NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Wajah yang mirip

Siang itu, beberapa hari kemudian, hujan tipis turun. Suara mobil berhenti di depan rumah.

Langit yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. Ia mengenali mobil itu.

Ishani yang baru saja keluar dari kamar ikut menoleh.

Pintu diketuk. Tegas. Bukan ketukan ragu.

Langit membuka pintu.

Di depan berdiri Bude Retno dengan wajah kaku. Di belakangnya Pakde Handoko, dan Bude Anita yang menatap Langit dari ujung kepala sampai kaki.

“Masuk dulu, Bude, Pakde,” ucap Langit tenang.

Mereka masuk tanpa senyum.

Ishani berdiri di tengah ruangan, menahan napas.

“Kamu benar-benar tinggal di sini?” suara Bude Retno tanpa basa-basi. 

Ishani membuka mulut, tapi Langit lebih dulu menjawab. “Betul, Bude. Atas permintaan saya.”

Pakde Handoko menatap Langit tajam. “Permintaan kamu? Ishani masih dalam masa iddah.”

Langit mengangguk. “Saya tahu, Pakde. Dan justru karena itu saya bertanggung jawab menjaga batas.”

Bude Anita menyilangkan tangan. “Menjaga batas bagaimana? Serumah? Orang-orang sudah bicara.”

Langit tidak terpancing. Ia berdiri tegak, jarak sopan dari Ishani. “Pintu kamar selalu terbuka. Bu Rina tinggal di sini setiap hari. Tidak ada yang kami sembunyikan. Saya menjaga istri almarhum adik saya. Itu saja.”

Kalimat itu tegas. Tidak berlebihan. Tidak defensif.

Pakde Handoko melirik ke arah dapur, melihat Bu Rina yang memang sedang menyeduh teh. “Kami hanya tidak ingin nama keluarga jadi bahan pembicaraan,” ujar Pakde, nadanya lebih rendah.

Langit menatap lurus. “Nama keluarga tidak akan rusak hanya karena saya menjaga amanah adik saya.”

Hening beberapa detik.

“Setelah bayi lahir, bagaimana?” Bude Retno masih mencoba menekan.

“Kita bicarakan bersama keluarga,” jawab Langit. “Sekarang prioritas kami keselamatan Ishani dan bayi.”

Pakde Handoko menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada celah untuk menyerang jawaban itu.

“Kami akan sering datang,” katanya akhirnya.

“Silakan,” jawab Langit tanpa ragu.

Bude Retno menatap Ishani. “Kalau kamu tidak nyaman, pulang saja.”

Ishani menelan ludah, lalu berkata pelan tapi jelas, “Aku nyaman, Bude.”

Mereka pamit tak lama kemudian. Tidak sepenuhnya setuju, tapi tidak lagi bisa membantah.

Saat pintu tertutup, Ishani baru sadar napasnya sejak tadi tertahan.

Langit tidak menoleh. Ia hanya berkata pelan, “Kalau kamu mau pulang, aku antar.”

Ishani menggeleng. “Aku tetap di sini.”

Langit mengangguk sekali. Tidak ada lagi yang dibahas.

**********

Sebulan berlalu sejak Ishani keluar dari rumah sakit dan tinggal bersama Langit. Ishani dan Langit masih saling menjaga jarak, memastikan tidak ada aturan yang dilanggar.

Ishani sendiri perlahan sudah mulai menerima kehadiran Langit di sisinya. Langit hadir bukan sebagai pengganti, atau bayangan yang memaksa. 

Ishani sering menangkapnya memperhatikan dari kejauhan. Langit memastikan ia duduk dengan benar, memastikan gelas di meja mudah diraihnya, memastikan langkahnya tidak tergesa. Langit jarang bertanya, lebih sering bersiap. 

Dan anehnya, itu membuat Ishani merasa aman, bukan terkurung. 

Ishani masih berbicara dengan Biru dalam doa. Masih menyebut namanya dalam diam. Tapi, Ishani sudah tidak lagi merasa bersalah ketika ia makan berdua dengan Langit, tertawa bersamanya ketika menonton acara di TV, berbicara ringan tentang banyak hal.

Langit tidak mencoba mengisi kekosongan. Ia menjaga jarak dari luka yang basah. Mungkin karena itu kehadirannya terasa jujur. 

*********”

Sore ini, Ishani tengah bersiap melakukan kunjungan ke dokter kandungan yang sudah disiapkan Langit.

“Dia dokter kandungan terbaik di kota ini. Pasiennya juga banyak. Aku harus bikin janji dari dua hari lalu,” ucap Langit meyakinkan Ishani. 

Ishani hanya mengangguk. 

“Bu Ishani cantik sekali,” ucap Bu Rina mengomentari Ishani yang duduk di meja rias. 

Ishani tersenyum lembut, “Makasih, Bu. Aku sudah lama tidak keluar rumah dan berdandan.” Selama lebih dari satu bulan, dengan semua yang terjadi Ishani tidak sempat memperhatikan penampilannya. 

Ishani mengenakan dress baby doll panjang. Wajahnya disapu make up tipis, dengan olesan lipstik warna pink muda. Rambutnya yang sepunggung dibiarkan tergerai. Perutnya yang membuncit membuat aura keibuannya terpancar. Lembut dan anggun. 

“Shani, cepetan. Jalanan bakal macet kalau kita keluar terlalu sore,” suara Langit dari balik pintu. 

“Iya, Kak.” Dibantu Bu Rina, Ishani berjalan perlahan. “Ayo, aku sudah siap.”

Langit yang sedang asyik memainkan ponsel, mengangkat wajahnya. 

Deg.

Ia terpaku melihat penampilan Ishani. Matanya tidak berkedip selama beberapa detik. Baru kali ini ia melihat penampilan Ishani seperti ini. Segar, lembut, anggun, dan… cantik. 

“Ehem…,” Langit memalingkan wajahnya, menenangkan degup jantung yang tiba-tiba mengencang.

“Ayo, jalan,” Langit berjalan duluan menuju mobil.

Sepanjang perjalanan, Bu Rina tersenyum melihat tingkah Langit. Beberapa kali, ia menangkap Langit tengah melirik Ishani lewat kaca spion. Sementara Ishani asyik memandang keluar jendela sambil sesekali mengusap perutnya. 

Rumah sakit sedang ramai. Dan, betul saja, antrian panjang menunggu di depan poli kandungan dr. Didi. Dokter yang kata Langit merupakan dokter kandungan terbaik di kota. 

“Wah, ramai sekali,” Langit melihat banyak pasangan yang duduk di ruang tunggu. “Kalian duduk dulu.” Langit membalikkan badan berjalan ke arah mereka datang tadi. 

Ishani dan Bu Rina mengambil tempat kosong. Di setiap sudut, Ishani melihat para ibu dengan perut membulat, beragam ukuran, duduk dengan tangan yang sesekali mengusap lembut perut mereka. 

Gumaman rendah percakapan para pasangan terdengar riuh, diskusi tentang nama bayi, keluhan mual di pagi hari, hingga tawa kecil saat sang suami mengusap pinggang istrinya yang pegal. 

Ishani teringat dengan Biru. Terakhir Biru menemaninya untuk periksa kandungan, yaitu ketika kandungannya memasuki usia 4 bulan. Sesudah itu, Biru harus dioperasi dan menghabiskan waktunya di rumah sakit.

Tak terasa, air matanya jatuh. Ishani menyadari kalau dirinya tidak seperti pasangan-pasangan itu. Suaminya sudah tidak ada, dan ia harus siap untuk melahirkan sendirian. 

Bu Rina melihat bulir bening di pipi Ishani. “Bu Ishani kenapa? Ada yang sakit?” Ia menyerahkan tisu.

Ishani menggeleng, mengusap pipi dan matanya dengan tisu. “Aku baik-baik aja, Bu.”

Beberapa menit kemudian, Langit kembali sambil membawa kantung makanan dan minuman. “Aku beli makanan dan minuman. Antriannya masih panjang, aku takut kamu lapar,” jelasnya setelah duduk di sebelah Ishani.

Ishani menatap Langit. Di matanya, bayangan wajah Biru dan wajah Langit menjadi satu. Matanya kembali berkaca-kaca.

“Kamu kenapa? Ada yang sakit?” Reflek tangan Langit menempel di perut Ishani, seperti yang biasa ia lakukan kalau Ishani merasa tidak nyaman.

Ishani menggeleng, mengambil kantung makanan. “Makasih, Kak,” lirihnya.

“Ny. Ishani Lirah Syahira,” panggil perawat.

Langit berdiri membantu Ishani berjalan memasuki ruang periksa. Bu Rina mengikuti dari belakang. 

Di dalam ruang periksa yang dingin dan berbau antiseptik, dr. Didi menyapa dengan hangat. “Silakan duduk.”

Ishani dan Bu Rina duduk di depan meja dokter. Langit memilih berdiri di belakang Ishani. 

“Saya sudah membaca rekam medik ibu Ishani,” lanjut dr. Didi. “Bagaimana kondisi ibu di rumah?”

Bu Rina menjelaskan perkembangan Ishani selama dalam pengawasannya. Dr. Didi mendengarkan, sesekali menganggukkan kepalanya. 

“Kalau begitu, mari kita lihat bayinya,” dr. Didi berjalan menuju tempat tidur periksa. “Silakan berbaring, Bu.”

Dr. Didi dibantu perawat kemudian menyiapkan alat USG. Ia menoleh pada Langit, tersenyum profesional. Bapaknya boleh mendekat, supaya bisa lihat layarnya dengan jelas.”

Langit dan Ishani membeku untuk sesaat. Lalu, Langit melangkah pelan, berdiri tepat di samping kepala Ishani. 

“Usia kehamilan memasuki usia ke 34 minggu,” dr. Didi melanjutkan tanpa menyadari suasana jadi kaku. “Kita dengarkan detaknya, ya.”

Seketika ruangan dipenuhi suara detak jantung yang kuat dan cepat. 

Dug-dug, dug-dug, dug-dug

“Kondisi bayi jauh membaik. Ibu sudah boleh bergerak, tapi masih harus banyak istirahat. Karena resiko tetap ada apalagi menjelang persalinan. Dukungan suami tetap penting.”

“Eh…,” Ishani hendak mengoreksi. 

“Baik, Dok,” potong Langit dengan suara mantap.  Rahangnya mengeras, matanya tajam menatap layar.

Karena untuk pertama kalinya, ia ingin dunia melihat bayi itu berdiri di bawah namanya. Bukan sebagai amanah semata, tapi sebagai darah yang harus ia lindungi.

Langit tidak putus memandang siluet gumpalan hitam putih, kepala, badan, tangan dan kaki kecil. Untuk pertama kalinya, Langit tidak hanya melihat bayi itu sebagai amanah, sebagai janji, tapi manusia kecil yang butuh perlindungan. 

“Lihat itu, Pak,” tunjuk dokter ke layar. “Wajahnya mirip sekali dengan bapak. Struktur rahang dan hidungnya… persis.”

Ishani menatap Langit. Wajah Langit yang terpapar cahaya redup monitor membuat kemiripannya dengan Biru mencapai puncaknya. Ia meremas ujung bajunya. 

“Benar kan, Pak? Mirip sekali,” dr. Didi tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan di antara mereka. 

Langit berdeham, suaranya serak. “Iya, Dok. Mirip sekali.” ia menunduk menatap Ishani. 

Ishani menatap layar. Untuk sesaat, ia tidak melihat bayi itu. Ia melihat Biru.

Lalu ia melihat Langit. Dan untuk pertama kalinya, ia takut kehilangan keduanya sekaligus.

Dalam perjalanan pulang, aura ketegangan masih terasa. Tatapan Langit lurus melihat jalanan, rahangnya terkatup rapat. Tangan Langit mencengkeram setir terlalu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Ishani menatap keluar jendela dengan wajah sendu. Bu Rina menggosok lengannya, merasa bulu kuduknya berdiri. 

“Maaf, aku tidak mengoreksi ucapan dokter,” tiba-tiba Langit berkata, dingin, memecah keheningan.

“Aku masih belum jadi istrimu, Kak,” Ishani membalas tidak kalah dingin. 

“Orang lain tidak perlu tahu.”

Ishani mendelikkan matanya ke arah Langit. 

“Atau kamu mau semua orang tahu kalau kamu sendirian? Hamil besar, tanpa suami, dan aku hanya berdiri di sampingmu tanpa status apa-apa?” suara Langit meninggi. 

Bu Rina berharap dirinya menghilang. 

“Kak…!” Ishani mengepalkan tangannya. 

“Lalu, apa maumu?” Langit melihat Ishani lewat spion.

Ishani menunduk, tidak menjawab. Tangannya masih terkepal. 

“Sabar, Pak,” Bu Rina mengingatkan Langit, pelan. 

Langit menghela napas, berat. 

1
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
@dadan_kusuma89
Langit, dengan kau menjawab "iya" meski dipanggil Biru, ini menandakan kau bukan orang yang egois.
Xlyzy
faham pak buk tapi gimana ga mungkin ishani di tinggal sendiri kan kondisi nya lagi ga baik loh
Xlyzy
bude Ama pade ngapa loh baru juga bukak pintu belom lagi duduk
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
😭 bisa-bisanya ada barang pemberian yang dipersiapkan begini. bahkan sebelum anaknya membuka mata. sedih aku seolah jadi istrinya 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!