NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Warisan dari Kehampaan

Aku berkonsentrasi pada sensasi yang sama seperti dulu—perasaan menarik sesuatu dari dalam diriku, sebuah "potensi" yang samar-samar. Tidak ada kata-kata ajaib, hanya bisikan dalam hati: "Lyra... bangkitlah. Penuhi wasiatmu."

Kali ini, aku merasakannya. Sebuah aliran halus, seperti udara dingin yang mengalir dari pusarku, melalui lenganku, ke tangan Lyra. Tidak spektakuler. Tidak ada cahaya terang atau suara gemuruh. Hanya keheningan yang semakin pekat.

Lalu, tangan Lyra yang dingin itu terasa... sedikit lebih hangat. Sangat sedikit.

Dadanya yang diam, mulai naik perlahan. Satu tarikan napas. Lalu yang kedua.

Semua orang menahan napas. Pria elf tua itu menggenggam erat tangan Lyra yang satunya.

Bulu mata Lyra bergetar. Lalu, perlahan, dia membuka matanya. Warna hijau zamrudnya masih sama, tapi... kosong. Kosong seperti kolam air jernih yang belum diisi oleh kehidupan. Dia memandang lurus ke langit, lalu perlahan menengok, melihat wajah pria tua yang menangis di depannya.

"Pa... Pa?" suaranya keluar, lembut, datar, tapi akurat. Itu adalah suara Lyra.

Pria tua itu terisak lebih keras, menciumi tangan putrinya. "Lyra... Lyra sayang..."

Lyra duduk dengan bantuanku. Gerakannya agak kaku, tapi tidak canggung. Matanya memandang sekeliling, mengenali setiap wajah dengan tatapan analitis, seperti seorang peneliti yang mempelajari spesimen. Tidak ada air mata, tidak ada senyum. Hanya pengamatan.

Dia akhirnya menatapku. "Rian. Kau menepati janjimu."

"Aku menepati wasiatmu," koreksiku, suara masih serak. "Bagaimana perasaanmu?"

Dia melihat ke tangannya sendiri, membuka dan menutupnya. "Aku... ada. Aku ingat segalanya. Aku tahu aku telah mati. Tapi... tidak ada rasa sakit. Tidak ada sedih. Aku hanya... tahu." Dia menatap ayahnya yang masih menggenggam tangannya. "Aku tahu aku harus mencintaimu. Aku ingat perasaan itu. Tapi aku tidak bisa merasakannya sekarang. Apakah... apakah ini menyakitkan bagimu, Ayah?"

Pertanyaan yang polos dan langsung itu justru membuat pria tua itu terisak lebih keras, tapi dia menggeleng, memeluk tubuh putrinya yang sekarang terasa hangat namun asing. "Tidak, sayang... tidak. Kau ada. Itu sudah cukup. Kita akan... kita akan belajar lagi bersama."

Lyra mengangguk, lalu melihat ke arah pengungsi lain yang menyaksikan dengan campuran rasa haru, ngeri, dan keajaiban. "Aku akan memenuhi wasiatku. Aku akan melindungi kalian semua. Dengan caraku yang baru."

Aku berdiri, merasa lelah yang amat sangat, bukan secara fisik, tapi secara emosional. Aku baru saja mengulangi sesuatu yang belum sepenuhnya kupahami. Dan setiap kali melakukannya, rasanya seperti mengikis sedikit sesuatu dari diriku—bukan kekuatan, tapi kedamaian.

"Aku tidak akan melakukan ini sesuka hati," ucapku pada semua yang hadir, suaraku tegas meski lelah. "Hanya dalam keadaan terpaksa. Hanya untuk memenuhi wasiat seperti hari ini, atau jika nyawa orang yang tak berdosa benar-benar bergantung padanya. Kematian harus tetap dihormati. Kebangkitan... ini adalah pengecualian, bukan norma."

Mereka mengangguk, sebagian dengan takut, sebagian dengan hormat yang baru.

Aku pergi meninggalkan kerumunan itu, meninggalkan Lyra yang baru bangkit dengan ayahnya dan komunitas barunya. Ratri dan Eveline sudah berdiri di pinggir, menungguku. Ratri memandangku dengan mata penuh simpati.

"Berat, ya?" bisiknya.

Aku hanya mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Aku berjalan kembali ke rumah, merasakan beban gelar Sa'reth Anar'vel kini tidak lagi terasa lucu, tapi nyata, dan lebih berat dari yang pernah kubayangkan. Kekuatan untuk mengatasi kematian ternyata membawa serta tanggung jawab untuk memahami hidup—dan kehilangan—dengan cara yang lebih dalam dan lebih menyakitkan.

 Perjalanan kembali dari perkemahan terasa panjang dan sunyi meski kakiku hanya melangkah. Beban di dada ini terasa seperti batu yang kian memberat dengan setiap napas. Saat kami mendekati rumah, aku berhenti.

"Ratri, Eveline," ucapku tanpa menoleh, suaraku datar. "Tinggalkan aku sendiri sebentar."

"Tapi—" Ratri mulai protes, suaranya penuh perhatian.

"Aku meminta tolong," potongku, lebih keras dari yang kuinginkan. Aku menarik napas, mencoba menenangkan nada bicara. "Tolong. Biarkan aku sendiri. Jangan ikuti langkahku kali ini. Aku perlu... ruang."

Diam sejenak. Aku bisa merasakan pandangan mereka di punggungku—Ratri dengan keprihatinan yang dalam, Eveline dengan ketaatan buta yang bingung. Akhirnya, Ratri menghela napas halus.

"Kami mengerti," bisiknya, lembut. "Kami akan menunggumu di rumah."

Tanpa menunggu respons lagi, aku berbelok, meninggalkan jalur menuju rumah, dan menyusuri jalan setapak kecil yang jarang kugunakan, menuju ke sebuah tebing kecil yang menghadap langsung ke laut dari sisi lain pulau. Tempat ini sepi, hanya ada rumput, batu, dan satu pohon tua yang akarnya mencengkeram tebing dengan putus asa.

Begitu sampai, aku berdiri di tepi, menatap lautan luas yang berwarna abu-abu di bawah langit mendung. Lalu, semua emosi yang kutanam, semua ketakutan, keraguan, dan rasa bersalah yang kupendam sejak melihat air mata ayah Lyra dan kosongnya mata Lyra yang bangkit, meledak.

"AAAAAAAAAAAKKKKKKKKKHHHHHHHHHH!!!!"

Teriakanku meledak dari dasar paru-paru, suara kasar dan penuh kesakitan yang terkoyak, membentur angin dan diterbangkan ke laut. Aku berteriak sampai tenggorokanku sakit, sampai tidak ada udara lagi di dadaku.

"AKU TIDAK SANGGUP! AKU TIDAK SANGGUP DENGAN INI!" Aku menjerit ke langit, tinjuku terkepal hingga kuku menancap di telapak tangan. "MELIHAT MEREKA MENANGIS... MELIHAT MATA KOSONG ITU... ITU TERLALU BERAT! AKU BUKAN DEWA! AKU BUKAN PENCIPTA! AKU HANYA ORANG BODOH YANG KESASAR!"

Air mata yang tadi ditahan kini mengalir deras, bercampur dengan teriakan. "AKU TAKUT! AKU TAKUT RASA SESAL INI AKAN MENJADI BEBAN SEUMUR HIDUPKU! AKU TAKUT SETIAP KALI MENUTUP MATA AKU AKAN MELIHAT WAJAH MEREKA! APA YANG TELAH AKU LAKUKAN? APAKAH INI BENAR? MEMENUHI WASIAT ATAU MELANGGAR ATURAN ALAM?"

Aku terjatuh berlutut, tubuhku gemetar hebat. "AKU TAKUT AKU MELANGGAR ATURAN-MU, YANG MAHA KUASA. AKU TAKUT AKU BERMAIN-MAIN DENGAN SESUATU YANG BUKAN HAKKU. KEMATIAN... HIDUP... APAKAH AKU SUDAH MELANGKAHI BATAS?" Suaraku pecah menjadi isak tangis yang tak terbendung. "AKU TIDAK INGIN KEKUATAN INI! AKU TIDAK MAU DISAMAKAN DENGAN KEKUATAN-MU! AKU BUKAN APA-APA! AKU HANYA MANUSIA YANG LEMAH DAN BINGUNG!"

Keraguan menghantam seperti gelombang. Apakah perbuatanku salah? Memberikan kehidupan kedua, meski hampa, kepada yang memintanya? Atau apakah itu belas kasihan yang terdistorsi? Di mana batasannya? Jika hari ini karena wasiat, besok karena permintaan keluarga yang putus asa? Lusa karena alasan "kebaikan" yang kudefinisikan sendiri?

Rasa takut yang paling dalam adalah bahwa diriku, Rian Saputra yang biasa-biasa saja, tanpa sengaja telah menyentuh—dan mungkin mengotori—sesuatu yang sakral.

Dengan sisa tenaga, aku mendongak ke langit yang kelabu. Aku melipat tangan, menengadahkan wajah yang basah oleh air mata dan keringat.

"Ya Rabb, Yang Maha Kuasa atas segalanya," bisikku, suara parau dan penuh kerendahan hati. "Engkau yang tahu isi hatiku, yang melihat kebingungan dan ketakutan hamba-Mu yang kecil ini. Jika yang kulakukan hari ini salah... jika aku telah melanggar tatanan yang Engkau tetapkan di dunia ini... tegurlah aku. Berikan aku tanda. Hukum aku dengan keras jika perlu. Aku takut... aku sangat takut kekuatan asing ini membuatku lupa diri, membuatku berpikir aku bisa bermain-main dengan takdir hidup dan mati seperti yang hanya menjadi hak-Mu."

Aku menarik napas bergetar. "Aku tidak mengerti aturan dunia ini. Tapi aku tahu di dalam hatiku, rasa hormat pada kehidupan—dan kematian—harus tetap ada. Bantulah aku untuk tidak kehilangan rasa hormat itu. Bimbing langkahku. Jika ini jalan yang salah, tutuplah jalan ini dariku. Aku pasrah... aku benar-benar pasrah."

Aku terdiam, hanya terdengar desau angin yang kian kencang. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada petir atau kilat yang menghukum. Hanya... keheningan.

Lalu, titik air pertama menghantam pipiku. Satu, dua, lalu tiba-tiba langit seolah pecah. Hujan turun dengan derasnya, bukan gerimis, tapi curahan air yang seolah-olah ingin menyucikan sesuatu.

Aku tidak bergerak. Aku membiarkan hujan itu membasahi seluruh tubuhku, dari rambut hingga sepatu kulit sederhanaku. Air dingin itu menyatu dengan air mataku yang hangat, menyamarkan tangisku. Di sini, di bawah guyuran hujan yang menyelimuti segalanya, aku bisa menangis tanpa malu. Tidak ada Ratri yang akan memandangku dengan simpati yang membuatku merasa lebih lemah. Tidak ada Eveline yang akan berdiri kaku, tidak mengerti tapi selalu hadir. Di sini, hanya aku, hujan, dan lautan luas yang mengaburkan segalanya.

Aku menangis untuk Lyra. Untuk ayahnya. Untuk beban wasiat yang harus kubawa. Untuk ketakutan bahwa diriku telah menjadi sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya manusia. Aku menangis bukan karena cengeng, tapi karena hati ini, moralitas yang kupeluk sejak kecil, sedang diuji dengan cara yang paling tidak terduga dan menghancurkan.

Aku duduk di bawah pohon tua itu, berpelukan dengan lutut, membiarkan waktu berlari bersama tetesan hujan. Tidak tahu berapa lama. Hingga akhirnya, tangis itu habis, hanya menyisakan kelelahan yang hampa dan basah kuyup.

Saat hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik, aku berdiri. Tubuhku menggigil, tapi pikiran sedikit lebih jernih. Tidak ada jawaban yang turun dari langit. Tidak ada teguran. Mungkin, jawabannya harus kucari sendiri dalam setiap langkah ke depan. Mungkin, ketakutan dan penyesalan ini sendiri adalah penjaga moral yang kubutuhkan.

Dengan langkah berat, aku berjalan kembali ke rumah. Kabut mulai turun, menyamarkan jejak air mata di wajahku yang sudah pasti bengkak.

Saat rumahku terlihat, dua sosok setia masih menunggu di depan pintu, berdiri di bawah atap teras yang pendek. Ratri, dengan ekspresi lembut dan khawatir yang tidak bisa disembunyikan. Eveline, tegak dan diam seperti biasa.

Aku mendekat. Ratri tidak menanyakan ke mana aku pergi atau mengapa aku basah kuyup. Dia hanya mengambil selimut wol kasar yang sudah dia siapkan, dan dengan lembut menyelimutkannya di pundakku yang menggigil.

"Air panas sudah tersedia di dalam," ucapnya, suaranya seperti nyanyian lembut yang menenangkan. "Dan... tidak apa-apa untuk tidak kuat terkadang, Rian. Bahkan gunung batu pun terkikis oleh hujan dan waktu. Yang penting adalah kita tetap berdiri setelahnya."

Dia menatap mataku yang masih merah. "Kau membawa beban yang tidak seharusnya dipikul satu orang. Kau tidak sendiri. Kami di sini. Bukan untuk mengambil keputusan darimu, tapi untuk membagi beratnya."

Kata-katanya sederhana, tapi menyentuh bagian yang paling rapuh di dalam diriku. Aku mengangguk pelan, suara tertahan di tenggorokan. Aku masuk ke dalam rumah, menuju kepergian hangat yang disediakan, meninggalkan hujan dan keraguan di luar, setidaknya untuk malam ini. Perjalanan moral ini belum berakhir, tapi untuk sekarang, ada kehangatan dan persahabatan yang menunggu, dan itu cukup untuk membuatku terus melangkah keesokan harinya.

 Beberapa hari berlalu setelah malam yang penuh gejolak itu. Rasa sesal dan keraguan belum sepenuhnya hilang, tapi aku memaksakan diri untuk bergerak, untuk mengalihkan pikiran dengan pekerjaan. Salah satu caranya adalah dengan mengamati Lyra yang baru.

Suatu pagi, aku mendatangi perkemahan pengungsi. Di tepi kebun kecil yang mulai mereka tanam, aku melihat Lyra. Dia sedang membantu seorang wanita manusia tua mengangkat ember air. Gerakannya masih sedikit kaku, kurang fluiditas alami makhluk hidup, tapi sudah jauh lebih lancar daripada hari pertama bangkit. Dia mendengarkan wanita tua itu bercerita dengan kepala miring, sesekali mengangguk. Ekspresi wajahnya masih datar, tapi ada usaha untuk meniru senyuman—hanya sedikit lengkungan di ujung bibir, tapi itu adalah sebuah kemajuan.

Saat matanya menangkapku, dia segera menghentikan apa yang dilakukannya. Dengan gerakan terukur, dia berdiri tegak dan memberikan penghormatan elf yang dalam—tangan kanan mengepal di dada, lalu membukanya ke arahku dengan telapak terbuka. "Tuan Rian."

Aku menghela napas. "Tidak perlu seperti itu, Lyra. Tidak perlu penghormatan formal. Panggil saja namaku, atau cukup sapa biasa sudah lebih dari cukup."

Dia mengangguk, patuh. "Baik, Rian." Nadanya netral, tapi setidaknya dia mengindahkan.

Aku melihat ke arah gubuk tempat keluarganya berada. "Apakah ayahmu ada?"

"Ada. Beliau di dalam."

Aku menemukan pria elf tua itu—namanya adalah Elrondir—sedang merapikan beberapa perkakas kayu sederhana. Wajahnya masih menyimpan kesedihan, tapi ada juga ketenangan baru. Saat melihatku, dia memberikan anggukan hormat yang lebih santai.

"Elrondir," ucapku, duduk di batu di dekatnya. "Aku ingin berbicara tentang Lyra. Tentang... keputusanku waktu itu."

Elrondir menghentikan pekerjaannya, duduk menghadapku dengan serius. "Katakanlah, Tuan Rian."

Aku menatap tanganku sendiri, mencari kata-kata. "Aku... jujur saja. Sejak hari itu, aku merasa seperti kehilangan pegangan moral. Aku membangkitkan putrimu. Itu adalah kekuatan yang... tidak wajar. Aku takut, apa yang kulakukan itu melanggar hakikat alam. Dan yang lebih aku takuti," suaraku sedikit bergetar, "apakah kalian, keluarganya, sekarang merasa menyesal? Mungkin lebih baik membiarkannya pergi dengan damai, daripada melihatnya seperti ini... seperti cangkang yang berusaha menjadi dirinya dulu?"

Diam yang panjang menyelimuti. Lalu, Elrondir mengeluarkan suara yang dalam dan penuh ketenangan.

"Tuan Rian, izinkan aku berbicara jujur. Sebagai keluarga Matahari Senja, kami memiliki warisan Arcanum Sight yang lemah. Kami bisa merasakan aura, potensi. Lyra yang terkuat di antara kami. Saat pertama kali kau datang, kami sudah merasakan ada sesuatu yang... berbeda padamu. Saat Lyra berbicara padamu malam perjanjian, dan kembali dengan wajah penuh keterpukauan, kami tahu dia telah melihat sesuatu yang mendalam. Dia merahasiakannya, tapi kami bisa menebak bahwa kau bukan orang biasa."

Dia menatapku langsung. "Kami tahu wasiat Lyra. Itu keluar dari mulutnya sendiri, dengan penuh kesadaran, sebelum penyakitnya merenggutnya sepenuhnya. Dia tahu apa yang dia minta. Dan dia memintanya padamu karena dia melihat sesuatu dalam dirimu yang bisa memenuhinya—tanpa pengorbanan gelap, tanpa menyakiti yang lain."

Elrondir memandang ke arah Lyra yang sekarang sedang membantu anak kecil manusia memungut buah yang jatuh. "Jika ada yang harus menyesal, itu adalah Lyra sendiri. Dia akan menyesal karena wasiatnya—permintaannya sendiri—ternyata menjadi beban moral yang begitu berat bagimu. Dia meminta, dan kau, dengan kebaikan hatimu yang dalam meski ragu, memenuhinya. Itu bukan paksaan. Itu adalah pemenuhan janji."

Kata-katanya seperti tamparan halus yang membangunkan. Bukan paksaan. Permintaan. Pemenuhan janji. Aku terpaku pada logika itu.

"Tapi... kehidupannya yang sekarang..."

"Adalah pilihan yang dia buat dalam bentuk wasiat," sambung Elrondir lembut. "Kami, keluarganya, menerimanya. Kami sedih karena kehilangan rohnya yang ceria. Tapi kami tidak menyesali keputusanmu. Justru kami berterima kasih. Kami masih bisa melihatnya, mendengarnya, belajar bersamanya versi dirinya yang baru. Dan lihatlah," dia tersenyum kecil, "dia masih membantu, masih belajar, masih menjadi bagian dari kami. Itu adalah hadiah yang pahit, tapi tetap hadiah."

Aku menarik napas dalam, rasa sesak di dada sedikit berkurang. "Aku... masih merasa bersalah. Aku minta maaf jika tindakanku telah membawa kepedihan yang berbeda bagi kalian."

Elrondir menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan sepihak, Tuan Rian. Mari kita saling memaafkan. Aku memaafkanmu dari kekhawatiran bahwa kau telah berbuat salah. Dan kau, maafkanlah dirimu sendiri. Lyra tidak salah, kau tidak salah. Ini adalah situasi yang rumit, dan kita semua berusaha melakukan yang terbaik dengan hati."

Pembicaraan itu mengubah sesuatu. Beban itu tidak serta merta hilang, tapi berubah bentuk. Dari rasa bersalah menjadi tanggung jawab yang lebih jelas. Aku mengangguk, berusaha menerima kata-katanya.

Tiba-tiba, dari arah pantai, teriakan panik memecah kedamaian pagi. "SERANGAN! ADA KAPAL! BERSENJATA!"

Semua orang kaget. Aku langsung berdiri, semua refleks latihan dan kewaspadaan selama ini langsung aktif.

Seorang pemuda manusia berlari ke arah kami, napas tersengal. "Kelompok bersenjata! Mendarat di teluk timur! Mereka menyerang siapa saja yang menghalangi! Sudah ada yang terluka!"

Kepalaku langsung dingin. Semua perenungan tadi langsung menguap, digantikan oleh fokus tajam seperti baja.

"EVELINE!" teriakku, suara penuh otoritas yang bahkan mengejutkan diriku sendiri. "SIAPKAN PERTAHANAN! AMBIL SENJATA KITA!"

Eveline, yang sepertinya selalu berada dalam jarak yang bisa mendengar panggilanku, sudah muncul dari bayangan pohon di pinggir perkemahan. Dia mengangguk dan melesat seperti anak panah menuju rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!