Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Racun dari Masa Lalu
Pagi itu, atmosfer di dalam mansion Renfred terasa lebih menyesakkan daripada biasanya. Valerie menuruni tangga dengan langkah terburu-buru, tas kerja sudah tersampir di bahunya sebagai tameng dari konfrontasi. Matanya tampak bengkak akibat tangis semalam, dan setiap detak jantungnya terasa seperti remuk berkeping-keping saat bayangan Jerome yang memuja foto misterius itu kembali terlintas.
Di meja makan, Jerome sudah duduk dengan setelan jas abu-abu yang sempurna, tampak tajam namun raut wajahnya menyiratkan keletihan. Ia menyesap kopinya perlahan, namun tatapannya langsung terkunci pada Valerie begitu wanita itu menginjakkan kaki di ruang makan.
"Duduklah, Valerie. Kita perlu bicara soal semalam," suara Jerome berat, ada nada penyesalan yang tertahan di sana.
Valerie tidak berhenti. Ia bahkan tidak sudi menoleh. "Aku sibuk. Ada rapat penting di Vaughn Group pagi ini," jawabnya dingin sembari terus melangkah menuju pintu utama.
"Valerie! Aku belum selesai bicara!"
Valerie mengabaikan panggilan itu. Ia tidak sudi duduk di sana dan mendengarkan alasan yang ia duga sebagai kebohongan, sementara ia tahu suaminya lebih memuja selembar foto daripada istrinya yang nyata. Ia segera masuk ke mobil dan memerintahkan sopir untuk berangkat sebelum Jerome sempat mengejarnya.
BRAKK!
Jerome menggebrak meja makan hingga cangkir porselen di depannya retak rambut. Ego dan kesalahpahaman ini benar-benar menghancurkan kendali yang selama ini ia agungkan. Ia murka pada ketidakmampuannya untuk jujur, dan ia merasakan amarah yang membara karena Valerie mulai berani mengabaikannya.
"KEPALA PELAYAN!" teriak Jerome menggelegar, membuat seluruh penghuni mansion berjengit ketakutan.
Kepala pelayan berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. "I-iya, Tuan Jerome?"
"Siapkan sarapan terbaik dalam kotak. Kirimkan ke perusahaan Valerie sekarang juga! Pastikan dia memakannya sampai habis, atau kau yang akan menanggung akibatnya!" perintah Jerome mutlak.
Jerome berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Perasaan mual kembali menghantam perutnya—tanda fisik bahwa Valerie di luar sana sedang sangat stres dan gelisah. Ia harus menyusulnya; ia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi dalam keadaan hancur, karena itu sama saja dengan menghancurkan dirinya sendiri.
...****************...
Di kantor pusat Vaughn Group, Valerie baru saja duduk di kursi CEO-nya saat sekretarisnya masuk dengan wajah ragu. "Nona Valerie... ada seorang wanita bernama Elena yang ingin bertemu. Dia bilang dia adalah 'teman lama' Tuan Jerome."
Jantung Valerie mencelos. Nama itu—Elena. Apakah dia wanita di foto itu? batinnya getir. "Suruh dia masuk," ucap Valerie, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.
Seorang wanita cantik dengan busana high-fashion Paris melangkah masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia tersenyum sinis, lalu meletakkan beberapa lembar foto di atas meja kerja Valerie.
"Kau pasti Valerie, pengantin kontrak Jerome," ucap Elena dengan nada merendahkan yang kental. "Kasihan sekali. Kau pikir Jerome menikahimu karena cinta? Lihat ini."
Valerie mengambil foto-foto itu dengan tangan gemetar. Di sana terlihat Jerome dan Elena sedang berpelukan mesra di sebuah taman bunga yang indah. Hati Valerie mendidih; melihat Jerome tampak begitu bahagia dengan wanita lain membuat luka penolakan semalam semakin menganga lebar.
"Jerome tidak pernah bisa melupakanku, Valerie. Kau hanyalah alat untuk membalas dendam pada keponakannya," bisik Elena tepat di telinga Valerie, menanamkan racun keraguan yang mematikan.
Di lobi gedung Vaughn Group, Jerome baru saja turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat siluet seorang wanita yang sangat ia kenal keluar dari lift dan berjalan menuju pintu samping dengan langkah angkuh.
Elena? Sedang apa dia di sini?
Firasat Jerome mendadak buruk. Sangat buruk. Rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi, bercampur dengan rasa sakit yang menusuk di dadanya—sebuah sinkronisasi dari kecemburuan dan luka luar biasa yang tengah dirasakan Valerie di lantai atas.
"Sialan!" kutuk Jerome.
Ia berlari menuju lift, mengabaikan sapaan para karyawan. Ia menyadari bahwa Serena dan Aiden pasti telah menggunakan Elena untuk meracuni pikiran istrinya. Jerome menendang pintu ruangan CEO Valerie hingga terbuka lebar.
"Valerie! Jangan percaya pada apa pun yang dia katakan!" teriak Jerome lantang.
Namun, Jerome terpaku saat melihat Valerie berdiri di dekat jendela, menggenggam foto-foto kemesraan masa lalunya dengan tangan yang gemetar hebat. Valerie menoleh, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat.
"Jadi... dia adalah alasanmu menolakku semalam, Jerome?" suara Valerie nyaris hilang, tertelan oleh rasa sakit hati. "Dia wanita di fotomu itu?"
...****************...