NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Seseorang berdiri di sana.

Pedang itu kini ditahan oleh sebilah pedang ramping yang dipegang dengan dua tangan.

Itu adalah Amane.

Rambutnya sedikit berkibar karena sisa momentum benturan.

"Justru aku yang seharusnya…"

Ia berkata dengan tenang.

"...meminta maaf karena salam perkenalannya terlambat."

Amane menggeser pedangnya sedikit.

Lalu ia berkata dengan suara tegas.

"Perkenalkan saya Amane Garden pemimpin party White Snow."

Pria besar itu langsung melompat mundur beberapa meter.

Wajahnya jelas kaget.

Sementara itu Kai memasang ekspresi pura-pura panik.

"Ke-kenapa kau menolong laki-laki itu?!"

teriak pria itu.

Amane berdiri tegak dalam posisi kuda-kuda.

Tatapannya dingin.

"Kenapa?"

Ia sedikit memiringkan kepala.

"Aneh sekali pertanyaan Anda."

Ia melangkah maju satu langkah.

"Justru saya yang ingin bertanya."

Amane menghilang dari tempatnya berdiri.

Angin berdesir.

Dalam sekejap—

Ia sudah berada di belakang pria besar itu.

Pria itu bahkan belum sempat menoleh.

Suara Amane terdengar tepat di belakang telinganya.

"Apakah untuk melindungi seseorang…"

Pedangnya sudah berada di posisi tebas.

"...diperlukan sebuah alasan?"

Wajah pria itu menegang.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Perlahan ia menatap tubuhnya sendiri.

"...Ap—"

Tangannya menyentuh dada.

"...tidak ada yang terpotong?"

Perlahan pakaian pria besar itu mulai mengeluarkan suara robekan kecil.

crrk…

Matanya langsung membesar.

crrk… crkk…

Robekan itu menyebar ke seluruh tubuhnya.

Dalam hitungan detik—

Seluruh pakaiannya terpotong menjadi potongan kecil.

Angin berhembus pelan.

Potongan kain berjatuhan seperti daun.

"..."

Beberapa detik hening.

Amane melihat pemandangan itu dengan wajah sedikit canggung.

Ia menutup mulutnya dengan tangan.

"Sebagai seorang wanita terhormat…"

Ia bergumam pelan.

"Apa perbuatanku tadi sedikit tidak pantas, ya…"

Pria besar itu menatap tubuhnya sendiri.

"Aaaaaa!!"

Ia langsung berlari menjauh sambil menutup tubuhnya.

"Awas saja kalian!!"

Kai menatap punggung pria itu yang semakin jauh.

Lalu ia berkomentar santai.

"Pemandangan orang lari yang tak terlupakan, ya."

Amane masih menatap ke arah jalan tempat pria itu menghilang.

"Tapi pria tadi sebenarnya siapa, ya…"

Ia menyilangkan tangan.

"Aku jadi sedikit penasaran."

Kai yang berdiri di belakangnya memanggil dengan ragu.

"Anu…"

"Anda Amane-san dari White Snow, kan?"

Amane menoleh.

Kai langsung menunduk sedikit.

"Saya Kai. Petualang pemula."

"Terima kasih banyak sudah menolong saya."

Amane tersenyum tipis.

"Jadi Anda Kai, ya."

"Saya sudah mendengar tentang Anda."

Ia berkata santai.

"Sepertinya Marina kami cukup merepotkan Anda."

Kai menggaruk pipinya.

"Nggak juga sih…"

Lalu Amane tiba-tiba menambahkan dengan wajah terlalu serius.

"Oh iya."

"Saya ada di sini itu murni kebetulan, loh."

Ia mengangguk beberapa kali.

"Menolong teman Marina benar-benar kebetulan yang luar biasa."

"Murni kebetulan tahu."

Kai berusaha tersenyum.

"I-iya… iya… saya paham."

Dalam hatinya ia bergumam.

Dia tipe orang yang tidak pandai berbohong, ya…

Tiba-tiba—

Amane mendekatkan wajahnya ke Kai.

Jarak mereka sekarang sangat dekat.

Kai langsung menegang.

"...Lho."

Amane menyipitkan mata.

"Kalau kulihat-lihat lagi…"

"Sepertinya kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya, ya?"

Kai langsung menjawab cepat.

"T-tidak."

"Anda pasti salah orang."

Ia mundur beberapa langkah.

"L-lupakan soal itu."

Ia menunjuk ke arah jalan.

"Pria yang tadi… kira-kira siapa, ya?"

Amane terlihat seperti baru teringat sesuatu.

"Oh, benar juga."

Wajahnya langsung serius.

"Masalah itu harus segera kulaporkan ke guild."

Ia lalu menunduk sedikit.

"Kalau begitu saya permisi dulu."

"Sampai bertemu lagi."

Amane langsung berlari pergi.

Kai hanya menatap punggungnya yang menjauh.

"..."

Ia menghela napas.

"Pada akhirnya…"

"Apa sih tujuannya membuntuti ku?"

Keesokan harinya.

Kai keluar dari rumahnya sambil meregangkan tubuh.

"Hari ini…"

"Mari berjuang kembali mengumpulkan uang."

Ia berjalan santai menuju pusat kota.

"Demi tujuan itu…"

"Pertama-tama aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan."

Tak lama kemudian—

Kai sudah berdiri di dalam Guild Petualang.

Di meja resepsionis, seorang gadis menyapanya Elise.

"Anda ingin segera naik ke Rank C?"

tanyanya.

Kai mengangguk.

"Benar."

"Saya ingin menjadi Rank C agar bisa mendapatkan lebih banyak pengalaman."

Elise terlihat sedikit ragu.

"Anu… sebenarnya ini agak sulit untuk saya sampaikan, tapi…"

Ia membuka buku guild.

"Cara cepat naik ke Rank C adalah dengan menyelesaikan misi pengawalan."

Ia menatap Kai.

"Dan misi seperti itu harus dilakukan dalam sebuah party."

"..."

"Jadi Anda tidak bisa mengambil permintaan ini seorang diri."

"E—?"

Kai terlihat kaget.

Elise menjelaskan lagi dengan lembut.

"Pada dasarnya guild memang tidak menyarankan petualang solo."

"Karena ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan sendirian."

Kai mengangguk pelan.

"I-iya juga, ya…"

Elise melanjutkan.

"Untuk bisa naik ke Rank C, yang diuji bukan hanya kemampuan bertarung."

"Tapi juga kemampuan Anda bekerja dalam sebuah party."

Kai langsung memotong.

"Kalau begitu…"

"Petualang solo seperti saya harus bagaimana?"

Elise menjawab.

"Anda bisa membentuk party dengan petualang solo lain."

"Atau diterima bergabung sementara di party lain."

Kai menoleh ke belakang.

Di sana banyak petualang sedang duduk, minum, dan berbincang.

Kai menarik napas dalam.

Lalu ia berteriak keras.

"Permisi!"

Semua orang di guild langsung menoleh.

Kai mengangkat tangannya.

"Apakah di antara kalian ada yang bersedia membantu saya…"

"...menaikkan Rank dengan cepat?"

Guild langsung hening beberapa detik.

Beberapa petualang saling pandang.

Beberapa detik setelah Kai berteriak—

Guild yang tadinya hening langsung meledak oleh suara para petualang.

"Siapa juga yang mau satu party sama bedebah kayak kau!"

"Dasar sok akrab sama Marina-san!"

"Itu hukuman buatmu!"

Yang lain ikut berteriak.

"Coba saja sana ngemis-ngemis sama White Snow!"

"Marina-san itu harusnya akrab sama kita-kita saja!"

Beberapa orang bahkan menatap Kai dengan iri.

"Petualang baru saja berani-berani dekat sama dia."

Kai berdiri di tengah ruangan dengan wajah datar.

Namun urat di pelipisnya sedikit berkedut.

"Lah…"

Ia bergumam pelan.

"Ini semua cuma karena cemburu soal Marina doang?"

Beberapa petualang masih mengomel.

"Dasar bocah nggak tahu diri!"

"Sadar posisi sedikit!"

Kai akhirnya menghela napas panjang.

Ia berbalik ke arah meja resepsionis.

Lalu tersenyum kaku pada Elise.

"Anu…"

"Kalau begitu bagaimana ya?"

"Ini berarti aku harus menunggu beberapa bulan lagi?"

Elise juga tersenyum kaku.

Jelas dia merasa tidak enak.

"Begini…"

"Satu-satunya cara memang menunggu beberapa petualang baru yang belum punya prasangka buruk tentang Anda masuk ke guild…"

sebuah suara terdengar dari pintu masuk guild.

"Kalau begitu…"

"kami saja yang akan menemani Anda."

Semua orang langsung menoleh.

Pintu guild terbuka.

Cahaya dari luar masuk ke dalam ruangan.

Beberapa orang berdiri di sana , itu adalah party dari White Snow.

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!