seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Bahasa yang Tak Dimengerti
Pagi itu, lobi Mahesa Group tampak berbeda. Karpet merah dibentangkan, dan aroma gaharu samar-samar tercium di ruang rapat utama. Dave Mahesa berdiri di depan cermin besar di ruangannya, merapikan dasi sutranya untuk yang kesepuluh kali. Ia tampak gagah, namun kegelisahan terpancar dari gerak-geriknya yang kaku. Bagi Dave, kesepakatan dengan Al-Maktum Group bukan sekadar soal uang, melainkan pembuktian kepada ayahnya bahwa ia layak memimpin di tanah air.
Pintu terbuka. Shafira masuk dengan langkah tenang. Hari ini ia mengenakan jilbab satin berwarna abu-abu gelap yang dipadukan dengan blazer formal yang sangat santun namun berkelas. Tidak ada riasan berlebih, hanya kejujuran yang terpancar dari wajahnya.
"Semua berkas sudah siap, Pak Dave," lapor Shafira. suaranya stabil, kontras dengan gemuruh di dada Dave.
Dave berbalik, menatapnya tajam. "Ingat, Shafira. Investor ini sangat krusial. Jangan bertele-tele dengan istilah agama jika tidak ditanya. Fokus pada angka."
Shafira hanya mengangguk kecil. "Saya akan bicara sesuai kebutuhan, Pak."
Tepat pukul sepuluh, rombongan dari Dubai tiba. Syekh Abdullah Al-Maktum, seorang pria paruh baya dengan ghutra putih dan jubah yang memancarkan wibawa luar biasa, melangkah masuk didampingi beberapa penasihat hukumnya. Pak Devan, ayah Dave, juga hadir, memberikan senyum penuh arti saat melihat Shafira berdiri di samping putranya.
Rapat dimulai. Dave mempresentasikan visi Mahesa Group dengan bahasa Inggris yang sempurna, penuh dengan istilah ekonomi global yang canggih. Ia memaparkan proyeksi keuntungan, diversifikasi aset, dan efisiensi biaya. Namun, Dave menyadari sesuatu yang aneh.
Syekh Abdullah lebih banyak diam, matanya lebih sering tertuju pada dokumen audit yang disusun Shafira daripada slide presentasi Dave yang mewah.
"Presentasi yang mengesankan, Mr. Mahesa," ujar Syekh Abdullah dalam bahasa Inggris dengan aksen Arab yang kental. "Tapi, ada satu hal yang tidak saya temukan di slide Anda, namun saya temukan di catatan kaki laporan audit Nona Shafira."
Dave tertegun. Ia melirik Shafira, lalu kembali ke Syekh Abdullah. "Maksud Anda, Syekh?"
"Nona Shafira menuliskan tentang 'Pilar Keberlanjutan Berbasis Amanah'. Ia merinci bagaimana setiap sen dari investasi ini akan dipantau agar tidak hanya menguntungkan secara materi, tapi juga bersih dari praktik yang merugikan masyarakat sekitar," Syekh Abdullah mengusap janggutnya yang rapi. "Saya ingin tahu, bagaimana Mahesa Group menjamin nilai 'Amanah' ini secara praktis? Karena bagi kami, bisnis tanpa berkah adalah kerugian yang tertunda."
Dave terdiam. Istilah "Amanah" dan "Berkah" terasa asing di lidahnya yang terbiasa dengan
"Profit" dan "Loss". Ia mencoba mencari jawaban diplomatis. "Tentu, kami memiliki sistem audit internal yang sangat ketat, Syekh. Transparansi adalah prioritas kami..."
Syekh Abdullah menggeleng pelan. "Transparansi adalah soal sistem. Amanah adalah soal hati. Saya ingin mendengar penjelasan lebih dalam tentang bagaimana perusahaan Anda memandang tanggung jawab moral ini."
Suasana mendadak tegang. Dave merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menoleh ke arah Shafira, memberi kode yang berarti: Tolong bantu saya.
Shafira berdehem pelan. Ia menatap Syekh Abdullah dengan rasa hormat namun tanpa rasa takut. "Izin menjelaskan, Syekh. Dalam laporan tersebut, kami mengintegrasikan konsep Maslahah Mursalah. Artinya, keuntungan perusahaan ini tidak akan berdiri sendiri di atas penderitaan pihak lain.
Kami telah menyiapkan pos anggaran untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar lokasi proyek, sebagai bentuk pertanggungjawaban kami bukan hanya kepada pemegang saham, tapi juga kepada Sang Pemilik Rezeki."
Shafira melanjutkan dengan menjelaskan skema pembagian hasil yang adil dan bagaimana integritas data keuangan dijaga dengan prinsip kejujuran yang mutlak. Ia menggunakan istilah-istilah teknis keuangan yang dikaitkan dengan etika bisnis yang universal namun bernafaskan nilai-nilai yang sangat dipahami oleh Syekh Abdullah.
Mata Syekh Abdullah berbinar. Ia berpaling pada Pak Devan. "Devan, kamu benar. Karyawanmu ini bukan hanya ahli keuangan, dia memiliki jiwa dalam pekerjaannya."
Setelah diskusi panjang yang mendalam, Syekh Abdullah akhirnya menutup map dokumennya.
"Baiklah. Saya setuju untuk menandatangani kontrak ini. Tapi saya punya satu syarat tambahan."
Dave menahan napas. "Apa itu, Syekh?"
"Saya ingin Nona Shafira tetap menjadi pengawas utama keuangan dalam proyek ini. Saya hanya akan percaya pada laporan yang memiliki tanda tangannya. Jika dia pergi, investasi saya juga pergi."
Ruangan itu sunyi. Pak Devan tersenyum bangga, sementara Dave merasa seperti baru saja dipukul oleh kenyataan. Syarat itu adalah tamparan bagi ego Dave yang sebelumnya ingin membuang Shafira.
Setelah pertemuan usai dan rombongan Dubai meninggalkan gedung, Dave dan Shafira tertinggal berdua di ruang rapat yang kini terasa sangat luas. Dave berdiri di ujung meja, menatap tumpukan berkas yang telah ditandatangani. Investasi triliunan rupiah baru saja masuk, dan itu semua karena wanita yang kemarin ia hina.
"Tadi itu... lumayan," gumam Dave, masih berusaha mempertahankan sisa-sisa kesombongannya.
"Terima kasih, Pak," jawab Shafira singkat sambil merapikan tasnya.
"Shafira," panggil Dave saat gadis itu hendak mencapai pintu.
Shafira berbalik. "Ya, Pak?"
Dave terdiam sejenak. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, sesuatu yang mengganggunya sejak kemarin. "Kenapa kamu melakukan itu? Maksud saya, menjelaskan tentang 'Amanah' dan menyelamatkan posisi saya, padahal saya sudah sangat kasar padamu?"
Shafira menatap Dave dengan tatapan teduh. "Karena bagi saya, bekerja adalah ibadah, Pak Dave. Menjaga nama baik perusahaan tempat saya mencari nafkah adalah kewajiban saya, terlepas dari bagaimana atasan saya memperlakukan saya. Saya tidak bekerja untuk menyenangkan Bapak, saya bekerja untuk menunaikan amanah."
Shafira keluar dari ruangan, meninggalkan Dave yang terpaku. Kata-kata "bekerja adalah ibadah" terus berputar di kepala Dave. Selama ini, bagi Dave, bekerja adalah peperangan, penaklukan, dan akumulasi kekuasaan. Ia tidak pernah mengenal konsep bekerja untuk Tuhan.
Sore itu, Dave pulang dengan perasaan yang sangat asing. Saat mobil mewahnya melewati gerbang rumah, ia melihat Pak Rahman sedang merapikan bunga-bunga mawar di taman. Dave menghentikan mobilnya, menurunkan kaca jendela, dan memperhatikan pria tua itu.
Pak Rahman tampak lelah, namun ia bersenandung kecil, seolah-olah pekerjaannya mencangkul tanah adalah hal paling membahagiakan di dunia. Dave keluar dari mobil, mendekati Pak Rahman.
"Rahman," panggil Dave.
"Eh, Tuan Muda Dave. Sudah pulang? Selamat atas proyek besarnya, Tuan. Tadi Pak Devan sempat menelepon rumah dan memberi tahu kabar gembira itu," ujar Pak Rahman sambil menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya.
"Kamu tahu dari mana itu kabar gembira?" tanya Dave sinis, namun tanpa nada tajam.
"Segala hal yang membawa manfaat bagi banyak orang adalah kabar gembira, Tuan. Shafira juga pasti senang bisa membantu perusahaan," jawab Pak Rahman tulus.
Dave terdiam. Ia melihat tangan Pak Rahman yang kasar dan kotor karena tanah. Tangan yang selama ini ia anggap rendah.
Tiba-tiba, Dave teringat Syekh Abdullah yang begitu menghormati Shafira. Ia menyadari sebuah pola: ada sesuatu yang dimiliki keluarga ini sesuatu yang sangat kuat yang tidak bisa ia beli dengan seluruh saldo di rekening banknya.
"Besok pagi, jangan bersihkan taman belakang dulu," ujar Dave tiba-tiba.
Pak Rahman bingung. "Lho, kenapa Tuan Muda? Apa ada yang salah dengan kerjaan saya?"
"Bukan," Dave memalingkan wajah, merasa canggung. "Besok saya ingin kamu mengantar saya ke suatu tempat sebelum saya ke kantor."
"Ke mana, Tuan?"
Dave menatap langit sore yang mulai memerah. "Tempat di mana Shafira belajar tentang... 'Amanah'. Saya ingin tahu di mana kalian mendapatkan ketenangan seperti itu."
.