lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 30
Pekerjaan di kebun belakang mulai membuahkan hasil. Tanah yang dulunya kering dan berbatu kini terasa gembur, seolah-olah setiap jengkalnya bereaksi terhadap kehadiran Mira. Tanaman tomat dan cabai yang mereka tanam tumbuh dengan kesehatan yang tidak wajar, daun-daunnya hijau pekat dan batangnya kokoh.
Romano sedang berlutut di tanah, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini dengan hati-hati mencabut rumput liar di sekitar tunas yang baru tumbuh. Ia berhenti sejenak, menatap tangannya yang kotor oleh tanah hitam.
"Siapa yang sangka," gumam Romano tanpa menoleh. "Seorang tentara bayaran yang paling dicari di tiga sektor, berakhir menjadi petani di pinggir tebing."
Mira, yang sedang menyiram tanaman dengan air sumur yang segar, tertawa kecil. Suaranya terdengar jernih, menyatu dengan suara ombak di bawah. "Dulu kau bilang kau ingin ketenangan, Romano. Inilah bentuknya. Sedikit membosankan, sedikit melelahkan, tapi setidaknya tidak ada yang mencoba meledakkan kita."
Romano berdiri, meregangkan punggungnya yang kaku. Ia menatap ke arah laut, di mana beberapa perahu nelayan tradisional tampak seperti titik-titik kecil di atas permadani biru. "Ketenangan ini... ia memiliki beratnya sendiri, Mira. Kadang-kadang, di tengah malam, aku masih terbangun dan mencari senjataku. Insting itu tidak hilang begitu saja hanya karena dunia menjadi lebih baik."
Mira meletakkan embernya dan mendekat. Ia menyentuh lengan Romano, merasakan otot yang perlahan mulai mengendur. "Insting itu yang menjaga kita tetap hidup sampai sekarang. Jangan membencinya. Gunakan itu untuk menjaga tempat ini. Bukan dari musuh, tapi dari kelalaian kita sendiri."
Tiba-tiba, pendar keemasan di langit sedikit bergetar. Bukan getaran yang menakutkan, melainkan sebuah denyutan ritmis yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terhubung dengan simpul. Mira memejamkan mata, membiarkan kesadarannya merambat turun ke dalam tanah, masuk ke dalam jaringan energi yang ia stabilkan di Zero Point.
"Ada sesuatu yang datang," bisik Mira.
"Kapal lagi?" Romano seketika waspada, tangannya secara refleks meraba pinggangnya meskipun tidak ada senjata di sana.
"Bukan. Bukan kapal. Ini... sebuah pesan," Mira membuka matanya, dan untuk sesaat, pupilnya tampak seperti kristal cair. "Simpul di Amazon baru saja menyapa kita. Mereka berhasil memulihkan hutan yang terbakar. Frekuensi di sana sudah hijau sempurna. Mereka merayakan, Romano. Mereka merayakan kehidupan yang kembali."
Romano mengembuskan napas lega. Ia menarik Mira ke dalam pelukannya, mencium keningnya yang hangat. "Kau benar. Dunia ini sudah bisa bernapas sendiri. Dan kita... kita hanyalah saksi kecil di sudut yang indah ini."
Sore itu, mereka duduk di teras sambil menikmati kue sagu dari tetangga desa. Matahari mulai turun, menciptakan jalur emas di atas air yang tampak seperti jembatan menuju keabadian. Tidak ada percakapan tentang takdir atau tanggung jawab besar. Mereka hanya bicara tentang rencana membuat pagar kayu kecil agar ayam hutan tidak masuk ke kebun, dan tentang bagaimana memperbaiki kursi malas yang kayunya mulai lapuk.
Di era baru ini, kemegahan tidak lagi diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, melainkan dari seberapa dalam mereka bisa mencintai kesederhanaan. Mira dan Romano telah melepaskan naskah lama mereka yang penuh darah dan rahasia, dan kini, mereka sedang menikmati menulis halaman-halaman yang tenang, satu hari demi satu hari.
Mercusuar di atas mereka berkedip sekali lagi, sebuah tanda titik di akhir sebuah bab panjang, sebelum memulai kalimat baru yang penuh dengan cahaya.
Waktu seolah kehilangan taringnya di pesisir itu. Bulan-bulan berganti tanpa terasa, ditandai hanya oleh perubahan rasi bintang dan pasang surut air laut yang kini jauh lebih teratur. Pondok mereka kini tidak lagi tampak seperti tempat pelarian; tanaman merambat dengan bunga-bunga biru kecil telah menyelimuti sebagian dinding kayunya, memberikan aroma harum yang menenangkan setiap kali angin laut berembus.
Suatu sore, saat langit berubah menjadi warna tembaga yang matang, Romano baru saja kembali dari dermaga dengan dua ekor ikan kakap merah besar. Ia menemukan Mira sedang duduk di atas tebing, tempat di mana mercusuar berdiri kokoh. Mira tidak lagi sering menutup mata untuk terhubung dengan dunia; ia kini bisa melakukannya sambil menatap cakrawala, seolah-olah penglihatannya telah menyatu dengan frekuensi bumi.
"Ada kabar dari simpul lain?" tanya Romano, meletakkan hasil tangkapannya dan duduk di samping Mira.
Mira tersenyum tipis. "Hanya keharmonisan yang stabil. Tenzin bilang pegunungan mulai tertutup salju murni lagi, dan Anya... dia mengirim kabar bahwa Jakarta sekarang dikenal sebagai 'Kota Hutan'. Orang-orang tidak lagi merindukan gedung pencakar langit. Mereka lebih suka melihat pohon-pohon yang tumbuh di sela-sela beton tua."
Romano mengangguk, lalu menoleh ke arah mercusuar. "Benda ini... dia sudah tidak pernah lagi memancarkan kode darurat. Kadang aku rindu suara dengungannya yang aneh."
"Itu karena dia sudah menemukan tujuannya, Romano," sahut Mira. "Dia bukan lagi alat komunikasi untuk perang. Dia sekarang hanya sebuah pengingat bahwa di sini, di titik ini, ada dua orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia."
Romano meraih tangan Mira, menggenggamnya erat. Jemari mereka bertautan, sebuah simbol sederhana dari perjanjian yang mereka buat di dalam gua kristal dulu. "Dulu aku berpikir bahwa menjaga dunia adalah tentang memegang senjata terkuat. Ternyata, menjaga dunia adalah tentang menjaga kedamaian di dalam diri sendiri terlebih dahulu."
Mira menyandarkan kepalanya di bahu Romano yang kokoh. "Kita sudah melepaskan mahkota itu, Romano. Kita bukan lagi Ratu dan Raja dari naskah Hasan. Kita hanya Mira dan Romano. Dan kurasa, itu adalah pencapaian terbesar kita."
Di bawah mereka, laut mulai memantulkan pendar keemasan yang kini permanen di langit. Perahu nelayan dari desa mulai kembali satu per satu, lampu-lampu minyak kecil di atas perahu mereka tampak seperti bintang yang jatuh ke permukaan air. Tidak ada ketakutan akan masa depan, tidak ada dendam masa lalu yang tersisa.
"Makan malam?" ajak Romano, berdiri sambil mengulurkan tangannya.
"Makan malam," jawab Mira dengan binar mata yang jernih.
Mereka berjalan menuruni bukit menuju pondok yang lampunya mulai menyala—sebuah titik kecil cahaya di tengah hamparan alam yang luas. Di dunia yang baru ini, kebesaran tidak lagi dicari di tempat-tempat jauh, melainkan ditemukan di dalam kehangatan rumah, di dalam tawa yang tulus, dan di dalam keberanian untuk melepaskan segalanya demi satu sama lain.
Ketenangan itu pecah bukan oleh suara ledakan, melainkan oleh keheningan yang salah.
Mira terbangun di tengah malam, namun ia tidak merasakan detak jantung bumi yang biasanya menenangkan. Sebaliknya, ia merasakan sebuah kekosongan—seperti sebuah nada yang tiba-tiba hilang dari simfoni. Ia menoleh ke samping; tempat tidur itu kosong. Romano tidak ada di sana.
Ia melangkah keluar ke teras, dan jantungnya berdegup kencang saat melihat mercusuar di atas tebing. Lampunya tidak lagi berputar dengan cahaya kuning hangat. Cahaya itu kini berdenyut dengan warna merah pekat yang tajam, memotong kegelapan malam seperti luka yang terbuka.
"Romano?" panggil Mira, suaranya gemetar.
Tidak ada jawaban. Hanya deru angin yang terasa lebih dingin, membawa aroma logam yang menyengat. Mira berlari menuju mercusuar, mendaki jalan setapak dengan napas tersengal. Saat ia mencapai puncak, pintu baja mercusuar terbuka lebar.
Di dalam, di ruang kendali yang seharusnya kosong, ia menemukan Romano berdiri terpaku di depan konsol tua. Namun, ada yang salah. Tubuh Romano tidak lagi santai; otot-ototnya menegang dengan cara yang sangat dikenal Mira—posisi siap tempur yang absolut. Di telinganya terpasang sebuah perangkat komunikasi modern yang seharusnya sudah menjadi sampah sejarah.
"Romano, apa yang kau lakukan?" bisik Mira.
Romano berbalik pelan. Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya merah yang berdenyut. "Mereka tidak berhenti, Mira. Kita mengira kita telah mematikan sistem mereka, tapi kita hanya mematikan bagian yang mereka biarkan kita lihat."
"Siapa? Nusantara?"
"Bukan. Sesuatu yang lebih tua dari Nusantara. Sesuatu yang Hasan coba sembunyikan darimu," Romano melangkah mendekat, namun matanya terus melirik ke arah radar yang kini menampilkan lusinan titik hitam yang mendekat dari bawah permukaan laut—bukan kapal, melainkan sesuatu yang bergerak dengan kecepatan mustahil.
"Penyelarasan yang kau lakukan... kau tidak menyembuhkan dunia, Mira. Kau baru saja menyalakan lampu di rumah yang gelap, dan sekarang para predator tahu di mana kita berada."
Tiba-tiba, lantai mercusuar bergetar hebat. Di kejauhan, pendar keemasan di langit mulai retak, digantikan oleh jaring-jaring listrik statis berwarna ungu. Suara dari Timur yang tadinya berupa melodi kedamaian, kini berubah menjadi jeritan statis yang menyiksa saraf.
"Anya dan penjaga lainnya... mereka tidak merespons," ucap Romano, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan, karakter lamanya kembali sepenuhnya. Ia meraih sebuah kotak tersembunyi di bawah lantai dan mengeluarkannya. Di dalamnya terdapat dua pucuk senjata elektromagnetik yang masih mengkilap.
"Kita tidak bisa kembali ke kebun itu, Mira," ucap Romano sambil menyerahkan salah satu senjata kepada Mira. "Dunia luar tidak sedang berganti kulit. Mereka sedang bersiap untuk perang yang sebenarnya—perang memperebutkan siapa yang akan memiliki 'frekuensi putih' itu."
Mira menatap senjata di tangannya, lalu menatap ke arah laut di mana bayangan-bayangan raksasa mulai muncul dari dalam air, mengelilingi tebing mereka. Kedamaian yang mereka bangun selama ini ternyata hanyalah jeda singkat dalam naskah yang jauh lebih gelap.
"Jadi ini bukan akhir," bisik Mira, matanya kini memancarkan cahaya putih yang tajam, bukan lagi emas yang lembut.
"Ini adalah serangan balik," sahut Romano sambil mengokang senjatanya. "Dan kali ini, kita tidak akan bermain sebagai penjaga. Kita akan bermain sebagai penghancur."