Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Dibalik jaket kulit yang penuh noda oli dan deru mesin motor yang garang, Arlo menyimpan sebuah fakta yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun, bahkan pada Zayn. Arlo bukan sekadar pria yang gemar bermain-main. Ya, dia pernah melakukan kesalahan fatal dengan berselingkuh saat SMA, sebuah tindakan bodoh karena rasa insecure remaja, tapi ada satu garis merah yang tidak pernah ia langgar, ranjangnya hanya pernah ia bagi dengan Hera. Sejak pengkhianatan itu, Arlo hidup dalam selibat yang menyiksa, mengunci hasratnya hanya untuk satu wanita yang kini sangat membencinya.
Mengetahui Hera nekat ingin melakukan inseminasi buatan dengan benih asing, Arlo merasa dunianya hancur berkeping-keping. Bayangan rahim Hera diisi oleh benih pria antah-berantah yang tidak mencintainya membuat Arlo hampir gila.
Tanpa membuang waktu, Arlo memacu motornya menuju salah satu rumah sakit fertilitas paling bergengsi di California. Ia tidak pergi sebagai pasien biasa. Ia pergi untuk menemui satu-satunya orang yang bisa menghentikan kegilaan ini.
Di lantai atas rumah sakit, di sebuah ruangan mewah dengan papan nama Dr. Diana Atmadja, Sp.OG, Arlo menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.
"Mom, kita harus bicara!" Arlo membanting sebuah map tebal di atas meja kerja ibunya.
Seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun dan berwibawa menengadah dari balik kacamata bacanya. Dr. Diana, ibu kandung Arlo, hanya menghela napas panjang melihat putra tunggalnya yang berantakan.
"Arlo? Sejak kapan kamu tertarik dengan urusan medis? Dan di mana sopan santun mu?" tanya Diana dengan suara tenang namun tegas.
"Lupakan soal sopan santun, Mom! Aku tahu Hera, gadis yang kucintai datang ke sini untuk prosedur inseminasi buatan. Dan aku juga tahu Mommy yang menangani kasusnya," Arlo berlutut di depan meja ibunya, matanya yang biasanya jenaka kini dipenuhi rasa putus asa yang mendalam. "Aku tidak bisa membiarkan pria lain mengisi rahimnya, Mom. Aku tidak bisa."
Diana mengernyitkan dahi. "Hera adalah pasienku, Arlo. Dia punya hak penuh atas tubuhnya. Dia tidak ingin ada sosok ayah, dan itu adalah keputusannya."
"Tapi dia mencintaiku, Mom! Dia hanya terluka karena kebodohanku dulu!" Arlo membuka map yang ia bawa. Di dalamnya terdapat berkas tes kesehatan lengkap yang ia lakukan secara rahasia pagi tadi. Tes genetik, tes darah, hasil laboratorium kesuburan, hingga catatan riwayat kesehatan keluarga. "Lihat ini. Aku sehat. Aku kandidat terbaik. Aku memiliki IQ tinggi, aku tidak punya penyakit turunan, dan yang paling penting... aku mencintainya sampai mati."
Diana menatap berkas itu, lalu menatap putranya. "Apa yang kamu rencanakan, Arlo? Kamu ingin aku memalsukan donor?"
"Bukan memalsukan, Mom. Tapi berikan dia yang terbaik. Berikan dia aku," Arlo mencengkeram tangan ibunya dengan gemetar. "Aku berjanji, Mom. Jika Mommy membantuku menaruh benihku di rahim Hera, aku akan berhenti balap liar. Aku akan pulang ke mansion, aku akan memakai jas dan duduk di kantor perusahaan Papa, aku akan jadi anak yang baik yang Mommy inginkan. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk menjadi pria yang layak bagi Mommy dan bagi anak itu nanti."
Arlo menundukkan kepalanya, air mata mulai jatuh di tangan ibunya. "Kumohon, Mom. Bantu aku. Biarkan cucu Mommy sendiri yang ada di rahim gadis keras kepala itu. Aku tidak ingin dia mengandung anak orang asing saat ayahnya ada di sini, bersedia memberikan nyawanya untuknya."
Diana tertegun. Ia belum pernah melihat Arlo serapuh ini. Selama bertahun-tahun, Arlo menolak pulang ke rumah dan memilih hidup di bengkel serta jalanan demi mengejar kebebasan. Namun hari ini, demi Hera, putranya bersedia menyerahkan kebebasan yang paling ia agungkan.
Diana menatap foto masa kecil Arlo di atas mejanya, lalu beralih menatap berkas pemeriksaan Hera yang ada di komputernya. Hera adalah gadis yang luar biasa, Diana tahu itu. Dan ia juga tahu betapa Arlo telah menderita dalam rasa penyesalannya selama bertahun-tahun.
"Inseminasi itu akan dilakukan besok pagi, Arlo," ucap Diana pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Hera meminta donor anonim dengan profil fisik yang menyerupai mu... rambut gelap, mata tajam, dan tinggi badan yang atletis."
Arlo menahan napas, menatap ibunya dengan secercah harapan.
"Jika aku melakukan ini, kau tahu taruhannya, bukan?" Diana menatap tajam mata putranya. "Jika Hera tahu, dia akan membenciku dan membencimu selamanya. Tapi jika ini satu-satunya cara untuk menyatukan kalian kembali sebagai keluarga..."
Diana menutup mata sejenak, seolah meminta maaf pada kode etik kedokterannya. "Langit California mungkin akan runtuh jika rahasia ini terbongkar, tapi... baiklah. Mommy akan pastikan bahwa donor yang diterima Hera besok adalah benih milikmu, Arlo."
Arlo langsung memeluk ibunya dengan isak tangis yang pecah. "Terima kasih, Mom... Terima kasih. Aku bersumpah akan menjadi pria terbaik untuknya."
Malam itu, di bawah langit California yang tampak pekat, sebuah kesepakatan gelap terjadi. Arlo pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa seperti pengkhianat sekaligus pahlawan bagi cintanya sendiri. Di sisi lain kota, Hera sedang mempersiapkan dirinya, tidur dengan harapan bahwa besok ia akan memulai hidup baru tanpa pria, tanpa tahu bahwa pria yang paling ia benci baru saja menyusup ke dalam masa depannya melalui tangan dingin calon ibu mertuanya.
Inseminasi itu akan terjadi. Benih Arlo akan berlabuh di rahim Hera, mengikat mereka dalam ikatan darah yang tidak akan pernah bisa Hera putus, bahkan jika ia ingin berlari ke ujung dunia sekalipun. Sebuah rahasia besar telah tertanam, dan Arlo tahu, mulai besok, hidupnya bukan lagi milik dirinya sendiri, melainkan milik kehidupan kecil yang akan ia jaga dengan seluruh jiwanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰