Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kebangkitan Emas dan Ancaman yang Lebih Besar
Hati Heras telah hancur berkeping-keping. Serangan kuda laut yang datang dari belakangnya begitu tiba-tiba dan mematikan, membuatnya terpental dan terpelanting sangat jauh hingga tubuhnya terasa remuk redam. Ia terbaring di tanah, napasnya tersengal-sengal, dan tak memiliki sedikit pun tekad untuk bangun lagi. Kekuatan seolah telah meninggalkan tubuhnya, dan ia hanya bisa menatap kosong ke arah langit yang kelabu.
Saat kuda laut itu mendekatinya perlahan, siap untuk menghancurkan sosok Luminar yang melekat pada dirinya, tiba-tiba sebuah suara terlintas di benaknya.
[Apakah hanya seperti ini? Berakhir menyedihkan?]
Suara Luminar menggema dengan jelas, menembus dinding kesedihan yang membungkus hati Heras. Perlahan, kesedihan itu beralih menjadi kebingungan—bingung mengapa ia harus menyerah begitu saja. Kemudian, kebingungan itu berubah menjadi kesadaran diri: ia bukanlah orang yang mudah dikalahkan, dan ada tujuan yang harus ia capai. Dan akhirnya, dari kesadaran diri itu, meledaklah amarah yang begitu besar.
Energi di dalam tubuhnya melonjak drastis, seolah-olah ada sungai api yang mengalir deras di dalam pembuluh darahnya. Cahaya bersinar terang dari tubuhnya, menyelimuti seluruh ruang di sekitarnya. Heras mengaktifkan skill Luapan Energi, dan dalam sekejap, ia bangkit dengan cepat dari posisi terbaringnya. Tubuhnya penuh dengan energi yang meluap-luap, kekuatan mengalir deras di setiap serat otot dan tulangnya. [Mengkonsumsi 10 energi per detik]
Yang paling menakjubkan adalah perubahan pada punggung Luminar. Awalnya, punggung itu berwarna putih bersih yang memancarkan cahaya lembut, namun seiring dengan melonjaknya energi Heras, warna putih itu perlahan berubah menjadi emas yang pekat dan padat—bukan sekadar cahaya, melainkan warna yang telah menjadi bagian dari permukaan punggungnya itu sendiri. Emas itu tampak begitu nyata, berkilauan dengan kilau yang alami dan megah, seolah-olah punggung Luminar telah diukir dari batangan emas murni. Setiap gerakan Heras membuat permukaan emas itu memantulkan cahaya di sekitarnya, memberikan aura yang agung dan menakutkan bagi musuh-musuhnya.
Heras bergegas menuju dua ekor kuda laut yang masih berdiri di sana, matanya berkilat dengan amarah dan tekad yang baru. Dengan kecepatan yang melebihi angin, ia melesat ke arah mereka. Kuda laut pertama yang sempat menyerangnya sebelumnya mencoba untuk menyerang lagi, namun Heras dengan mudah menghindari serangan itu dengan satu gerakan miring yang cepat. Tanpa senjata apa pun, hanya dengan tangan kosong, ia mengandalkan kekuatan kakinya yang luar biasa.
Heras melompat tinggi, memutar tubuhnya di udara, dan mengayunkan kakinya dengan kekuatan penuh. Tendangan itu menghantam dada kuda laut pertama dengan suara dentuman yang keras, membuat tubuh makhluk itu terlempar ke belakang dan menabrak dinding gang hingga retak. Sebelum kuda laut itu sempat bangkit, Heras sudah berada di depannya lagi, kali ini dengan tendangan samping yang cepat dan kuat yang menghantam lehernya. Kuda laut itu ambruk, tubuhnya perlahan lenyap menjadi partikel cahaya yang hilang di udara.
Kuda laut kedua terkejut dan mencoba untuk melarikan diri, namun Heras tidak memberinya kesempatan. Ia melesat mengejar, dan saat kuda laut itu berbalik untuk menyerang, Heras menundukkan tubuhnya dengan cepat, lalu melompat ke belakangnya. Dengan satu tendangan tumit yang kuat ke arah punggung kuda laut itu, ia menekan makhluk itu ke tanah dengan keras. Tanpa menunggu, Heras mengangkat kakinya lagi dan menghentakkan dengan kekuatan penuh ke arah tubuh kuda laut itu, membuatnya meledak menjadi cahaya yang menyebar ke seluruh penjuru gang. Hanya dalam hitungan detik, dua ekor kuda laut yang sebelumnya membuatnya terbaring tak berdaya telah lenyap tanpa bekas, semuanya hanya dengan kekuatan kakinya.
Setelah selesai dengan kedua musuh itu, Heras berjalan perlahan menuju pintu keluar gang itu. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak dan mengintai situasi di luar dengan hati-hati. Matanya memindai setiap sudut, dan apa yang ia lihat membuatnya terkejut dan waspada.
Di luar gang, ada segerombolan kuda laut berjumlah 12 ekor yang berdiri berjaga-jaga. Mereka mengelilingi induk kuda laut yang sedang menghasilkan telur. Telur-telur itu berwarna putih pucat, dan beberapa di antaranya sudah mulai menetas. Anak-anak kuda laut yang baru menetas itu bergerak menyebar ke seluruh kawasan, seolah-olah sedang mencari mangsa atau tempat untuk berkembang biak.
Heras berdiri di sana, matanya menatap tajam ke arah pemandangan itu. Ia tahu bahwa ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan dengan kekuatan semata. Ia perlu berpikir dengan jernih, menyusun rencana yang matang agar bisa mengatasi ancaman ini tanpa membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Pikiran-pikiran mulai berputar di kepalanya, mencari cara terbaik untuk menghadapi 12 kuda laut yang menjaga induknya dan mencegah anak-anak kuda laut itu menyebar lebih jauh.