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan. "Mas Dimas tega sekali mengusir teman sendiri. Tapi terima kasih ya, Mas. Mas juga jadi tidak jadi operasi hari ini karena menjaga Kak Paul? Apa itu tidak apa-apa?"

​Dimas menatap Kathryn dengan lekat. Sebenarnya, sebagai pemilik rumah sakit, ia bisa dengan mudah mendelegasikan operasi apa pun kepada tim dokter bedah senior lainnya. Namun, alasan utamanya tetap di sini adalah karena ia tidak tega membiarkan Kathryn pulang ke rumah yang penuh kekacauan sendirian.

​"Pasienku sudah ditangani tim lain yang tidak kalah hebat. Lagipula, aku tidak mungkin meninggalkan Paul yang sedang lemah dan Sean yang sendirian," ucap Dimas. Ia diam sejenak, lalu menambahkan dengan nada bicara yang terdengar sedikit bersaing, "Dan soal Adrian... kamu tahu, banyak perawat di rumah sakit bilang kalau aku jauh lebih tampan dan berwibawa dibanding dia yang terlalu banyak bicara."

​Kathryn membeku, tangannya yang masih basah memegang apel merah terhenti di udara. Ia menoleh perlahan ke arah Dimas, menatap pria itu yang kini wajahnya tampak sangat serius menanti jawaban.

​"Mas Dimas... sedang memuji diri sendiri?" tanya Kathryn dengan senyum tertahan.

​"Aku hanya menyampaikan fakta medis," jawab Dimas tanpa berkedip, meski di dalam hati ia merasa konyol karena harus bersaing harga diri dengan Adrian di depan mahasiswi ini.

​Kathryn menggeleng pelan sambil tersenyum lebar. "Iya, Mas Dimas memang tampan. Sangat tampan, apalagi kalau sedang tidak galak seperti sekarang."

​Jawaban itu membuat Dimas sedikit salah tingkah. Ia berbalik, berpura-pura mengecek ketel air yang sebenarnya tidak sedang mendidih. "Sean sudah tidur di kamarnya setelah habis minum susu. Paul juga baru saja terlelap setelah minum obat kedua. Jadi, rumah ini sedang menjadi milik kita berdua untuk sementara."

​Suasana mendadak menjadi kaku. Kata "milik kita berdua" seolah memberikan beban listrik di udara dapur yang sempit itu. Kathryn mulai memotong buah dengan canggung, sementara Dimas justru tidak beranjak pergi. Ia malah "mengintili" Kathryn, berdiri tepat di belakangnya, seolah-olah sedang mengawasi kualitas potongan buah tersebut.

​"Mas Dimas... tidak ada pekerjaan lain?" tanya Kathryn pelan, merasa punggungnya hangat karena jarak Dimas yang cukup dekat.

​"Pekerjaanku sekarang adalah memastikan kamu tidak terluka saat memotong buah," jawab Dimas asal, meski sebenarnya ia hanya ingin menghirup aroma vanila dari rambut Kathryn lebih lama lagi. "Atau mungkin, aku sedang menunggu bagian apelku."

​Kathryn memberikan sepotong apel pada Dimas. Dimas menerimanya, namun ujung jarinya sengaja bersentuhan dengan jari Kathryn, membuat gadis itu refleks menarik napas panjang.

​Di balik kesederhanaan momen itu, Dimas menyimpan rapat-rapat kenyataan bahwa ia baru saja membatalkan pertemuan dengan dewan direksi yang bernilai miliaran hanya untuk berdiri di dapur ini. Identitasnya sebagai pewaris tunggal keluarga Alvaro tetap tersimpan rapi di balik kemeja sederhana yang ia kenakan. Bagi Kathryn, ia tetaplah "Mas Dokter" yang sedang berjuang melawan kesulitan hidup, tanpa tahu bahwa pria di belakangnya ini mampu membeli seluruh blok Dharmawangsa jika ia mau.

​"Terima kasih untuk apelnya, Kathryn," bisik Dimas tepat di samping telinga Kathryn sebelum ia melangkah mundur, memberikan ruang bagi gadis itu untuk bernapas kembali.

​Kathryn hanya bisa menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah sempurna. Di lantai atas, Paul yang sebenarnya sudah terbangun sedikit, tersenyum tipis mendengar percakapan di bawah. Ia tahu, adiknya berada di tangan yang tepat, meski ia masih bertanya-tanya kapan Dimas akan jujur soal siapa dia yang sebenarnya.

1
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
Anonymous
waw keren ada gambarnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!