NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 4 - JANJI YANG TAK PERNAH DI BUAT

Pagi di Eldria International selalu punya ritme yang sama.

Pintu kelas dibuka, tas diletakkan, kursi bergeser, obrolan dimulai. Semua berulang seperti mesin yang sudah diprogram, dan Ara sudah hafal setiap detailnya sampai ke suara sepatu seseorang yang selalu berdecit di ubin dekat jendela ketiga.

Ia tiba lebih awal dari biasanya pagi ini. Sengaja. Semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak dan ia sudah terbangun sebelum alarm berbunyi, jadi daripada berbaring menatap langit-langit sampai pikirannya mulai berputar lagi, ia memilih mandi, sarapan, dan berangkat.

Bangkunya di baris kedua dari jendela. Ia meletakkan tasnya, duduk, mengeluarkan buku catatan, dan membiarkan pagi yang masih sepi di kelas itu menyelimuti dirinya sebentar.

Ini yang ia suka dari datang lebih awal. Kelas yang belum ramai. Suara yang belum memenuhi ruangan. Tidak ada yang memandanginya, tidak ada yang berbisik, tidak ada senyum yang harus ia pasang untuk memenuhi ekspektasi siapa pun.

Hanya Ara. Hanya dirinya sendiri.

Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan sekitar tujuh menit.

"Ara!"

Dua suara sekaligus, dari arah pintu.

Ara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Ia sudah mengenali frekuensinya.

Lina dan Diana masuk ke kelas dengan langkah yang lebih bersemangat untuk jam sepagi ini, dan keduanya langsung menuju bangku Ara tanpa singgah ke tempat duduk masing-masing lebih dulu.

Ara meletakkan penanya.

"Selamat pagi," ia menyapa duluan, karena setidaknya ia ingin mengontrol tone percakapan ini sejak awal.

"Selamat pagi!" Lina menarik kursi kosong di depan Ara dan duduk. Diana melakukan hal yang sama di sisi kanannya. Keduanya sudah rapi, sudah bersemangat, dan sudah punya agenda yang jelas terpancar dari cara mereka menatap Ara.

"Jadi," Diana memulai langsung, tanpa basa-basi pembuka yang berarti, "gimana? Udah dipikirin?"

Ara mengernyit pelan. "Dipikirin apa?"

"Soal Mike." Lina menyandarkan sikunya ke meja Ara, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kemarin kita minta bantuan kamu buat ngenalin kita ke Mike lebih deket. Kamu bilang mau dipikirin dulu."

Ara membuka mulutnya.

Lalu menutupnya lagi.

Ia tidak ingat berkata demikian. Sama sekali tidak ingat. Yang ia ingat adalah bel berbunyi tepat sebelum ia sempat menjawab apa pun, dan Lina serta Diana pergi begitu saja ke bangku mereka masing-masing seolah semuanya sudah selesai dibicarakan.

"Aku tidak pernah bilang mau dipikirin," Ara meluruskan, suaranya tetap tenang. "Kemarin bel berbunyi sebelum aku sempat jawab."

Diana mengibaskan tangannya. "Yaa sama aja. Intinya kamu belum bilang tidak."

"Tidak bilang tidak bukan berarti iya."

"Tapi juga bukan berarti tidak." Lina tersenyum, terlalu manis. "Ara, kita nggak minta banyak kok. Cuma minta kamu—"

"Minta apa?"

Suara itu datang dari kiri. Bukan Ara, bukan Lina, bukan Diana.

Ketiga mereka menoleh.

Via berdiri di samping bangku Ara dengan tas di satu bahu dan ekspresi wajah yang sudah memasang mode siaga sejak langkah pertama ia masuk kelas. Matanya berpindah dari Lina ke Diana, lalu ke Ara, lalu kembali ke Lina dan Diana.

"Kalian minta apa ke Ara?" Via mengulang pertanyaannya, kali ini lebih pelan, lebih datar, dan justru karena itu terdengar lebih berbahaya.

Lina mendongak menatap Via dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya menyembunyikan rasa tidak sukanya. "Urusan kita sama Ara. Nggak ada hubungannya sama kamu."

"Ada hubungannya kalau kalian ganggu dia." Via meletakkan tasnya di bangku sebelah Ara dengan bunyi yang lebih keras dan menambah suasana ruyam ini, lalu berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke saku seragamnya. "Aku lihat dari tadi kalian langsung nyerbu begitu Ara duduk. Pagi-pagi gini, emangnya ada kebakaran atau gimana?"

Diana menaikkan satu alisnya. "Nyerbu? Kita cuma ngobrol."

"Ngobrol yang bikin Ara pasang muka kayak gitu?" Via menunjuk ke arah wajah Ara dengan dagunya. "Ngobrol atau introgasi?"

Ara refleks memperbaiki ekspresinya, tidak sadar tadi wajahnya sudah memperlihatkan sesuatu yang tidak ia maksudkan.

"Via, nggak apa-apa—" Ara mencoba menyela.

"Nggak apa-apa apanya." Via tidak bergeming. Matanya masih pada Lina dan Diana. "Kalau kalian suka sama Mike, bilang langsung ke orangnya. Kenapa harus minta-minta ke Ara? Emang Ara ini babu kalian?"

Lina berdiri dari kursinya. Pelan, terkontrol, tapi ada sesuatu di caranya berdiri yang membuat jelas bahwa ia tidak mau duduk di posisi lebih rendah dari Via. "Kita cuma minta tolong ke teman kita. Ada masalah?"

"Teman?" Via sedikit mendengus. "Lucu. Kalian baru ngobrol sama Ara kemarin untuk pertama kalinya. Kalau itu di sebut teman maka aku sudah berteman dengan seluruh staff sekolah ini."

"Via," Ara berkata lebih tegas.

Tapi Via sudah tidak bisa dihentikan, dan Diana juga sudah ikut berdiri.

"Kamu itu selalu gitu ya," Diana berkata, suaranya mendingin. "Sok protektif, sok yang paling peduli sama Ara. Padahal semua orang tau kamu itu cuma nggak mau ada cewe yang deket sama Mike."

Udara di sekitar bangku Ara tiba-tiba terasa lebih berat.

Via tidak langsung menjawab. Tapi rahangnya mengencang sedikit, satu detail kecil yang hanya terlihat oleh orang yang benar-benar mengenal Via, dan Ara adalah salah satunya.

"Apa maksudmu?" Via bertanya, suaranya terlalu tenang.

"Kamu ngerti maksudku." Diana tidak mundur. "Kita satu SMP sama kamu, Via. Kita tau kamu suka Mike dari dulu. Dan kamu nggak mau ada cewek lain yang deket sama dia, itu kenapa kamu selalu ada di antara Mike dan siapa pun yang mau mendekatinya."

"Diana," Lina menyebut nama temannya itu dengan nada peringatan kecil.

Tapi Diana tetap melanjutkan, "Termasuk sekarang. Bukan soal Ara yang kamu bela. Tapi soal Mike yang kamu jaga."

Kelas sudah mulai terisi. Beberapa orang yang baru datang langsung menangkap atmosfer yang ada dan memilih duduk diam sambil berpura-pura tidak memperhatikan. Tapi jelas mereka memperhatikan.

Via diam selama tiga detik penuh.

Ara menahan napas.

Lalu Via berbicara.

"Ya." Suaranya tidak bergetar. Tidak defensif. Hanya lurus dan langsung, seperti selalu. "Iya, aku suka Mike. Terus kenapa?"

Bukan Diana atau Lina yang terdiam karena itu.

Ara-lah yang terdiam.

Karna Ara baru mengetahui itu.

Karena Via tidak pernah mengatakannya seperti itu sebelumnya. Tidak pernah langsung, tidak pernah di depan orang lain, tidak pernah dengan nada yang terdengar seperti ia sudah lelah menyembunyikan sesuatu yang selama ini ia pikul sendiri.

"Aku suka Mike," Via mengulang, lebih pelan kali ini, matanya tidak berpaling dari Diana. "Aku suka dia dari SMP. Dan kalau itu masalah buat kalian, itu urusan kalian. Tapi jangan bawa-bawa Ara ke dalam ini."

Diana dan Lina saling pandang.

Sebelum salah satu dari mereka sempat menjawab, suara langkah kaki berat dari depan kelas memutus semuanya. Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia mereka, masuk dengan buku di bawah lengannya dan tatapan yang sudah biasa menghadapi kelas yang tidak siap.

"Duduk semua," beliau berkata tanpa menoleh, langsung menuju meja guru. "Lima menit lagi kita mulai."

Lina dan Diana mundur ke bangku masing-masing tanpa berkata apa-apa lagi. Via menjatuhkan dirinya ke kursi di sebelah Ara, mengeluarkan buku catatannya dengan gerakan yang lebih keras dari biasanya, dan tidak menoleh ke arah Ara sama sekali.

Ara duduk diam.

Di depannya, papan tulis masih kosong. Bu Ratna sedang menulis judul materi hari ini dengan kapur putih yang bunyinya terdengar jelas di tengah kelas yang mendadak sunyi.

Tapi di dalam kepala Ara, tidak ada yang sunyi.

Karena kalimat Via masih bergema di sana, pelan tapi jelas.

*Iya, aku suka Mike. Terus kenapa?*

Ara menatap buku catatannya yang masih terbuka kosong.

Ia tidak tahu sejak kapan ia tidak pernah bertanya langsung kepada Via soal ini. Tidak tahu sejak kapan ia berpura-pura tidak melihat hal-hal kecil yang seharusnya sudah memberi tahu dirinya dari lama.

Dan yang paling ia tidak tahu adalah apa yang sekarang harus ia lakukan dengan informasi yang sudah tidak bisa ia pura-pura tidak dengar itu.

Pena Ara bergerak ke kertas, menulis tanggal hari ini di pojok kiri atas.

Tangannya bergerak. Matanya mengikuti papan tulis.

Tapi pikirannya tidak ikut ke mana-mana.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!