NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Retaknya Jiwa Wira

Cahaya menyilaukan yang tadi menelan Desa Galuhwati perlahan memudar, menyisakan keheningan yang mencekam.

Asap hitam yang tadinya berputar-putar di langit kini seolah membeku di udara, tertahan oleh tekanan energi yang begitu kuat hingga membuat gravitasi di sekitar pusat desa terasa kacau.

Di tengah kawah raksasa yang tercipta dari benturan sebelumnya, berdiri sesosok pemuda yang tak lagi menyerupai Wira Wisanggeni yang dikenal Sekar sebelumnya.

Rambut hitamnya telah berubah menjadi warna putih perak yang berkilau tajam, berkibar-kibar meski tak ada angin yang berembus.

Sayap energi hitam pekat yang menyerupai sayap malaikat maut membentang luas di punggungnya, sementara matanya mata yang biasanya penuh binar candaan, kini terbelah dalam dua warna yang kontras yaitu merah darah yang haus akan pembalasan di sebelah kiri, dan biru langit yang tenang namun dingin di sebelah kanan.

"K-kekuatan apa ini...?" gumam Mahesa, suaranya bergetar hebat. Ia mundur beberapa langkah, pedang hitamnya yang dialiri energi iblis mendadak terasa berat dan tak bertenaga.

Wira hanya terdiam dan hanya menatap tangannya yang kini memegang pedang hitam-biru, perubahan dari Tongkat Pemutus Takdir yang membuat setiap tarikan napasnya mengeluarkan uap dingin yang membekukan debu di sekitarnya.

"Tadi kau bilang... sampaikan salammu pada orang tuaku?" suara Wira terdengar seperti ribuan suara yang bergema di dalam gua dalam, berat dan mengandung tekanan yang tak terbantahkan.

"Bagaimana kalau kau saja yang pergi ke sana dan menyampaikannya sendiri?" lanjutnya dengan suara yang penuh tekanan.

Wush!

Tanpa ada gerakan yang tertangkap mata, Wira sudah berada di depan Mahesa.

Kecepatannya kini bukan lagi sekadar teknik pergerakan, melainkan seolah-olah ia melipat ruang dan waktu dengan pedang hitam-birunya terayun dalam satu garis vertikal yang sangat sederhana.

CRASH!

Seketika, zirah hitam Mahesa yang diperkuat energi iblis hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari kertas tipis.

Tubuh sang Panglima Muda terpental jauh, menghantam barisan mayat hidup hingga hancur menjadi debu, sebelum akhirnya tertanam di dinding bukit di kejauhan.

Di atas langit, Adipati Kalingga yang menyaksikan kejadian itu membelalakkan matanya.

Wajah angkuhnya kini dipenuhi oleh kengerian yang dalam.

"Ti-tidak mungkin... Ranah Manusia tidak mungkin mencapai tingkat ini! Ini adalah Kanuragan Dewa Kuno! Bagaimana bisa bocah itu menyerap energi iblis dan energi dewa sekaligus tanpa meledak?!" gumamnya dengan gemetar.

Wira mendongak, menatap Adipati Kalingga dengan mata merah-birunya yang menyeramkan.

Ia kemudian melompat ke udara, sayap hitamnya mengepak sekali, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sisa-sisa bangunan di bawahnya.

"Adipati... hari ini, utang darah keluarga Wisanggeni akan dibayar lunas," ucap Wira dingin.

Adipati Kalingga mencoba melakukan perlawanan terakhir. Ia mengeluarkan sebuah pusaka berbentuk lonceng emas yang merupakan senjata tingkat tinggi dari Alam Dewa yang dicurinya bertahun-tahun lalu.

"Jurus Lonceng Kematian Surga!" teriak Adipati sambil menggetarkan lonceng tersebut.

Setelah itu, sebuah gelombang suara berwarna emas meluncur deras ke arah Wira, membawa daya hancur yang mampu meratakan sebuah kota kecil.

Namun, Wira hanya mengangkat satu tangan kirinya yang kini diselimuti aura hitam pekat.

Srett!

Wira mencengkeram gelombang suara emas itu dengan tangan kosong dan meremasnya hingga hancur menjadi kepingan cahaya yang tak berarti.

Adipati Kalingga tertegun melihat kejadian itu, lonceng emas di tangannya retak dan pecah berkeping-keping.

"Hanya segini kekuatan dari orang yang membantai desaku?" tanya Wira datar.

Ia kemudian mengayunkan pedangnya ke arah langit.

"Tebasan Pengadil, Pemutus Takdir Hitam!" ucapnya pelan namun tegas.

Setelah ucapannya selesai, saat itu juga muncul sebuah garis cahaya biru kehitaman membelah langit Galuhwati, memutus pusaran awan merah darah dan menghantam tepat ke arah Adipati Kalingga.

Sang Adipati berteriak histeris saat energi itu mulai mengoyak kultivasinya, menghancurkan Inti Emas di dalam tubuhnya hingga ia jatuh terjun bebas ke tanah seperti burung yang patah sayap.

Wira pun juga ikut melesat dan mendarat di tanah dengan dentuman keras. Ia berjalan perlahan menuju Adipati Kalingga yang terkapar di tanah, penuh dengan luka bakar dan kehilangan seluruh kekuatannya.

"Kumohon... ampuni aku... aku hanya menjalankan perintah dari Alam Dewa..." rintih Adipati Kalingga, harga dirinya kini lenyap tak berbekas.

Wira mengangkat pedangnya, ujung tajamnya berada tepat di atas tenggorokan sang Adipati.

"Perintah siapa pun itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang kau lakukan pada ayah dan ibuku." tanya Wira dengan penuh tekanan yang menyeramkan.

Tepat saat Wira hendak menghujamkan pedangnya, sebuah jeritan pilu kembali terdengar dari arah kuil.

"Wira! Berhenti! Jangan biarkan kegelapan itu merenggut jiwamu!"

Itu adalah suara Sekar Arum. Gadis itu berlari menembus kerumunan monster yang mulai melemah akibat hancurnya pusat ritual.

Sekar menatap Wira dengan air mata mengalir deras. Ia tidak takut pada penampilan mengerikan Wira, ia hanya takut kehilangan sahabat yang ia kenal.

Wira menoleh perlahan. Mata merahnya menatap Sekar dengan dingin. Namun, saat mata birunya melihat wajah Sekar, sebuah denyutan hebat terjadi di kepala Wira.

Kilasan ingatan tentang ubi bakar, candaan di Hutan Terlarang, dan perjalanan mereka di Galuhwati berputar-putar seperti badai.

"Siapa... kau?" tanya Wira dengan suara yang tersendat.

Sekar terhenti, langkahnya membeku.

"Wira... ini aku, Sekar. Temanmu... Kakakmu... Sahabatmu..." jawab Sekar dengan tatapan yang sangat khawatir.

Mendengar itu, kepala Wira terasa seperti dihantam palu godam.

Perubahan paksa menjadi entitas setenga dewa dan iblis telah memberikan beban yang terlalu besar pada ingatannya.

Kekuatan ini menuntut harga yang mahal, yaitu sisi kemanusiaannya.

Ingatan-ingatan tentang orang-orang yang dicintainya mulai memudar, tertutup oleh kabut tebal kekuatan yang haus akan kehancuran.

"Aku tidak mengenalmu... pergi dari sini sebelum aku menebasmu juga," ucap Wira, namun tangan yang memegang pedang tampak bergetar hebat.

"Kau berbohong! Aku tahu kau masih di dalam sana! Wira yang aku kenal selalu memikirkan ubi bakar dan tertawa lepas! Lihat aku, Wira!" Sekar berteriak lebih keras, mencoba mendekat meski aura di sekitar Wira mulai membakar pakaiannya.

Adipati Kalingga, melihat celah dalam ketidakstabilan mental Wira, tertawa dalam batuk darahnya.

"Hahaha! Lihatlah! Kau telah menjadi monster, Wisanggeni! Kau akan membantai semua orang yang kau sayangi karena kau tak lagi mengenal mereka!" ejek Adipati Kalingga yang masih mencoba memprovokasinya.

Dan saat itu juga, Wira meraung kesakitan, memegangi kepalanya dengan satu tangan.

Energi hitam dan biru di tubuhnya mulai meledak-ledak secara tidak terkendali, membuat desa Galuhwati kembali bergetar, namun kali ini lebih hebat dari sebelumnya.

"PERGIII!" teriak Wira kemudian.

Setelah itu, sebuah ledakan energi murni terpancar dari tubuh Wira, melemparkan Sekar Arum dan Adipati Kalingga ke arah yang berlawanan.

Wira menatap langit yang kini mulai terbuka, menampakkan sebuah gerbang emas raksasa yang perlahan turun. Itu adalah gerbang Alam Dewa yang merespons kekuatan baru Wira.

Tanpa sadar, tubuh Wira mulai terangkat ke arah gerbang tersebut. Ia tidak bisa melawannya, kekuatannya kini terlalu besar untuk ditampung di Alam Bumi.

"Sekar... ubi... bakar..." gumam Wira lirih, sebuah sisa ingatan terakhir yang mencoba bertahan sebelum akhirnya hilang sepenuhnya.

Wira menoleh ke arah Sekar yang tergeletak lemas di tanah. Tatapannya kini sepenuhnya dingin, mata merah dan birunya tak lagi memancarkan emosi manusia.

Ia melihat Sekar bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai debu yang tak bermakna.

"Wiraaaa!" teriak Sekar dengan sisa tenaganya, tangannya menggapai ke arah langit saat tubuh Wira mulai tertelan cahaya emas gerbang dewa.

Namun, di saat yang sama, Mahesa yang tadi tertanam di bukit, bangkit berdiri dengan tubuh yang sepenuhnya telah diambil alih oleh entitas iblis purba. Ia melompat ke arah Sekar Arum dengan pedang hitamnya.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan kekuatan itu, maka aku akan menghancurkan semua yang berharga bagimu, Wisanggeni!" teriak Mahesa yang sudah gila.

Wira, yang sudah berada di ambang gerbang Alam Dewa, berhenti sejenak.

Ia melihat Mahesa menyerang Sekar, membuat sesuatu yang jauh di dalam jiwanya yang hancur kembali berdenyut, sebuah naluri perlindungan yang tak bisa dihapus oleh kekuatan apa pun.

Wira mengulurkan tangannya ke bawah, melemparkan Pedang Pemutus Takdirnya ke arah daratan.

"Jaga... dia..." bisik Wira sebelum gerbang emas itu tertutup sepenuhnya, membawa Wira naik ke Alam Dewa dengan ingatan yang kosong dan kekuatan yang tak terbatas.

Pedang itu jatuh menancap tepat di depan Sekar Arum, menciptakan pelindung cahaya yang mementalkan Mahesa hingga terpental ke dalam jurang kegelapan yang tercipta di tengah desa.

Kini, Desa Galuhwati hancur total. Adipati Kalingga menghilang entah kemana dalam kekacauan tersebut.

Sekar Arum bersimpuh di depan pedang hitam-biru milik Wira, menatap langit yang kini kembali biru cerah seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Wira... kau telah menjadi Dewa... tapi kau meninggalkanku sebagai orang asing..." isak Sekar dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.

Di Alam Dewa, di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga surgawi, terlihat sosok Wira membuka matanya.

Ia mengenakan jubah putih keemasan yang agung dan melihat ke arah tangannya yang bercahaya, lalu melihat ke sekeliling tempat yang sangat indah itu.

"Tempat apa ini? Dan... siapa aku?" tanya Wira pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, seorang dewa penjaga dengan zirah perak mendekat dan berlutut di depannya.

"Selamat datang, Dewa Baru. Anda adalah satu-satunya manusia yang mampu mendaki jalan ini dengan kekuatan sendiri. Seluruh Alam Dewa kini menunggu titah Anda." ucapnya dengan hormat, seolah Wira adalah sosok yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Wira terdiam, namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa lapar yang aneh.

Bukan lapar akan kekuasaan, melainkan sebuah keinginan aneh untuk memakan sesuatu yang hangat, manis, dan berbau asap.

"Apakah... ada ubi bakar di sini?" tanya Wira polos.

Dewa penjaga itu seketika tertegun, bingung dengan permintaan sang dewa baru yang luar biasa kuat tersebut.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!