Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Sore itu angin taman berhembus pelan, membawa aroma rumput basah dan bunga kamboja dari sudut kompleks.
Dita masih berdiri di belakang kursi roda Bu Diana. Kata-kata wanita itu tadi masih bergema keras di kepalanya.
"Dia bisa memfitnahmu, mungkin suatu hari nanti dia akan menaburkan racun di makananku."
Dita menelan ludah.
“Bu… Selina mungkin tidak seburuk itu,” ucapnya pelan, mencoba tetap adil meskipun hatinya sendiri tidak yakin.
Bu Diana mendengus kecil.
“Kamu terlalu baik, Dit.”
Dita tak menjawab.
“Wanita seperti itu kelihatan dari matanya,” lanjut Bu Diana. “Aku sudah hidup lama. Aku tahu mana yang tulus, mana yang pura-pura.”
Dita memandang jalan setapak yang kosong.
“Kalau memang dia buruk… seharusnya Tuan Tama yang menyadarinya sendiri,” katanya hati-hati. “Bukan dengan memaksa beliau menikah dengan saya.”
Bu Diana menoleh tajam.
“Jadi kamu benar-benar tidak mau?”
Dita menunduk.
“Saya… tidak pantas, Bu.”
“Tidak pantas?”
“Iya.” Suara Dita mengecil. “Saya hanya perawat. Saya dibayar untuk merawat Ibu. Kalau saya tiba-tiba jadi menantu… orang akan berpikir macam-macam.”
Bu Diana terdiam beberapa detik.
Lalu ia menghela napas panjang.
“Kamu terlalu memikirkan omongan orang.”
“Karena saya harus menjaga harga diri saya, Bu.”
Kalimat itu keluar lebih tegas dari yang ia duga.
Bu Diana menatapnya lama.
“Kamu menyukai Tama, kan?”
Dita langsung membeku.
“Bu…”
“Jawab saja.”
Dita menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
“Apa pentingnya?”
“Itu penting.”
Dita memejamkan mata sesaat.
Lalu akhirnya berbisik lirih.
“…tidak.”
Angin seperti berhenti sesaat.
Bu Diana memandangnya, agak lama. Ia ingin mencari kesungguhan di mata perawat nya itu. Tapi, Dita sangat pandai menyembunyikan perasaannya.
"Ya sudah kalau tidak suka."
Dita menghela napas lega. Dan bu Diana bisa merasakan itu. Ia tersenyum kecil. Kembali melihat ke depan. "Ya sudah kalau dia masih tak mau mengakui. jangan dikira bisa ngibulin aku, Dit," batinnya.
****
Di tempat lain, jauh dari taman itu.
Tama duduk di ruang rapat besar lantai dua puluh satu.
Proyektor menyala.
Grafik penjualan terpampang di layar.
Klien dari Singapura duduk berhadapan dengan direksi.
“Pak Tama?” suara asistennya memanggil pelan.
Tama tersentak dari lamunannya.
“Ya.”
“Angka kuartal kedua.”
“Oh.” Ia berdeham, mencoba fokus. “Baik. Seperti yang bisa kita lihat…”
Namun pikirannya terus melayang.
Kata-kata ibunya.
"Nikah sama Dita."
Tama mengusap keningnya sebentar.
"Kenapa Mama bisa sampai sejauh itu?
Dita bahkan terlihat lebih terkejut daripada aku sendiri tadi pagi."
Gadis itu jelas tidak mengharapkan situasi seperti itu.
Dan Selina…
Tama mengeluarkan ponsel di bawah meja.
Ia menatap layar sebentar.
Tidak ada pesan baru.
Ia menekan nomor Selina lagi.
Nada sambung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak diangkat.
Rahang Tama mengeras.
“Tuan Tama?” suara salah satu direktur mengingatkan.
Tama langsung menyimpan ponselnya.
“Maaf. Kita lanjut.”
Namun bahkan ketika presentasi selesai dua jam kemudian, pikirannya tetap tidak tenang.
****
Di apartemen mewah lantai tiga puluh.
Lift berdenting pelan.
Selina keluar dengan langkah malas.
Rambutnya sedikit berantakan, kacamata hitam masih bertengger di hidung meski matahari sudah condong ke barat.
Ia baru kembali dari luar kota.
Tiga hari ia menghilang.
Tiga hari menghindari telepon Tama.
Dan tiga hari mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tapi hasilnya?
Nol.
Hubungannya dengan Tama makin rumit.
Rencananya mengusir Dita juga gagal total.
“Brengsek…” gumamnya pelan.
Ia berjalan menuju unit apartemennya.
Namun ketika hampir sampai...
Pintu apartemen itu yang semula setengah terbuka tiba-tiba ditutup keras.
BRAK!
Selina tersentak.
“Apaan sih...”
Seseorang berdiri di sana.
Brian.
Pria itu bersandar di pintu dengan ekspresi dingin.
Selina langsung memutar mata.
“Kamu?” desahnya. “Aku lagi nggak mood.”
Brian menatapnya tajam.
“Kamu ke mana?”
Selina berhenti.
“Apa?”
“Tiga hari hilang.”
“Bukan urusanmu.”
“Selina.”
“Aku bilang bukan urusanmu!” bentaknya.
Ia mencoba masuk ke unitnya.
Namun tangan Brian menahan pintu.
“Kamu bahkan nggak balas pesan.”
Selina tertawa sinis.
“Sejak kapan kamu jadi polisi hidupku?”
“Kita tidur bersama.”
“Dan?” Selina menatapnya dingin. “Itu bukan kontrak kepemilikan.”
Brian menegang.
“Kamu menghilang begitu saja.”
“Aku malas dengan mu. Minggir.” Nada suara Selina jelas kesal.
Brian mendekat satu langkah.
“Malas denganku atau mengejar lelaki lain?”
Selina mencibir.
“Masih lebih baik daripada menempel sama pria yang terlalu ikut campur.”
Brian menyentuh lengan Selina.
PLAK!
Tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi Brian. Lelaki itu terdiam sesaat.
Matanya berubah gelap.
“Kamu benar-benar menyebalkan,” desis Selina.
Namun sebelum ia sempat menjauh...
Brian tiba-tiba mencengkeram lengannya.
“Lepas!”
Brian mendorongnya. Tubuh Selina terdorong masuk ke dalam apartemen. Pintu ditutup keras di belakang mereka.
"Lepas, Bri!" Selina mencoba melepaskan diri, tapi Brian menahan kedua pergelangan tangannya di dinding.
“Kenapa kamu keras kepala sekali?” gumam pria itu, suaranya lebih rendah.
“Karena hidupku bukan urusanmu!”
Brian menatapnya beberapa detik. Tatapan yang campur aduk antara kesal, tertarik, dan sesuatu yang lebih gelap.
“Brian...!”
Namun kalimat itu terputus.
Brian menariknya kasar dan mencium bibirnya dengan paksa.
Selina mendorong dadanya.
“Br— mmph!”
Tangan pria itu menahan wajahnya.
Napas mereka bercampur.
Amarah.
Hasrat.
Dan kekacauan yang tidak sehat.
***
Tama keluar dari kantor saat langit mulai menggelap.
Ia berhenti di toko bunga di dekat gedung.
“Bunga lily putih ada?” tanyanya.
“Ada, Pak.”
Itu bunga favorit Selina.
Beberapa menit kemudian ia kembali ke mobil dengan buket bunga di tangan.
Mesin mobil menyala.
Perjalanan menuju apartemen Selina terasa lebih panjang dari biasanya.
Di dalam dadanya ada perasaan aneh.
Antara rindu.
Kesal.
Dan kelelahan.
Lift apartemen naik perlahan.
Ting.
Lantai tiga puluh.
Tama berjalan menuju unit itu.
Ia mengeluarkan kartu akses.
Klik.
Pintu terbuka.
“Sel?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah masuk.
Lalu berhenti.
Alisnya mengernyit.
Sepatu wanita berserakan di lantai.
Tas jatuh di dekat sofa.
Bahkan jaket pria…?
Tama melangkah lebih dalam.
Jantungnya mulai berdetak tidak nyaman.
“Selina?”
Sunyi.
Namun dari arah kamar…
Ada suara samar.
Napas.
Desahan.
Pintu kamar setengah terbuka.
Tama mendorongnya perlahan.
Dan dunia seperti berhenti.
Di atas ranjang...
Selina.
Dan Brian.
Tubuh mereka terjerat.
Selina bahkan belum sempat menyadari pintu terbuka.
Buket bunga di tangan Tama jatuh ke lantai.