Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Deru mesin mobil yang dipacu Lucky Caleb berhenti dengan sentakan kasar di parkiran bawah tanah apartemen. Lucky keluar dengan napas yang masih memburu, amarah dan kekecewaan terhadap Renata masih mendidih di dadanya. Namun, saat ia melangkah masuk ke unit apartemennya, suasana sunyi itu mendadak menghimpitnya dengan cara yang berbeda.
"Freya!" teriaknya, suaranya lembut namun mengandung urgensi yang besar.
"Ya? Kau sudah pulang?" Suara itu terdengar lemah dari arah kamar.
Lucky melangkah masuk dan menemukan Freya sedang berbaring di atas ranjang. Gadis itu tampak sangat lelah. Lingkaran hitam samar di bawah matanya terlihat jelas karena ia tidak memakai masker di dalam kamar. Mata cokelat yang biasanya tajam itu kini tampak sayu. Lucky menatapnya, dan seketika rasa bersalah yang tadi sempat teralihkan oleh kemarahan pada Renata, kini kembali menghujamnya.
Setiap kali Freya bergerak sedikit saja untuk bangkit, Lucky bisa melihat ringisan kecil di wajahnya. Ia teringat betapa agresifnya Renata tadi, dan betapa kontrasnya hal itu dengan penyerahan tulus Freya semalam yang harus dibayar dengan rasa sakit fisik hari ini.
"Freya, ayo kita balik ke Berlin sore ini juga," ucap Lucky tiba-tiba. Suaranya rendah namun tegas. "Jangan membantah. Biar aku saja yang berkemas. Kau tetaplah di sana."
Freya membelalakkan matanya, kaget. "Kenapa? Luc, manajer bilang kita punya waktu banyak di sini. Jadwalmu kosong dua minggu ke depan. Luangkan waktumu untuk Renata dulu," jawabnya tulus, meski hatinya perih mengucapkan nama itu.
Mendengar nama Renata, hati Lucky rasanya seperti diremas. Ia teringat kata-kata Renata di apartemen tadi—tentang ketidaksucian, tentang anggapan bahwa Lucky adalah pria murahan, dan betapa asingnya sosok wanita itu sekarang.
Lucky tidak menjawab. Ia justru mendekat dan langsung memeluk Freya yang masih terduduk di tepi ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Freya, menghirup aroma menenangkan yang tidak ia temukan pada parfum Renata.
"Ayo kita kembali dengan tenang, Frey," bisik Lucky. "Aku tidak akan lagi menemui Renata."
Freya membeku di dalam pelukan itu. Jemarinya yang ragu-ragu perlahan membalas pelukan Lucky, mengusap punggung pria itu. "Kenapa? Kalian bertengkar?"
Lucky menggeleng di bahunya. "Tidak. Aku hanya ingin bersamamu dan kembali ke apartemen kita di Berlin. London... London bukan lagi tempat yang ingin aku tinggali."
Freya tidak bertanya lebih lanjut. Ia bisa merasakan kegelisahan luar biasa dari detak jantung Lucky. "Baiklah," bisiknya pelan. "Ayo kita pulang."
Keputusan mendadak itu ternyata membawa konsekuensi yang tak terbayangkan. Entah bagaimana informasi kepulangan mereka bocor, namun saat mereka sampai di Bandara Heathrow sore itu, suasana benar-benar ricuh.
Area keberangkatan VIP yang biasanya tenang kini dikepung oleh ratusan media dan ribuan fans yang histeris.
Lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti badai petir di tengah kegelapan sore London. Para petugas keamanan agensi kewalahan menahan gelombang manusia yang merangsek maju.
"Lucky! Siapa gadis itu?!"
"Lucky, benarkah kau akan bertunangan di London?!"
Kericuhan memuncak saat barisan keamanan jebol. Bukannya Freya yang harusnya melindungi Lucky sebagai asisten, kali ini perannya terbalik. Lucky, dengan naluri protektif yang meledak-ledak, justru merengkuh tubuh Freya masuk ke dalam dekapannya. Ia menyembunyikan kepala Freya di dadanya, melindunginya dari serbuan lensa kamera.
Dalam aksi dorong-mendorong yang brutal itu, tali masker hitam yang dipakai Freya tersangkut di jaket salah satu fotografer dan tertarik lepas. Masker itu jatuh dan terinjak-injak di lantai bandara, menghilang ditelan kerumunan.
Wajah itu akhirnya terekspos.
Wajah cantik Freya Montgomery, dengan binar mata yang ketakutan namun tetap memancarkan keanggunan aristokrat, tertangkap dengan sangat jelas oleh kamera-kamera beresolusi tinggi.
Foto-foto itu bermunculan dalam hitungan detik di media sosial: foto seorang gadis cantik yang dijaga dengan sangat posesif oleh Lucky Caleb. Dunia melihat bagaimana Lucky memeluknya, bagaimana Lucky menatap kerumunan dengan pandangan mengancam jika ada yang berani menyentuh gadisnya.
Lucky, yang menyadari Freya masih terlihat sangat lelah dan cara berjalannya masih tertatih karena kejadian semalam, tidak lagi peduli pada publik. Di depan ribuan mata dan kamera yang menyala, Lucky langsung menggendong Freya ala bridal style.
Ia tidak peduli pada skandal. Ia tidak peduli pada kontrak agensi. Ia hanya ingin membawa Freya pergi dari sana.
Malam itu, jagat maya meledak. Foto "Gadis Misterius Lucky Caleb" tersebar dari London, Berlin, hingga menyeberangi Samudra Atlantik menuju Los Angeles.
Di sebuah mansion megah di perbukitan Los Angeles, dua orang paruh baya sedang duduk di ruang kerja yang sangat formal. Di layar televisi raksasa di depan mereka, berita internasional menampilkan wajah putri mereka, Freya Montgomery, yang sedang digendong oleh seorang penyanyi juga aktor terkenal di London.
"Oxford?" Suara sang ayah terdengar berat dan penuh amarah yang tertahan.
Sang ibu menatap layar dengan tangan gemetar yang menutupi mulutnya. "Dia bilang dia sedang belajar hukum internasional di Oxford... tapi kenapa dia ada di pelukan pria itu? Dan sejak kapan putri kita bekerja menjadi asisten?"
Foto itu juga sampai ke ponsel Fank Montgomery yang sedang berada di tengah rapat direksi. Fank memijat keningnya, menyadari bahwa penyamaran adiknya telah runtuh dengan cara yang paling dramatis.
Sementara itu, di dalam jet pribadi yang terbang menuju Berlin, Lucky duduk di samping Freya yang sudah tertidur lelah di kursi pesawat. Lucky menggenggam tangan Freya, menatap wajah cantik yang kini menjadi konsumsi dunia itu. Ia belum tahu bahwa gadis yang ia gendong tadi bukan hanya seorang asisten, melainkan putri dari kerajaan bisnis yang kekuasaannya bahkan bisa menghentikan kariernya dalam satu malam.
Dan di London, Renata Brox menatap layar ponselnya dengan hancur. Ia melihat foto Lucky yang menggendong Freya—sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa posisi Freya di hati Lucky sudah jauh melampaui apa pun yang pernah ia miliki.
"Kau merebutnya dariku, Freya," gumam Renata dengan air mata kemarahan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰 Jangan lupa tinggalkan Jejak 🫶
smngt Thor ceritanya bgus bgt