Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Terlambat
Jakarta, Juli 2008
Matahari Jakarta bulan Juli tidak pernah kenal kompromi. Jam baru menunjukkan pukul 07.15 WIB, tapi aspal di depan gerbang SMK Pariwisata itu sudah terasa memuai. Gery berdiri mematung, jemarinya mencengkeram erat tali tas ranselnya yang masih kaku—khas barang baru.
Di hadapannya, gerbang besi bercat hijau tua itu tertutup rapat. Tak ada celah. Gery menatap nanar ke arah lapangan sekolah di mana ratusan siswa baru sudah berbaris rapi memulai upacara orientasi.
"Pak, tolonglah, Pak. Hari pertama, Pak. Tadi angkotnya ngetem lama banget di perempatan," bujuk Gery pada Pak Satpam yang sedang asyik menyesap kopi dari gelas plastik. Pak Satpam itu bahkan tidak menoleh, ia hanya menunjuk papan bertuliskan "DISIPLIN".
Tepat saat Gery nyaris menyerah, sebuah mobil sedan perak berhenti mendadak di belakangnya. Suara decit remnya memecah keheningan jalanan. Pintu penumpang terbuka, dan seorang gadis keluar dengan terburu-buru. Ia mengenakan seragam yang sama dengan Gery, putih abu-abu yang masih tampak sangat baru.
"Aduh, sudah tutup, Ma!" seru gadis itu sambil menatap gerbang dengan panik.
Seorang wanita paruh baya—ibunya—turun dari kursi pengemudi. Ia tampak tak kalah cemas, merapikan kerah baju anaknya sambil ikut menghampiri gerbang.
"Pak, tolong bukakan sebentar ya? Ini hari pertama anak saya sekolah. Tadi di jalan macet sekali," pinta Ibu itu dengan nada memohon yang halus.
Gery hanya bisa berdiri menyamping, merasa sedikit canggung berada di tengah drama ibu dan anak tersebut. Namun, Pak Satpam tetap bergeming. "Maaf, Bu. Peraturan tetap peraturan. Jam tujuh lewat satu menit saja, gerbang saya kunci. Silakan tunggu di luar sampai pengarahan selesai."
Ibu gadis itu menghela napas, menatap putrinya dengan tatapan bersalah. "Ya sudah, Vanya... Mama tunggu sebentar di sini ya?"
"Nggak usah, Ma. Pulang saja. Nanti Vanya kabari kalau sudah boleh masuk," jawab gadis itu—Vanya—sambil berusaha tersenyum meski wajahnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa. Setelah mobil ibunya perlahan menjauh, Vanya berdiri di samping Gery.
Vanya menyeka keringat di dahinya, lalu menatap Gery yang sedari tadi hanya diam menonton. "Lo juga telat?" tanya Vanya ketus, namun ada nada solidaritas di sana.
Gery mengangguk pelan. "Iya. Karena angkot."
Vanya mendengus, lalu tanpa ragu duduk di trotoar tepat di depan gerbang, tidak peduli rok abu-abunya terkena debu jalanan. "Gue diantar nyokap aja masih telat, apalagi naik angkot. Nasib kita emang lagi apes, kayaknya."
Gery ragu sejenak, namun akhirnya ia ikut duduk di samping gadis itu, memberi jarak sekitar tiga puluh sentimeter. Di antara kebisingan knalpot motor yang lewat dan teriknya matahari, sebuah awal dimulai.
"Gery," ucap Gery sambil mengulurkan tangan, mencoba mencairkan suasana di bawah tatapan galak Pak Satpam dari balik jeruji.
Gadis itu menoleh, menatap tangan Gery, lalu menyambutnya dengan genggaman yang tegas. "Vanya. Jurusan apa?"
"Perhotelan," jawab Gery singkat.
Vanya mengangkat alisnya, sedikit terkejut. "Sama dong. Jangan-jangan kita sekelas."
Vanya kemudian merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah ponsel lipat tipis yang populer di tahun itu. "Mau dengerin lagu nggak? Daripada mati gaya ditontonin satpam galak."
Vanya menyodorkan sebelah earphone kabelnya. Gery menerimanya, dan saat kabel itu terpasang, alunan musik pop 2000-an mulai mengalun, menyatukan dua orang asing yang sama-sama terkunci di luar masa depan mereka.
Hampir dua jam mereka mendekam di trotoar. Setelah upacara selesai dan para siswa baru digiring masuk ke aula, Pak Satpam akhirnya memutar kunci gerbang dengan bunyi klik yang sangat melegakan.
"Lapor ke ruang piket dulu, baru ke kelas!" seru Pak Satpam ketus.
Gery dan Vanya tidak membantah. Mereka setengah berlari menuju gedung sekolah. Setelah melewati sesi ceramah singkat dan mencatat nama di buku pelanggaran (sebuah awal yang buruk untuk catatan kedisplinan), mereka diarahkan menuju koridor lantai dua—area khusus jurusan Perhotelan.
"Gue deg-degan," bisik Vanya saat mereka berdiri di depan pintu kelas 1-Hotel 2. Suara riuh rendah dari dalam kelas seketika senyap saat pintu diketuk.
Seorang guru wanita berkacamata, Bu Ratna, menoleh dengan tatapan tajam. "Oh, ini dua mahluk yang katanya tertahan di gerbang? Silakan masuk. Perkenalan singkat, lalu cari kursi."
Gery merasa ratusan pasang mata menghujamnya. Dia bergumam menyebutkan nama, disusul Vanya yang tampak jauh lebih tenang meski wajahnya masih agak merah karena sisa panas matahari.
Mata Gery menyapu seisi ruangan. Sial. Kelas sudah penuh sesak. Hanya ada dua kursi kosong yang tersisa, dan posisinya berada di pojok paling belakang, tepat di bawah kipas angin yang berputar malas.
"Cuma ada yang di sana, Bu?" tanya Gery pelan.
"Siapa suruh telat? Di sini tidak ada sistem booking tempat duduk. Silakan," jawab Bu Ratna tegas.
Vanya menyenggol lengan Gery. "Sudahlah, mending di belakang daripada berdiri."
Mereka berjalan menyusuri lorong di antara meja-meja. Beberapa siswa laki-laki bersiul pelan saat Vanya lewat, sementara Gery hanya menunduk, berusaha tidak menabrak tas-tas yang berserakan di lantai.
Mereka sampai di meja kayu panjang itu. Meja itu tampak sedikit berdebu, penuh coretan tip-ex dari penghuni kelas tahun lalu. Gery menggeser kursinya, memberi ruang agar Vanya bisa duduk lebih dulu di sisi dekat tembok.
"Makasih," gumam Vanya. Ia langsung meletakkan tasnya di atas meja seolah menandai wilayah.
Gery duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya, mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Aroma parfum Vanya yang lembut—bercampur sedikit bau matahari—mulai tercium oleh Gery.
"Setidaknya kita nggak perlu terlalu depan. Kalau mau tidur atau main HP nggak ketahuan," bisik Vanya sambil mengeluarkan buku tulis baru.
Gery terkekeh pelan. "Gue malah mikir, dari sini kita bisa lihat semua orang, tapi nggak ada yang lihat kita."
Vanya menoleh, menatap Gery dengan tatapan yang sulit diartikan. "Filosofi yang bagus buat orang yang baru dihukum bareng."
Pelajaran pertama dimulai dengan penjelasan tentang dasar-dasar industri perhotelan. Namun, perhatian Gery teralih saat melihat Vanya sibuk menggambar sesuatu di pojok buku tulisnya.
"Lo bisa gambar?" tanya Gery setengah berbisik.
"Cuma coretan. Biar nggak ngantuk," jawab Vanya tanpa menoleh. Di bawah meja, tanpa sengaja ujung sepatu kets Gery menyentuh sepatu Vanya. Gery refleks menarik kakinya, namun Vanya hanya tertawa kecil tanpa merasa terganggu.
Di meja belakang yang berdebu itu, di tengah pelajaran tentang pelayanan tamu dan standar operasional hotel, Gery merasa bahwa hukuman telat pagi tadi mungkin adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya.
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam istirahat pertama telah tiba. Seketika, kelas 1-Hotel 2 berubah menjadi gaduh. Anak-anak laki-laki berebut keluar pintu menuju kantin, sementara yang perempuan mulai berkelompok sambil bergosip kecil.
"Kantin yuk?" ajak salah satu teman kelas yang duduknya di depan meja mereka.
Gery hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Duluan aja, gue bawa makan sendiri."
Teman itu menatap Gery heran, seolah membawa bekal ke SMA adalah hal yang aneh, lalu pergi begitu saja. Gery tidak peduli. Ia membungkuk, merogoh tasnya, dan mengeluarkan sebuah kotak makan plastik berwarna biru.
Di sampingnya, Vanya sama sekali tidak beranjak. Namun, dia juga tidak sedang berniat makan. Gadis itu sibuk dengan ponsel lipatnya. Jemarinya lincah menekan tombol-tombol kecil, mengetik pesan dengan ekspresi wajah yang serius—terkadang dahi itu berkerut, terkadang dia menghela napas panjang.
Klik. Vanya menutup ponselnya dengan sedikit kasar, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Matanya baru beralih pada Gery saat aroma nasi goreng dan telur dadar tercium samar.
Vanya memperhatikan Gery yang mulai membuka kotak makannya dengan tenang. Di saat anak laki-laki lain berusaha tampil keren dengan nongkrong di kantin dan merokok sembunyi-sembunyi, Gery justru tampak sangat nyaman dengan bekalnya.
"Lo... bawa bekal?" tanya Vanya, nada suaranya tidak menghina, justru terdengar kagum yang tertutup rasa penasaran.
Gery menoleh, sedikit malu. "Iya. Nyokap yang nyiapin. Katanya biar hemat dan lebih bersih aja. Aneh ya buat anak cowok?"
Vanya menggeleng pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. "Nggak. Justru keren. Jarang banget ada cowok yang nggak malu bawa bekal pas SMA. Biasanya pada sok jagoan pengen jajan di luar."
Vanya terdiam sejenak, matanya kembali melirik ponselnya yang tergeletak di meja. "Gue malah pengen bisa makan tenang kayak gitu. Dari tadi HP gue bunyi mulu, cowok gue nanyain mulu udah masuk kelas apa belum, sama siapa, duduk di mana... Capek balesinnya."
Gery menghentikan suapannya. Ada rasa sedikit sesak saat mendengar kata "cowok gue", namun dia berusaha bersikap biasa saja. "LDR ya? Atau beda sekolah?"
"Beda sekolah. Dia di SMA Pelayaran. Protektif banget," Vanya mendesah, lalu menatap kotak makan Gery lagi. "Boleh minta dikit nggak? Gue laper tapi males ke kantin, antreannya pasti gila."
"Oh, boleh banget. Ambil aja, sendoknya ada dua kok di dalam," Gery menyodorkan kotak makannya ke tengah meja, berbagi ruang di antara mereka.
Vanya mencicipi sesendok nasi goreng itu. "Enak! Salam buat nyokap lo ya."
Sambil menikmati bekal sederhana itu, suasana tegang karena keterlambatan tadi pagi mencair sepenuhnya. Di tengah kelas yang mulai sepi, Gery mendengarkan Vanya mulai mengeluh tentang pacarnya yang posesif, sementara Gery lebih banyak menyimak dan sesekali memberi tanggapan santai.
Vanya merasa nyaman karena Gery tidak menghakiminya, dan Gery merasa dihargai karena Vanya tidak memandangnya rendah hanya karena sebuah kotak bekal biru. Tanpa mereka sadari, kotak nasi itu menjadi saksi pertama di mana "teman duduk" mulai bergeser menjadi "sahabat cerita".