NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 —KOPI SUSU, CEO KULKAS, DAN AWAL BENCANA

Pagi di Volt-Tech itu kiamat kecil yang dikemas pakai aroma kopi dan AC sentral yang dinginnya nggak kira-kira.

Alinea jalan santai di koridor lantai 23. Satu tangan nenteng Iced Oatmilk Latte—extra shot karena semalam habis begadang marathon drakor yang sad ending—tangan satunya sibuk balesin grup WhatsApp BESTIE SAMPAI MATI. Lantai vinyl di bawah kakinya bunyi tek-tek ritmis, nambahin orkestra berisik bareng suara printer dan desis mesin kopi di kejauhan.

Nara: TERUS GIMANA COWOK BUMBLE ITU?

Alinea: GILA SIH. Masa dia bangga banget punya koleksi diecast.

Alinea: UMUR 28. Tapi curhatnya kayak bocah SD dapet hadiah Chiki.

Alinea nyengir, jempolnya nari lincah di atas layar. Gue harusnya swipe left pas liat bio-nya yang nulis 'Entrepreneur & Dog Lover' tapi ternyata cuma pengangguran yang pelihara corgi doang, batinnya sinis. Alinea itu tipe yang kalau ngomong pedes, tapi kalau ngetik jauh lebih jahat.

Alinea: Red flag nggak sih kalau cowok lebih sayang mobil mini daripada masa depan?

Dan tepat saat jempolnya mau mencet send—

BRUK.

Moncong gelas plastiknya nabrak sesuatu yang solid. Bukan tembok, karena tembok nggak anget dan nggak bau cedarwood mahal bercampur aroma maskulin yang bikin pusing.

Sial.

Waktu seolah slow-mo. Cairan cokelat susu itu tumpah sempurna, nyiprat estetis ke kemeja putih bersih cowok di depannya. Es batu jatuh ke lantai, suaranya pyar—nyaring banget di telinga Alinea yang mendadak budek karena syok.

Alinea mematung. Matanya nangkep noda kopi yang meresap ke serat kain kemeja itu. Mahal nih kemeja, seratnya rapet banget, nggak mungkin beli di pasar malam, otaknya malah sempat-sempatnya analisa tekstur di tengah bencana.

Pas dia dongak, jantungnya berasa mau pindah ke lambung.

Cowok itu tinggi. Rahangnya setajam cicilan kartu kredit yang bunganya mencekik. Rambutnya rapi, nggak ada sehelai pun yang berani keluar jalur. Tapi matanya... asli, dingin banget. Kayak lo buka freezer pas lagi mati lampu. Gelap dan menusuk.

"Lo—"

Suaranya berat. Deep. Tipe suara yang biasanya ada di narasi iklan mobil mewah atau podcast horor premium yang harganya berlangganan.

Dia nunduk, liatin kemejanya yang sekarang punya motif abstrak rasa kopi susu. Terus matanya balik ke Alinea. Datar. Tapi auranya intimidatif banget, bikin Alinea ngerasa kayak kuman yang lagi diaudit sama kementerian kesehatan.

"Oke," Alinea nyeletuk spontan, suaranya agak cempreng karena kaget. "Rest in peace, kemeja putih."

Satu lantai mendadak senyap. Suara mesin fotokopi pun berasa minder dan berhenti muter. Ada staf yang pura-pura sibuk nyari pulpen jatuh, ada yang tiba-tiba fokus banget liatin layar Excel kosong padahal kabel monitornya dicabut.

"Kamu tahu ini kemeja apa?" tanya cowok itu. Nadanya nggak tinggi, tapi penekannya bikin bulu kuduk Alinea meremang hebat.

Alinea narik napas, berusaha stay cool meski kakinya udah agak lemes. "Tahu. Kemeja putih. Katun, kayaknya? Di Tanah Abang banyak, Pak. Atau mau saya beliin selusin di Toko Oren biar dapet gratis ongkir? Saya ada voucher cashback nih kalau Bapak mau."

Goblok, Alinea. Mulut lo emang minta difitrahin secepatnya, batinnya jerit-jerit.

Cowok itu—Arsenio, si CEO yang dapet julukan Human Fridge—melangkah maju. Satu langkah doang, tapi jarak mereka sisa sejengkal. Parfumnya masuk ke indra penciuman Alinea; bau-bau orang kaya yang nggak pernah ngerasain desek-desekan di Commuter Line.

Alinea nggak mau kalah. Dia rogoh tas, ngeluarin tisu basah aroma mawar, terus dengan nekat—dan gerakan yang lebih mirip mau ngeroyok daripada bantuin—dia tempelin itu tisu ke dada Arsenio. Dia gosok noda kopinya kasar.

"Maaf ya, Pak Robot," katanya enteng, berusaha nutupin gemeter di jarinya. "Lagian Bapak jalan nggak pakai klakson, nggak pakai sein. Untung cuma kopi. Coba kalau saya bawa seblak level 5, itu dada Bapak udah kayak habis dikerokin mas-mas pijat urut."

Arsenio mematung. Dia nggak kaget sama noda kopinya, tapi sama keberanian cewek ini yang di luar nalar manusia normal di kantor ini. Dan aroma parfum Alinea—manis kayak permen karet tapi ada sisa citrus yang seger—mulai nyampur aneh sama parfumnya sendiri.

"Lepas," desis Arsenio. Dia nangkep pergelangan tangan Alinea. Kulitnya panas, kontras banget sama mukanya yang sedingin kutub.

"Oke, oke. Santai. Sensitif banget kayak kulit bayi baru lahir," Alinea narik tangannya balik dengan sentakan kecil. "Saya ganti rugi deh. Berapa harganya? Atau mau saya laundry-in sekalian saya doain biar noda dan dosanya luntur sekalian?"

Arsenio natap Alinea lama. Kayak lagi scanning virus di komputer. Terus, dia nunduk dikit, bibirnya deket banget ke telinga Alinea sampai cewek itu bisa ngerasain uap napasnya yang bau peppermint.

"NAMA KAMU SIAPA?"

Alinea menelan ludah. "Alinea," jawabnya, dagunya diangkat dikit biar nggak kelihatan ciut. "Kayak awal paragraf. Biar hidup Bapak yang kaku kayak kanebo kering ini ada bab barunya."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Volt-Tech, sudut bibir Arsenio bergerak naik dua milimeter. Bukan senyum ramah, tapi seringai predator yang baru nemu mainan yang nggak gampang pecah.

"Oke, Alinea. Kamu baru saja bikin kesalahan paling mahal di hidup kamu," katanya pelan.

"Ikut saya. Sekarang."

Perjalanan menuju ruangan CEO berasa kayak green mile—jalan menuju eksekusi mati. Sepanjang koridor, Alinea bisa ngerasain ratusan mata nempel ke punggungnya.

"Eh, itu si Alinea dari divisi kreatif kan?" bisik-bisik tetangga mulai kedengeran.

"Gila, berani banget dia numpahin kopi ke 'Kulkas'. Habis ini fix di-HRD sih."

"Kasihan, padahal dia baru cicil iPhone 15."

Alinea tetep jalan tegak, meski dalem hati dia lagi nyusun kata-kata buat update LinkedIn: 'Open for work: Experienced in coffee-spilling and CEO-annoying'.

Di dalem ruangan CEO yang saking rapinya sampe kerasa kayak ruang operasi, Arsenio udah ganti baju.

Sekarang dia pakai polo hitam yang pas banget di badan, makin nonjolin otot lengan yang kayaknya hasil gym tiap subuh. Ruangan itu steril. Dingin. Nggak ada foto keluarga, nggak ada tanaman plastik, bener-bener kayak sarang robot.

"Mana detergennya?" tanya Arsenio tanpa nengok, matanya sibuk geser-geser layar iPad.

Alinea naruh satu saset detergen dua ribuan yang tadi sempat dia comot di kantin bawah dengan gerakan dramatis ke atas meja jati mahal itu.

"Nih," katanya. "Tapi saya nggak dapet lembur buat nyuciin baju Bapak, kan? Saya punya hak asasi manusia buat pulang tenggo hari ini."

Arsenio akhirnya naruh iPad-nya dan menatap Alinea tajam. "Duduk."

Alinea duduk. Dia silang kaki, nyandar santai, pura-pura nggak peduli kalau nasibnya lagi di ujung tanduk.

"Saya nggak butuh tukang cuci," Arsenio membuka suara, nadanya serius. "Saya butuh... perisai."

Alinea menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Perisai? Bapak mau perang sama startup sebelah atau mau tawuran di Manggarai?"

"Minggu depan ada acara keluarga besar," lanjut Arsenio, mengabaikan sarkasme Alinea. "Ibu saya pikir saya ini robot yang nggak punya fungsi sosial selain nyari duit. Beliau nggak akan berhenti sebelum saya bawa pasangan ke rumah."

Alinea spontan ngakak, suaranya pecah di ruangan yang tadinya sunyi itu. "Astaga. Plotnya drakor banget, Pak! Klasik. Habis ini Bapak mau bilang kalau saya harus pura-pura hamil?"

Arsenio mendengus. "Jangan ngaco. Ibu saya mau ngejodohin saya sama anak kolega yang hobinya cuma pamer tas Hermes dan nggak bisa bedain mana lengkuas mana jahe. Saya nggak punya waktu buat drama kayak gitu."

"Terus kenapa saya?" Alinea menyipitkan mata. "Bapak kan punya banyak sekretaris yang lebih... 'penurut'?"

"Karena kamu berani," jawab Arsenio pendek. "Dan karena kamu punya mulut yang nggak bisa diem. Itu yang saya butuhin buat ngehadepin tante-tante saya yang mulutnya lebih tajem dari pisau dapur."

Alinea mikir keras. Otaknya langsung kalkulasi untung rugi kayak kalkulator tukang sayur. Gila sih, tapi kalo gajinya bisa buat lunasin semua cicilan dan mungkin beli tiket konser VIP, kenapa nggak?

"Oke," katanya akhirnya, "Deal. Tapi ada syaratnya. Saya nggak mau kerja gratisan buat drama keluarga Bapak."

"Sebutkan harganya."

"Bukan cuma duit," Alinea memajukan badannya, menatap Arsenio tepat di mata. "Selama kontrak, Bapak harus nurutin vibe saya. No mode robot, no jutek-jutek klub. Bapak harus belajar jadi manusia yang punya emosi, minimal tahu cara ketawa yang nggak kayak mesin rusak."

Arsenio tampak menimbang, lalu dia mengulurkan tangan besarnya.

"Deal."

Pas Alinea mau menjabat tangannya, Arsenio malah narik tangan cewek itu lebih deket sampai jarak mereka sisa lima senti. Alinea bisa nyium bau mint dari napas Arsenio lagi, kali ini lebih intens.

"Dan satu lagi, Alinea," bisik Arsenio, suaranya rendah dan serak, bikin perut Alinea mendadak mulas—bukan karena kopi, tapi karena sensasi electric shock yang aneh. "Mulai sekarang, panggil nama aja kalau lagi berdua. Biar kamu nggak kaget pas nanti harus manggil ‘sayang’ di depan Ibu saya dengan meyakinkan."

Alinea terdiam. Lidahnya mendadak kelu, otaknya hang.

Oke, fix, batinnya sambil berusaha narik napas normal. Robotnya ternyata nggak cuma upgrade OS, tapi udah di-root jadi mode buaya darat level pro.

"Gimana, Al?" Arsenio nanya lagi, kali ini dengan nada yang hampir mirip godaan.

Alinea cuma bisa ngangguk pelan.

"Oke, Senio. Tapi kalau saya khilaf lempar Bapak pakai seblak beneran, jangan potong gaji saya ya."

Arsenio nggak jawab, dia cuma kasih seringai tipis yang bikin Alinea sadar hidupnya, yang tenang baru saja berakhir dan berubah jadi komedi putar yang gila.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!