NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Pagi di SMA Arcandale selalu diawali dengan orkestra kebisingan yang sama, derit ban bus sekolah, dentuman pintu loker serta tawa remaja yang berusaha menutupi kecemasan mereka akan masa depan. Bagi Kenzie, setiap suara itu adalah paku yang dipukul ke dalam peti mati ketenangannya. Namun pagi ini, ada lapisan kecemasan baru yang menyelimuti dirinya, sebuah plester yang menempel di keningnya.

Kenzie menatap pantulan dirinya di kaca jendela perpustakaan yang masih tertutup. Perban itu berwarna putih bersih, kontras dengan kulitnya yang pucat. Kenzie sengaja menambahkan dua tetes obat antiseptik berwarna oranye agar lebih terlihat meyakinkan. Padahal di baliknya, tidak ada apa-apa. Hanya kulit mulus yang terasa dingin. Kenzie harus berpura-pura merasakan nyeri yang berdenyut setiap kali ia mengernyitkan alis. Kenzie harus berpura-pura menjadi manusia normal yang rapuh.

"Satu minggu." bisiknya pada bayangannya sendiri. "Cukup pakai ini selama satu minggu, lalu ganti dengan plester kecil dan semua orang akan melupakannya."

Namun, Kenzie lupa satu variabel yang tidak bisa diprediksi oleh logika empat ratus tahunnya, Hallen. Baru saja ia melangkah di koridor utama, sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya. Bau parfum maskulin yang tajam dan energi yang meledak-ledak segera memenuhi ruang pribadinya.

"Kenzie! Hei, pelan-pelan!"

Kenzie berhenti mendadak. Ia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu. Hallen berdiri di depannya, masih mengenakan jaket tim basket kebanggaannya, namun wajahnya tidak menunjukkan seringai sombong seperti biasanya. Sebaliknya, matanya terpaku pada plester di kening Kenzie.

"Bagaimana keadaanmu? Semalam aku tidak bisa tidur memikirkan luka itu. Kau sudah pergi sebelum aku datang dan suster Sarah sempat memeriksamu. Sial, Kenzie, kau membuatku panik!" Hallen bicara tanpa titik koma, tangannya bergerak seolah ingin menyentuh kening Kenzie tapi tertahan oleh keraguan.

Kenzie memasang ekspresi sedingin es. "Aku baik-baik saja, Hallen. Seperti yang kau lihat, aku masih punya cukup energi untuk menanggapi gangguanmu, jadi kau tidak perlu khawatir."

"Mengganggumu? Aku mengkhawatirkanmu!" Hallen mengikuti langkah Kenzie yang mulai bergerak menjauh. "Luka itu cukup dalam, aku melihat darahnya sendiri. Apa kau sudah ke dokter? Apa perlu dijahit? Aku bisa mengantarmu ke klinik langganan keluargaku setelah pulang sekolah."

Kenzie mempercepat langkahnya. Ia masuk ke antara kerumunan siswa, berharap Hallen akan kehilangan jejaknya. Namun Hallen adalah seorang atlet yang lincah dan gigih.

"Berhenti mengikutiku, Hallen." desis Kenzie tanpa menoleh. "Kau bukan dokterku, bukan ayahku dan tentunya bukan temanku. Luka ini urusanku sendiri."

"Wow, galak sekali." Hallen tertawa, meskipun ada nada terluka yang ia sembunyikan dengan baik. "Dengar, aku merasa bertanggung jawab. Aku yang mengundangmu untuk menonton, dan kalau saja aku tidak mencetak angka itu, orang-orang tidak akan berlarian dan kau tidak akan jatuh. Jadi, anggap saja ini caraku menebus kesalahan. Bagaimana kalau sarapan? Aku bawa sandwich ekstra."

Kenzie berhenti tepat di depan kelas. Ia berbalik dan menatap Hallen dengan tatapan yang paling tajam yang pernah ia gunakan untuk mengusir tentara gadungan di masa revolusi.

"Dengar baik-baik, Hallen. Kau adalah gangguan. Aku tidak butuh sandwich-mu, aku tidak butuh perhatianmu dan aku benar-benar tidak menyukaimu. Jika kau punya sedikit saja harga diri, kau akan berbalik sekarang dan mencari gadis lain yang haus akan perhatianmu yang dangkal itu."

Hening sejenak. Beberapa siswa yang lewat mulai berbisik, membuat Hallen tertegun. Di sekolah ini, tidak ada yang pernah bicara seperti itu padanya. Ia adalah bintang, pusat gravitasi dan juga matahari kecil di Arcandale.

Namun, alih-alih pergi dengan marah, sebuah binar aneh muncul di mata Hallen. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk seringai yang lebih lebar dari sebelumnya.

"Menarik sekali." gumam Hallen. "Kau tahu, Kenzie? Biasanya gadis-gadis mencoba terlihat manis untuk menarik perhatianku. Tapi kau? Kau justru berusaha keras terlihat seperti monster. Dan itu malah membuatku semakin penasaran. Kau punya rahasia, kan? Sesuatu di balik sikap dinginmu itu."

Kenzie merasakan darahnya mendingin.

Sial. Aku melakukan kesalahan.

Kenzie lupa bahwa bagi laki-laki seperti Hallen, penolakan bukanlah tembok, melainkan tantangan. Semakin keras ia mendorong, semakin kuat Hallen akan menarik.

"Terserah kau saja." ucap Kenzie final sebelum masuk ke kelas dan membanting pintu di depan wajah Hallen.

Di sudut kelas yang remang, Julian sudah duduk di kursinya. Ia telah mengawasi seluruh interaksi itu dari balik jendela kelas. Indranya menangkap setiap getaran suara dan setiap detak jantung yang berpacu di koridor.

Julian menatap Kenzie saat gadis itu duduk di barisan belakang dengan napas yang sedikit tidak teratur. Matanya beralih ke kening Kenzie. Ia tahu plester itu hanyalah sebuah kebohongan berupa topeng semata. Julian tahu di bawah sana, kulit Kenzie sudah sesempurna sedia kala.

Mengapa kau tetap di sini, Kenzie? Dengan kemampuanmu, kau bisa menghilang dalam semalam. Kau bisa pergi ke belahan dunia lain dan memulai hidup baru. Tapi kau memilih untuk memakai plester itu dan menghadapi gangguan manusia seperti Hallen. batin Julian

Sepanjang pelajaran Fisika, Julian tidak bisa fokus pada hukum optik yang sedang dijelaskan di depan kelas. Perhatiannya terbagi antara Kenzie dan pintu kelas. Julian bisa merasakan kehadiran seseorang di suatu tempat di sekolah ini, sebuah energi yang lapar dan tidak stabil.

Julian menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia teringat akan catatannya semalam. Jika Kenzie adalah The Constant, maka kehadirannya adalah anomali yang bisa memicu kiamat bagi kaum Aethern. Darah Kenzie adalah obat sekaligus racun.

"Julian?"

Suara guru Fisika membuyarkan lamunannya. "Bisa kau jelaskan mengapa cahaya membias saat melewati medium yang berbeda kepadatan?"

Julian berdiri dengan gerakan anggun yang tak sengaja ia tunjukkan. "Karena kecepatan cahaya berubah, Sir. Cahaya mencari jalur tercepat, bukan jalur terlurus. Sama seperti manusia yang seringkali memilih kebohongan yang nyaman daripada kebenaran yang rumit."

Mata Julian melirik ke arah Kenzie saat ia mengucapkan kalimat terakhir. Kenzie menegang, namun ia tetap menunduk, pura-pura sibuk dengan bukunya.

Pelajaran berakhir dan seperti yang sudah diduga, Hallen segera berdiri dari bangkunya yang terletak di seberang.

"Kenzie! Aku sudah memesan pizza untuk makan siang!" seru Hallen tanpa malu, mengabaikan tatapan sinis dari guru yang belum benar-benar keluar.

Kenzie mendesah frustrasi. Ia berdiri dan berjalan keluar, namun kali ini ia tidak lari. Kenzie berhenti tepat di samping Julian yang juga sedang merapikan bukunya. Dalam sebuah gerakan impulsif yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, Kenzie meraih lengan Julian.

"Aku sudah punya janji makan siang dengan Julian." ucap Kenzie keras, menatap Hallen dengan menantang.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Hallen. Julian menatap tangan Kenzie di lengannya, lalu menatap wajah gadis itu. Ia bisa merasakan kulit Kenzie yang hangat, sebuah kehangatan yang stabil, tidak seperti manusia yang suhunya naik turun karena emosi.

Hallen kehilangan kata-kata. "Dengan si kutu buku ini? Kau bercanda, kan?"

Julian meletakkan tangannya di atas tangan Kenzie, sebuah balasan yang tidak terduga. Sentuhan Julian sedingin es, namun entah mengapa memberikan rasa aman bagi Kenzie.

"Kami punya banyak hal untuk didiskusikan, Hallen." ucap Julian dengan suara rendah yang berwibawa. "Hal-hal yang tidak akan kau mengerti."

Tanpa menunggu reaksi Hallen yang melongo, Julian menuntun Kenzie menjauh. Mereka berjalan melewati koridor, mengabaikan bisikan-bisikan yang mulai menyebar seperti api. Mereka tidak berhenti hingga sampai di taman belakang sekolah yang sepi, di bawah naungan pohon pinus tua yang besar.

Julian melepaskan tangan Kenzie. Ia berbalik dan menatap gadis itu dengan intensitas yang membuat Kenzie merasa di telanjangi.

"Menggunakanku sebagai perisai adalah ide yang buruk, Kenzie." ucap Julian.

"Itu satu-satunya cara untuk membuat si bodoh itu menjauh." balas Kenzie, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Dan lagipula, kau berutang padaku karena telah berusaha acuh dengan ucapanmu kemarin."

Julian tersenyum tipis. "Aku tidak berutang apa pun padamu. Aku menyelamatkanmu dari dirimu sendiri. Jika suster itu melihat keningmu yang bisa sembuh dalam hitungan menit saat kau tak sadarkan diri di bawah efek obat bius, kau akan menjadi spesimen di laboratorium pemerintah sekarang."

Kenzie terdiam. Ia tahu Julian benar.

"Siapa kau sebenarnya, Julian?" tanya Kenzie pelan. "Aku sudah hidup lama, tapi aku belum pernah bertemu makhluk yang memancarkan aura sedingin dirimu. Kau bukan manusia, tapi kau juga tidak tampak seperti monster-monster yang pernah kulihat di abad pertengahan."

Julian melangkah mendekat, membiarkan bayangannya menutupi Kenzie. "Aku adalah sisa dari masa yang sudah dilupakan dunia. Dan kau adalah teka-teki yang seharusnya tetap terkubur. Jangan pernah terluka lagi di depan umum, Kenzie. Karena jika aku bisa mencium aroma darahmu, maka dia juga bisa."

"Dia siapa?"

"Seseorang." jawab Julian singkat, matanya menatap ke arah luar sekolah di mana Stefanny dan Lyana mungkin sedang mengawasi mereka dari kejauhan. "Dan percayalah, dia tidak akan sesabar Hallen dalam mengejarmu."

Kenzie menelan ludah. Ia menatap plester di keningnya melalui pantulan mata Julian. Kenzie menyadari bahwa gangguan Hallen hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar. Di kota ini, di antara riuhnya manusia fana, dua kekuatan abadi telah saling mengunci dan Kenzie berada tepat di tengah-tengahnya.

"Aku tidak takut." bohong Kenzie.

"Kau harus takut." balas Julian. "Karena keabadian tanpa kekuatan untuk melindungi diri sendiri hanyalah cara lain untuk menderita selamanya."

Julian berbalik dan pergi meninggalkan Kenzie sendirian di bawah pohon pinus. Kenzie menyentuh lengannya yang tadi dipegang Julian. Rasa dingin itu masih tertinggal, sebuah pengingat bahwa di dunia yang penuh dengan pengulangan yang membosankan ini, ia baru saja menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan benar-benar mematikan.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!